Sunday, October 10, 2010

Nilai Paritta



Nilai Paritta
Oleh. Yang Mulia Bhikkhu Piyadasi Thera

Penelitian dalam bidang pengobatan yang berlangsung baru-baru ini, dalam proyek percobaan psikologi dan apa yang dikenal dengan para psikologi, telah membuat beberapa kejelasan mengenai sifat pikiran dan ini untuk kepentingan terakhir, para dokter banyak yang berpendapat bahwa penyakit organik maupun fungsional secara tidak langsung disebabkan oleh pikiran. Badang menjadi sakit karena pikiran yang mengendalikan secara diam-diam, karena ingin membuatnya sakit atau pikiran dalam keadaan kacak sehingga pikiran tidak dapat mencegah badan menjadi sakit. Sifat alamiah jasmani ini, untuk bertahan dari penyakit tidak dapat disangsikan hubungannya dengan kondisi psikologi seorang pasien.

Pikiran tidak hanya membuat seseorang sakit, pikiran juga menyembuhkannya. Pasien yang optimis mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk sembuh dari pada pasien yang cemas dan sedih. Catatan kejadian penyembuhan dengan keyakinan juga termasuk kasus dalam penyakit jasmani merupakan penyembuhan hampir sekitar itu juga.

Dalam hubungannya ini, sangat menarik untuk di amati kebiasaan di negara-negara Buddhis dalam hal praktek mendengar pembacaan Dhamma untuk perlindungan dan pembebasan dari kejahatna serta juga menyokong kesejahteraan dan kebahagiaan. Khotbah pilihan yang dibacakan tersebut dikenal dengan nama Paritta.

Paritta (Paritrana-sansekerta) arti utamanya adalah perlindungan. Ini digunakan untuk mengurangi sutra (khotbah) tertentu dari Sang Buddha untuk menghasilkan perlindungan dan pembebasan dari p[engaruh bahaya. Praktek membaca dan mendengar paritta di mulai sejak awal sejarah agama Buddha.. Secara pasti, pengulangan tersebut menghasilkan kesejahteraan batin bagi mereka yang mendengarkan dengan kesungguhan dan keyakinan pada kebenaran kata-kata sang Buddha. Batin yang sejahtera tersebut dapat membuat mereka yang sakit menjadi sembuh. Ini dapat membantu menimbulkan sikap mental yang membawa kebahagiaan untuk mengatasi kondisi mental yang negatif.

Semula di India, mereka mendengarkan paritta, memahami apa yang dibacakan dan akibatnya pada diri mereka, sangat sesuai. Sang Buddha sendiri memiliki paritta yang dibacakan untuk dirinya sendiri dan beliau juga meminta yang lain membaca untuk siswanya ketika mereka sakit. Praktek ini digemari di negara-negara Buddhis.

Sang Buddha dan para arahat dapat memusatkan pada paritta tanpa bantuan seseorang yang terpuji untuk membaca. Akan tetapi, ketika mereka sendiri sakit, sangat mudah baginya untuk mendnegar apa yang dibaca orang lain dan itu dapat memusatkan pikirannya pada kebenaran (Dhamma) dari sutra tersebut. Kadang-kadang dalam kasus sakit dengan pikiran yang lemah, sugesti yang lebih banyak berperan dan akan lebih efektif dari pada mengsugesti diri sendiri.

Menurut Dhamma, Pikiran mempunyai hubungan yang sangat erat dengan badan sehingga kondisi mental mempengaruhi kesehatan jasmani dan kesejahteraan. Beberapa dokter juga mengatakan bahwa tidak ada hal semacam itu, yang ada hanya penyakit jasmani semata-mata. Kondisi mental yang buruk tersebut, di samping sebagai penyebab timbulnya perbuatan buruk sebelumnya (akusa kamma vipaka) dan juga tak dapat di ubah adalah sangat tidak mungkin untuk mengubahnya sehingga kesehatan mental dan fisik sejahtera mengikutinya.

Getaran suatara paritta akan menyejukan syaraf; menghasilkan kedamaian pikiran dan membawa keharmonisan pada jaringan.

Bagaimana mungkin pengaruh buruk yang bersumber dari kondisi yang buruk akan tiada dengan mendengar paritta? Hasil pikiran buruk mereka dapat dihancurkan dengan pikiran yang baik, yang dihasilkan dari mendengarkan paritta, dengan kesungguhan dan keyakinan pada paritta yang diucapkan. Kekuatan konsentrasi tersebut dibangkitkan dengan cara mendengarkan dengan penuh perhatian dan kesungguhan hati pada kebenarna yang diucapkan, menghalau pengaruh buruk yang muncul dair kondisi yang jahat.

Paritta yang dibaca adalah bentuk dari sacca kiriya, yakin pada kebenaran untuk melindungi dasar kebenaran pada pencapaian.

Ungkapan, “Kekuatan Dhamma melindungi mereka yang mengikuti Dhamma” adalah hal yang sangat mendasar disamping pembacaan terrsebut. Kemudian orang yang mendengar kata-kata tersebut dengan keyakinan pada kebenarn kata-kata Sang Buddha yang bersumber pada penerangan sempurna, kondisi pikirannya akan berusaha untuk menjadi baik sehingga dia akan dapat menakhlukkan pengaruh yang buruk.

Pengulangan paritta juga menghasilkan berkah dalam bentuk materi melalui kondisi mental yang disebabkan oleh konsentrasi dan keyakinan dalam mendengarkan paritta dengan kesungguhan hati. Menurut Sang Buddha, usaha benar adalah faktor penting dalam mengatasi penderitaan. Mendengarkan seseorang yang membaca paritta dengan cara yang benar juga dapat menghasilakn kekuatan yang bertujuan melakukan kebijakan dan dengan tekun mengikuti jalan kemajuan duniawi.

Perlu dimengerti bahwa mendengarkan partitta-paritta tersebut akan berhasil bila kesungguhan dan keyakinan pendengar dalam keadaan baik, yang dapat mengobati dan mencegah rasa sakit. Tidak ada obat yang lebih baikdari pada kebenaran (Dhamma) untuks akit batin maupun jasmani yang merupakan penyebab semua penderitaan dan kemalangan.

Friday, October 8, 2010

Akhirnya Engkaupun Tersenyum




Akhirnya Engkaupun Tersenyum
Oleh : Bodhiratna

Malam minggu ini, aku sendirian lagi. Duduk seorang diri di teras rumahku. Malam belum begitu larut. Baru sekitar jam sepuluh. Tapi suasana sungguh sepi. Atau hatiku yang sedang sepi, pikirku. Mataku menerawang ke angkasa. Menatap indahnya bulan di saat purnama. Bulan yang indah beserta ribuan zamrud bertebaran di angkasa. Semuanya tampak begitu indah. Tapi mengapa aku tak dapat menikmati indahnya malam ini. Karena aku seorang diri. Mengapa aku harus sendiri! Mengapa ? Apakah ini sudah takdir untuk diriku ? Hehhh, entah sudah helaan yang ke berapa. Rasanya sudah ribuan kali aku menghela nafas. Pikiranku kacau.

Aku berjalan keluar. Dengan berjalan-jalan semoga pikiranku dapat tenang. Hujan turun rintik-rintik seakan ikut merasakan kepedihan hatiku. Dan itu malah menambah kepedihan hatiku. Mataku terasa panas. Tak kuasa ku menahan air mata membasahi pipiku. Aku memandang sekeliling, tak ada yang memperhatikanku. Ramai orang lalu lalang di jalan. Semua berpasangan, mereka tampak bahagia, bagaimana dengan diriku? Kuusap rambutku yang menutupi wajahku, mencoba untuk tegar. Berjalan di rintik-rintik hujan. Sambil memandang ke depan. Di ujung jalan ada bar tempat aku biasa minum-minum saat sedang ada masalah. Tak ada salahnya, pikirku. Aku masuk ke dalam. Suasananya hiruk pikuk. Aku mengambil tempat duduk di pojok. Satu gelas biasa, kataku kepada bartendernya. Tangannya yang cekatan mulai mencampur amuan-ramuan, dan gelas itu tahu-tahu sudah ada di depanku. Langsung ku teguk habis. Satu lagi, ... lagi, .... Kehangatan alkohol memenuhi tubuhku.

Tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang. Aku menoleh, rupanya sobatku. Sudahlah Ver, kamu harus bisa merelakan kepergiannya, katanya meng-hibur. Kemudian dia duduk di sebelahku. Ingat pepatah cina, katanya, "jangan minum sendirian karena kamu akan mabuk sendirian saja, dua orang jangan berjudi karena salah satu terpaksa memakan uang yang lain, tiga orang jangan berdebat karena seorang tak tahu harus memihak kepada siapa", jadi mari saya temani kamu minum. Hehhh, dia selalu ada saat saya sedang sedih. Tak tahu apa dia memperhatikan saya atau ini semua cuma kebetulan. Tapi dia memang selalu ada disaat diperlukan. .... Tak ada yang kekal di dunia ini, katanya. Semua pasti akan selalu datang dan pergi. Inilah fenomena kehidupan. Kamu pun sudah tahu itu. Bukankah seharusnya kamu yang lebih tahu dharma daripada aku ? Mengapa kamu tak dapat merelakan kepergiannya ? Inilah kehidupan. Dan pembicaraan pun berlanjut ke hal-hal lain. Sepertinya dia berusaha membuatku lupa pada masalahku ini. Tapi aku terlalu pintar, atau dia yang terlalu bodoh, sehingga pikiranku sama sekali tidak beralih, masih pada topik semula dan aku masih saja sedih. Sampai saat pulang, dia mengatakan kepadaku, "jangan lupa nasehat-nasehatku". Dan kami pun berpisah di situ.

Saya berjalan pulang, hujan sudah reda, seperti kesedihan hatiku yang mulai reda. Ternyata cukup manjur juga bar di ujung jalan ini. Tapi saat memasuki rumah, kembali aku teringat saat dia menyambutku, betapa cerianya wajahnya setiap aku pulang, hehh, pintu depan terbuka, sedetik kemudian muncul wajah yang sudah sangat saya kenal. Wajah mama tercinta. "Masih memikirkannya ? Sudahlah Ver, terimalah kenyataan ini. Kenyataan bahwa hidup adalah dukkha. Semakin kamu terikat kepadanya, semakin pedih hatimu disaat kehilangan dirinya. Seperti ajaran Buddha Gotama, empat kebenaran mulia, kebenaran mulia tentang dukkha, kebenaran mulia tentang sumber dukkha, kebenaran mulia tentang berakhirnya dukkha, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha. Dengan adanya keterikatan, maka kamu tidak akan pernah dapat lepas dari dukkha.

Bla bla bla ... Mama memang seorang buddhist yang taat, dan dapat dibilang fanatik. Sudahlah, sudah malam, besok harus bangun pagi, kan mau ke vihara, kata mama. Tidur sana. Saya pun masuk ke dalam kamar saya. Kuputar lagu sebelum tidur, sambil berbaring di ranjang. Sesaat kemudian kamar saya dipenuhi suaranya Aerosmith, I Don't Wanna Miss A Thing. ... I could stay awake just to hear you're breathing. Lagi-lagi saya tak dapat tidur, mendengar lagu ini, teringat lagi saat-saat bersamanya. Saat kami tidur bersama, saat kutatap wajahnya yang polos disaat tidur, saat ku dengar napasnya yang halus. Aku tak ingin kehilangan momen tersebut. Aku ingin seperti saat itu selamanya. Membayangkan saat-saat bersamanya, ..... Akhirnya aku tertidur juga.....

KRIINNGGG !!! Jam-ku ribut membangunkanku. Kubuka mataku, silau mentari pagi masuk lewat celah-celah kain gorden kamarku. Kulihat jam di dinding, tepat jam tujuh pagi. Aku langsung bangun. Uhh, kepalaku sedikit pening, mungkin akibat alkohol kemarin. Kemudian aku ke kamar mandi, waktu lewat di ruang makan, semua sudah menungguku sarapan. Maka aku pun bergegas. Saya lahap sarapan dalam sekejap, kemudian saya pergi bersama adik saya ke vihara. Sampai di vihara, kami memasuki ruang kebaktian. Tempat itu terasa suci, dan suasananya menenangkan hatiku. Setelah namaskara, pembacaan paritta dimulai. Sampai pada saat khotbah dari bhante. Ternyata bhante favoritku. Aku langsung menyimak yang dikatakannya. .(mencari segenggam biji lada dari keluarga yang saudaranya belum pernah meninggal).....Saat itu, saya langsung sadar, untuk apa kesedihanku selama ini ??? Untuk apa pekerjaanku terbengkalai, untuk apa itu semua!!! Tiba-tiba saya berpikir,... ya saya harus!! Saya namaskara tiga kali, kemudian langsung keluar, kutinggalkan adikku di vihara, di dalam pikiranku cuma satu, saya bertekad harus merelakan kepergiannya. Saya bawa trooper saya ke pemakamannya. Sampai di sana, saya berlutut, dan berdoa, "Marshel, anjingku yang lucu, saya sekarang sudah sadar, bahwa saya harus merelakan kepergianmu, kenangan manis bersamamu akan saya kenang selalu, semoga kamu terlahir di alam yang lebih baik". Tiba-tiba perasaan hatiku tenang, sangat tenang. Dan saya tersenyum untuk pertama kalinya sejak kepergiannya, sambil memandang anak-anak anjing di depanku bermain dan bercanda.

(Dikutip dari Berita Vimala Dharma)

Mental Yang Kuat Dan Kokoh



Mental Yang Kuat Dan Kokoh
Oleh Viriya Dharma Tarjoko

Mental yang kuat dan kokoh adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap orang, sebagai landasan untuk menerusuri perjalana hidup yang penuh deng liku-liku, tantangan dan ujian. Seorang yang telah memiliki mental yang kuat dan tokoh dalam hidupnya, ia dapat berdiri tegak di tengah-tengah masyarakat sekalipun harus menghadapi liku-liku, tantangan dan ujian hidup yang bagaimanapun beratnya.

“Seperti seekor gajah di medan perang
dapat menahan serangan panah yang
dilepaskan dari busur, begitu pula Aku
(Tathagata) tetap bersaar terhadap cacian,
sesungguhnya sebagian besar orang
mempunyai kelakuan rendah”.

(Dhammapada Bab XXIII, ayat 320)

Perjalanan hidup setiap manusia dapat diibaratkan persis seperti kalau kita mau berjalan menuju ke suatu desa terpencul yang indah, yang jalannya masih asli. Jalan yang akan kita lalui, tidak semuanya mulus dan rata, akadalanya kita harus berjalan di jalan yang penuh dengan lubang, dakian yang tinggi, tikungan yang tajam, debu yang tebl, lumpur yang dalam dan lain-lain, yang tidak bisa dihindari untuk menuju desa terpencul yang indah tersebut, karena tidak ada jalan lain kecuali jalan itu.

Demikian juga perjalanan hidup kita menuju suatu kebahagiaan, juga tidak semuanya menyenangkan dan membahagiakan, ada kalanya penderitaan, kesakitan, kesedihanpun akan kita lalui; liku-liku, tantangan dan ujian hidup yang tidak kita inginkan pun sering datang menhadap kita, seperti hinaan,celaan, cacian, makian, kata-kata kotor dan kasar, kegagalan, kehancuran, kekecewaan, dan lain-lain, yang sebenarnya itu tidak kita inginkan. Sungguhpun demikian kita tidak bisa lari dan menghindarkan diri dari kenyataan hidup ini. Untuk mencapai suatu kebahagiana, kita harus berani menerima dengan sabar, tenang, dan lapang dada, berpandangan luas yang didasari atas pengetahuan Dhamma (Ajaran Sang Buddha); karena lari dari kenyataan hidup berarti kita kalah dengan tantangan dan selamanya kita tidak akan pernah mencapai kebahagiaan yang kita inginkan. Karena itu kita harus berani menghadapi dan mengatasi tantangan tersebut, sekalipun tantangan itu sungguh berat kita rasakan. Memang, kalau tantangan itu sangat berat, rasanya kita ingin lari untuk meninggalkannya, tetapi ke manakah kita harus lari? Sedangkan buah karma atau akibat perbuatan yang telah kita pergi dan di dunia ini tidak ada tempat bagi kita untuk bersembunyi ataumenghindarkan diri dari akhiat perbuatan yang telah kita lakukan. Sesuai Sabda Sang Buddha yagn ditulis dalam Kitab Suci Dhamam[ada Bab IX, ayat 127 yang berbunyi sebagai berikut:

“Tidak di langit, tidak dilautan, tidak
dicela-cela gunung atau dimanapun jua
dpat ditemukan suatu tempat bagi
seseorang untuk dapat menyembunyikan diri
dari akibat perbuatan jahatnya”.

Untuk itu, mau tidka mau kita harus berani menghadapi liku-liku, tantangan dan ujian tersebut. Kita dituntut untuk mempersiapkan sesuaut agar bathin kita tetap tenang, seimbagn, tentram, damai dan bahagia, apabila kita menghadapi liku-liku, tantangan dan ujian hidup yang bagaimanapun beratnya.

Namun, kita sadari bahwa di dunia ini banyak orang yang tidak sadar akan hal-hal itu, malah justru banyak diantara kita yang tertidur nyenyak dengan impian, bayangan dan khayalan yang indah. Sedikit sekali yang memimpikan, membanyngkan, dan menghayalkan ujian dan tantangan berat yang mungkin akan menimpa dirinya, karena itulah ia terlena dan tidak mempersiapkan sesuatu sebagai bekal perjalanan berikutnya.

