Showing posts with label dasar agama Buddha. Show all posts
Showing posts with label dasar agama Buddha. Show all posts

Saturday, February 19, 2011

Bendera Buddhis

 
 
 
Bendera Buddhis
Oleh Hudaya Kandahjaya 
 


Bendera Buddhis resmi dipakai di hadapan publik untuk pertama kalinya pada suatu upacara Wiasak di Dipaduttararama, di Kotahena, Sri Lanka, tepatnya pada tanggal 28 April 1885. tanggal kelahirannya sendiri umumnya dikatikan dengan pemampangan wujud bendera ini di harian Sarasavi Sandaresa pada tanggal 17 April 1885. Sri lanka pada abad kesembilanbelas sedang bergolak menghadapi tantangan akibat kehadiran dan kegiatan misionaris kristen di pulau tersebut. Bendera Buddhis diciptakan untuk mempersatukan umat Buddha Sri lanka dalam menghidupkan kembali agama Buddha. bendera ini juga menjadi lambang kejaayn umat Buddha dalam gerakan tersebut. Belakangan, banyak cendekiawan menamakan gerakan ini sebagai gerakan agama Buddha Protestan.

Gerakan menghidupkan kembali agama Buddha itu antara lain dirumuskan oleh panitia Peringatan Waisak tahun 1880 di Colombo. Anggota panitianya adalah yang Arya hikkaduwe Sri Sumangala thera (ketua), yang Arya Mohottivatte (Migettuwatte) Gunananda Thera, Don carolis hewavitharana, Muhandiram, A.P. Dharmagunawardena, william de Abrew, Carolis Pujitha Gunawardena (Sekretaris), Charles A. de Silva, N.S Fernando, Peter de Abrew, dan H. William fernando. Diantara orang-orang ini Carolis Pujitha gunawardena yang seketaris sering dipandang sebagai perancang bendera buddhis, walaupun pada umumnya ada kecenderungan untuk memandang keseluruhan panitia penyelenggara perayaan Waisak 1885 sebagai yang berjasa bagi proses penciptaannya.

Kolonel Henry Steel Olcott pertama kali datang ke Sri Lanka bersama Madame H.P. Blavatsky, pendiri-pendiri Theosophical Society, pada tahun 1880. ketika bendera Buddhis pertama kali dikibarkan di Sri Lanka, Kolonel Olcott sedang berada di India. ia kembali ke Sri lanka dari India pada tanggal 28 januari 1886. ia mencatat kesan-kesannya begitu melihat bendera Buddhis berkibar di Kotahena. Menurutnya bentuk bendera itu kurang mengena atau serasi untuk dibawa dalam prosesi atau dipancang di rumah-rumah. Kolonel Olcott menyarankan agar bentuknya dibuat sebangun dan seukuran dengan bendera nasional. Sarannya diterima dan pada tanggal 8 April 1886 bendera gubahan baru dipampang kembali di harian Saravasi Sandaresa. bentuk inilah kemudian yang diperbanyak dikibarkan baik pada upacara Waisak 1886 maupun pada setiap vihara dan rumah-rumah di Sri Lanka.

Catatan Kolonel Olcott juga menyebutkan bahwa paduan warna yang terdapat dalam bendera Buddhis versi Sri Lanka adalah serupa dengan yang ada pada bendera yang dipakai Dalai Lama di Tibet. Dalam tradisi agama Buddha, kombinasi warna ini mengacu ke pancaran enam warna aura Buddha. Dalam literatur Sanskrit, ciri unik Buddha yang berupa enam warna cahaya Buddha ini disebut sadvarna-buddha-ramsi; kata ramsi merupakan metatesis dari rasmi). Enam warna itu secara berurutan adalah biru (nila), kuning (ita), merah (lohita) putih (odata), jingga (manjestha, paliL manjettha), dan campuran dari lima warna di atas (prabhasvara, Pali: pabbhassara). Dikatakan juga bahwa warna biru berasal dari rambut dan bagian biru dari mata, warna kuning berasal dari kulit dan bagian kuning dari mata, warna merah berasal dari daging, darah dan bagian merah dari mata, warna putih berasal dari tulang, gigi, dan bagian putih dari mata, dan dua warna lainnya berasal dari berbagai bagian tubuh Buddha. Lalu, formasi urutan warna ini bila dipasang bersebelahan dengan arca Buddha, warna biru menempati posisi diatas atau disebelah dalam.

Pada tahun 1889, Anagarika Dharmapala dan Kolonel Olcott memperkenalkan bendera ini ke Jepang dan selanjutnya ke Burma. Kemudian, sewaktu World Fellowship of Buddhists pada tahun 1950 bersidan di Colombo, atas permintaan Almarhum Profesor G. P. Malalasekera, bendera Buddhis diseakati untuk diterima sebagai bendera umat Buddha di seluruh dunia, Sejak saat itu bendera Buddhis yang berasal mula dari Sri Lanka ini meningkat kedudukannya sebagai lambang Buddhis internasional.
 
[ Dikutip dari Majalah Manggala Edisi September - Oktober 1999 ]

Tuesday, February 15, 2011

Bagaimana Mengajarkan Agama Buddha Kepada Anak


Bagaimana Mengajarkan Agama Buddha Kepada Anak
 

Eko:"Wah, pusing nih, besok kalau gue meninggal kayaknya kagak disembahyangi nih, habis pegang hio, pasang foto gue dibilangin sama anak tidak boleh"

Sue: "Bukan loe aja, kalau bini gua beli banyak buah-buahan buat sembahyang, anak gue kagak ada satupun yang mau makan, katanya nggak boleh karena bekas sembahyang. Jadi daripada mesti buang, akhirnya beli seadanya saja"

Sugi:"Itu mah belum parah, yang parah tuh kalau gue lagi sembahyang leluhur dibilangin lagi sembah berhala, entar bisa jatuh ke Neraka"

Contoh pembicaraan di atas adalah cuplikan yang tidak jarang kita dengar, saat kita melayat di rumah duka. Apakah hanya sebatas itu yang Anda harapkan dari anak Anda? Apakah Anda takut tidak ada yang menyembah-yangkan sesudah Anda meninggal, atau sekadar ingin dia hanya ikut pasang-pasang hio, dan sebagainya.

Tidak demikian, sesung-guhnya yang kita inginkan adalah agar anak kita dapat tumbuh menjadi anak yang baik, berbakti, pintar, bermoral, mempunyai ketahanan yang baik dalam menghadapi segala jenis masalah hidup, dan sebagainya. Aspek spiritual adalah aspek yang sangat mendasar dan paling penting dalam kehidupan baik bagi Anda maupun anak anda.

Masalah yang diungkapkan di atas, jika diartikan secara lebih khusus adalah, "Bagaimana orangtua Buddhis dapat mengajarkan ajaran Buddha dengan baik kepada anak-anaknya?"  

Pada kenyataaannya, aspek ini hampir terabaikan begitu saja. Bandingkan dengan para orangtua dari non-Buddhis, yang sejak kecil anaknya sudah dibaptis ataupun dipermandikan menjadi pengikut agama yang telah diyakini oleh orangtuanya. Orangtua Buddhis cenderung bersifat acuh tak acuh, dan dengan argumen bahwa biarlah kelak dia bisa memilih agamanya sendiri, yang penting semua agama sama, mengajarkan kebaikan. Apakah benar demikian?

Artikel ini dimaksudkan untuk dapat menjadi bahan perenungan bagi para orangtua Buddhis, yang sebagian disadurkan dari buku "How To Teach Buddhism to Children", Bodhi Leaves No.B.9. 1961, BPS, Sri Lanka (edisi ke-2, tahun 1975), karangan Dr. Helmuth Klar. Dari tahun penerbit dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya masalah ini telah lama menjadi topik yang begitu diperhatikan oleh para bhikkhu dan para pengikut Buddhisme di Srilangka maupun di dunia Barat.

Dalam makalahnya, Dr. Helmuth Klar berbagi pengalaman praktik dengan anaknya sendiri dan juga dengan anak-anak Barat lainnya, karena beliau tidak ingin berteori saja. Namun banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari pengalamannya tersebut.

Jika kita berada di negara Buddhis, di tengah-tengah tradisi Buddhis yang telah berabad-abad lamanya, posisi seorang anak Buddhis jauh lebih mudah. Namun tidak demikian dengan di Indonesia, di mana Buddhis merupakan minoritas dan dikelilingi oleh berbagai agama lain, sehingga dapatlah dimengerti peran orangtua merupakan faktor yang terpenting dalam menanamkan keyakinan pada anaknya.

Dan perlu disadari penanaman keyakinan pada anak kita secara otomatis akan berkaitan dengan cara hidup yang benar. Tanamkan keyakinan pada anak Anda sejak kecil mengenai kebesaran dan keagungan Sang Buddha.

Suatu ide yang sangat penting, bila sejak kecil anak-anak harus dilatih untuk yakin akan keagungan dan kemuliaan Sang Buddha. Penggunaan patung ataupun gambar Sang Buddha adalah suatu ide yang bagus untuk mengajarkan anak kita memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, sebagai guru yang agung untuk manusia. Jelaskan bahwa itu bukanlah penyembahan berhala seperti yang sering diajarkan oleh para pendidik agama non-Buddhis yang mengharuskan anak kita mengikuti pelajaran agamanya di sekolah yang berada dalam naungan suatu agama tertentu. Penggunaan patung Buddha sebagai objek konsentrasi penghormatan kepada Sang Buddha akan menjadi lebih efektif mengingatkan kita kepda Sang Guru Agung dibandingkan simbol-simbol lain. Ibarat seseorang menyimpan foto orangtuanya akan memudahkan dia untuk mengingat sifat-sifat luhur orangtua dibandingkan dengan barang-barang yang langsung pernah diberikan kepadanya.

Demikian juga penghormatan terhadap anggota Sangha dengan bersujud ataupun bernamaskara, perlu dijelaskan bahwa itu merupakan cara penghormatan yang tidak lain seperti penghormatan pada tradisi-tradisi lain, dan bukanlah menyembah orangnya.

Aspek filsafat dari Buddhisme yang cenderung terlalu dalam untuk dimengerti anak-anak dapat dituangkan dalam upacara-upacara sederhana yang lebih praktis untuk anak-anak. Latihlah anak-anak untuk melakukan upacara-upacara sederhana seperti persembahan air, dupa, lilin, ataupun bunga di altar patung/gambar Sang Buddha. Bahkan perlu juga dijelaskan secara seder-hana arti dari per-sembahan-persembahan tersebut. Dengan demikian akan mengembangkan kebiasaan menghormat dan merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha sejak kecil.

Memberikan visudhi kepada anak juga merupakan suatu hal yang sangat baik untuk mempertebal keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Memberikan contoh yang baik

Cara penanaman keyakinan sesungguhnya sangat tergantung pada usia anak-anak kita, namun satu hal yang pasti dan paling penting adalah bila orangtuanya hidup sesuai Dhamm. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak cenderung akan mengikuti apa yang dilihat dan didengarnya saat itu juga.

