Showing posts with label Ceramah Dhamma. Show all posts
Showing posts with label Ceramah Dhamma. Show all posts

Monday, February 21, 2011

Belajar dan Mengalami

 
Belajar dan Mengalami
Oleh: Yang Mulia Ajahn Chah
 

Mari kita membahas tentang perbedaan antara belajar teori Dhamma dengan melaksanakan Dhamma. Belajar Dhamma yang benar hanya mempunyai satu tujuan yaitu untuk menemukan suatu jalan keluar dari ketidak-puasan kehidupan kita dan untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian untuk diri kita sendiri dan semua makhluk. Penderitaan kita mempunyai sebab untuk muncul dan berlanjut. Marilah kita menyadari proses ini. Apabila hati kita sedang tenang atau diam, ia disebut berada dalam keadaan normal; apabila pikiran bergerak, bentuk-bentuk pikiran lalu muncul. Kebahagiaan dan kesedihan merupakan bagian dari pergerakan sang pikiran, dari bentuk-bentuk pikiran yang tercipta. Begitu pula dengan ketidak-tenangan, nafsu keinginan pergi kesana-kemari. Jika engkau tidak mengerti pergerakan tersebut, engkau akan terperangkap di dalam bentuk-bentuk pikiran dan berada di dalam kekuasaannya.

Oleh karena itu, Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengawasi pergerakan sang Pikiran. Dengan memperhatikan pergerakan pikiran, kita akan melihat sifat-sifat asalnya, yakni: selalu berubah-ubah, tidak memuaskan, dan kosong. Anda harus selalu waspada dan merenungkan fenomena-fenomena mental ini. Dengan cara ini, Anda dapat memahami proses Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan. Sang Buddha mengajarkan bahwa kebodohan adalah penyebab timbulnya seluruh fenomena duniawi dan seluruh keinginan kita. Keinginan menyebabkan timbulnya kesadaran, dan kesadaran seterusnya melahirkan pikiran dan jasmani. Inilah proses daripada hukum sebab musabab yang saling bergantungan.

Ketika pertama kali kita mempelajari agama Buddha, ajaran tradisi ini mungkin sangat masuk di akal kita. Tapi ketika proses tersebut terjadi di dalam diri kita, kepada mereka yang hanya membaca teori ajaran Sang Buddha maka mereka tak akan cukup cepat dapat mengikuti proses tersebut. Bagaikan sebiji buah yang jatuh dari pohon, kecepatan jatuh buah tersebut begitu cepat, sehingga bagi orang-orang tertentu tidak dapat mengatakan cabang-cabang mana saja yang dilewati oleh buah tersebut. Ketika perasaan senang muncul karena adanya kontak dengan sesuatu yang menyenangkan misalnya, maka mereka langsung diseret oleh sensasi dan tak dapat mengetahui bagaimana hal tersebut terjadi.

Sudah tentu, penjelasan secara sistematis mengenai proses yang terjadi ditulis dengan sangat tepat, tetapi pengalaman yang terjadi adalah di luar pelajaran yang tertulis. Pelajaran tertulis (teori) tidak dapat mengatakan kepada Anda bahwa "inilah" perasaan/pengalaman dari pengalaman timbulnya kebodohan; beginilah rasanya keinginan; inilah perasaan dari unsur-unsur jasmani dan batin yang berbeda-beda. Ketika Anda jatuh ke tanah dari dahan sebuah pohon, Anda tidak mengetahui dengan persis/detail berapa meter Anda jatuh; Anda hanya sadar sudah menyentuh tanah dan merasakan sakitnya saja. Tidak ada sebuah buku pun yang dapat menjelaskan hal tersebut.

Belajar Dhamma secara formal adalah dengan cara bertahap dan makin tinggi; tapi dalam kehidupan yang nyata ia tidaklah mengikuti alur jalan cuma satu. Itulah sebabnya, kita harus membuktikan/mengalami sendiri pada apa yang timbul dari dalam batin kita, dari kebijaksanaan kita yang paling dalam. Ketika kebijakan kita yang paling dalam —ia yang mengetahui—, mengalami kebenaran dari jalan hati/pikiran, akan menjadi jelaslah bahwa sang pikiran ternyata bukanlah diri kita. Bukan bagian kita, bukan saya, bukan milik saya, sehingga semua itu harus dibuang.

Seperti halnya yang telah kita pelajari tentang nama-nama dari semua unsur pikiran dan kesadaran, Sang Buddha tidak ingin kita menjadi melekat kepada kata-kata. Beliau hanya ingin agar kita melihat bahwa semua hal tersebut adalah tidak kekal, tidak memuaskan, dan kosong dari aku. Beliau mengajarkan hanya untuk melepas. Ketika hal-hal ini muncul, sadarilah mereka semua, dan ketahui mereka apa adanya. Hanya pikiran yang telah terlatih dengan sempurna yang dapat melakukan hal ini.

Bila pikiran sedang kacau, berbagai bentuk pikiran, rencana-rencana pikiran, dan reaksi-reaksi mulai timbul dari padanya, tumbuh dan berkembang terus-menerus. Biarkan saja mereka apa adanya, yang baik maupun yang buruk. Sang Buddha berkata dengan sederhana, "Biarkanlah mereka berlalu". Tapi bagi kita, adalah sangat perlu untuk mempelajari pikiran kita sendiri untuk mengetahui bagaimana caranya agar kita dapat melepaskan mereka.