Timbul suatu pertanyaan, persiapan apakah yang harus kita siapkan? Pertanyaan ini sulit untuk dijawab bagi orang yang tertidur nyenyak dengan impian yang indah, tetapi, pertanyaan ini mudah bagi orang yang terjaga dan mengerti kehidupan yang sebenarnya!! Persiapan yang harus dipersiapkan disini bukan saja uang, harta benda atau ilmu, tetapi juga bekal “Mental Yang Kuat Dan Kokoh”. Inilah persiapan yang tidak kalah pentingnya yang harus kita persiapkan sejak dini, untuk menelusuri jalan kehidupan yang panjang yang penuh liku-liku, tantangan dan ujian.

Seseorang yang tidak mempersiapkan bekal mental yang kuat dan kokoh dalam hidupnya, diibaratkan seperti orang yang mau bepergian jauh, tetapi ia tidak mempersiapkan atau membawa bekal yang lebih dari kebutuhan yang akan diperlukan, ia hanya membawa bekal yang pas-pasan saja, tidak mempersiapkan bekal untuk kebutuhan yang tak terduga, untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan menimpa dirinya di tengah perjalanan yang harus dikeluarkan sebagai bekalnya. Orang yang demikian ini akan mengalami sesuatu yagn tidak diinginkan menimpa dirinya ditengah perjalanan dan harus mengeluarkan sebagian bekalnya. Pertama kesedihan karena mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan, kedua kesedihan karena bingung, tidak ada pesiapan untuk itu, maka dengan terpaksa dan sedih hati ia harus mengurangi bekalnya yang pas-pasan itu, untuk memenuhi kebutuhan yang tak tak terduga, sedangkan perjalanan masih jauh. Sungguh hal ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi seorang yang sedang dalamperjalanan, yang bisa membuat ia menangis sedih. Dengan adanya hal ini kalau ia tidak bisa mencari jalan keluar, maka ia bisa terlantar di tengah perjalanan dan apabila ia tidak tabah dan sabar dalam menghadapinya maka di dalam pikirannya bisa muncul keinginan-keinginan untuk berbuat yang tidak baik untuk mencukupi kebutuhan hingga sampai tujuan, hal ini sungguh tidak kita inginkan.

Sungguh jauh berbeda bila kita bandingkan dengan orang yang telah mempersiapkan atau memiliki bekal mental yang kuat dan kokoh dalam hidupnya orang tersebut dapat diibaratkan, seperti seorang yang mau bepergian jauh, dan telah mempersiapkan bekal yang cukup bahkan lebih dari kebutuhan yang diperlukan sebagai bekal persiapan kalau-kalau di tengah perjalanan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa dirinya dan harus mengeluarkan sebagian bekalnya. Orang tersebut tidak terlalu mengalami kesulitan ataupun kesedihan, karena memang ada persiapan untuk itu.

Demikian pula kita, yang akan berjalan jauh menelousuri perjalanan hidup yang panjang yang penuh liku-liku, tantangan dan ujian, juga harus mempersiapkan bekal yang cukup bahkan lebih untuk bekal perjalanan hidup kita yaitu bekal mental yang kuat dan kokoh, agar bathin kita tetap tenang, tentram, damai dab bahagia, bilamana kita menghadapi tantangan dan ujian hidup yang bagaimanapun beratnya.

Keadaan bahtin yang tenang, tentram, damai dan bahagia inilah suatu keadaan yagn selalu didambakan oleh setiap orang, tetapi kenapa keadaan ini sulit untuk dicapai oleh setiap orang. Memang sulit, jarang sekali orang yang telah bisa mencapainya, hal ini disebabkan karena sebagian besar manusia masih terkat keadaan duniawi, keinginan rendah diumbar menguasai dirinya, usaha untuk mengendalikannya jarang dilaksanakan, pikirannya terbungkus oleh debu kekotoran, ia tidak mengerti dan tidak menyadari keadaan hidup yang sebenarnya. Inilah yang menyebabkan ia sulit untuk mencapai ketenagnan, ketentraman, kedamaian dankebahagiaan, bathinnya terombang-ambing tak menentu, sungguh sangat menyedihkan. Untuk itu marilah kita belajar untuk tidak terikat dengan keadaan duniawi, berusaha untuk mengendalikan keinginan rendah, membersihkan pikiran dari kekotorannya untuk mengerti kehidupan yang sebenarnya, serta berusaha untuk memiliki mental yang kuat dan kokoh. Mental yang harus dimiliki oleh setiap manusia dalam hal ini diharapakna bukan mental yang buta, yang fungsinya hanya untuk menahan serangan saja, tetapi tidak mengerti darimana serangan itu datang, apa bentuknya dan siapa yang membuatnya, mleainkan mental yagn didasari atas pengertian yang benar, mental yang mengerti, mental yang tidak buta. Mental yang dapat menahan serangan, dan mengerti darimana serangan itu datang, mengerti bentuknya, dan mengerti siapa yang membuatnya, kemudian berusaha untuk memperbaikinya. Inilah mental yang harus dimiliki oleh setiap orang.

Menurut Buddha Dhamma bahwa apapun yang kita terima pada kehidupan ini adalah bukan merupakan cobaan Yang Maha Kuasa, bukan kehendak para Bhramana, bukan dibuat oleh makhluk-makhluk halus, dan juga bukan disebabkan oleh orang lain, melainbkan hasil perbuatan diri sendiri yang telah dilakukan pada kehidupan yang lalu atau pada kehidupan sekarang, yang memang harus diterima. Kelahiran atau kehidupan kita pada saat ini adalah mearisi atau memetik buah kamma yang telah kita lakukan pada kehidupan yang lalu dan sekarang, yang memang harus kita terima dan kita jalani dengan baik. Buah kamma yang kita terima ada yang menyenangkan dan ada pula yan tidak menyenangkan kehidupan , buah kamma yang menyenangkan kita teirma dengan senyum dan hati gembira, lain halnya dengna buah kamma yangtidak menyenangkan, kita terima dengan muka masam dan hati sedih. Orang Bijaksana menerima kedua-duanya dengan muka dan hati yang sama, karena Ia telah mengerti keadaan hidup yang sebenarnya.

Lebih jauh lagi Sang Buddha telah menjelaskan bahwa kehidupan kita ini adalah tidak kekal adanya (Sabbe Sankkhara Anicca), semua yang ada di dunia ini yang terlahir, yang tercipta, yang berkondisi akan mengalami perubahan dan kehancuran, demikian pula semua yang kita miliki dan yang ada pada diri kita adalah tidak kekal adanya, akan mengalami perbuahan dan kehancuran dan pad suatu saat nanti baik cepat atau lambat pasti akan berpisah dari diri kita. Dengan memahami dn mengerti Dhamma (Ajaran Sang Buddha) serta menyadari akan kenyataan hidup yang sebenarnya, maka hal ini telah membuat mental kita menjadi kuat dan kokoh, sehingga kita tidak mudah goyah bilamana pada suatu saat kita menghadapi atau menerima sesuatu yang tidak kita kehendaki yang cukup berat dirasakan, karena kita telah mengerti dan menyadari kenyatan hidup yang sebenarnya,

Sang Buddha bersabda:

“Tidak ada sesuatu yang akan terjadi atas diri kita, kalau itu bukan bagian kita”.

Di dalam kehidupan masyarakat, memang banyak kita temui, orang yang mengalami kegoncangan bathin, bathinnya tidak tenang, hatinya tidak tentram, pikirannya kalut menjadi tidak normal, frustasi, ada yang sampai nekat untuk memutuskan hidupnya dengan cara yang salah. Itu semua disebabkan karena ia tidak mampu menerima atu menghadapi tantangan mental atau tantangan hidup yang berat yang memang harus ia hadapi. Ia tidk mempersiapkan bekal untuk itu.

Seseorang yang kaya raya, yang tidak mempersiapkan diri atau tidak mempersiapkan mental yang kuat dan kokoh untuk berpisah dengan harta bendanya, malah justru sangat terikat dengan harta kekayaannya, dan tidak pernah sadar bahwa harta kekayaan yang dimiliki bisa lenyap dengan seketika, maka bilamana benar pada suatu saat harta kekayaannya lenyap dengan seketika karena kebakaran, maka hal ini akan membuat si kaya itu mengalami kegoncangan bathin, apabila harta kekayaan yang lenyap itu hasil jerih payan yang dikumpulkan bertahun-tahun, kejadian ini sungguh membuat si kaya menjadi sedih. Inilah yang dimaksud salah satu tantangan mental yang cukup berat, yang membuat seseorang bisa menjadi goncang bathinnya, frustasi, bsedih hati yang berlarut-larut menyesali harta bendanya yang lenyap, apa lagi jika yang lenyap itu termasuk juga barang-barang yang baru saja dibeli dengan harga yagn cukup mahal yang sangat disenangi dan belum sempat untuk dinikmati. Tetapi orang yagn telah mempersiapkan mental untuk itu, kesedihannya tidak sampai menggoncangkan bathinya, kesedihannya tidak berkarut-larut, bahkan mungkin ia tidak merasakan kesedihan sedikitpun, karena ia telah mempersiapkan diri untuk itu dan telah memiliki mental yang kuat dan kokoh, serta dia sadar memang ini perjalanan hidup yang harus ia temui dan jalani.