Penanaman keyakinan kepada anak sangatlah tergantung pada seberapa besar orangtuanya merealisasikan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhana, orangtua (ayah dan ibu) yang tidak berbakti kepada orangtuanya (nenek dan kakek), akan menyebabkan anak-anaknya cenderung akan meniru sifat orangtuanya dan akan mengakibatkan penanaman sifat tidak berbakti dari sang anak kepada orangtua, yang sangat bertentangan dengan Dhamma.

Anda harus merealisasikan Dhamma dan tidak sekadar pembicaraan saja untuk dapat membuat diri Anda hidup dengan cara benar sehingga membawa kebahagiaan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, khususnya keluarga. Dengan cara itu berarti Anda telah memberikan contoh yang baik kepada anak Anda.

Menyampaikan cerita-cerita Buddhis kepada anak Anda

Anak-anak umum-nya suka dengan berbagai macam cerita, adalah suatu usaha yang baik, di mana orangtua Buddhis dapat menyisakan waktu sedikit, apakah setiap hari, dua hari sekali ataupun seminggu sekali, membacakan cerita-cerita Buddhis yang ringan, sesuai dengan usia anaknya, sehingga secara bertahap menanamkan keyakinan pada Buddha Dhamma lewat intisari cerita-cerita tersebut. Dapatlah diambil contoh, cerita-cerita Buddhis seperti Jataka, kisah asal usul syair Dhammapada (Dhammapada Atthakata), Petavatthu (cerita kisah peta), Vimanavatthu (cerita kisah dewa/dewi), kehidupan Pangeran Siddhattha hingga mencapai Buddha, kehidupan sosial selama kehidupan Sang Buddha, dan masih banyak lagi.

Karena secara psikologi anak-anak, mereka akan lebih mudah mengerti dan melekat di pikiran lewat cerita-cerita dari pada diberikan suatu motto yang ‘wah’ sekalipun. Dalam cerita-cerita sederhana yang umumnya menggambarkan orang jahat akan mengalami penderitaan dan orang yang baik ataupun berhati mulia akan mendapatkan kebahagiaan, secara sadar anak-anak kita akan berusaha menghindari perbuatan yang tidak terpuji di kemudian hari.

Anda juga dapat memperdengarkan cerita-cerita Buddhis lewat kaset, VCD, dan sebagainya, yang sudah tersedia.

Menerangkan Dhamma dengan cara sederhana

Tumbuhkanlah semangat Dhamma pada anak-anak sejak kecil, misalnya dengan mengajarkan ajaran dasar Buddhisme.

Ajarkanlah dan tunjukkan Metta (cinta kasih), Karuna (kasih sayang), dan Mudita (simpati) yang merupakan komponen penting dalam Buddhisme kepada anak sejak dini.

Latihlah anak Anda dengan lima sila dasar (tidak melaku-kan pembunuhan, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan per-buatan asusila, tidak melakukan ucapan yang tidak benar, dan tidak meminum-minuman keras yang melemahkan kesadaran) dan apa yang harus dilakukan oleh seorang umat Buddha dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh umat Buddha.

Ajarkanlah dengan sederhana apa yang dimaksud dan mengapa harus melatih sila-sila tersebut dengan cara yang sederhana dan jangan dengan filsafat-filsafat yang kelihatannya hanya akan dimengerti oleh orang orang dewasa. Dapatlah diambil contoh, pelatihan untuk tidak berbohong, berikanlah penjelasan singkat mengapa tidak baik, beritahu anak Anda bahwa jika berbohong, dapat menyebabkan orang lain tidak akan mau percaya lagi apapun yang diucapkan lain kali.

Memperkenalkan syair-syair yang mudah, seperti bait-bait Dhammapada juga akan menambah wawasan anak-anak. Misalkan untuk mengembangkan sifat tidak membenci, bagi anak-anak dapatlah diterangkan syair Dhammapada 5 (Yamaka Vagga – Syair berpasangan):
"Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, Inilah hukum abadi."

Perlu juga adanya persiapan referensi buku-buku Dhamma yang cocok untuk anak, misalkan buku ‘Ketika Anak Bertanya’ karangan Dhamma K.Widya, ‘Sang Buddha Pelindungku’ seri I sampai VI, terbitan Sangha Thervada Indonesia, dan banyak lagi buku lain yang dapat Anda peroleh di vihara-vihara sekitar Anda.

Selain itu anak-anak mempunyai kecenderungan yang tinggi terhadap musik/lagu, oleh karena itu orangtua dapat memperdengarkan lagu-lagu Buddhis kepada anak-anak sejak dini. Saat ini sudah banyak sekali lagu-lagu Buddhis untuk anak-anak yang dapat dibeli di bursa-bursa vihara maupun toko-toko Buddhis.

Karakter anak

Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada para raja, pengemis, tuan tanah, petani, prajurit, pedagang, budak, filsuf, dan sebagainya. Beliau mengerti sepenuhnya karakter dari setiap orang yang berbeda, dan menyampaikan Dhamma yang mudah dimengerti dan dipahami dengan cara-cara yang disesuaikan dengan karakter masing-masing. Dengan cara yang sama kita harus berusaha mempelajari dan memahami karakter anak-anak kita agar kita dapat mengajarkan Dhamma pada mereka dengan cara paling efektif. Misalkan anak suka menggambar, berikan buku menggambar dan mewarnai tentang kisah-kisah Buddhis. Dan orangtua dapat menjelaskan arti-arti dari gambar tersebut secara sederhana.

Kegiatan-kegiatan spiritual

Anak-anak perlu diajak untuk selalu mengikuti peringatan-peringatan keagamaan, seperti menghadiri hari raya Waisak, Asadha, Kathina, Magha Puja, maupun hari-hari Uposatha, supaya merasa senang dan puas. Mengunjungi vihara-vihara di dalam maupun di luar kota bisa merupakan alternatif lainnya. Anak-anak perlu juga diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah bernuansa Buddhis, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, dan kalau mampu dapat mengunjungi tanah suci kelahiran Pangeran Siddharta (Lumbini), tempat direalisasikannya Penerangan Sempurna (Bodhgaya), tempat Maha parinibbana (Kusinara), ataupun negara-negara Buddhis lainnya.

Jika usia anak sudah cukup, perlu memotivasi mereka untuk ikut serta dalam kegiatan bakti sosial ke rumah jompo, panti asuhan, kerja bakti di vihara, dan lain-lain. Mengunjungi sanak famili dan juga para bhikkhu adalah hal yang sangat dianjurkan untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap suatu hubungan. Mengunjungi para bhikkhu dapat dimanfaatkan sebagai usaha untuk menambah keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Jika ada liburan sekolah, dapat juga melakukan dharmawisata ke desa-desa yang cenderung masih lebih alamiah, dan menunjukkan kepada anak-anak bagaimana mengembangkan cinta kasih terhadap sesama manusia maupun binatang. Bagaikan seorang pramuka yang baik, ajarkanlah untuk menolong wanita tua untuk membawa keranjang atau mendorong kereta dorong, dan sebagainya. Ajarkan untuk membawa seekor ikan yang hampir mati karena kurang air ke dalam kolam yang airnya cukup.

Kekebalan terhadap ajaran non-Buddhis dan materilisme

Orangtua harus memberikan perhatian dengan penuh kewaspadaan agar anak-anak tidak ditarik ke dalam jaring ‘ajaran lain’ dan juga materialisme, sehingga membuat pikirannya terbuka pada pancaran sinar Dhamma.

Perlu disadari, khususnya di Indonesia, agama Buddha merupakan agama minoritas dan di kelilingi oleh agama-agama ‘non-Buddhis’ dengan fasilitas dan sarana yang jauh di atas agama Buddha. Contoh paling sederhana penjaringan terjadi melalui beberapa sekolah bermutu yang dikelola oleh lembaga dari suatu ‘agama’ tertentu, sehingga banyak sekali anak-anak yang orangtuanya Buddhis menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tersebut. Memang tidak wajib untuk menyekolahkan anak kita di sekolah-sekolah Buddhis karena mutunya yang kurang bagus, namun kita harus benar-benar mem-perhatikan perkem-bangan anak kita, sehingga tetap berpegang pada Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Mengingat kondisi-kondisi lingkungan yang dijelaskan di atas, sangat perlu dijelaskan perban-dingan-perbandingan antara agama Buddha dengan agama-agama lain kepada anak kita. Kita harus menunjukkan keistimewaan ajaran Buddha dibandingkan dengan yang lain, sehingga membuat anak-anak kita kebal terhadap pengaruh-pengaruh luar, termasuk materialisme.

Di samping itu, saat anak-anak kita menanjak dewasa dan terutama selama masa remaja yang romantis, ada beberapa ritual yang menarik perhatian mereka, khususnya melalui musik, lagu, panduan suara, dan lain sebagainya. Untuk mencegah anak kita tertarik ke suatu ajaran non-Buddhis hanya karena musik semata-mata, dianjurkan supaya anak-anak sejak dini dikenalkan dengan musik, terutama yang bernuansa Buddhis, untuk mencegah mereka tergiur dengan mendengar lagu-lagu non-Buddhis.

Satu hal penting yang harus ditanamkan terus pada anak-anak kita adalah tanggung jawab diri sendiri. Misalnya setiap malam, ketika anak-anak lain berdoa, anak-anak Buddhis harus melewatkan waktu sedikit dengan meditasi dan merenungkan hal-hal yang telah dilakukannya. Bila mereka menyadari bahwa diri mereka belum berpikir, bicara dan bertindak sesuai ajaran Buddha, maka mereka harus berusaha untuk mengerti bagaimana menghindari kesalahan itu di lain waktu. Bila mereka menyadari bahwa diri mereka tidak dapat menghindari pikiran ataupun perbuatan buruk, maka orangtua harus membantu mereka, sehingga dapat pergi tidur dengan tekad untuk berbuat yang lebih baik pada esok harinya. Di pagi hari mereka dapat memulai hari yang baru dengan merenungkan kembali tekad mereka. Dengan cara ini, anak-anak akan mampu mengembangkan kekuatan dari pikiran mereka sendiri, sambil memurnikan pikiran dengan menanamkan kebaikan atau ketrampilan berpikir, berkata dan bertindak. Demikian juga jika anak-anak non-Buddhis melakukan doa sebelum makan, anak-anak Buddhis dapat diajarkan untuk merenungkan fakta bahwa makanan yang mereka makan adalah berfungsi untuk kesehatan fisik dan mental, bukan untuk berfoya-foya atau bersenang-senang.

Hukum karma akan menunjukkan kepada anak-anak kita lebih jelas dibandingkan dengan janji-janji indah yang didogmakan oleh ajaran tertentu. Anak-anak kita akan dituntun untuk melihat hukum sebab-akibat, ibarat biji pepaya akan tumbuh jadi buah pepaya dan tidak akan menjadi buah semangka, penebar kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan sedangkan penebar kejahatan akan mendapatkan penderitaan.