Jika kita perhatikan model dari unsur-unsur batin, kita akan melihat bahwa ia mengikuti suatu pola yang alamiah: faktor-faktor mental adalah demikian, kesadaran muncul dan lenyap seperti ini, dan seterusnya. Kita dapat melihat di dalam latihan kita sendiri bahwa apabila kita mempunyai pengertian dan kesadaran yang benar, maka pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, dan kehidupan benar otomatis mengikutinya. Unsur-unsur mental yang berbeda-beda muncul dari sesuatu —sumber yang mengetahui tersebut. Sesuatu yang mengetahui tersebut adalah bagaikan sebuah lampu. Jika pengertiannya benar, pikiran dan faktor-faktor lainnya akan benar pula, bagaikan cahaya yang bersinar dari sebuah lampu. Apabila kita mengawasi dengan penuh kesadaran, pengertian benar akan tumbuh. Bila kita memeriksa segala sesuatu tentang hal yang kita sebut Batin, kita akan melihat bahwa ia hanya merupakan penggabungan dari elemen-elemen mental, bukan diri. Lalu di mana kita dapat berpegang? Perasaan, ingatan, semua dari 5 skandha batin dan jasmani, adalah berubah-ubah seperti daun yang melayang-layang ditiup angin. Kita dapat merealisasi hal ini melalui meditasi.

Meditasi adalah seperti sebatang pokok kayu. Insight dan pemeriksaan diri adalah ujung yang satu dari kayu tersebut; ketenangan dan konsentrasi adalah ujung yang lainnya. Jika anda mengangkat seluruh batang kayu tersebut, kedua ujungnya terangkat bersamaan. Yang mana konsentrasi dan yang mana Insight? Semuanya hanya sang batin itu sendiri.

Anda tak dapat benar-benar memisahkan antara konsentrasi, ketenangan di dalam, dan Insight. Mereka adalah seperti sebuah mangga yang pada awalnya hijau dan kecut, kemudian berubah menjadi kuning dan manis, tetapi bukan merupakan 2 buah yang berbeda. Satu mangga yang berubah menjadi lainnya. Dari yang satu berubah menjadi yang lainnya; tanpa awal, kita tak akan pernah mendapatkan yang kedua. Pelajaran atau teori seperti ini hanyalah kaidah-kaidah untuk mengajar. Kita tidak seharusnya melekat kepada kata-kata atau istilah-istilah. Satu-satunya sumber dari kebenaran yang sesungguhnya adalah dengan melihat langsung ke dalam diri sendiri. Hanya dengan cara belajar seperti ini yang memiliki akhir, dan merupakan cara belajar tentang nilai yang sesungguhnya.

Ketenangan dari pikiran pada tahap awal konsentrasi, muncul dari latihan yang sederhana dari pemusatan pada satu titik. Tetapi ketika ketenangan ini berlalu, kita menderita karena kita menjadi melekat terhadap ketenangan tersebut. Menurut Sang Buddha, pencapaian ketenangan bukanlah merupakan akhir dari latihan. Kelahiran dan penderitaan masih terus ada.

Oleh karena itu, Sang Buddha menggunakan konsentrasi ini, ketenangan ini, untuk perenungan yang lebih lanjut. Beliau menyelidiki kebenaran dari benda-benda/segala sesuatu sampai Beliau tidak lagi melekat kepada ketenangan. Ketenangan hanyalah salah satu kebenaran yang relatif, salah satu dari bentuk-bentuk mental yang sangat banyak, hanyalah merupakan suatu tahapan dari sang Jalan. Jika Anda melekat kepadanya, Anda akan menemukan bahwa diri Anda masih terikat pada kelahiran dan perwujudan, berlandaskan pada kesenangan di dalam ketenangan. Ketika ketenangan lenyap, ketidak-tentraman akan muncul, dan Anda akan semakin melekat kepada ketenangan tersebut.

Sang Buddha terus menyelidiki kelahiran dan perwujudan, untuk melihat dari mana asalnya. Ketika Beliau belum mengetahui kebenaran dari benda-benda, Beliau menggunakan pikirannya untuk menyelidiki lebih lanjut, untuk memeriksa semua unsur batin yang muncul. Apakah tenang atau tidak, Beliau terus menyelidiki, menembusi, sampai akhirnya Beliau menyadari bahwa semua yang Beliau lihat, kelima skandha dari jasmani dan batin, adalah bagaikan bola api yang panas. Apabila semua permukaan bola merah tersebut panas, di manakah akan Anda temukan tempat yang dingin untuk berpegang? Adalah sama dengan kelima skandha, memegang pada salah satu daripadanya hanya akan menyebabkan penderitaan. Itulah sebabnya, Anda tidak seharusnya melekat kepada apapun, bahkan terhadap ketenangan atau konsentrasi sekalipun. Anda tidak semestinya mengatakan bahwa kedamaian atau ketenangan itu adalah Anda atau milik Anda. Dengan melakukan hal tersebut, hanya menyebabkan munculnya kesakitan pada ilusi diri, dunia dari kemelekatan dan kekhayalan, merupakan bola api panas yang lainnya.

Di dalam melakukan latihan, kecenderungan kita adalah untuk meraih dan mengambil pengalaman sebagai Aku dan milikku. Jika Anda berpikir: "Saya tenang, saya gelisah, saya baik atau buruk, saya bahagia atau tidak bahagia", kemelekatan ini akan menyebabkan lebih banyak lagi perwujudan dan kelahiran. Bila kebahagiaan berakhir, penderitaan muncul; bila penderitaan berakhir, kebahagiaan muncul. Anda akan melihat diri Anda tak henti-hentinya terombang-ambing di antara surga dan neraka.