Karena itu, marilah kita bersama-sama mempersiapkan mental yang kuat dan kokoh dalam diri kita, untuk menelusuri perjalanan hidup yang penuh dengan liku-liku, tantangan,, dan ujian hidup yang memang harus kita hadapi, kita terima, dan kita jalani, agar bahtin kita tetap tenang, tentram, seimbang, damai dan bahagia bilamana kita menghadapi sesuatu hal yang tidak kita inginkan.

Seorang yang kaya raya mempersiapkan diri atau mempersiapkan mental yang kuat dan kokoh untuk menjadi orang yang miskin dan berpisah dengan harta kekayaannya, sekalipun kemiskinan dan berpisah dengan harta kekayaannya itu tidak dikehendaki; seorang pedagang yang sukses mempersiapkan diri atau mempersiapkan metanl yang kuat dan kokoh untuk rugi yang besar, sekalipun kerugian yang besar itu tidak dikehendaki; seorang pejabat mempersiapkan diri untuk melepaskan jabatannya; seorang pegawai yang rajin mempersiapan diri untuk tidak digunakan lagi tenaganya; seorang suami/istri mempersiapkan diri untuk ditinggal pergi, dicerai, bahkan ditinggal mati oleh suami atau istrinya; seorang pemuda dan pemudi yang sedang menjalin hubungan cinta yang sangat erat juga harus mempersiapkan diri untuk berpisah, dan seterusnya, sekalipun itu semua tidak kita inginkan, tetapi memang demikianlah kenyataan hidup. Dengan persiapan ini, maka bilamana ada sesuatu hal yang tidak kita inginkan itu benar terjadi pada diri kita, maka hal itu tidak akan menganggu bathin kita, bathin kita tetap tenang, seimbang, tentram, damai dan selalu bahagia.

Namun demikian sekalipun kita telah mempersiapkan bekal mental yang kuat dan kokoh dalam diri kita untuk menghadapai liku-liku, tantangan dan ujian hidup, kitapun tidak boleh ceroboh atau sembrono dalam bertindak, kita harus tetap bertindak dengna baik dan benar sesuai dengan ajaran kebenaran, sesuai dengan Dhamma (Ajaran Sang Buddha), seorang yang kaya raya harus bertindak hati-hati agar tidak jatuh miskin, seorang pedagang harus berdagang dengan baik, seorang pejabat harus melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh dan benar, seorang suami istri harus membina rumah tangga dengan penuh pengertian dan perhatian , seorang pemuda dan pemudio yang sedang menjalin hubungan cinta harus dijalin dengan baik dan penuh pengertian dan keseriusan, namun tidak boleh terlalu terikat erat, dan harus sadar bahwa apa yang dimiliki dan cintai pada suatu saat pasti akan berpisah.

Mudah-mudahan dengan persiapan Bekal Mental Yang Kokoh Dan Kokoh ini, bahtin kita akan tetap selalu tenang, seimbang, tentram, damai dan bahagia, sekalipun harus menghadapi liku-liku, tantangan, dan ujian hidup yang bagaimanapun beratnya.

“Bagaikan Batu karang Yang Berdiri Tegak
Yang Tiada Tergoyahkan Oleh Angin Topan,
Demikianlah Orang Yang Bijaksana Tak Tergoyahkan
Oleh Pujian Dan Hinaan”.
(Dhammapada bab VI, ayat 81)

Semoga kita selalu hidup dalam keseimbangan bathin dan bahagia.

Wednesday, October 6, 2010

Menjaga Keyakinan Yang Benar




Menjaga Keyakinan Yang Benar

Oleh Yang Mulia. Bhikkhu Santamano



Terdapat beberapa keyakinan yang perlu difahami oleh kita sebagai umat Buddha. Yang pertama : memiliki pengertian yang benar terhadap hukum perbuatan Kamma Saddha). Ke dua adalah : memahami bahwa setiap perbuatan yang dilakukan pasti akan membawa akibat Vipaka Saddha). Yang ke tiga : mempunyai pamahaman jelas bahwa semua makhluk mempunyai kamma masing-masing dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya (Kamma Sakata Saddha). Dan yang ke empat adalah : meyakini bahwa terdapat seseorang yang mampu mencapai Pembebasan Akhir, Yang Maha Suci, Yang Maha Sempurna, adanya seorang Samma Sambuddha yang muncul di dunia ini, yang memberikan 'Jalan Terang' dan kita sebut Ariya Atthaṇgika Magga atau Jalan Utama Berunsur Delapan (Tathagata Bodhi Saddha). (lihat : vijja Dhamma halaman 50).

Telah dijelaskan oleh Sang Buddha bahwa 'Setiap perbuatan selalu didahului oleh pikiran', jadi pikiran itu adalah awal dari perbuatan. Buah pikiran yang datang dan mengisi setiap momen pikiran akan mempengaruhi perbuatan berikutnya. Ucapan adalah perbuatan kelanjutan dari empunya / pikiran yang keluar dari bibir kita. Seseorang yang mengucapkan kata-kata dengan kesungguhan penuh keyakinan sangat berbeda sekali dibanding dengan orang yang berbicara tanpa arah tujuan serta tidak jelas alasannya. Ucapan seseorang yang lembut dan meyakinkan begitu menyejukkan hati orang lain, akan tetapi ucapan yang mengandung panasnya hati dan pikiran akan membuat orang menjadi menderita dan sengsara. Perbuatan badan jasmani yang benar akan membantu setiap jenis pekerjaan yang dilakukan. Bila perbuatan itu diikuti dengan keyakinan maka akan membawa kekuatan tersendiri. Seseorang mampu untuk mengangkat beban seberat seratus kilogram karena dimuati oleh pikiran "Saya mampu mengangkat seratus kilogram". Kalau setiap hari kita selalu memprogram atau mengisi pikiran kita dengan hal-hal positif maka kita akan mendapatkan manfaat yang memuaskan dan membahagiakan, sebaliknya pikiran-pikiran negatif yang sering diingat-ingat dan kita perbuat tentu akan membuat penyesalan dan kesedihan. Oleh karena itu kita sekarang melihat sebenarnya keyakinan itu ada dua hal, yaitu:

  1. Keyakinan yang benar / berdasarkan pengertian benar, dan

  2. Keyakinan yang salah / keyakinan yang membabi-buta.

Keyakinan yang benar mempunyai kriteria yakni ; datang - melihat - dan buktikan (Ehipassiko), sedangkan keyakinan salah hanya melihat orang / obyek tanpa pengertian yang jelas dan yang mudah dibelok-belokkan kepercayaannya tersebut ketika mendapatkan hal yang terbaru dan lebih mengagumkan atau berkesan di hatinya.

Untuk meningkatkan keyakinan (dan rasa percaya diri; dalam kamus umum), banyak orang mencari sarana / media di luar dirinya sendiri. Semisal seorang anak muda akan merasa bangga bila mendapatkan pengakuan jati dirinya di depan teman-temannya dan juga lingkungannya, seseorang akan bekerja dengan giat bila mendapatkan pujian, dan lain-lain.

Dalam Milinda Panha I; ciri khas dari keyakinan adalah 'Kejernihan dan inspirasi'. Demikian menurut agama Buddha bahwa keyakinan bukanlah sekedar melihat orang / obyek yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu, lebih dari itu pengalaman pribadi dan melihat sesuatu dengan pengamatan yang benar, sehingga mendatangkan kesimpulan yang cocok dan sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini dan di masa mendatang. Bagaimanakah caranya kita memiliki keyakinan yang benar itu ? Adalah dengan melakukan perbuatan baik maka kita akan mendapatkan keyakinan, contohnya membagikan kebahagiaan dengan cara berdana kepada orang yang memerlukan, melaksanakan sila setiap saat, melatih kesabaran, menjaga pikiran dengan bermeditasi, dan memiliki kebijaksanaan. Sebaliknya kita bisa melihat, ketika seseorang melakukan kesalahan atau menambah kekotoran batin, maka keyakinannya semakin memudar, serta melakukan sesuatu dengan terburu-buru dan hasilnya pun akan terlihat tidak sempurna dan tidak memuaskan.