Tanggung jawab diri sendiri yang ditanamkan dengan baik akan membentuk dan mengembangkan kualitas batin anak kita, sehingga akan membentuk dan memperkuat benteng alamiah terhadap agama kepercayaan lain di satu sisi dan menghindari penyalahgunaan filsafat mengenai materialisme di sisi lain.

Dengan uraian singkat di atas, semoga setiap orangtua Buddhis bisa terbuka dan mau melihat betapa pentingnya dan berharganya ‘pendidikan melalui keluarga’ terhadap anak-anak kita. Orangtua mempunyai peranan yang sangat penting bagaimana diri sang anak dibentuk.

Semoga kita tidak lagi mendengar pendapat: ‘Anak kami dapat memilih agamanya nanti, tepat seperti yang kita lakukan, dan kita tidak mempunyai hak untuk menentukannya.’

Anda sebagai orangtua, pasti sudah pernah mencari kesana kemari, dan menemukan bahwa agama Buddha adalah yang paling bagus ataupun cocok buat anda, mengapa anda masih ingin membiarkan anak anda mencari sendiri, setelah ajaran-ajaran dogma ataupun materialisme telah bekerja, dan anak-anak kita tidak lagi mempunyai kebebasan intelektual. Kita telah kalah ‘start’, di mana anak-anak sudah di-dogma sejak masuk sekolah dan hampir setiap hari dilakukan penanaman kepercayaan lain secara bertahap, sedangkan kita tidak melakukan apa-apa, apakah itu masih ‘adil’ bagi anak Anda?

Di dalam misi penyebaran Dhamma, Sang Buddha bersabda kepada enam puluh Arahat: "Kotbahkanlah Dhamma yang mulia pada awal, mulia pada pertengahan, mulia pada akhir. Umum-kanlah tentang kehidupan suci yang benar-benar suci dan sempurna dalam ungkapan dan dalam hakekatnya, demi keselamatan dan kesejahteraan semua makhluk".

Mengapa anda yang sudah mengenal Dhamma tidak anda sebarkan dan ajarkan kepada anak, yang pasti merupakan orang yang paling anda sayang?Membiarkan anak anda memilih agamanya tanpa dibimbing mengenai Buddha Dhamma adalah bagaikan melepaskan anak buta di hutan yang berbahaya tanpa diberi perlengkapan apapun, salah-salah bisa tertusuk duri, dimakan binatang buas, masuk jurang ,dsb.

Ingatlah, bahwa dari segala jenis pemberian baik materi maupun non-materi, pemberian Dhamma adalah pemberian yang paling berharga, bagaimana anda sebagai orangtua Buddhis bertanggung jawab karena kelalaian memberikan hadiah ini kepada anak anda?

[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka  ]

Monday, February 14, 2011

Bagaimanakah yang Disebut Upasaka Upasika Itu


Bagaimanakah yang Disebut Upasaka Upasika Itu
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Shanti Bhadra Mahathera



Dalam bahasa Pali umat Buddha laki-laki disebut Upasaka, sedangkan wanita disebut Upasika. Kata "upasaka" berarti seseorang yang mengenal dekat dan akrab Tiratana (Tiga Permata) —Buddha (orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna), Dhamma (ajaran), dan Sangha (persaudaraan dari orang yang meninggalkan keduniawian). Ketika seseorang menerima Tiga Perlindungan atau menganggapnya sebagai pedoman hidup, umumnya dapat dikatakan sebagai seorang umat Buddha.
 
Saat menerima ajaran Sang Buddha sebagai pedoman hidup, dia harus menjalani suatu bentuk latihan, yaitu kemoralan (Sila). Lima bentuk latihan sebagai dasar dari kemoralan (Sila). Kelima Sila itu dilaksanakan dengan pengendalian diri, bukan dengan diperintah. Dan melakukan Sila itu berdasarkan pengertian untuk mengurangi kadar dari tiga akar kejahatan yakni lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan).

Dengan melatih diri menghindari diri dari pembunuhan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukan; dan berdasarkan ini memupuk diri dengan kemurahan hati (alobha), cinta kasih (adosa), dan pengertian benar (amoha).

Lima Pencapaian
Sang Buddha telah menunjukkan bahwa seorang upasaka yang mempunyai lima hal berikut ini dengan baik dapat diumpamakan seperti bunga teratai merah (paduma), teratai putih (pundarika), dan permata (ratana). Kelima hal tersebut adalah:
  1. Saddha (keyakinan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha
  2. Sila (kemoralan, etika).
  3. Tidak yakin pada Kotuhala Mangalika (menerima sesuatu yang baik dan buruk yang ia anggap sebagai pertanda keberuntungan dan kemalangan).
  4. Yakin pada Hukum Kamma (Hukum sebab dan akibat).
  5. Nabahida dakkhinineyyan gaveseti (pencarian di manapun, di luar ajaran Sang Buddha, untuk berdana baik segi materi maupun non materi; dan mengulurkan tangan pertama-tama pada kebenaran, sebagai pengamalan ajaran Sang Buddha).
Melalaikan hal-hal tersebut berarti menodai upasaka yang dapat diumpamakan seperti orang buangan (chandala), noda (malan), dan orang dari keturunan rendah (patikuttha).

Sepuluh Pengertian
Dalam Milinda Panha (pertanyaan Raja Milinda), Bhikkhu Nagasena dalam percakapannya dengan Raja Yunani, menjelaskan garis besar sepuluh kualitas seorang upasaka.
  1. Dia selalu menginginkan kesejahteraan Sangha. Dhamma menempati kedudukan yang utama dalam kehidupannya.
  2. Dia selalu memberi dengan kemurahan hati.
  3. Bila dia melihat tanda kemunduran dari ajaran Sang Buddha (sasana), dia berbuat dengan sekuat tenaga untuk menolong dan menegakkan kembali.
  4. Dia terbebas dari takhyul tentang pertanda dan tanda-tanda yang memberikan keberuntungan atau kemalangan. Dan ia memiliki pengertian yang benar.
  5. Kalaupun ada kejadian dalam kehidupannya, ia tidak memikirkan orang lain selain Sang Buddha sebagai Gurunya.
  6. Dia tertib, dalam ucapan dan perbuatannya.
  7. Dia rukun dan harmonis dalam hubungan antar manusia.
  8. Dia tidak bersifat iri hati.
  9. Dia tidak menggunakan agama Buddha untuk menipu orang lain atau untuk memperoleh nama dan kemashyuran.
  10. Dia menerima Perlindungan (berpedoman pada) Buddha, Dhamma, Sangha.
Manfaat dan Bantuan
Dalam percakapan dengan Mahanama, salah seorang saudara sepupu Sang Buddha, Beliau menguji delapan tanda seorang upasaka yang melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan memberikan berkah serta bantuan kepada orang lain. Delapan ciri tersebut adalah:
  1. Dia memiliki kepercayaan dan menanamkannya pada orang lain.
  2. Dia memiliki kebajikan dan disiplin serta mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
  3. Dia memiliki kemurahan hati dan menjelaskan perbuatan baik tersebut kepada orang lain.
  4. Dia senang bertemu dengan bhikkhu dan juga mengajak orang lain untuk bergabung bersama-sama.
  5. Dia gemar mendengarkan diskusi Dhamma dan mendorong ketertarikannya pada Dhamma itu kepada orang lain; dan dia memulainya untuk berbuat demikian.
  6. Dia menunjang Dhamma yang telah ia dengarkan dan merenungkan dalam batin pada waktu senggang untuk memperdalam pengertiannya. Dia menganjurkan orang lain berbuat demikian.
  7. Dia mengkaji dan menerapkan Dhamma secara terus menerus dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
  8. Dia mempraktikkan Dhamma dalam kehidupannya sehari-hari, mendorong dan membangkitkan orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Seorang Upasaka seharusnya tidak melakukan sejumlah pekerjaan yang merugikan orang lain. Yaitu menghindari lima jenis perdagangan:
berdagang peralatan perang, budak, daging/binatang, makanan yang dapat memabukkan, dan racun.

Dua Upasaka Pertama
Tapussa dan Bhallika adalah dua pedagang bersaudara yang pertama kali mempersembahkan makanan sejenis gandum dan madu kepada Sang Buddha setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Mereka juga menjadi upasaka pertama yang menerima Dua Perlindungan pada Buddha dan Dhamma. Saat itu belum ada Sangha.

Tercatat, mereka bertemu Sang Buddha lagi setelah empat atau lima bulan di Rajagaha. Mereka mendengarkan ajaran Sang Buddha. Dan Tapussa mencapai tingkat kesucian yang pertama (Sotapana) dan tetap sebagai upasaka. Sedang Bhallika mencapai Arahat dan kemudian menjadi anggota Sangha.

Perubahan Besar
Kisah tentang upasaka pertama yang menerima Tiga Perlindungan sangat menarik. Di kota kuno Benares, tinggal seorang pedagang kaya yang mempunyai seorang putra bernama Yasa. Dia dibesarkan di lingkungan yang mewah. Bosan dengan hidupnya dalam sangkar kemewahan, dia menempuh hidup dengan kesenangan indera yang melemahkan dan dangkal. Dia mengungkapkan dirinya demikian,
Aduh, letih aku dalam kesibukan duniawi, apakah gunanya semua nafsu dan kesakitan ini, datang, datanglah kedamaian, kedamaian yang indah, ke dalam dadaku(Goethe)
Pada suatu pagi, dia meninggalkan rumahnya dengan sembunyi-sembunyi dan berangkat menuju Sarnath (Taman Rusa), mencari kedamaian dan ketenangan batin.

Ketika itu Sang Buddha tinggal di Sarnath bangun di pagi hari dan berjalan mondar-mandir di suatu ruangan terbuka. Saat Beliau melihat seorang pemuda —Yasa datang mendekatinya, Beliau duduk dan menunggunya. Yasa datang kepada Sang Buddha, memberikan hormat, dan duduk di dekatnya. Sang Buddha tahu bahwa pikiran Yasa sedang tak menentu. Diawali dengan uraian tentang kehidupan sehari-hari, perlahan-lahan Sang Buddha mengantarkannya menuju khotbah yang lebih berkembang dan mendasar tentang Empat Kesunyataan Mulia.

Seperti halnya kain yang masih bersih tanpa noda hitam atau kotoran, akan mudah dicelup warna, demikian juga dengan setiap rangkaian, kesucian dan kemurnian pandangan Dhamma —bangkit dalam pikiran Yasa. Dan dia mencapai tingkat kesucian pertama, Sotapana.

Tidak lama kemudian, Ayah Yasa datang mencarinya. Sang Buddha menjumpainya dengan senyum yang memancarkan cinta kasih, menghibur dan membuatnya gembira dengan sebuah khotbah yang dalam maknanya. Pada akhir khotbah ayah Yasa berkata, Luar biasa, luar biasa, Sang Bhagava.