Sang Buddha melihat bahwa kondisi dari pikiran-Nya adalah seperti itu, dan Beliau tahu, karena adanya kelahiran dan perwujudan maka kebebasan-Nya belumlah komplit. Sehingga Beliau mengambil semua unsur pengalaman ini dan merenungkan intisari kebenaran. Disebabkan oleh keinginan, maka kelahiran dan kematian timbul. Menjadi senang adalah kelahiran; menjadi kesal/benci adalah kematian. Setelah mati, kita lalu lahir; karena lahir, kita lalu mati. Kelahiran dan kematian dari satu saat ke saat yang lain adalah bagaikan berputarnya sebuah roda yang tak ada akhirnya.

Sang Buddha melihat bahwa apapun yang timbul dari pikiran adalah bersifat sementara, keadaan yang berkondisi, yang sesungguhnya adalah kosong. Ketika ini jelas bagi Beliau, Beliau lalu melepaskan, membiarkan, dan menemukan akhir dari penderitaan. Anda juga harus mengerti kebenaran ini. Bila Anda memahami segala sesuatu sebagaimana adanya, Anda akan melihat bahwa unsur-unsur pikiran ini adalah penuh dengan tipuan; sesuai dengan ajaran Sang Buddha bahwa batin/pikiran ini adalah tidak memiliki apa-apa/kosong pada awalnya, tidak timbul, tidak lahir, dan tidak mati bersama siapapun. Ia bebas, bersinar, gemerlapan, dan tidak bergantung pada apapun. Sang Pikiran menjadi bergantung hanya karena ia salah dimengerti dan dibungkus oleh kondisi-kondisi fenomena ini, khayalan salah tentang sang Aku.

Oleh karena itu, Sang Buddha menasihati kita untuk melihat ke dalam batin kita. Apakah yang muncul pada awalnya? Sebenarnyalah, tak ada apapun. Kekosongan ini tidak muncul dan mati dengan fenomena-fenomena yang ada. Bila ia kontak dengan sesuatu yang baik, ia tidak menjadi baik; bila ia kontak dengan sesuatu yang buruk, ia tidak menjadi buruk. Batin yang murni mengetahui obyek-obyek ini dengan jelas, mengetahui bahwa mereka bukanlah sesuatu yang penting.

Apabila batin para meditator ada pada kondisi ini, tak ada keragu-raguan yang akan muncul. Apakah ada pewujudan? Apakah ada kelahiran? Kita tak perlu bertanya kepada siapapun. Setelah memeriksa unsur-unsur dari batin, Sang Buddha lalu melepaskannya dan menjadi orang yang semata-mata sadar tentangnya. Beliau hanya melihat dengan keseimbangan. Keadaan yang menyebabkan kelahiran tidak lagi timbul pada diri-Nya. Dengan pengetahuan-Nya yang komplit/sempurna, Beliau menyebut mereka semuanya tidak kekal, tidak memuaskan, kosong dari Aku/Diri. Itulah sebabnya, Beliau menjadi seorang yang tahu dengan sempurna/Maha Tahu. Seseorang yang mengetahui, akan melihat sesuai dengan kesunyataan dan tidak menjadi gembira atau sedih terhadap keadaan yang berubah-ubah. Ini adalah kedamaian yang sejati, bebas dari kelahiran, usia tua, kesakitan, dan kematian; tidak terpengaruh oleh Hukum Sebab Akibat, atau kondisi-kondisi, di luar kebahagiaan dan penderitaan, di atas baik dan jahat. Tak ada yang dapat diucapkan tentang hal tersebut. Tak ada kondisi yang mendorongnya lagi.

Oleh karena itu, kembangkan samadhi, ketenangan dan pandangan terang/Insight; belajarlah untuk membuat mereka muncul di dalam batin Anda dan benar-benar dapat memanfaatkan mereka. Bila tidak, Anda mungkin hanya tahu ajaran-ajaran teori agama Buddha dan tahu maksud-maksudnya dengan lengkap, kemudian pergi berkeliling menjelaskan sifat-sifat dari kehidupan. Anda mungkin menjadi pintar, namun ketika suatu hal timbul di dalam batin/pikiran Anda, apakah Anda akan mengikutinya? Ketika Anda kontak dengan sesuatu yang Anda senangi, apakah Anda seketika menjadi melekat? Dapatkah Anda melepaskannya? Ketika hal yang tidak Anda sukai timbul, apakah Anda (sesuatu yang mengetahui) memegangnya di dalam pikiran, atau apakah akan membiarkannya berlalu? Jika Anda melihat sesuatu yang tidak Anda sukai dan masih memegangnya atau membencinya, Anda harus sadar bahwa ini tidak benar, belum yang tertinggi. Jika Anda menyelidiki pikiran Anda dengan cara seperti ini, Anda pasti benar-benar akan memahaminya.

Saya tidak berlatih dengan menggunakan buku; saya hanya melihat kepada sesuatu yang mengetahui ini (batin). Jika ia membenci seseorang, tanyakan mengapa? Jika ia mencintai seseorang, tanyakan mengapa? Periksalah segala sesuatu yang timbul tersebut lalu kembalikan kepada asalnya, maka Anda akan dapat memecahkan masalah dari kemelekatan dan kebencian dan membiarkan mereka berlalu dari diri Anda. Segala sesuatu akan kembali dan muncul dari sesuatu yang mengetahui (batin). Dan mengulangi latihan adalah paling penting.

[Dikutip dari Mutiara Dhamma VI ]  

Friday, February 18, 2011

Benarkah Aku Beragama Buddha

 
Benarkah Aku Beragama Buddha
Oleh: Sakyananda
 


Benarkah anda beragama Buddha ? Sebuah pertanyaan ringan, tapi sulit untuk dijawab dengan cepat, seperti kita menjawab pertanyaan berapa 2 x 2 ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita memerlukan waktu untuk mengadakan perenungan dan intropeksi pada diri kita sendiri.