Menurut Itivuttaka II; 39 bait kedua, para deva menegaskan :"Hal yang pantas diperoleh ialah memiliki keyakinan terhadap Dhamma dan Vinaya". Oleh karena itu marilah kita memeriksa ke dalam batin dan pikiran. Sudahkah saya memiliki keyakinan yang benar. Semoga semua makhluk bahagia.

[ Dikutip dari Berita Dhammacakka, Edisi 16 Januari 2000 ]

Tuesday, October 5, 2010

Menjadi Seorang Umat Buddha








Bagaimana menjadi seorang umat Buddha yang baik? Apakah yang pertama yang harus diperhatikan dan dilakukan? Ini merupakan pertanyaan yang sederhana dan sering ditanyakan oleh seseorang yang tertarik kepada agama Buddha.

Menjadi umat Buddha, syarat pertama, bukan harus bisa membaca paritta dalam bahasa Pali yang mungkin sukar untuk dibaca pertama kali. Bukan pula harus mempunyai altar denngan patung Buddha yang indah di rumah. Meskipun sudah tentu, membaca paritta dan mempunyai altar itu adalah suatu hal yang amat membantu dan sangat baik. Menjadi seorang umat Buddha, pertama kali yang harus dilakukan adalah siap dan berani mengubah cara berpikir. Seorang umat Buddha akan ditandai oleh cara berpikir yang Buddhistis. Cara berpikir Buddhis, cara berpikir Dhamma adalah kita dihadapkan kepada kenyataan yang "telanjang", yang terus terang, dan kenyataan itu sering tidak cocok dengan selera kita. Namun menghadapi kenyataan dengan apa adanya ini akan membuat kita menjadi dewasa dan bijaksana.

Satu contoh, kalau kita mengidap penyakit, dan kalau kita menjadi seorang umat Buddha harus mau mengakui bahwa diri kita sakit. Dan itu sesuatu yang tidak gampang. Dhamma meminta kita untuk melihat kenyataan hidup dengan apa adanya, dengan terus terang, dengan tanpa tabir. Selera kita adalah ingin sehat, ingin makan seenak kita, misalnya bir, sate kambing, ayam goreng, dan lain-lain, tapi kenyataan menghadapkan kepada kita bahwa kita sakit. Oleh karena itu, meskipun berat dan pahit, kalau kita mau melihat kenyataan dan siap menerima kenyataan, maka kita akan berpikir secara dewasa, dan sikap kita akan menjadi sikap yang bijaksana. Lain misalnya kalau kita sakit, kemudian kita ingin menutupi kenyataan itu, pura-pura tidak sakit, "jerih" atau takut melihat kenyataan, serta menganggap diri kita tidak sakit, padahal sesungguhnya sedang sakit. Menutupi penyakit adalah sikap kekanak-kanakan; karena itu sikapnya, tindakan atau perbuatannya kemudian tidak akan menjadi bijaksana. Kita menjauhi obat, tidak menjaga diri. Perbuatan dilakukan bila sesuai dengan selera, sehingga perbuatan itu akan menghancurkan diri sendiri.

Inilah manfaat beragama, terutama menjadi umat Buddha yang mengenal Dhamma. Kita ditantang, diminta kesanggupan kita bukan hanya kesanggupan untuk menyumbang kepada vihara. Bukan! Bukan pula kesanggupan menghapal paritta yang mungkin sulit dibaca. Tetapi kesanggupan mengubah cara berpikir dan kesanggupan untuk berani melihat dengan mata terbuka terhadap kenyataan sebagai mana adanya; sehingga sikap, tindakan, dan perilaku kita menjadi sikap/tindakan/perilaku yang dewasa dan bijaksana.

Saya ingin memberikan sebuah contoh lain. Bila kita sakit demam maka kita tidak boleh makan gorengan dan minum es. Orang tahu akan hal itu. Seandainya orang tua sakit, dia akan mengerti. Karena dia sayang kepada anak-anaknya, dia harus menjaga kesehatannya, orang tua mempunyai tanggung jawab, dan bisa menahan diri, karena dia dewasa. Tetapi kalau anak-anak, mungkin sulit untuk tidak makan gorengan atau minum es. Apa sebab? Sebab dia masih anak-anak, tidak bisa berpikir panjang. Demikan juga dengan kita. Kalau cara berpikir kita masih seperti itu, meskipun usia kita sudah lanjut, maka cara berpikir kita tetap seperti anak-anak.

Pada suatu perayaan, saya menjelaskan tentang materi, tentang uang, tentang hasil dari pekerjaan kita. Agama Buddha tidak menganggap uang , materi, kendaraan, tanah atau rumah itu sebagai jelek, sebagai kotor, sebagai dosa. Tidak sama sekali! karena materi atau uang itu adalah netral. Sama seperti pisau, pisau itu bukan baik, tetapi juga bukan jahat. Listrik itu bukan sesuatu yang penuh cinta kasih, tetapi juga bukan sesuatu yang kejam. Listrik itu bisa membakar rumah, bisa membunuh manusia, tetapi bisa pula menerangi rumah kita, membangkitkan mesin-mesin yang besar. Listrik bukan penuh cinta kasih karena banyak menolong kita, tetapi juga bukan kejam karena menimbulkan bencana. Listrik, uang, materi, kendaraan, tanah, rumah, semua itu netral; bukan baik tetapi juga bukan jelek. Agama Buddha tidak anti materi, tidak menginginkan Saudara hidup melarat, cukup pakai cawat kulit kayu, makan nasi dengan garam campur air, selesai. Tidak pernah ada ajaran agama Buddha yang demikian. Tetapi yang diminta oleh agama Buddha adalah bagaimana pandangan Saudara dalam memandang uang dan materi itu. Kalau pandangan Saudara dalam memandang uang dan materi itu sama dengan sebelum Saudara menjadi umat Buddha, maka sesungguhnya Saudara bukan umat Buddha. Karena umat Buddha itu ditandai cara berpikir yang sesuai dengan Dhamma. Umat Buddha tidak ditandai dengan memakai emblim atau simbol atau medalion, tetapi menjadi umat Buddha adalah orang yang siap mengubah cara berpikirnya dalam memandang segala sesuatu. Kalau saudara memandang uang, materi, tanah, mobil, rumah, dan sebaginya itu bukan sebagai kekayaan atau sebagai sarana untuk menyejahterakan keluarga, alat untuk melakukan kebaikan yang lebih banyak dalam kehidupan ini, maka itulah cara berpikir umat Buddha.

Semua orang senang akan kesenangan, kebahagiaan, termasuk saya. Siapakah yang tidak senang akan kesenangan, akan kebahagiaan? Tetapi merupakan selera/keinginan manusia untuk kemudian mengukuhi, menggenggam kesenangan dan kebahagiaan ini menjadi miliknya untuk selama-lamanya. Dan menurut kenyataan, hal itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin. Bearanikah Saudara menghadapi kenyataan seperti itu? Kalau Saudara sudah siap mengubah cara berpikir Saudara, bahwa memang segala sesuatu di dunia ini adalah tidak kekal, kebahagiaan maupun kepuasan adalah tidak kekal, demikian juga dengan problem, kesulitan, kesedihan, adalah tidak kekal, maka Saudara sudah siap menghadapi dunia ini dengan segala perubahannya. Mereka yang menganggap segala sesuatu di dunia ini kekal abadi adalah orang yang paling kecewa di dunia ini. Mereka yang mengukuhi segala sesuatu yang menyenangkan, adalah orang yang paling tidak bahagia di dunia ini, karena sesungguhnya segala sesuatu itu adalah perubahan.

Mengubah cara berpikir seperti ini amat membantu. Sikap memandang dunia ini atau menanggapi segala sesuatu itu dengan jelas, dengan benar dan sesuai dengan kenyataan adalah sesuatu yang amat memnbantu. Ini lebih berharga daripada Saudara mempunyai bermacam-macam benda pusaka. Pusaka yang bisa dimasukkan ke dalam pikiran itulah yang paling berharga. Pusaka pengertian yang sesuai dengan kenyataan. Dan untuk itu Saudara yang semula, yang mungkin tidak sesuai dengan kenyataan.

Sekali lagi, memang belajar melihat kenyataan dengan terus terang adalah berat. Pahit! karena tidak sesuai dengan selera atau kehendak kita. Selera kita menginginkan kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan yang senantiasa, yang terus-menerus. Sehat terus-menerus, anak-anak baik terus-menerus, iteri-suami setia terus-menerus, keuntungan terus-menerus, mungkin hidup pun ingin terus-menerus! Itulah selera kita. Siapakah yang senang mati? Siapakah yang senang sengsara, kecewa, menderita, tertekan? Selera kita adalah agar kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan, keuntungan itu terus-menerus kita miliki. Tetapi itu adalah tidak mungkin. Amat berat mengalami kenyataan kalau suatu saat semua itu sudah berubah. Tetapi itulah kenyataan. Kalau Saudara berani menghadapi kenyataan, itu luar biasa!