( Dikutip dari Majalah Jalan Tengah No.58 ) 

Wednesday, January 19, 2011

Arti Berlindung


Arti Berlindung
Oleh: Yang Mulia Somdet Phra Nanasamvara


Harus dipahami bahwa Agama Buddha tidak bertujuan untuk membuat kita menyembah Sang Buddha sebagai makhluk surgawi dengan kekuatan-kekuatan supranormal. Agama Buddha lebih bertujuan untuk membuat kita memuliakan; Sang Buddha sebagai Buddha sejati (yang benar-benar telah tercerahkan oleh diri-Nya sendiri dan kemudian mengajarkan Dhamma kepada makhluk lain), untuk membuat kita memuliakan Dhamma sejati (yang dibabarkan oleh Sang Buddha), dan memuliakan Sangha sejati (Komunitas orang-orang yang berlatih). Tiga Perlindungan ini nyata dan dapat diandalkan.

Sebagian orang mungkin meragukan Ajaran Sang Buddha, sehubungan dengan Dhamma yang menyatakan; "Diri ini adalah pelindung bagi diri sendiri" dengan pernyataan tiga perlindungan terhadap; Buddha, Dhamma dan Sangha. Ada syair yang mengokohkan tiga perlindungan itu dan menyangkal perlindungan lain. Syair itu berbunyi:

"Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Buddha-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi,
Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Dhamma-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi,
Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Sangha-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi."
 
Jika orang mendengar sepintas, tampaknya ketiga hal ini saling berlawanan, tetapi sebenarnya tidaklah demikian.

Pertama, marilah kita lihat secara jelas ketiga obyek itu. Walaupun berbeda dalam pengertian materi, namun memiliki esensi yang sama; karena ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sang Buddha mewujudkan Dhamma, dan Dhamma ini dilestarikan oleh Sangha, sedangkan Sangha adalah murid-murid Sang Buddha; jadi ketiganya saling berhubungan. Ibarat tiga tiang kayu yang saling menyangga. Jika orang berlindung pada salah satunya, otomatis dia bergantung pada ketiganya. Dalam pengertian lain, Sang Buddha adalah perlindungan tertinggi; demikian juga Dhamma dan Sangha, sesuai dengan sifat-sifat khususnya masing-masing. Penghafalan kitab suci hanya merupakan ungkapan sederhana; tiada perlindungan lain selain Sang Buddha, tiada perlindungan lain selain Dhamma, tiada perlindungan lain selain Sangha.

Di sini, kita sampai pada masalah: apakah ini berlawanan dengan ajaran untuk berlindung pada diri sendiri? Sebenarnya, ketiga perlindungan ini disebut "sarana", sedangkan perlindungan pada diri sendiri disebut "natha", namun tidak perlu kita menyelidiki asal kata dari bahasa Palinya. Ajaran-ajaran ini tidak berlawanan, justru sebenarnya sangat sesuai. Seandainya kita membandingkan kehidupan kita dengan suatu perjalanan; kita mengambil perlindungan pada Sang Buddha sebagai pemandu, pada Dhamma sebagai jalan, pada Sangha sebagai orang-orang yang terus berjalan untuk menunjukkan jalan, dan pada diri sendiri kita sendiri sebagai musafir. Di sini, "diri" berarti diri kita sendiri, yang merupakan sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan. Sejak lahir kita sudah harus berlindung pada diri sendiri.

Marilah kita renungkan hal ini sejenak, seorang anak memang tidak dapat bergantung pada dirinya sendiri; ayah atau ibunya harus selalu membantu menopangnya. Tetapi dalam hal yang paling penting anak itu justru harus bergantung pada dirinya sendiri. Orang tua menyediakan makanan dan mereka hanya dapat meletakkan makanan itu di mulut si anak. Lalu anak itu sendirilah yang harus mengunyah dan menelannya; tubuhnya harus menerima dan mencernanya. Dalam mengunyah dan menelan makanan, si anak harus bergantung pada dirinya sendiri. Begitu juga dalam hal belajar; si anak mungkin bergantung pada orang tuanya untuk mencari sekolah dan membayar uang sekolah, tetapi dia sendirilah yang harus belajar. Dia tidak dapat bergantung pada ibunya, ayahnya, atau siapa pun juga, agar belajar dan mencari ilmu baginya, sementara dia duduk santai berpangku tangan. Belajar untuk memperoleh pengetahuan membutuhkan ketergantungan pada diri sendiri, pada sendiri, dan pada kekuatan intelegensinya sendiri. Inilah yang disebut berlindung pada diri sendiri. Tatapi bagaimana orang dapat berlindung pada diri sendiri agar tidak menjadi malas dan tidak gagal? Orang harus berlatih sesuai dengan ajaran dan petunjuk Sang Buddha, yang mengajarkan kepada kita untuk berjuang dengan gigih sampai berhasil. Inilah yang disebut berlindung pada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha; yaitu, merenungkan ketiganya dan berlatih sesuai dengan itu semua. Ketiganya dapat menjadi perlindungan bagi diri sendiri; demikian juga orang dapat berlindung pada diri sendiri.

Barangkali akan timbul pertanyaan; pada saat ini, di manakah Sang Buddha bersemayam? Murid-murid yang mempelajari sejarah Buddhis akan menjawab: pada saat ini, yang ada hanyalah Dhamma dan Vinaya (Peraturan) yang dicetuskan oleh Sang Buddha ketika Beliau masih hidup. Dhamma dan Vinaya sebagai wakil Guru Agung pernyataan tersebut dibuat ketika Beliau akan meninggal dunia (parinibbana). Tetapi beberapa murid Dhamma lain mungkin berusaha membuat orang lain berpikir dengan menjawab: "Sang Buddha mencapai Dhamma yang Kekal (amatadhamma), maka Beliau tidak dapat mati". Jadi sekarang inipun, Sang Buddha masih ada dan akan tetap ada selamanya. Di manakah Beliau bersemayam? Beliau ada di dalam Dhamma yang Kekal. Beberapa murid Dhamma lainnya mungkin akan mengacu pada bukti yang terdapat di kitab suci; di sana tidak disebutkan apakah Sang Buddha dan para Arahat meninggal dan lenyap, atau meninggal untuk dilahirkan lagi. Hal ini disebabkan karena yang mati adalah khandha(indriya) atau khandha tubuh (khandha-kaya). Sang Buddha dan para Arahat bukanlah khandha. Bila dikatakan bahwa mereka meninggal dan lenyap, atau meninggal dan apa pun sebutannya, semua itu tidaklah benar. Murid-murid Dhamma masih mempertahankan bahwa bila Sang Buddha dikatakan ada dan kekal, ini bukannya tanpa dasar. Jika orang ingin melihat Buddha pada saat ini atau kapanpun, dia harus bertekad untuk mempraktekkan Ajaran Buddha. Dia harus melatih pikiran untuk konsentrasi, melatih pemahaman Dhamma, dan kemudian dia akan dapat melihat Sang Buddha sendiri. Sang Buddha telah memastikan bahwa: "Siapa pun yang melihat Dhamma, berarti melihat Buddha". Kesaksian ini menyatakan bahwa Sang Buddha ada dan dapat benar-benar dilihat. Karena itu, memutuskan Sang Buddha sebagai pelindung, seperti yang terungkap dalam syair: "Pada Sang Buddha-lah saya berlindung" bukan berarti berlindung dalam kekosongan karena Sang Buddha sudah tidak ada. Sang Buddha benar-benar merupakan perlindungan sejati.

Metode latihan yang digunakan untuk berlindung pada Sang Buddha adalah dengan merenungkan sifat-sifat luhur yang dimiliki Sang Buddha. Atau dapat merenungkan dengan cara: Sang Buddha benar-benar telah tercerahkan, benar-benar suci, dan memiliki welas asih sejati. Beliau akan muncul dalam sifat-sifat luhur tersebut. Maka kesepian dan rasa takut akan lenyap dari pikiran seseorang. Atau jika orang merasa cemas dan tertekan, suasana hati yang demikian akan segera lenyap. frustasi mental akan lenyap; lalu akan tampak jelas cara terbaik untuk memecahkan masalah. Inilah kekuatan Buddha sejati. Yang penting adalah mempertahankan Sang Buddha dalam pikiran seseorang sebagai perlindungan sejati. Maka Sang Buddha kemudian akan muncul sebagai perlindungan bagi seseorang. Pikiran yang memiliki perlindungan itu akan bersifat hangat dan tidak kesepian; kuat dan tidak lemah; berani dan tidak takut; murni, tidak menderita dan tidak keruh. Pikiran itu cenderung memunculkan pandangan benar. Bilamana orang telah melatih konsentrasi dan pemahaman Dhamma sehingga dia dapat melihat Dhamma, maka dia akan melihat Sang Buddha dengan jelas dan jernih. Sang Buddha dan Ajaran-Nya, nyata dan dapat menjadi perlindungan yang dapat diandalkan bagi siapa pun di dunia ini.

 [Dikutip dari Pengabdian Tiada Henti, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia. Naskah asli: Meaning of Refuge, Diambil dari Buku: FAITH IN BUDDHISM, Karya: H.H. Somdet Phra Ñanasamvara, Penerbit: Wat Bovoranives Vihara Bangkok, Thailand ]

Monday, January 10, 2011

Empat Kebenaran Mulia, Sebuah pendekatan Modern

The Four Noble Truths



Empat Kebenaran Mulia
Sebuah pendekatan Modern
Oleh : Willy Yandi Wijaya

Salah satu pilar ajaran Buddha yang mendasari cara berpikir Buddha adalah seperti yang tersirat di dalam Empat Kebenaran Mulia (cattari ariya sacca). Di berbagai bagian Sutta Pitaka[1] dapat kita temukan cara berpikir analisis seperti yang terdapat pada konsep Empat Kebenaran Mulia. Cara berpikir tersebut adalah:
  1. Memahami Suatu Masalah dan menganalisa masalah tersebut
  2. Menyadari dan menemukan ada penyebab masalah tersebut
  3. Mengetahui bahwa masalah dapat teratasi dan mencari cara penyelesaiannya
  4. Menemukan cara mengatasi masalah tersebut dan Menjalankan caranya
Hal tersebut menunjukkan kecerdasan Sang Buddha dan cara berpikir yang logis. Empat Kebenaran Mulia disadari oleh Buddha Gautama ketika beliau mencapai pencerahan :

“Ketika pikiranku yang terkonsentrasi telah demikian termurnikan, terang, tak ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah, lentur, mantap dan mencapai keadaan tak terganggu, aku mengarahkannya pada pengetahuan tentang hancurnya noda-noda[2]. Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah penderitaan’, ‘Inilah asal mula penderitaan’, ‘Inilah berhentinya penderitaan’, ‘Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan’; Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya ‘Inilah noda-noda’, ‘Inilah asal mula noda-noda’, ‘Inilah berhentinya noda-noda’, ‘Inilah jalan menuju berhentinya noda-noda’”[3]

Empat Kebenaran Mulia ini adalah ajaran yang pertama kali diperkenalkan oleh Sang Buddha dalam khotbah pertamanya di Benares[4]. Selain itu Empat Kebenaran Mulia juga adalah ajaran khusus para Buddha[5], yang berarti setiap Buddha selalu mengajarkan 4 Kebenaran Mulia ini walaupun dengan bahasa yang berbeda atau sistematisasi pembagian ajaran yang berbeda.