Banyak orang mengaku sebagai umat Buddha, tapi banyak pula yang belum mengetahui Dhamma yang diajarkan Sang Buddha guru junjungan kita. Banyak di antara mereka yang sering datang ke vihara hanya untuk bermain-main atau hanya sekedar ingin bertemu dengan kawan-kawannya yang berasal dari sekolah lain. Apakah ini yang dinamakan bhakti dan sembah sujud kita kepada Sang Buddha selaku umat Buddha ?

Dari ucapan seseorang kita dapat mengetahui kepribadian dan paham yang mereka anut. Alangkah sayangnya, jika seseorang diajak menyelesaikan suatu masalah mereka menjawab dengan jawaban yang tidak pernah ada didalam ajaran oleh Sang Buddha. Tak jarang pula diantara mereka yang mengaku sebagai umat Buddha , tapi sewaktu ditanya masalah Dhamma mereka memberikan suatu jawaban yang jawabannya tidak pernah diajarkan oleh Sang Buddha. Mereka sering mencampuradukkan istilah istilah yang ada di dalam agama lain kedalam agama Buddha.

Sebagai contoh, manusia setelah mati, sebelum dia masuk atau ditentuan masuk ke nereka atau ke surga, ia akan mengalami pengadilan untuk menimbang beratnya perbuatan baik-jeleknya selama hidup sebagai manusia. Pengertian ini tidak pernah ada didalam ajaran Sang Buddha. Kammanyalah yang menentukan seseorang itu dapat masuk ke surga, jika sering berbuat jahat (Akusala kamma) maka ia akan dilahirkan di alam neraka atau alam yang menyedihkan lainnya.

Hukum kamma tau yang lajim disebut hukum sebab-akibat, yaitu hukum alam yang mengatur segala sesuatu tindakan baik yang dilakukan oleh badan jasmani, ucapan dan pikiran yang akan membawa hasil. Dan hasil yang berupa akibat atau buah dari perbuatan kita itu akan buruk, jika kita melakukan perbuatan jahat. Dan akan berbuah dengan baik, jika kita melakukan perbuatan baik. Semua hasil perbuatan ini, baik yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan, kita sendiri yang harus menerimanya.

Mereka yang belum mengerti tentang Dhamma, tidak mau mengakui adannya hukum kamma ini, dan bahkan ada yang mempunyai anggapan bahwa perbuatan jelek atau kesalahannya itu dapat ditembus dengan mengadakan upacara sembahyang atau yang sering disebut dengan istilah pengampunan dosa. Kesalahan- kesalahan seperti diatas amat merugikan kita. Apalagi yang mengajukan pertanyaan itu adalah umat dari agama lain yang ingin mengetahui atau ingin mempelajari Dhamma Sang Buddha.

Sebab jika kita memberikan penjelasan yang salah, mereka juga akan memberikan jawaban yang salah jika ditanya oleh orang lain. Jika mereka sampai tahu bahwa apa yang kita katakan itu salah, maka mungkin saja mereka akan mencemoohkan kita dan akan mengejek atau menyebut kita dengan "Umat Buddha KTP" atau "Umat Buddha Statistik"

Atau bahkan mereka mengatakan "Pura-pura beragama supaya tidak dianggap komunis:, sebab di negara Indonesia kita ini semua orang wajib beragama. Ucapan tanpa tindakan tiadalah berarti. Ibarat intan permata yang indak namun tidak memancarkan sinar karena tidak pernah diasah.

Begitulah dengan kita, jika kita mengetahui dengan mengaku sebagai umat Buddha, maka kita yach.. mau tidak mau harus belajar Dhamma dengan baik. Tak cukup hanya belajar tanpa mau mempraktekkannya didalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari sebagai seorang umat Buddha yang baik. Dari tingkah laku dan tindakan kita yang mencerminkan sebagai umat Buddha yang baik, maka masyarakat disekitar kita akan mengetahui dan mengakui bahwa agama Buddha adalah agama yang besar.

Alangkah baiknya, jika kita hidup ditengah tengah masyarakat yang bebas dari cemohan ataupun menjelek-jelekan agama kita karena tingkah laku kita sendiri. Dengan demikian kita ikut menciptakan suasana rukun, tentram, dan damai diantara kita, sehingga akan terbina suatu masyarakat yang penuh toleransi dan rasa saling menghormati.

Pelajarilah Dhamma! Jika suara hatimu mengatakan "Aku umat Buddha atau aku siswa Sang Buddha", tunjukkan dengan ucapan dan perbuatan yang benar (yang sesuai dengan Dhamma Sang Buddha). Kita perlu membuktikan melalui ucapan dan perbuatan kita agar kita diakui dimasyarakat sebagai umat Buddha yang baik, bukan sebagai umat Buddha KTP.

Sekali lagi pelajarilah Dhamma, jika engkau memang siswa Sang Buddha dan praktekkanlah dalam kehidupan sehari-hari. Niscaya Anda akan hidup bahagia lahir dan bathin.


[ Dikutip dari Majalah Buddhis Sinar Buddha Edisi II ]  

Thursday, February 17, 2011

Bebas Dari Kejahatan

 
Bebas Dari Kejahatan
Oleh: U. HuseinPutta
 


Kejahatan Mengintai Kita", "Sadisme, Bentuk Kekerasan Baru", "Kekerasan Merebak" hanyalah sebagian dari sekian banyak ungkapan yang dapat dijumpai dalam media massa akhir-akhir ini. Memang, pelbagai bentuk kejahatan yang terjadi dimasyarakat luas tak pernah absen diberitakan media massa baik elektronik maupun cetak.