Bagaimana agar menjadi berani? Tidak lain adalah harus siap mengubah cara berpikir sesuai dengan kenyataan. Sekarang jangan lagi menganggap segala sesuatu itu abadi, kekal, termasuk penderitaan, kesulitan, problem, karena semuanya tidak kekal. Mengapa harus putus asa? mengapa harus patah semangat? Sekarang jangan lagi menganggap bahwa uang atau materi itu hartaku, milikku. Sekarang jangan lagi menganggap bahwa hidup ini adalah untung-untungan, pemberian atau hadiah. Tatapi mulai sekarang harus menganggap hidup ini adalah perjuangan. Hidup ini adalah tidak kekal. Kita harus melihat kenyataan itu, sehingga kita tidak berputar-putar di dalam perubahan yang tidak kita kehendaki. Kita harus menjadi dewasa sehingga kita menjadi bijaksana.

Pada umumnya orang mencari kesenangan, kenikmatan, atau kepuasan dari sekitarnya, dari pekerjaannya, dari teman-temannya, dari lingkungan, dari istri/suaminya, dari anak-anaknya. Apakah semua itu bisa memberikan kenikmatan dan kesenangan untuk selamanya bagi Saudara? Suatu saat usaha Saudara turun, suatu saat Saudara dikhianati oleh teman baik Saudara, suami atau istri Saudara kabur, anak-anak Saudara menjadi nakal. Itu mungkin terjadi! Saya tidak perlu membicarakan keluarga yang sukses karena sudah "no problem". Justru yang menjadi tantangan bagi kita adalah bagaimana kalau kita menghadapi persoalan/problem. Karena lingkungan kita, kolega kita, pekerjaan kita, suami-istri, anak-anak kita tidak akan selamanya cocok dengan selera atau kemauan kita. Suatu saat kalau lingkungan tempat kita bergantung ini sudah tidak menyenangkan kita lagi, maka habislah kita. Saudara merasa kebahagiaan Saudara dirampok. "Dia dulu baik, kalau dulu saya sakit dia sering menengok. Saya sudah menganggapnya seperti saudara, kenapa dia sekarang mengkhianati saya?" Hal itu sering terjadi. Mungkin juga suatu saat bisa menimpa Saudara. Anak sendiri, darah dagingnya sendiri menodongnya, bisa terjadi! Suami-istri yang sudah 20 atau 25 tahun menikah, bisa berpisah.

Meskipun Saudara tidak menghadapi problem seperti ini, suatu saat Saudara akan menghadapi problem yang tidak menyenangkan Saudara. Kalau masih satu atau dua problem dan Saudara masih mempunyai kenikmatan di bidang lain, maka tidak ada persoalan. Tetapi kalau problem itu datang bertubi-tubi dan bersamaan, semua tempat Saudara bergantung tidak dapat memuaskan Saudara, habislah kebahagiaan Saudara. Seperti digarong habis-habisan. Mampukah Saudara bertahan? Kalau Saudara mempunyai simpanan di dalam batin, Saudara akan bisa bertahan. "Andaikata lingkungan sudah tidak bisa lagi sesuai dengan selera saya, saya masih mempunyai kesenangan dan kebahagiaan batin". Dengan demikian Saudara akan bertahan.

Dari manakah kita bisa mendapatkan kebahagiaan batin? Yakni dari pengetahuan mengenai hakikat kehidupan ini sebagaimana adanya, dan melakukan kebaikan. Inilah gunanya melakukan kebaikan. Saya tidak berbicara kalau berbuat baik, akibat kammanya begini-begitu, tetapi kebajikan itu akan menjadi simpanan batin. Tidak terasa seperti Saudara menabung di bank. Mungkin Saudara berkata: "Apa gunanya sih menabung, mengurangi jatah?" Tetapi nanti kalau Saudara tiba pada keadaan yang sangat menyulitkan, Saudara baru dapat merasakannya. Inilah keuntungan orang menabung: berbuat baik.

Maka anjuran saya, permintaan saya, cobalah Saudara menabung. Menabung di dalam batin Saudara. Untuk suatu saat kalau Saudara ditinggal oleh kolega Saudara, dikhianati oleh teman-teman Saudara, ditinggalkan oleh teman-teman saudara, ditinggalkan oleh yang lain, jatuh dalam kesulitan, Saudara mampu tetap bertahan, punya daya tahan yang Saudara bangun sendiri. Tidak ada orang yang bisa menghadiahkan daya tahan, kesabaran, kekuatan, dan lain-lain. Semua itu harus dilatih, ditumbuhkan, dan dikembangkan di dalam diri oleh diri sendiri, sebagai kekayaan pribadi di dalam.

Inilah ajaran agama Buddha. Memang tidak simpel/mudah. Ajaran agama Buddha itu tidak menawarkan dua alternatif: Percaya atau tidak! Kalau itu gampang sekali. "Kalau tidak percaya, Saudara boleh memilih yang lain; kalau percaya OK!" Agama Buddha tidak se-simpel itu. Tetapi Saudara dituntun seperti orang buta, lalu diobati, dibimbing pelan-pelan, bagaimana untuk menghadapi kehidupan ini, supaya bisa berdiri di atas kaki sendiri. Sulit memang! Hasil-hasil besar yang ada di dunia ini bukanlah suatu kebetulan. Orang-orang besar yang bisa menemukan penemuan besar spritual atau material di dunia ilmu, itu tidak ada yang kebetulan. Semua itu adalah perjuangan.

Kalau saya ditanya, "Bhante, menjadi umat Buddha bangganya apa?" Apakah karena viharanya yang besar? Karena kebaktiannya yang rapi? Bukan! Saya bangga menjadi umat Buddha karena saya mempunyai wawasan yang luas. Saya tidak sekedar disodorkan: "Ya atau tidak. Percaya atau tidak". Sama sekali tidak. Tetapi saya disodorkan pengertian. Kalau saya mengerti, saya akan percaya. Bukan dibalik: "Kalau anda percaya, anda akan mengerti". Tidak demikian. Tetapi kalau anda mengerti, tidak usah diminta, anda akan percaya.

Mempunyai cara berpikir yang benar, sikap memandang kehidupan ini dengan benar, adalah syarat yang pertama menjadi seorang umat Buddha. Memang berat! Tetapi itulah dunia ini sebagaimana adanya.

Sebagai penutup, saya akan mengutip kata-kata dalam kitab suci Dhammapada:
"Attana hi sudantena, natham labhati dullabham".
Yang artinya:
"Setelah dapat mengendalikan diri sendiri dengan baik, seseorang akan memperoleh perlindungan yang amat sukar dicari".

Kalau Saudara mau mendidik diri sendiri, Saudara akan mendapat keuntungan yang sukar dicari, dan keuntunngan itu adalah pelindung. Siapa yang bisa melindungi Saudara, yang paling setia, yang tidak berkhianat, yang aman? Yaitu pikiran saudara sendiri yang sudah dilatih. Karena yang mencelakakan Saudara, yang menghancurkan Saudara, juga adalah pikiran Saudara sendiri. Karena itu dengan melatih diri sendiri, akan mendapat keuntungan yang sukar dicari, yaitu pelindung yang setia.
Marilah kita siap menghadapi kenyataan, punyailah modal di dalam batin yang lebih kuat, tegar menghadapi apapun. Karena apapun yang ada atau yang terjadi, adalah tidak kekal.

Monday, October 4, 2010

Meningkatkan Etos Kerja




Meningkatkan Etos Kerja

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera



PENDAHULUAN
Manusia pada dasarnya terdiri dari lahir dan batin. Oleh karena itu, sesuai dengan keadaannya, banyak pula ragam kebutuhan manusia. Secara fisik, kehidupan manusia minimal memerlukan empat kebutuhan pokok yang terdiri dari sandang, pangan, papan serta obat-obatan. Apabila kebutuhan pokok ini telah tercukupi, kadang orang masih memerlukan kebutuhan fisik lainnya, seperti misalnya pendidikan, perhiasan, kendaraan, hiburan dan lain sebagainya yang kesemuanya itu diharapkan dapat membuat kehidupan fisiknya menjadi lebih baik dan bahagia. Agar dapat mewujudkan semua kebutuhan itu maka orang kemudian bekerja dan berjuang dalam masyarakat dengan penuh semangat untuk mendapatkan penghasilan. Makin maju dan berhasil seseorang bekerja serta berkarya, pada umumnya makin besar pula penghasilan sehingga memungkinkannya untuk dapat mencukupi segala kebutuhan hidup fisiknya.