Empat Kebenaran Mulia tersebut adalah  sebagai berikut:
  1. Kebenaran Mulia tentang adanya ‘penderitaan’ (dukkha)
  2. Kebenaran Mulia tentang penyebab penderitaan
  3. Kebenaran Mulia tentang lenyapnya penderitaan
  4. Kebenaran Mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan
Di sini akan dibahas masing-masing perbagian sesuai dengan sutta-sutta[6] dalam Tripitaka, khususnya Sutta Pitaka.

The Four Noble Truths and Eightfold Path
Diagram 4 kebenaran mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan


Kebenaran Mulia tentang Adanya ‘Penderitaan’ (dukkha)

Kata penderitaan yang digunakan di sini mewakili kata dukkha, walaupun tidak sepenuhnya dapat mewakili makna kata dukkha. Sebelum lebih lanjut membahas tentang penderitaan (dukkha), kita akan melihat definisi dukkha yang ada di dalam Kitab Suci Tripitaka.

“Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kesengsaraan (ketidaksenangan) dan keputusasaan adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan Dengan kata lain Lima kelompok kehidupan (Pancakhandha) yang dipengaruhi kemelekatan adalah penderitaan (dukkha).”[7]

Definisi dukkha (penderitaan) di dalam Kitab Tripitaka terdapat di dalam beberapa sutta. Pengulangan yang berkali-kali menunjukkan betapa pentingnya pemahaman terhadap Empat Kebenaran Mulia, salah satunya memahami bahwa hidup itu diliputi dukkha (penderitaan)

Memang jika diterjemahkan sebagai penderitaan, kata dukkha akan membuat seolah-olah bahwa agama Buddha memandang hidup adalah pesimis. Namun, dukkha bukan hanya berarti penderitaan dalam artian biasa. Penderitaan disini yang dimaksud adalah penderitaan dari ketidakpuasan seseorang terhadap suatu hal, padahal apapun pasti berubah. Dukkha bisa diartikan sebagai penderitaan karena tidak bisa menerima perubahan.

Sebelum membahas lebih jauh tentang dukkha, perlu diketahui bahwa ciri semua hal yang ada di dunia ini bersifat ‘selalu berubah’. Ini adalah sesuatu yang pasti. Perubahan selalu terjadi, entah disadari atau tidak, diakui atau tidak. Perubahan itu kemudian lebih lanjut dijabarkan dalam kerangka buddhisme sebagai tilakkhana (tiga corak umum). Tiga corak umum mempunyai arti bahwa tiga hal tersebut pasti dan selalu berlaku, yakni ketidakkekalan (anicca), penderitaan atau ketidakpuasan (dukkha), dan tidak ada diri/sesuatu yang tetap (anatta). Ketiganya tak lain mewakili realitas dunia yang selalu berubah.

Jadi dukkha sebenarnya adalah cara pandang manusia terhadap perubahan itu. Dukkha adalah penderitaan atau ketidakpuasan karena manusia tidak bisa hidup kekal (anicca). Konsep perubahan diwujudkan dari 3 sisi pandang yaitu:
  1. Bagi alam atau benda mati dikatakan sebagai anicca (tidak kekal)
  2. Bagi cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri dikatakan sebagai dukkha (menderita karena merasakan perubahan)
  3. Bagi manusia atau mahkluk hidup dikatakan sebagai anatta (tidak ada diri yang tetap abadi tanpa perubahan atau roh/jiwa yang kekal tanpa perubahan)
Jadi dukkha di sini menjadi jelas jika memandangnya dari sudut manusia terhadap diri sendiri dan itu berarti dukkha lebih tepat dikatakan sebagai penderitaan karena cara pandang yang salah terhadap kenyataan. Dengan kata lain dukkha terjadi karena manusia masih bersifat subjektif dalam memandang realitas segala sesuatu, yaitu perubahan.


Kebenaran Mulia tentang Penyebab Penderitaan
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa perasaan tidak puas karena kehilangan atau perubahan itulah yang dinamakan dukkha. Dengan pemahaman terhadap penderitaan (dukkha) seperti itu, kita dapat melihat bahwa penderitaan tersebut diakibatkan oleh ‘perasaan tidak puas’. Di dalam konteks buddhis, dinamakan tanha. Tanha adalah nafsu keinginan yang melekat. Melekat artinya jika tidak mendapatkan, maka akan menderita. Kita perlu memahami dengan jelas keinginan biasa dan keinginan yang melekat. Contohnya adalah seorang anak kecil yang ingin mainan. Ia terus ingin dan ingin padahal faktor penunjang untuk mendapatkan mainan tersebut tidak ada. Akhirnya anak tersebut menangis dan ia merasa menderita. Seandainya anak tersebut hanya ingin, namun ia sadar bahwa kenapa orang tuanya tidak membelikannya, keinginannya menjadi hal yang wajar dan tidak melekat. Sama seperti Sang Buddha yang masih ingin makan, namun tidak melekat pada makanan. Sang Buddha tidak menderita ketika tidak mendapat makanan, namun bukan berarti Sang Buddha tidak ingin makan. Seandainya Sang Buddha tidak ingin makan, maka proses makan tidak akan ada dan akan merugikan dirinya sendiri.

Akar dari keinginan yang melekat adalah ketidaktahuan (avijja). Ketidaktahuan (avijja) adalah ketidaksadaran pada suatu momen (saat ini) akan realitas dunia ini yang selalu berubah. Contohnya adalah anak kecil yang ingin mainan tersebut. Seandainya anak kecil tersebut mengerti bahwa keinginannya hanya sesaat dan belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa mainan tersebut lama-kelamaan akan membuatnya bosan juga, ia akan terbebas dari keinginan yang melekat. Jadi ketika keinginan datang menghampiri, kita harus hati-hati untuk tidak  terikat kepadanya. Pikiran dan renungkan dengan bijak apakah keinginan tersebut betul-betul kita butuhkan atau hanya untuk memuaskan keserakahan kita.

Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Penderitaan
Di dalam sammaditthi sutta[8] dikatakan berhentinya penderitaan adalah pemudaran dan penghentian tanpa sisa, penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan nafsu keinginan. Jadi Sang Buddha mengajarkan bahwa keinginan berlebihan yang melekat dapat dihilangkan dari pikiran kita. Ketika keinginan manusia menjadi wajar, tidak melekat, tidak serakah maka kebahagiaan sejati (nibbana) telah ia alami.

Nibbana sebagai kedamaian atau kebahagiaan sejati adalah ketika penderitaan lenyap, ketika akar penderitaan yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha) telah lenyap. Itulah Nibbana, kebahagiaan sejati yang saat ini dapat kita alami karena sifat keserakahan, kebencian dan kebodohan batin dapat kita hancurkan saat ini juga dengan ketidakserakahan atau ketidakmelekatan (berdana), ketidakbencian atau cinta kasih dan welas asih, serta dengan kebijaksanaan sejati.

Sang Buddha mengatakan bahwa beliau hanyalah seorang penunjuk jalan menuju kebahagiaan sejati (nibbana). Beliau mengajarkan bagaimana melatih diri untuk mengendalikan sifat-sifat negatif. Buddha tidak bisa membawa sesorang ke Nibbana karena nibbana hanyalah sebuah kondisi batin (pikiran, perasaan) yang berbeda pada setiap orang. Yang dapat membuat diri kita mengalami nibbana (kebahagiaan sejati) adalah diri sendiri dengan melatih seperti yang diajarkan beliau yakni Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jadi berhentinya penderitaan (dukkha) sama artinya dengan tercapainya nibbana.

Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Penderitaan
Sang Buddha memberikan gambaran akan realitas kehidupan, yakni ketidakpuasan atau penderitaan, penyebabnya dan setiap orang dapat mencapai kebahagiaan sejati (nibbana) saat ini juga dengan melenyapkan penderitaan (dukkha). Untuk dapat mencapai kebahagiaan sejati, Buddha mengajarkan suatu cara yang dapat dilakukan setiap orang. Cara tersebut dinamakan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Inilah jalan yang akan membawa siapapun kepada kebahagiaan sejati jika telah sempurna dilaksanakan dan telah menjadi bagian dari setiap tindakan yang dilakukan seseorang baik dari agama, ras, suku apa pun juga. Jadi ketika cara pandang seseorang serta tindakannya sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan—baik ia seorang beragama atau tidak—pasti kebahagiaan sejati akan dialaminya.


Kedelapan bagian dari kesatuan jalan yang saling terjalin tersebut adalah pandangan benar, pikiran atau niat benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian atau penghidupan benar, upaya benar, perhatian atau perenungan benar, dan konsentrasi atau kesadaran benar. Kita memandang kedelapannya sebagai satu kesatuan seperti seutas tali yang terjalin yang saling memengaruhi. Kita melihatnya sebagai sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika suatu perbuatan yang dilakukan baik, hal tersebut berarti pikirannya baik. Ketika sebuah ucapan seseorang bermanfaat, berarti pikirannya dipenuhi oleh cinta kasih. Pikirannya benar (positif) karena pandangannya benar. Sehingga kedelapannya adalah satu kesatuan dengan pusat talinya adalah pandangan benar.






Daftar Pustaka
Kitab suci agama buddha. 2004. Majjhima Nikaya 1. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab suci agama buddha. 2005. Majjhima Nikaya 2. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab suci agama buddha. 2006. Majjhima Nikaya 3. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab suci agama buddha. 2002. Petikan Anguttara Nikaya 2. Klaten: Wisma Meditasi dan Pelatihan DHAMMAGUNA.
Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

http://www.accesstoinsight.org/ptf/dhamma/sacca/sacca1/index.html



Catatan Kaki
[1] Sutta Pitaka adalah bagian dari Tripitaka (Kitab Suci Agama Buddha)
[2] noda-noda=tiga akar kejahatan yaitu: keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan ketidaktahuan atau kebodohan-batin (moha)
[3] Dapat ditemukan di dalam Majjhima Nikaya (MN) 4.31 atau MN 36.42 (dua-duanya persis sama)
[4] MN 141.2
[5] MN 56.18
[6] Sutta adalah ucapan Buddha Gotama yang tertulis di dalam Kitab Suci Tripitaka
[7] Definisi ini dapat ditemukan di dalam Anguttara Nikaya (AN) VI,63 atau MN 9.15 atau MN 28 atau MN 141.1 atau Samyutta Nikaya (SN) 56.11 (semuanya sama persis)
[8] MN 9.17

Sumber: http://willyyandi.wordpress.com/2008/04/12/empat-kebenaran-mulia/ 

Sunday, December 12, 2010

KEBENARAN


KEBENARAN
Oleh Thich Thanh Tu, Master Zen


Penerjemah : Rudy Dharmali
Editor         : Tim AB

©2010 Artikel Buddhis (AB)


Anda dipersilahkan menyalin, merubah bentuk, mencetak, mempublikasi, dan mendistribusikan karya ini dalam media apapun, dengan syarat:
(1) Tidak diperjualbelikan;
(2) Dinyatakan dengan jelas bahwa segala turunan dari karya ini (termasuk terjemahan) diturunkan dari dokumen sumber ini; dan
(3) menyertakan teks lisensi ini lengkap dalam semua salinan atau turunan dari karya ini. Jika tidak, maka hak penggunaan tidak diberikan.