Namun, belakangan ini berita tentang merebaknya bentuk-bentuk kejahatan yang tercermin pada beberapa ungkapan diatas semakin hangat dibicarakan masyarakat luas dan menjadi polemik di media massa.

Tampaknya, jenis kejahatan dengan segala macam bentuknya semakin menggejala dan dahsyat. Kekerasan dan sadisme makin menggejala dan mengintai siapa saja. Terjadinya tindak kriminalitas yang kerapkali dikaitkan dengan tubuh kekar bertato, raut muka yang sangar, dan sorot mata yang keras bukan merupakan jaminan lagi. Pendapat ini bukan tanpa alasan. Dalam kenyataan sekarang, kejahatan yang disertai kekejian, kekejaman, dan tindak kesadisan yang luar biasa bisa dilakukan siapa saja; entah dia seorang guru, terpelajar, ibu rumah tangga, remaja, karyawan, kuli bangunan, pengemudi becak, atau bahkan sanak keluarga sendiri.

Tindakan sadisme para pelaku delik kejahatan akhir-akhir ini sudah barang tentu menjadi sorotan masyarakat luas. Betapa tidak! sudah cukup banyak korban berjatuhan akibat dari kejahatan yang semakin marak ini. Konon ini merupakan kenyataan baru yang harus dihadapi. Senada dengan ini, Prof.Dr. Asma Affan M. Nasution MPA seorang pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan pernah berujar demikian:"Rakyat Indonesia dulu terkenal kelemahlembutannya, kini berubah kasar dan ganas". Nah, kalau begitu, wajarlah apabila timbul pertanyaan apa sesungguhnya yang sedang terjadi di masyarakat kita?.

Banyak para pakar dan pejabat kepolisian berpandangan bahwa kasus-kasus sadisme itu bermotif ekonomi. Ada pula yang mengatakan itu pengaruh televisi, film, dan video. Pendapat lain mengatakan tidak mesti semata-mata segi ekonomi. Dengan kata lain, tidak mesti kalau orang miskin menjadi penjahat. Situasi yang penuh persaingan, materialistis, ketidakpuasan pada diri sendiri,situasi kehidupan yang padat memang diakui mempunyai andil mendorong agresivitas meningkat yang dapat menimbulkan kejahatan. Ketimpangan ekonomi dan perubahan sosial kerapkali dijadikan faktor yang ikut berperan sebagai pemicu terjadinya kejahatan. Masalah ekonomi jelas tak kalah pentingnya dengan masalah lain dalam kehidupan umat manusia. Perubahan sosial akibat kemajuan zaman senantiasa menciptakan tantangan baru yang semakin kompleks bagi kehidupan umat manusia. Ada sementara orang tidak mempunyai kesulitan sedikitpun dalam segi ekonomi. Sebaliknya, ada yang sudah berupaya semaksimal mungkin namun kegagalan senantiasa menimpanya. Bagi mereka yang gagal ini bukanlah tak mungkin terpaksa harus mengambil "jalan pintas" untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Agama Buddha mengakui bahwa masalah ekonomi dapat menimbulkan tindakan kriminal. Dalam Kutadanta Sutta, Sang Buddha menyatakan bahwa kesejahteraan, kedamaian, dan kebersihan dari tindakan kriminal dapat diwujudkan dengan peningkatan penghidupan umat manusia. Sementara itu, dalam pandangan Agama Buddha paham "Roh" sesungguhnya merupakan biang keladi dari segala kejahatan di dunia ini. Sifat mementingkan diri sendiri dengan tidak segan-segan merugikan makhluk lain (Egoisme), keangkuhan, kesombongan, kecongkakan, dan banyak kekotoran batin lainnya, semuanya bersumber dari paham "Roh". Kebanyakan umat manusia tidak menyadari bahwa paham "Roh" adalah racun ganas bagi mereka. Pikiran negatif tentang adanya "Roh", "Aku", dan "Milikku" yang ditimbulkan dari paham tersebut merupakan sumber dari semua kejahatan dan perselisihan dalam dunia ini, dari perselisihan kecil dalam keluarga, sampai dengan tindakan kejahatan dan peperangan antar bangsa.

Tidaklah dapat ditelusuri sejak kapan gagasan tentang adanya "Aku/Roh" itu mulai muncul. Yang Jelas, gagasan ini diajarkan oleh kebanyakan kepercayaan dan keagamaan di dunia ini. Bagaimana pun, segala macam gagasan/paham "Aku" ditolak dalam agama Buddha.Jika dipercayai ada suatu "Diri/Aku" yang kekal, maka orang yang pada awalnya jahat akan tetap selamanya jahat. Kalau begitu, tentunya sangat sia-sia semua praktek keagamaan, terutama penempuhan kehidupan suci. Berdasarkan pengkajian dan pengalaman empiris,tertampak bahwa tiada suatu bukti apa pun yang dapat menopang adanya keberadaan "Aku" yang kekal. Paham "Aku" hanyalah suatu khayalan semata, yang timbul karena ketakpuasan hasrat rendah umat manusia apabila dalam dirinya tidak terdapat sesuatu yang kekal.Jadi, dalam realita tidak ada suatu "Roh", "Aku", atau "Diri"; yang ada hanyalah gagasan/konsep/paham "Aku" itu sendiri.