Selain kebutuhan fisik tersebut di atas, manusia memerlukan pula pemenuhan kebutuhan batin, misalnya perhatian, penghargaan, kasih sayang, harapan, cinta, kesenian dan juga agama. Agama yang merupakan kumpulan tata cara kehidupan untuk dapat mencapai kebahagiaan duniawi maupun surgawi diperlukan agar orang memiliki landasan moral dan kemantapan dalam setiap tindakan, ucapan maupun pikirannya.
Dalam kesempatan ini akan disoroti secara khusus tentang kebutuhan manusia akan agama dan juga sekaligus dihubungkan dengan kebutuhannya untuk berkarya, terutama dalam bidang ekonomi. Permasalahannya sekarang, bagaimanakah agama dapat menjadi jembatan penghubung yang serasi antara pemenuhan kebutuhan badan dengan kebutuhan batin? Permasalahan ini dapat muncul disebabkan banyak orang beranggapan bahwa ajaran agama cenderung mengekang dan mengendalikan daripada mendorong seseorang melaksanakan kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, tentunya di sini akan muncul pula pertanyaan penting:

Apakah dalam Ajaran Sang Buddha terdapat uraian yang menganjurkan dan memberikan motovasi untuk seseorang bekerja giat yang hasilnya adalah pertumbuhan ekonomi?
Jawabnya, ada !

Agama Buddha terdiri dari dua hal pokok yaitu Ajaran Sang Buddha yang telah diberitakan oleh Sang Buddha sejak hampir tiga ribu tahun yang lalu dan juga kumpulan tradisi yang berkembang sejalan dengan waktu dan tempat berkembangnya Agama Buddha. Ajaran Sang Buddha berisikan metoda penyempurnaan tindakan, ucapan serta pikiran seseorang agar terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin yang disebabkan karena seseorang tidak menyadari akan kondisi kehidupan yang selalu berubah.
Umat Buddha pada hakekatnya terdiri dari dua kelompok yaitu para viharawan dan perumah tangga. Para viharawan tinggal menetap di vihara dan tidak berkeluarga, sedangkan para perumah tangga hidup bermasyarakat dan bekerja serta berkeluarga. Sejak Sang Buddha masih hidup, walaupun Beliau termasuk viharawan (bhikkhu), Beliau tidak pernah menjadikan pekerjaan, harta dan kekayaan sebagai musuh kehidupan beragama. Beliau justru menyadari bahwa apabila kondisi ekonomi cukup, batin seseorang akan cenderung tenang sehingga ajaran agama pun akan semakin mudah diterima serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat dicapai hasil maksimal. Oleh karena itu, terdapat tiga tujuan hidup seorang umat Buddha yaitu pertama, ia mendapatkan hidup di dunia dengan tenang dan bahagia tercukupi kebutuhan lahir batinnya. Kedua, ia dapat terlahir di salah satu dari dua puluh enam tingkat surga setelah kehidupan ini karena banyaknya kebajikan yang telah dilakukan selama hidupnya. Dan, ketiga, akhirnya ia mencapai kebahagiaan sejati, tidak terlahirkan kembali, mencapai Nirvana, Tuhan Yang Mahaesa.
Dalam makalah ini hanya akan dibicarakan tentang Ajaran Sang Buddha yang berkenaan dengan usaha meningkatkan etos kerja agar dapat tercapai pula peningkatan produktivitas sehingga tercapai kebahagiaan duniawi lahir dan batin.

PEMBAHASAN
Telah disebutkan di atas bahwa salah satu dari tiga tujuan hidup seorang umat Buddha adalah memperoleh kebahagiaan duniawi. Disebutkan pula di dalam kitab Anguttara Nikaya II, 65 bahwa terdapat empat keinginan kita yang dapat dicapai di dunia:


1. Semoga saya menjadi kaya dengan cara yang benar dan pantas.
2. Semoga saya, sanak keluarga dan kawan-kawan dapat mencapai kedudukan sosial yang tinggi.
3. Semoga saya dapat berusia panjang.
4. Semoga saya dapat terlahir di surga setelah kehidupan ini berakhir.

memperhatikan bentuk kebahagiaan duniawi no. 1 di atas maka umat Buddha pastilah dapat dan diperbolehkan mengumpulkan kekayaan seberapapun yang disukainya asalkan semua kekayaannya itu diperoleh dengan cara yang benar dan pantas. Bekerja giat dan penuh semangat serta bersikap jujur, setia pada pekerjaan maupun atasan itulah sikap pokok yang harus dimiliki dan ditumbuhkan. Kitab Vibhangga 216 & 413 menyebutkan bahwa agar dapat bekerja giat, ulet dan bersemangat dibutuhkan minimal empat syarat yaitu:

1. CHANDA : Kepuasan dan kegembiraan di dalam mengerjakan hal-hal yang sedang dikerjakan.
Langkah awal yang amat penting dalam rangka meningkatkan produktivitas adalah menentukan jenis pekerjaan kita. Memilih pekerjaan selain dibutuhkan kecerdasan tertentu untuk melaksanakan pekerjaan itu hendaknya dipikirkan pula bakat atau hobby yang dimiliki. Menyesuaikan pekerjaan dengan hobby atau kesenangan ini perlu. Apabila kita senang dengan pekerjaan itu, kita akan selalu gembira dan bersemangat untuk mengerjakannya. Segala bentuk kesulitan yang muncul darinya akan menjadi tantangan yang menarik dan sama sekali bukan merupakan hambatan. Kegembiraan yang dirasakan bukan di awal ataupun akhir pekerjaan, tetapi justru pada saat menghadapi dan menyelesaikan pakerjaan itu. Pada umumnya orang hanya merasa gembira ketika di awal ataupun akhir pekerjaan. Pada awalnya, mereka membayangkan keindahan hasil yang akan dicapainya. Pada akhir pekerjaan, mereka merasa puas bila berhasil dan kecewa bila mengalami kegagalan. Pada saat proses pelaksanaan pekerjaan itu berlangsung, mereka kadang malah menjadi segan, bosan untuk mengerjakannya. Tidak jarang, mereka kemudian bahkan menyerah sebelum kalah karena merasa terlalu lambat hasil yang hendak diraihnya. Padahal hasil pekerjaan itu adalah akibat langsung dan sepadan dengan usaha yang telah kita kerjakan dengan penuh keuletan serta kegembiraan itu.

2. VIRIYA : Usaha yang bersemangat di dalam mengerjakan sesuatu
Hobby dan kesenangan menjadikan kegembiraan dalam melaksanakan tugas. Kegembiraan akan menimbulkan semangat. Semangat memunculkan keuletan dalam berusaha. Keuletan akan mewujudkan hasil yang memuaskan. Hasil yang memuaskan akan membahagiakan diri kita secara lahir dan batin. Kebahagiaan atas keberhasilan tersebut dapat juga dirasakan oleh lingkungan kita, keluarga, atasan dan masyarakat luas, sejalan dengan jenis pekerjaan yang kita lakukan. Itulah proses wajar yang akan muncul dalam diri kita bila pelaksanaan pekerjaan telah diawali dengan cara yang tepat.

Apabila ternyata kita tidak berhasil mendapatkan jenis pekerjaan yang sesuai dengan hobby kita, untuk menggantikan faktor pendorong yang amat penting ini, kita dapat segera menetapkan tujuan hidup kita. Tujuan hidup inilah yang telah kita sadari menjadi alasan kuat untuk kita bekerja. Kelemahan, kemalasan dan hilangnya semangat kerja kita dapat dikendalikan dengan selalu memotivasi diri, memacu diri kita untuk selalu ingat akan tujuan hidup yang belum tercapai.

Tujuan hidup yang paling pertama dan utama adalah kecukupan kebutuhan pokok. Kita hendaknya menetapkan ukuran "cukup" itu terlebih dahulu. Ukuran itulah yang akan menjadi sasaran sementara kita. Bila telah tercapai, kita dapat meninjau kembali dan meningkatkan tujuan kita tersebut. Batas akhir sasaran sementara ini tergantung pada tingkat kematangan berpikir setiap orang. Sangat relatif.
Apabila tujuan keduniawian dirasa telah cukup, kita dapat mulai mengimbanginya dengan memikirkan pula tujuan surgawi. Fasilitas untuk menentukan tujuan surgawi lengkap dengan rumusan usaha untuk mencapainya adalah pokok ajaran yang telah disediakan oleh lembaga keagamaan. Tujuan surgawi dapat dicapai dengan, salah satunya, melaksanakan perbuatan baik. Melaksanakan kebaikan dapat mempergunakan sebagian hasil yang telah kita dapatkan dari pekerjaan kita. Hasil ini dapat berupa materi maupun non-materi.

Pada titik inilah kebutuhan hidup lahir dan batin dapat terpenuhi. Disini pulalah kebutuhan lahir dan batin dapat saling mendukung. Pekerjaan dan agama walaupun dua bidang yang berbeda, masing-masing mampu saling melengkapi. Satu bidang akan memberikan semangat untuk lebih giat melaksanakan bidang yang lainnya.