Pendahuluan

Ajaran Buddha sangat sederhana dan mudah untuk dimengerti dalam hal kejelasan dan penerapannya. Buddha tidak mengajarkan hal yang bersifat mistis: Tidak ada Tuhan yang akan menyelamatkanmu. Hanya kamulah yang dapat menyelamatkan dirimu sendiri.

Semua yang Beliau ajarkan diperoleh dari pengalaman Beliau sendiri melalui pengamatan dan meditasi. Sebagai contoh, pada saat bermeditasi tentang kehidupan bunga teratai di sebuah kolam berlumpur, Beliau menyimpulkan bahwa semua makhluk hidup, terutama manusia, memiliki sifat ke-Buddha-an (Bodhi = Intelek). Jika sekuntum teratai dapat muncul dari air yang keruh ke permukaan menuju kilauan matahari dan memperlihatkan kuntumnya yang penuh warna dan harum, demikian pula seorang manusia. Ia dapat bebas dari kesengsaraan dan bekerja keras untuk mencapai potensi yang ada dalam dirinya sehingga dapat menyumbangkan sesuatu yang berguna dan indah bagi kehidupan, tanpa menghiraukan siapa pun dia – baik seorang petani, pekerja ataupun profesional.

Seluruh ajaran Buddha berasal dari kebenaran-kebenaran nyata yang sekarang para ahli ilmu pengetahuan menyebutnya ‘Hukum’; yaitu Hukum Ketidakkekalan, Hukum Sebab Akibat dan Hukum  Musabab yang Saling Bergantung.

Hukum Ketidakkekalan

Buddha selalu mengingatkan para pendengarnya bahwa segala sesuatu adalah tidak tetap/permanen, termasuk kehidupan. Segala sesuatu selalu berubah. Beliau selalu mengajak pengikutnya untuk mengamati dan bermeditasi sehingga mereka dapat mengenali ketidakkekalan itu sebagai pengalaman awal.

Mari kita mencoba beberapa pengamatan. Dari manusia hingga materi dunia, tidak ada satu pun yang tidak berubah. Di dalam tubuh manusia, sel-sel membelah, tumbuh dan mati secara terus-menerus. Melalui berbagai proses, sel-sel mentransformasikan sebuah sel telur dan sebuah sel sperma menjadi seorang bayi yang lucu, seorang bayi menjadi remaja; seorang remaja menjadi seorang perempuan muda yang cantik; seorang perempuan muda menjadi seorang istri yang lembut dan seorang Ibu yang menawan hati; kemudian, semua karakteristik kecantikan dari suatu kehidupan yang energik dengan cepat akan memudar dan digantikan oleh sesosok manusia yang rapuh dan tidak cantik menunggu saat-saat kematian tiba. Sungguh menyedihkan dan sesaat hidup ini! Bahkan di Amerika, walaupun perkembangan obat-obatan dan teknologi dapat memperpanjang kehidupan menjadi lebih dari 100 tahun, manusia tidak dapat tetap kuat dan terbebas dari penyakit. Semua orang yang tua ingin berlalu dari tahun-tahun mereka yang sudah tidak produktif. Demikianlah Hukum Ketidakkekalan ini berlaku untuk semua makhluk. Tidak ada yang dapat lepas dari hukum ini karena hukum ini adalah kebenaran yang mutlak.

Atau, lihatlah sebuah mobil keluaran terbaru. Tidak peduli betapa pun perawatan Anda pada mobil Anda, setelah tiga sampai lima tahun, mobil tersebut akan menunjukkan tanda-tanda kekusaman dan kerusakan. Akhirnya, mobil tersebut akan menjadi rongsokan.

Dan lihatlah pada segala jenis hubungan. Tidak ada satu pun yang akan bertahan selamanya. Seiring berjalannya waktu, tetangga kita akan pindah, persahabatan musnah, bahkan pertalian keluarga akan meregang dan begitu juga hubungan perkawinan yang saling mencintai.

Kita menderita karena kita tidak mengerti ataupun mengakui keberadaan hukum itu. Kita berharap untuk awet muda, terhindar dari kesakitan dan kematian. Kita mengeluh ketika kita sakit dan takut ketika kematian datang mendekat.

Atau, kita ingin selalu menjadi kaya, menjalani hidup dalam kenyamanan dan kepuasan, memiliki keluarga yang bahagia dengan seorang suami yang tampan atau istri yang cantik dan anak-anak yang pintar. Kita takut pada kesengsaraan dan perubahan apa pun.

Dengan alasan itu, beberapa dari kita datang ke hadapan Buddha, bukan untuk mendapatkan kebenaran dalam ajarannya melainkan meminta agar Buddha mengabulkan apa yang kita inginkan. Tidak heran jika banyak orang menjadi lebih serakah dan sengsara, meskipun kenyataannya mereka sering mengunjungi wihara.

Sebaiknya kita memahami dan mengenali Hukum Ketidakkekalan, kita dapat mengubah perspektif kita terhadap kehidupan. Kita akan menerima kehidupan apa adanya, tidak peduli perubahan atau kesengsaraan apa pun yang kita hadapi. Itulah ajaran Buddha. Kita akan berani dan bijaksana dalam segala situasi dan lebih simpati terhadap orang lain. Kita tidak akan pernah lagi menangis ketika menghadapi suatu kecelakaan, kesakitan, atau bahkan kematian. Hal ini adalah pandangan benar, yang dituangkan dalam sebuah syair oleh seorang Master Zen Van Hanh pada zaman Dinasti Lý, mengenai kehidupan dan kondisi manusia:

Tubuh manusia, seperti petir, muncul dan lenyap,
Seperti pohon yang tumbuh saat musim semi dan layu di musim gugur.
Walaupun Ia tumbuh atau hancur, kita tidak mesti terkejut,
Semua layaknya embun di ujung rerumputan, begitulah adanya.

Akan tetapi, banyak kritik yang menginterpretasi bahwa pandangan Buddhis selalu mengecilkan hati bahkan membahayakan. Jika semuanya selalu berubah dan kehidupan manusia telah dikodratkan untuk menderita dan mati, mengapa kita bersusah payah mempertahankan kehidupan yang layak dan baik? Anggapan ini tidak hanya salah mengartikan ajaran Buddha; anggapan ini merupakan pemikiran yang dangkal.

Dengan pengamatan yang sungguh-sungguh, memang benar bahwa hidup selalu berubah. Akan tetapi, dalam menghadapi kenyataan, seseorang dapat bersikap negatif atau positif, tergantung pada pandangannya. Ajaran Buddha, pada kenyataannya, menyebarkan pandangan yang positif. Syair yang telah disebutkan di atas telah membuktikannya. Hidup ini sesingkat petir, muncul dan lenyap dalam sekejap, atau seperti pohon yang tumbuh subur saat musim semi dan layu di musim gugur. Tidak ada yang tidak berubah. Walaupun dikelilingi oleh perubahan, seorang yang telah tercerahkan akan mengakui perubahan tersebut apa adanya, menganggap perubahan tersebut seperti embun di ujung rerumputan.

(Setetes embun sangatlah indah, terutama di bawah sinar matahari pagi. Akan tetapi, tidak akan bertahan lama. Dan tentunya, tidak ada seorang pun yang akan menangis ketika embun tersebut menguap; karena begitulah apa adanya embun tersebut).

Selain itu, Pangeran Siddhàrtha menjadi seorang Buddha hanya karena pandangan positifnya. Setelah menyaksikan kepahitan dari rakyatnya yang miskin, sakit dan sekarat. Beliau bersumpah untuk mencari sebuah Jalan yang dapat menghapus semua penderitaan manusia. Dengan kata lain, Beliau bercita-cita untuk membawa kebahagiaan untuk semua makhluk di dunia ini.

Untuk merealisasi sumpahnya, Beliau dengan berani meninggalkan kemewahan dan martabatnya sebagai seorang pangeran dan pergi menuju hutan belantara untuk menjalani hidup sebagai seorang petapa. Selanjutnya, setelah memperoleh Jalan tersebut, Buddha menyatakan bahwa, agar dapat berhasil mengikuti jejaknya, seseorang harus melatih kebijaksanaan, cinta kasih dan keberanian.

Hukum Sebab Akibat

 Sebagai tambahan Hukum Ketidakkekalan, Buddha mengajarkan Hukum Sebab Akibat. Di mana ada sebab, maka akan ada akibat. Akibat akan mengikuti penyebabnya secara langsung atau belakangan, dari kehidupan lampau ke kehidupan sekarang, dan bahkan kehidupan yang akan datang. Tentunya, sebab yang baik akan menghasilkan akibat yang baik dan sebab yang buruk akan menghasilkan akibat yang buruk. Singkatnya, Buddha menganjurkan pada pengikutnya,:“Jika kalian ingin mengetahui apa yang kalian lakukan di kehidupan lampau, lihatlah apa yang kalian dapatkan di kehidupan ini. Untuk memprediksi apa yang akan kalian dapatkan di kehidupan mendatang, perhatikan dengan seksama apa yang kalian lakukan sekarang.”

Kebanyakan orang, karena kurangnya pengetahuan tentang Hukum Sebab Akibat, percaya bahwa kemalangan yang dideritanya dibuat oleh Sang Pencipta. Dengan kepercayaan ini, orang-orang hanya menggantungkan nasibnya pada malaikat/dewa yang mengatur ‘takdir’ mereka. Sebagai hasilnya, orang-orang berdoa kepada segala jenis Tuhan yang dapat dipikirkannya untuk melindungi mereka, melimpahkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan. Sering kali, orang-orang dengan suka rela mengakui bahwa mereka telah berdosa dan siap untuk merelakan jiwa mereka pada pengampunan oleh Sang Pencipta yang tidak nyata dan sangat hebat. Dengan pola pikir yang seperti itu, seorang manusia tidak memiliki martabat dan kebebasan; Ia bukanlah apa-apa melainkan sebuah boneka Sang Penciptanya.

Bagi Buddha, kepercayaan seperti itu tidak didasarkan pada kebenaran. Kenyataannya adalah setiap orang bebas mengatur hidup mereka sendiri. Ia bertanggung jawab pada tindakannya sendiri dan Ia pula yang menuai hasilnya. Kebahagiaan atau kesengsaraan, kesuksesan atau kegagalan… semuanya bergantung pada apa yang telah atau sedang dilakukannya. Perbuatan baik akan membawa kebahagiaan; perbuatan jahat akan menghasilkan kesengsaraan. Seperti kata pepatah: “Ia yang menciptakan angin akan mendapatkan badai.”