Apabila masih terdapat kemelekatan terhadap paham "Aku" dan ketergantungan terhadap pandangan sesat, selama itu pula muncul kesedihan, ratapan, penderitaan jasmaniah, duka-cita, dan keputusasaan. Apabila ada paham "Aku", timbullah kemelekatan bahwa ada aku miliknya. Oleh karena itu, sangatlah beralasan apabila Sang Buddha Gotama, berujar, "Duhai para Bhikkhu, Saya tidak pernah melihat adanya suatu teori "Roh" yang apabila diterima tidak akan menimbulkan kekecewaan, ratap tangis, kesedihan, kesengsaraan, dan penderitaan." (Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikaya 22).

Ada tiga sebab-dasar yang membuat suatu makhluk melakukan kejahatan, yaitu: kelobaan atau kebencian, atau/dan kedunguan. Jenis kejahatan seperti pembunuhan, pemakian, itikat jahat mempunyai kebencian atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar; Pencurian, pendustaan, penghasutan, pengobrolan kosong mempunyai kelobaan atau kebencian atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar; Perzinahan, hasrat rendah, pandangan sesat mempunyai kelobaan atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar. Tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan umat manusia masih memiliki kekotoran batin tersebut diatas. Namun, agama Buddha menolak kesahihan teori yang mengajarkan bahwa secara alami manusia pada dasarnya berdosa, dan untuk menjadi baik seseorang tidak dapat melakukannya dengan kemampuan dan kekuatan sendiri tanpa berdoa dan memohon bantuan dari Makhluk Adikodrati tertentu. Dampak negatif teori itu ialah merongrong keyakinan seseorang atas kemampuan diri sendiri untuk menghindari kejahatan, dan membuatnya bergantung pada makhluk lain bahkan untuk berbuat kebajikan.

Dalam pada itu, agama Buddha bertolak belakang dengan pandangan pesimis dan suram tersebut diatas. Justru untuk mengarahkan diri secara benar dalam arti segala perubahan dari sesuatu yang dipandang oleh agama, tradisi, dan kebudayaan sebagai hal yang negatif beralih ke hal yang positif, hal yang paling penting adalah haruslah dilakukan oleh diri sendiri. Usaha ini tidak mungkin dapat dilimpahkan atau diserahkan kepada orang lain. Agama Buddha mengajarkan umat manusia untuk dapat berdiri diatas kaki sendiri, dan membangkitkan keyakinan umat manusia akan kemampuan sendiri sehingga dapat menolong dirinya sendiri terbebas dari kejahatan. Dengan kalimat bersahaja yang mudah dimengerti, Sang Buddha bersabda: "Oleh diri sendiri kejahatan diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tak diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi suci. Kesucian atau ketaksucian adalah milik masing-masing. Tak seorang pun dapat menyucikan orang lain." (Dhammapada, Atta Vagga 165). Selanjutnya dalam kesempatan lain, Beliau menyerukan demikian: "Menghindari kejahatan, dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: 'Hindari Kejahatan'. Apabila dengan menghindari kejahatan akan membawa kehilangan dan kekesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu membawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: 'Hindari Kejahatan'."

"Mengembangkan kebajikan, dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: 'Kembangkan Kebajikan'. Apabila dengan mengembangkan kebajikan membawa kehilangan dan kekesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu mem bawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: 'Kembangkan Kebajikan'." (Anguttara Nikaya I:58).

Segala jenis kejahatan adalah noda dalam dunia sekarang maupun mendatang. Kejahatan bukanlah suatu hal yang gampang dikendalikan. Karena itu orang bijak tak membiarkan kejahatan menyeretnya kedalam penderitaan sepanjang waktu. Manusia harus menyadari bahwa kelambanan dalam berbuat kebajikan akan membuat pikiran bergembira dalam kejahatan. Dengan demikian, bergegaslah dalam berbuat kebajikan dan cegahlah pikiran dari kejahatan. Apabila telah telanjur berbuat jahat, seseorang hendaknya tidak mengulangi kejahatan itu. Jangan pula membangkitkan kepuasan atas kejahatan itu. Sebab, penimbunan kejahatan mengakibatkan penderitaan.

Dan sebaliknya, apabila berbuat bajik, seseorang hendaknya sering-ering mengulangi kebajikan itu. Ia hendaknya merasa puas dalam kebajikan itu. Sebab, penimbunan kebajikan membuahkan kebahagiaan.(Dhammapada, Papa Vagga 117-118).

Pelaku delik kejahatan kerapkali tidak menyadari perangai buruknya. Perbuatan jahat yang kecil dianggapnya hal yang biasa. Mereka menjadi buta dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya perbuatan tersebut sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan. Terdapat kemungkinan besar pelaku kejahatan melihat perbuatannya sebagai hal yang baik selama suatu kejahatan belum menimbulkan akibat. Akan tetapi, tatkala kejahatan itu menimbulkan akibat buruk, ia menyadarinya sebagai hal yang buruk. Selanjutnya, biasanya penyesalan akan timbul setelah seseorang menyadari bahwa dirinya telah berbuat kejahatan.

Penyesalan sesungguhnya suatu hal yang sama sekali tidak dianjurkan dalam agama Buddha. Mengapa demikian? Upaya 'menyadari kejahatan' dalam arti insaf/sadar hendaknya benar-benar dibedakan dengan 'menyesali kejahatan'. Penyesalan merupakan suatu pembentukan kamma buruk yang baru. Penyesalan adalah suatu keadaan batin yang berpadu dengan kemarahan, yang muncul bersama dengan kekecewaan. Penyesalan termasuk pikiran yang berakar pada kebencian, yang muncul karena memikirkan sesuatu yang tidak diharapkan atau dikehendaki. Sedangkan keinsafan kemunculannya terjadi pada saat seseorang dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan, dan berpihak pada kebenaran. Oleh karena itu, keinsafan adalah suatu pembentukan kamma baik yang baru. Perlu dicamkan bahwa suatu kejahatan yang telah telanjur diperbuat tidaklah dapat diubah menjadi suatu kamma baik kendatipun disesali sepanjang waktu. Penyesalan hanyalah akan memperberat suatu kejahatan. Seyogianya ia secepatnya menginsafi atau menyadarinya dan selanjutnya mengarahkan diri secara benar yang merupakan langkah awal yang mutlak harus dikerjakannya dalam upaya menuntun diri menuju kemajuan, peningkatan dan perkembangan batiniah yang pesat.