3. CITTA : Memperhatikan dengan sepenuh hati hal-hal yang sedang dikerjakan tanpa membiarkan begitu saja.
Karena senang dengan pekerjaan yang sedang dilakukannya maka muncullah padanya semangat, ketahanan dan ketekunan. Tekun dan rajin mengerjakan sesuatu akan menimbulkan konsentrasi. Konsentrasi dalam bekerja adalah kemampuan untuk menghilangkan bentuk-bentuk pikiran yang mungkin dapat menyimpangkan diri kita dari tujuan pekerjaan semula. Perhatian dan kewaspadaan terhadap pekerjaan merupakan sikap yang akan menjauhkan diri kita dari kelalaian, kecerobohan dan melewatkan peluang mencapai keberhasilan. Perhatian serta kewaspadaan juga menjaga kita agar tidak mudah berpaling pada hal-hal lain yang berada di luar lingkup pekerjaan. Dengan demikian, akhirnya produktivitas akan dapat ditingkatkan

4. VIMANGSA : Merenungkan dan menyelidiki alasan-alasan dalam hal-hal yang sedang dikerjakan.
Perenungan dan penyelidikan tentang pekerjaan yang sedang dilakukan berguna untuk menambah potensi kerja yang sudah ada dan sekaligus untuk meningkatkan diri di masa depan. Keberhasilan dan kekurangan yang didapati saat ini berusaha dievaluasi dari segala sudut pandang. Evaluasi ini dapat menimbulkan ide baru yang berhubungan dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan. Pekerjaan kita sebenarnya dapat mengundang banyak pendapat, gagasan, ide baru yang pada awalnya tidak tampak mata tetapi baru tampak jelas apabila dilakukan perenungan atau penyelidikan yang seksama terhadapnya. Makin luas wawasan renungan serta penyelidikan kita, makin lebar ide dan gagasan yang dapat dijangkau dalam bentuk pekerjaan apapun. Pendirian anak perusahaan yang saling mendukung dengan perusahaan induk adalah salah satu contoh kasus ini.


Dalam kitab Anguttara Nikaya II, 16 membagi evaluasi menjadi dua bagian yaitu:
1. Melihat diri sendiri:
Pahanappadhana : Usaha rajin untuk menghilangkan keadaan buruk yang telah timbul.
Anurakkhappadhana : Usaha rajin untuk menjaga keadaan baik yang telah timbul.
2. Melihat orang lain:
Sangvarappadhana : Usaha rajin untuk mencegah kemungkinan timbulnya keadaan buruk (pada diri kita).
Bhavanappadhana : Usaha rajin untuk menimbulkan keadaan baik dalam diri sendiri (dengan belajar dari orang lain).

PENUTUP
Peningkatan produktivitas kerja memang memerlukan beberapa kondisi. Namun, kondisi batin kita sendiri adalah yang paling penting. Apabila kita menyenangi sesuatu jenis pekerjaan maka pelaksanaan pekerjaan itu akan menyenangkan diri kita. Sebaliknya, bila kita sudah tidak menyukainya, walaupun orang lain mengatakan pekerjaan itu baik, kita tidak akan tertarik. Memang, sesungguhnya diri sendirilah yang akan menentukan nasib kita sendiri. Kebahagiaan dan penderitaan adalah karena diri sendiri, tepatnya, karena pikiran kita sendiri. Pikiran itulah yang mempengaruhi kita, bukan fihak lain. Oleh karena itu, sebagai penutup, sebaiknya kita renungkan Sabda Sang Buddha dalam:
*Dhammapada XII, 4:
Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, maka ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar diperoleh.
*Dhammapada I, 1, 2:
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat (ataupun) baik maka penderitaan (ataupun) kebahagiaan akan mengikutinya.

Sunday, October 3, 2010

Menimbun Harta Sejati




Menimbun Harta Sejati

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Sri Subalaratano Mahathera


Yadisam labhate bijam, tadisam labhate phalam
Sesuai dengan benih yang ditanam, maka begitu pula buah yang diperoleh
Bilamana kita menanam pohon, maka langkah awal adalah memilih bibit yang baik dan unggul. Karena kita sadar bahwa bibit yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula. Di samping itu, kita juga perlu memberi perawatan dan pupuk agar bibit itu tumbuh subur dan kemudian berbuah banyak.

Tidak berbeda bila kita melakukan kebajikan dengan berdana. Agar kebajikan itu berbuah yang baik maka diperlukan faktor pendukung yang baik, disebut cetana-sampatti, yang terdiri dari : pubba-cetana, munca-cetana dan aparapara-cetana. Ketiga cetana ini saat timbul harus bersih dari lobha (serakah), dosa (benci) dan moha (tidak mengerti). Tiga akar kejahatan ini sesungguhnya yang menjadi penghalang besar bagi setiap orang dalam usaha untuk mencari dan menemukan kebahagiaan hidup. Terutama moha (tidak mengerti/bodoh/tolol/pikiran sama sekali tidak menyentuh apa sebenarnya yang baik sebagai yang baik, yang buruk sebagai yang buruk, yang benar sebagai yang benar dan yang salah sebagai yang salah). Tidak mengertinya pikiran terhadap kenyataan tersebut justru kentara sekali dengan sikap dan gerak-gerik dalam perbuatan seseorang. Jika seseorang ingin melakukan perbuatan baik, hendaknya ia mengerti terlebih dahulu semua hal yang menyangkut atau berkaitan dengan perbuatan baik yang ingin dilakukannya itu.

Pubba-Cetana, ialah pada saat timbul pikiran "niat" untuk berdana bisa berupa amisa (barang), abhaya (memberi maaf) atau Dhamma (nasihat). Jadi pada saat itu pikiran telah memiliki kesiapan mental untuk melakukan kebajikan "melepas" sesuatu dari dirinya untuk membantu orang lain. Hal ini dilakukannya dengan penuh pengertian, dan bukan dengan moha. Seseorang akan mulai memilih sesuatu tersebut untuk dilepas yang berupa sesuatu yang terbaik agar menjadi bibit unggul (Panitam-deti) dari miliknya yang diperoleh secara Dhamma, halal, (Sucim-deti). Barang yang diberikan juga harus merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi yang menerimanya (Kappiyam-deti).

Dengan adanya kesiapan dan didukung oleh Saddha (Keyakinan Dhamma) maka ia akan menunggu waktu yang tepat untuk berbuat kebajikan (Kalena-deti). Agar persembahan ini benar-benar tepat waktunya, tidak menjadi sia-sia, maka semua persiapannya telah dilakukan mulai dari kesiapan pikiran penuh dengan pengertian benar untuk bisa benar-benar mengerti apa yang akan dilakukan adalah bukan perbuatan untuk menambah lobha, mengembangkan dosa dan memupuk moha. Justru seharusnya perbuatan yang dilakukannya itu adalah untuk mengikis lobha, dosa dan moha.

Munca-Cetana, pikiran seseorang ketika sedang melakukan persembahan dana. Dengan keyakinan dan pengertian yang benar (nanasam-payutta) ia menjaga jangan sampai ada pikiran lobha atau dosa yang menodainya, sehingga dengan bahagia dilakukannya kebajikan tersebut secara berulang-ulang (abhinam-deti). Dengan tercapainya "niat" untuk melakukan kebajikan, maka pikirannya akan merasa puas, bebas dan bahagia (dadam cittam pasadeti). Karena persembahan tersebut telah diberikan kepada orang atau kelompok (sangha) yang telah dipilihnya dengan bijak (vicceya-deti).

Aparapara-Cetana, pikiran setelah melakukan kebajikan berdana, merupakan hal yang sangat menentukan karena waktunya yang lama. Dalam waktu yang panjang tersebut bisa muncul pikiran-pikiran yang tidak bijaksana atau tidak suci seperti lobha atau dosa yang akan mengurangi buah (phala) dari kebajikan. Maka sangat perlu dijaga agar pikiran tetap bersih tanpa pamrih, tenang dan bahagia (datva atamano hoti). Bilamana muncul pikiran lobha atau dosa setelah melakukan kebajikan maka nilainya menjadi omaka-kusala (rendah). Tetapi kalau bisa bertahan pikiran tetap tenang, bahagia tanpa pamrih maka nilainya menjadi ukkata-kusala (tinggi).

Jadi bilamana suatu kebajikan dilakukan dengan dukungan delapan faktor di atas, Dhamma menjamin bahwa buah (phala) kebajikan itu sangat besar dan merupakan tumpukan harta sejati seorang manusia. Tidak akan hilang atau lenyap dan akan terbawa walaupun kita meninggal dunia.

Selamat Kathina-Puja, TiRatana selalu melindungi kita semua.

(Dikutip dari Berita Dhammacakka Edisi Edisi 21 Nopember 1999)