Hukum Sebab Akibat tidak hanya berlaku pada tindakan manusia, hukum ini bersifat universal. Sebuah pohon jeruk akan menghasilkan buah jeruk; sebuah pohon jeruk limun akan menghasilkan buah jeruk limun. Saat hari mendung dan awan gelap berkumpul, seseorang dapat menyimpulkan bahwa akan turun hujan. Dan seorang anak terlalu malas mengerjakan tugasnya, orangtuanya dapat memastikan bahwa Ia akan gagal di kelas.

Perhatikanlah segala kejadian di sekitar kita. Kita akan menyadari bahwa tidak ada yang tidak tersentuh oleh Hukum Sebab Akibat. Di sisi yang sama, kita tidak akan menemukan adanya campur tangan Tuhan. Itulah alasan mengapa Bodhisattwa selalu melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk. Bodhisattwa telah memahami hukumnya. Oleh karena itu, hidupnya bebas dari ketakutan-ketakutan akan nasib yang diatur oleh Tuhan. Ia hanya takut pada dirinya sendiri, pada tiga kekotoran batinnya (keserakahan, kebencian dan Kekelirutahuan) yang akan mengakibatkan perbuatan jahat. Ia tidak takut pada segala macam kutukan dari dewa mana pun.

Sebaliknya, kebanyakan orang membuat hidupnya sengsara karena tindakan jahat mereka sendiri. Mereka berbohong, memalsukan kenyataan, berkata kotor dan bahkan berniat untuk menyakiti orang lain demi keuntungan mereka sendiri. Singkatnya, mereka bertindak atas dasar keserakahan, kemarahan atau kemelekatan. Secara alamiah, ketika sebuah benih kotor ditabur, sebuah akibat yang buruk akan menghampiri penaburnya cepat atau lambat. Sudah jelas bahwa hanya si pelaku yang akan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, bukan Tuhan ataupun Sang Pencipta. Tidak ada doa atau pemberkatan yang dapat menyelamatkan seseorang dari tindakan jahatnya.

Sebagai bukti, suatu ketika Buddha bertanya pada sekelompok Brahmana terkenal, yang mengaku bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk berbicara kepada Tuhan, dan secara rutin mengadakan sesi doa bagi orang kaya dengan imbalan emas dan uang. Pertanyaan pertama adalah : “Jika seseorang mendorong sebongkah batu yang berat ke dalam sumur dan meminta Anda untuk mendoakan agar batu tersebut mengapung, dapatkah Anda menyanggupinya?” “Tidak!”, jawab si Brahmana. “Batu tersebut terlalu berat, dan kami tidak dapat meminta Tuhan untuk membuatnya terapung. Batu tersebut pasti tenggelam bagaimanapun caranya.”

  Pertanyaan selanjutnya adalah: “Jika seseorang menuangkan seember minyak ke dalam sebuah sumur dan meminta Anda untuk mendoakan agar minyak tersebut tenggelam di dasar sumur, dapatkah Anda menyanggupinya?” “Tidak!”, jawab si Brahmana. “Minyak terlalu ringan; apa pun yang kami lakukan, kami tidak dapat membuatnya tenggelam.”

Buddha kemudian menyimpulkan: “Dengan cara yang sama, jika seseorang selalu melakukan perbuatan baik, karmanya akan seringan minyak. Ia tidak harus berdoa untuk takdirnya. Sebaliknya, jika seseorang hanya melakukan perbuatan jahat, karmanya akan seberat bongkahan batu dan akan menariknya ke neraka. Doa apa pun kepada Tuhan agar dirinya diselamatkan akan sia-sia.”

Untuk lebih memahami pentingnya Hukum Sebab Akibat, dalam ceramahnya yang pertama, Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia :
(1) Adanya penderitaan.
(2) Kebiasaan dan perbuatan yang menyebabkan penderitaan.
(3) Lenyapnya penderitaan.
(4) Jalan menuju lenyapnya penderitaan.

Dengan mengikuti ajarannya, seseorang dapat terbebas dari penderitaan tanpa bantuan dari dewa atau malaikat mana pun. Untuk membuat seseorang mengerti dengan jelas dan masuk akal, Buddha menjelaskan bahwa penderitaan manusia berasal dari sebab-sebab yang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan yang biasanya tidak baik, pada dasarnya. Dari kehidupan ke kehidupan berikutnya, sebab-sebab yang tidak baik ini diulangi dan diteruskan. Sebagai hasilnya, Ia yang melakukan harus membayar konsekuensinya. Dengan kata lain, penderitaan yang harus dipikul pada kebenaran pertama (1) dari Empat Kebenaran Mulia adalah efek yang dihasilkan oleh kebenaran kedua (2). Sekarang, ada sebuah Jalan untuk mengakhiri penderitaan tersebut. Untuk mencapai lenyapnya penderitaan pada kebenaran ketiga (3), seseorang harus mempraktikan Jalan tersebut sebagai sebab yang baik, disebutkan pada kebenaran keempat (4). Jalan tersebut yang terdiri dari delapan faktor didesain untuk mencabut secara tuntas ketiga akar kejahatan (keserakahan, kebencian dan kekelirutahuan) yang pada banyak kehidupan sangat memengaruhi perilaku manusia, menyebabkan pikiran dan tindakan yang jahat. Jalan mulia berfaktor delapan ini mencakup: Pandangan Benar (Samma Ditthi), Perniatan Benar (Samma Sankappa), Perkataan Benar (Samma Vaca), Perbuatan Benar (Samma Kammanta), Penghidupan Benar (Samma Ajiva), Pengupayaan Benar (Samma Vayama), Penyadaran Benar (Samma Sati) dan Pemusatan-pikiran Benar (Samma Samadhi). Sekarang ini, dalam mempraktikkan Hukum Sebab Akibat untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik, kita dapat dengan bangga menyatakan bahwa Buddhisme tidaklah bersifat mistis, tetapi sangat kompetitif dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan. Sebagai faktanya, keberadaan Sains saat ini didasarkan pada Hukum Sebab Akibat; yang mana, sebagai esensinya, bukanlah sesuatu yang baru bagi ajaran Buddha sejak lebih dari 2500 tahun yang lalu.

Hukum Musabab yang Saling Bergantung

Di samping Hukum Ketidakkekalan dan Sebab Akibat, Buddha juga mengajarkan Hukum Musabab yang Saling Bergantung. Melalui meditasinya, Buddha mengamati bahwa sesuatu tidak mungkin ada dengan sendirinya. Setiap eksistensi adalah sebuah kombinasi. Tanpa kombinasi tersebut, tidak ada yang benar-benar muncul. Eksistensi adalah proses yang tersusun dari formasi sebab-sebab dan kondisi-kondisi.

Marilah kita mencoba beberapa pengamatan seperti yang dilakukan oleh Buddha. Para ilmuwan sekarang telah menyatakan bahwa tubuh manusia adalah kombinasi dari seratus triliun sel yang membentuk formasi darah, tulang dan organ-organ dalam seperti otak, jantung, paru-paru, ginjal, perut, isi perut dan organ-organ luar seperti mata, telinga, hidung, mulut, kulit, dll. Kekurangan salah satu komponen ini, tubuh tidak berfungsi dengan baik.

Hukum Musabab yang Saling Bergantungan menunjukkan bahwa dalam diri manusia, tidak ada yang disebut ‘ego’ atau ‘diri’. Konsep ‘Aku’ atau ‘Kamu’, yang mendasari ide bahwa ‘Milikku’ selalu lebih baik daripada ‘Milikmu’ adalah suatu delusi/kekelirutahuan. Sesungguhnya, jika ‘kondisiKu’ lebih baik dari pada ‘kondisiMu’, itu hanya karena karma kehidupan lampau tidaklah sama, bukan karena ’tubuhKu’ lebih bagus daripada ‘tubuhMu’.

Sebagai tambahan, walaupun jasmani ini terbuat dari hubungan sel-sel dan organ-organ yang sempurna, tidak akan bertahan lama jika tidak ada persediaan udara segar, makanan yang sehat dan air yang dapat diminum.

Dengan kata lain, Hukum Musabab yang Saling Bergantung ini juga berarti: “Sesuatu hanya muncul ketika ada cukup sebab yang terjadi bersamaan dalam suatu kondisi yang baik; dan segala sesuatu akan hancur jika sebab-sebab atau kondisi-kondisinya terpisah.”

Jelas bahwa menjadi seorang manusia, ada banyak sebab dan kondisi yang bercampur dan menciptakan sebuah kehidupan. Dari saat sebuah sel telur matang bertemu dengan sebuah sel sperma yang sehat dan tumbuh di dalam rahim, ada banyak sekali sebab dan kondisi yang dapat meniadakan kesempatan janin terlahir sebagai seorang bayi yang sehat.

Statistik menunjukkan bahwa di dalam ‘Dunia Ketiga’ (istilah dunia ketiga merujuk pada negara-negara yang tidak memihak pada saat Perang Dunia II dan seterusnya dipakai untuk istilah negara-negara miskin), persentase anak-anak yang berhasil bertahan setelah berusia tujuh tahun di lingkungan mereka yang keras juga sangat rendah. Ternyata, mereka yang terlahir di dalam Dunia Ketiga memiliki faktor penyebab dan kondisi yang kurang baik dibandingkan dengan negara-negara yang terindustrialisasi.

Buddha menjelaskan bahwa dengan pengamatan secara mendalam pada setiap kejadian di kehidupan sehari-hari, seseorang akan dapat mengenali bahwa tidak ada yang terjadi tanpa melibatkan banyak faktor/sebab dan kondisi.

Secara normal, sebab-sebab dan kondisi-kondisi tersebut muncul dalam manifestasi yang tak terhitung jumlahnya dan menghasilkan kejadian yang baik atau buruk, tergantung karma seseorang. Ketika karma terbentuk dan faktor penyebab serta kondisi-kondisi memenuhi, tidak ada siapa pun lagi yang dapat mengontrol suatu kejadian yang akan terjadi; bahkan Tuhan sekalipun.

Saat ini para Ilmuwan juga mengekspresikan hal yang sama mengenai Hukum Musabab yang Saling Bergantung. Jika terdapat cukup Oksigen dan Hidrogen dalam proporsi yang tepat dan jika kondisi lingkungan memungkinkan, akan terbentuk air (2H + O = H2O). Jika sebaliknya, tidak akan ada air yang terbentuk. Hukum ini berlaku untuk semua aspek dalam kehidupan, termasuk keluarga, politik, ekonomi dan aktivitas sosial.



================================================

The Truth
by Thich Thanh Tu, Zen Master
Translated by Minh Tâm



Contents
  • 1 Introduction
  • 2 Law of Impermanence
  • 3 Law of Cause and Effect
  • 4 Law of Causation
Introduction

The teaching of Buddha is very simple and understand, in terms of clarity and applicability. The Buddha preached of no mystics: There is no God to save you. Only you can save ourself.

All of what he said was derived from his direct experiences through observations and meditations. For example, during the meditation about the life of lotus plants in a muddy swamp, he concluded that living things, especially human beings, possess Bodhi-nature (Bodhi=Brillance). If a lotus plant can emerge from the murky water to reach the dazzling sun and produce its colorful and fragrant flowers, a human being can emerge from his adversity and work hard to reach his potentiality in order to contribute something useful and beautiful to life - regardless if one is a farmer, a worker, or a professional.