Dalam satu hal semua makhluk mempunyai persamaan, yakni mendambakan kebahagiaan dan senantiasa berusaha menghindari penderitaan. Bertolak dari pemahaman ini, kita dapat menyimpulkan bahwa segala hal yang dapat menyakitkan bagi diri sendiri juga akan menyakitkan bagi orang lain. Suatu perbuatan yang tidak dikehendaki dilakukan orang lain pada diri sendiri, hendaknya juga tidak dilakukan pada orang lain yang juga mereka tak kehendaki. Salah satu contohnya, kita dapat merenungkan demikian: "Saya menyenangi kehidupan, tidak mengharapkan kematian, menyenangi kenikmatan dan tidak menyukai penderitaan. Apabila seseorang bermaksud membunuhku, saya tidak menyukainya. Begitu juga, apabila saya bermaksud membunuh orang lain, dia juga tidak akan menyukainya. Sebab, sesuatu yang saya tidak sukai, pasti pula tidak disukai orang lain; bagaimana mungkin saya dapat membebani orang lain seperti itu?". Berdasarkan perenungan tersebut, seseorang hendaknya bertekad tidak membunuh, menganjurkan orang lain untuk demikian pula, dan senantiasa menghargai tekad itu. (Samyutta Nikaya V:354). Dengan kalimat yang tidak begitu berbeda, dalam Dhammapada, Danda Vagga 129-130, juga terdapat sabda Sang Buddha sebagai berikut: "Semua orang gentar terhadap hukuman, semua makhluk takut menghadapi kematian. Setelah membandingkan diri sendiri dengan yang lain, seseorang hendaknya tidak membunuh sendiri atau menyuruh orang lain untuk membunuh."

"Semua orang gentar terhadap hukuman, semua makhluk mencintai kehidupannya. Setelah membandingkan diri sendiri dengan yang lain, seseorang hendaknya tidak membunuh sendiri atau menyuruh orang lain untuk membunuh."

Dengan cara yang sama, dalam segala tindakan yang akan dilakukan hendaknya seseorang menyadari azas universalitas ini. Disamping itu, apabila manusia menganggap dirinya sebagai makhluk yang mempunyai peradaban luhur, maka menjadi tugasnya untuk melindungi, memelihara, serta membina kesejahteraan, kebahagiaan, kesentosaan dan perdamaian di dunia ini.

Umat manusia yang perkembangan batinnya belum sempurna memang mempunyai kecenderungan untuk berbuat kesalahan, kekeliruan, kekhilafan, kesilapan, kegalatan atau kejahatan. Namun, hal-hal semacam itu tidak seharusnya dibiarkan terjadi berulang-ulang dan terus menerus hingga menjadi kaprah. Upaya perbaikan dan notabene meningkatkan kebajikan, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan yang telah dimiliki hingga menjadi sempurna ini sesungguhnya telah dikumandangkan Sang Buddha dalam Mangala Sutta. Usaha perbaikan tersebut dalam Mangala Sutta dikatakan "Mengarahkan Diri secara Benar". Bagi setiap orang yang mendambakan kemajuan, peningkatan dan perkembangan batiniah yang pesat, langkah awal yang mutlak harus dikerjakan adalah mengarahkan diri secara benar. Dengan mengarahkan diri secara benar tentunya tidak hanya membuahkan manfaat terbatas bagi diri sendiri saja, melainkan juga bagi orang-orang lainnya. Ditinjau dari segi sosial, seseorang yang mengarahkan diri secara benar tentunya tidak akan menjadi ancaman atau bahaya apa pun bagi masyarakat luas disekelilingnya. Bahkan lebih jauh dari itu, ia dapatlah dianggap telah ikut serta secara nyata dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa.

Pengertian "Mengarahkan diri secara benar" mempunyai empat cakupan, yaitu: 1) Menyadari kejahatan yang telah muncul dalam dirinya, dan selanjutnya bertekad serta berusaha agar kejahatan yang sama tidak terulang lagi pada masa mendatang;2) Mencegah timbulnya kejahatan yang belum muncul;3) Menimbulkan kebajikan yang belum muncul dan 4) Mempertahankan atau mengembangkan kebajikan yang sudah muncul.

Beberapa contoh sikap yang nyata dalam mengarahkan diri secara benar misalnya, seseorang yang dahulunya tidak mempunyai kesilaan/kemoralan tetapi kemudian menjaga kesilaan; atau seseorang yang dahulunya tidak mempunyai keyakinan tetapi kemudian membangkitkan keyakinan; atau seseorang yang dahulunya kikir / pelit tetapi kemudian mengembangkan kemurahan hati atau kedermawanan; atau seseorang yang dahulunya jahat berubah menjadi baik,dari biadab berubah menjadi beradab, dari kejam berubah menjadi welas asih, dari culas berubah menjadi jujur, dari ceroboh berubah menjadi waspada, dari malas berubah menjadi rajin, dari berkhianat berubah menjadi berbakti, dari pemarah berubah menjadi penyabar, dari pendendam berubah menjadi pemaaf, dan lain sebagainya.