Ultimately, the Buddha's Teaching derives from the observable truths that in present day scientists call "laws"; namely the Law of Impermanence, the Law of Cause and Effect, and the Law of Causation.

Law of Impermanence

Buddha had always reminded his audience that things are impermanent, including life. Everything is forever changing. He insisted that his followers shoud observe and meditate on those in order to recognize them as a first-hand experience.

Let us try some observations. From the human to the material world, there is nothing that does not change. In the human body, cells split, grow and die incessantly. Through the processes, the cells transform an egg and a sperm into a cute baby; a baby into a youthful teenager; a teenager into a loving, beautiful young woman; a young woman into a delicate wife and an adorable mother; and then, all traits of beauty of an energetic life eventually fade away and are replaced by a frail, unpleasant silhouette waiting for disintegration. How pitiful and ephemeral human life is! Even in the United States where the advancement of medicine and technology can prolong life to over a hundred years, people cannot stay strong and free from illness. All elderly people are dying to pass away from their unproductive years. This Law of Impermanence, thus, applies to all beings. No one can escape it. Because it is an eternal truth.

Or take a look at a brand new car. No matter how much care you put into it, after three to five years the car shows signs of wear and tear. Finally, it will be winding into a wreckage.

And look at any relationship. None of them will last forever. As time passes, neighbors move out, friendships disappear, even kinship loosens, not to mention marital loves.

We are suffering because we do not understand the law, nor do we acknowledge it. We wish to stay young forever, avoiding sickness and death. We lament our health when sick, and are terrified when death shows up at our doorstep.

Or we want to be always rich, to experience a comfortable life or satisfaction, to have a wonderful family with a handsome or beautiful spouse and smart children. We are afraid of adversity and of any changes.

Therefore, some of us come to Buddha, unfortunately, not for the truth in his teachings, but because of wrong thoughts that we can pray Buddha for whatever we want. No wonder people become increasingly greedy and miserable, despite the fact that they go to temple very often.

Shoud we understand and recognize the Law of Impermanence, we could change our perspective toward life. We would admit life as it is, no matter what kind of change or adversity we encounter. That is the teaching of Buddha. We would be brave and wise in any circumstance, and more sympathetic to others. Never again would we cry when facing a mishap, an illness, or even death. And that is the appropriate view, from which Zen Master Va.n Ha.nh in the Lý dynasty put into verse, regarding life and human conditions:


The human body, like lightning, appears and departs, 
As tree grow in Spring and droop in Fall. 
Despite its growth or ruin, we should be not alarmed, 
Considered dewdrops on tips of grass as they are all.


However, there are critics who interpret Buddhist viewpoint to be discouraging, or even fatalistic. If things are always changing and human lives are predetermined to suffer and die, why do we bother to maintain a constructive and decent life? Not only does this interpretation misconstrue the Teaching; it represents a shallow thought.

With an earnest observation, it is true that life is forever changing? But facing a truth, one can react either negatively or positively, depending or his or her point of view. The Buddhist teaching, in reality, broadcasts a positive viewpoint. The aforementioned verse has proved it. Life is as short as a ligtning, which appears and departs in a blink, or as trees that grow in the Spring and droop in the Fall. Nothing remain unchanged. Despite many changes, an enlightened would recognize them as they are, considering them as dewdrops on tips of grass.

(A dewdrop is so beautifull, especially under the early morning sun. But it won't last long. And certainly nobody is going to cry when a dewdrop liquefies; because that is the way it is).

Moreover, Prince Shidharta became Buddha only because of his positive outlooks. After witnessing the pain and bitterness of his destitute, sick, and dying people through his rare outing trips, he took a solemn promise to search for a Way capable of erasing all human suffering. In other words, his wished to bring happiness to all human in this painful world.

In order to realize his vows, he bravely renounced his life of luxury and prestige and went into the wilderness for an ascetic life. Later on, after attaining the Way, the Buddha proclaimed that to successfully follow his path, one should arm oneself with some degrees of intelligence, compassion, and courage.

Law of Cause and Effect

In addition to the Law of Impermanence, Buddha preached the Law of Cause and Effect. Where there is a cause, there will be an effect. The effect may follow the cause immediately or eventually, from previous life to present, and even future life. Of course, a good cause will produce a good effect and a bad cause will give rise to a bad one. In brief, Buddha advised his audience, :"Would you like to know what you were doing in a previous life, see what you have inherited in this life. To predict what you will be receiving in the next life, carefully observe what you are doing now".

Most people, due to lack of knowledge of the Law of the Cause and Effect, believe that their misfortunes were contrived by a Creator. With this common belief, people heavily become dependent of a heavenly deity who control their fates. As a result, people like to pray to all sorts of Gods they can think of to protect them, to bestow on them good fortunes over the bad ones. More often, people willingly admin that they have sinned, and readily succumb themselves to the forgiveness of an imaginary but powerful Creator. In that line of thinking, a human being inherits no dignity and freedom; he is nothing but a puppet of his creator.

To Budhha, that belief is not based on the truth. The truth is that everyone is free to control his or her own life. He is solely responsible for his actions and he is the only one who bears the results. Happiness or misery, success or failure... it all depends on what he had done or has been doing. Good deeds will bring happiness; evil action will breed misery. As an old saying dictated: "He who sows winds, reaps the storm".

Not only does the Law of Cause and Effect govern human actions, it also is universal. An orange tree will produce orange fruit; a lemon tree will provide lemon ones. When dark, heavy clouds gather, one can be sure that rain is going to fall. And a boy is too lazy to do this homework, his parents can be certain that he is going to fail his class.

Just observe any event around us. We will realize that nothing is untouched by the law. By the same token we won't see any interference from Gods. That is why Bodhisattva is always doing only good deeds, and staying away from evil actions. After all, the Bodhisattva understands the law. His life, therefore, is free of god-controlled fears. He is only afraid of himself, of his three poisons (Greed, Hatred, and Delusions) which will inflict evil behaviors on him, he is not afraid of any heavenly deities' curses.

On the contrary, common people make their lives miserable due to their evil actions. They life, they cheat, they fabricate stories, they speak evil, and they even have plans to hurt other for their own gain. In brief, they act under the stipulations of greed, anger, or attachment. Naturally, when a bad seed is sowed, an evil effect will sooner or later be delivered. It is clear that only the doer is responsible for the result of what he has done not a God or a Creatoe. Neither praying, nor blessing can save one from one's own devilish actions.

To prove this viewpoint, one day the Buddha raised questions to a group famous Brahmins who, claiming that they had power to talk to God, regularly held prayer sessions for rich people in return for gold and money. They first question was: "If a man pushes a big chunk of heavy rock down into a well and asks you to pray that it floats, can you do that?". - "No!" replied the Brahmin: "The rock is so heavy, and we cannot pray God for it to float. It has to sink, no matter what".

The next question was: "If a man pour a bucket of oil into a well and asks you to pray that the oil can sink to the bootom, can you do that?". - "No!" came the reply: "Oil is so light; no matter what we do, we cannot make it submerge".

The Buddha, then, concluded: "By the same token, if a person is always doing good deed, his karma will be as light as oil. He does not have to pray for his fate. Conversely, if one only indulges in evil actions, his karma will be as a big chunk of rock and will pull him down to Hell. Any praying to God for him to be saved would be futile".
To emphasize the importance of the Law of Cause and Effect, in his first lecture, the Buddha preached the Four Basic Truth:
1.     The sufferings.
2.     The customs and habits that lead to sufferings.
3.     The cessation of sufferings.
4.     The Way that procures cessation

By the following his teaching, one can save him or herself without the salvation of any deities. To make himself clearly and logically understood, Buddha explained that human sufferings are derived from causes creact by customs and habits, which are generally devilish, by nature. From generation to generation, from one life to the next these devilish cause are repeated and carried over. As result, he who has created these evil causes has to repay the debts afterwards. In order words, the suffering that humans must endure in number (1) is the produced by number (2). Now, there is a way to end those suffering. To reach the cessation as effect in number (3), one has to practice the Way as the good cause governed by number (4). The Way, consisting of the Eightfold Path is devised to completely eradicate the three poisons (greed, hatred, and delusion) which, for many lives, seriously infest human behaviors and cause diabolical thoughts and actions. The Eightfold Path includes: Appropriate Views, Appropriate Thoughts, Appropriate Language, Appropriate Actions, Appropriate Livelihood, Appropriate Effort, Correct Mindfulness and Correct Medication. Nowadays, in practicing the Law of Cause and Effect to change our lives for the better, we can proudly declare that Buddhism is not mysticism, but very competitive to the advancement of Science. As a matter of face, the very existence of Science today is based on the Law Of Cause and Effect; which, in the essence, is nothing new to the teaching of Buddha since over 2500 years ago.

Law of Causation

Besides the Laws of Permanence and Cause and Effect, the Buddha also preached the Law of Causation. Through his meditation, Buddha observed that a thing does not exist independently by itself. Every existence is a combination. Without such as a composition, nothing actually exists. To be is to be under the formation of causes and conditions.

Let's try some observations as the Buddha did. Scientists now confirm that the human body is a combination of one hundred trillion cells which create the formation of blood, bones, and inner organs such as the brain, heart, lungs, kidneys, stomach, intestines... and of outer organs such as eyes, ears, nose, mouth, skin, ect... Lacking one or more of these components, a body does not function properly or simply cannot exist.

The Law of Causation shows that in humans, there is no such thing called the "ego" or "self". The concept of "I" or "You", with the underlying idea that "Mine" is always better than "Yours" is a delusion. Actually, if "my" condition is better than "yours", it is only because the karma of previous life is not the same, rather than because my body is better than yours.

In addition, even if the body is make from a perfect junction of cells and organs, it will not last long if there is no proper provision of fresh air, nutritious food, and potable water.

In other words, the Law of Causation also means that: "Things only exist when there are enough causes which come together under favorable conditions; and things will disintegrate when causes or conditions are scattered".

Obviously, to be a human, there are numerous causes and conditions that blend together and create an existence. From the day a mature egg met a healthy sperm and grew in a womb, there are countlees unfavorable causes and conditions that may abolish the chance of being born a healthy human child.

Statistics shows that in the Third World, the percentage of young children who survive their harsh environment after seven years of age is also very low. Apparently, being born in the Third Wold is having less favorable causes and conditions than in the industrialized world.

The Buddha explained that the earnest observations on any events in daily life, one can recognize that nothing happens without numerous causes and conditions involved.

Normally, they appear in innumerable form that result in good or bad occurences, depending on one's karma. When karma is formed and causes and conditions cast on, it is not in anyone's hand to control the event any more; not even Gods.

Scientists today express the same about the Law of Causation. If there is enough Oxygen and Hydrogen in proper proportions and if the condition, if favorable, it will product Water (2H + O = H2O). Othervise, no water exists. This same law applies to all aspects of the human world, including family structures, politics, economics, and social activities.