Dalam berbagai kesempatan, Sang Buddha senantiasa mengingatkan betapa penting upaya mengarahkan diri secara benar. Ini tertampak pada beberapa kutipan berikut ini:

"Pikiran yang terarahkan secara benar membuat seseorang menjadi mulia dan memperoleh pahala baik; melebihi apa yang dapat diberikan oleh ibu, ayah atau sanak keluarga." (Dhammapada, Citta Vagga 43)

"Menyadari bahwa diri sendirilah yang [paling] dicintai, seseorang hendaknya menjaga diri dengan baik. Orang bijak patut mawas diri kalau bukan dalam ketiga masa kehidupan, paling tidak dalam satu masa." (Dhammapada, Atta Vagga 157)

"Barangsiapa yang sebelumnya lengah tetapi kemudian mawas diri, ia niscaya menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan." (Dhammapada, Loka Vagga 172)

"Barangsiapa menanggalkan kejahatan yang pernah dilakukannya dengan berbuat kebajikan niscaya menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan." (Dhammapada, Loka Vagga 173)

Mengarahkan diri secara benar merupakan cara yang paling sangkil untuk meningkatkan kemajuan, peningkatan, dan perkembangan batiniah yang pesat yang dapat menciptakan kehidupan yang sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa. Dengan menyadari manfaat yang besar tersebut, sudah selayaknya jika setiap orang berusaha mengarahkan diri secara benar. Memang, cukup sukar untuk dapat mengintrospeksi atau melihat kesalahan, kekeliruan, kekhilafan, kesilapan, kegalatan atau kejahatan yang terdapat dalam diri sendiri. Jauh lebih sulit lagi ialah memperbaiki kesalahan, kekeliruan.... atau kejahatan yang telah terlihat. Namun, ini semua bukanlah suatu hal yang mustahil. Senantiasa terpampang kesempatan yang luas bagi setiap orang untuk memperbaiki serta meningkatkan tataran batinnya hingga mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan tidaklah dimonopoli oleh satu makhluk tertentu saja.

Dalam keadaan merebaknya kejahatan yang menjadi bagian kenyataan kehidupan masyarakat kita, peranan agama benar-benar sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kesadaran dan keinsafan akan pentingnya nilai-nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan, dengan begitu masyarakat kita akan dapat menemukan, menegakkan dan membangun kembali identitas dan kepribadiannya. Kebenaran agamis tidak sangkil jika hanya disakralkan di tempat-tempat kebaktian; tetapi juga harus mampu diresapkan dan ditanamkan dalam sanubari mereka yang paling dalam sehingga apa pun pikiran, ucapan, dan tindakan yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat luas dapat benar-benar terarahkan pada kebajikan. Untuk memenuhi tugas mulia ini, agama harus berusaha memulihkan keyakinan masyarakat akan pentingnya tanggung jawab moral, kepedulian sosial, dan pentingnya peningkatan penghidupan umat manusia dalam menciptakan kehidupan sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang; Suatu kehidupan yang bebas dari kejahatan atau setidaknya kejahatan tidak bersimaharajalela di dunia ini.

Tidak melakukan segala kejahatan, menyempurnakan kebaikan, dan menyucikan pikiran; inilah ajaran para Buddha."(Dhammapada, Buddha Vagga 183 )

Catatan:

Ungkapan 'kebajikan yang belum muncul' pada butir ketiga itu mencakup kebajikan duniawi yang belum pernah muncul dalam kehidupan sekarang, dan kebajikan-jalan (magga-kusala) yang belum pernah muncul baik dalam kehidupan lampau maupun sekarang. Kebajikan Jalan (magga-kusala) mempunyai empat tataran, yaitu: Sotapatti-magga, Sakadagami-magga, Anagami-magga, dan Arahatta-magga.

Ungkapan 'mengembangkan kebajikan yang sudah muncul' pada butir terakhir itu hanya semata-mata mencakup kebajikan duniawi seperti memberi dana, memelihara kesilaan, dan melatih meditasi yang pernah dilakukan baik dalam kehidupan lampau maupun sekarang. Ini sama sekali tidak merujuk pada kebajikan-jalan. Alasannya ialah bahwa suatu magga-kusala hanyalah mungkin muncul sekali saja sepanjang kehidupan suatu makhluk. Setelah muncul sekali dan segera lenyap kembali, kebajikan-jalan ini tidak akan muncul lagi. Hanya kebajikan-jalan yang lebih luhur tatarannya daripada kebajikan-jalan yang sudah muncul dalam dirinya saja yang mungkin bisa muncul.

Dalam Kitab Suci Dhammapada terbitan LPD Publisher, Jan Sanjivaputta mengulaskan bahwa kehidupan manusia terbagi menjadi tiga masa, yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua. Sungguh baik apabila seseorang dapat mawas diri dalam ketiga masa kehidupannya. Contohnya ialah Samanera Sopaka yang telah berhasilmeraih kesucian sejak berusia tujuh tahun. Dalam pada itu, kalauseseorang pada masa kanak-kanaknya tidak mawas diri karena suka bermain-main, ia hendaknya mawas diri dalam masa-masa lainnya. Demikian pula, apabila seseorang tidak mawas diri dalam masa kanak-kanaknya dan juga dalam masa mudanya karena sibuk merawat anak istrinya, ia hendaknya paling tidak dapat mawas diri dalam masa tuanya.

Sumber Acuan:
Harian Kompas; 12 & 13 Maret 1996.
Dasar Pandangan Agama Buddha, Ven. S. Dhammika.
Kitab Suci Dhammapada, Terbitan LPD Publisher.
MANGALA Berkah Utama, Jan Sanjivaputta.


[ Dikuti[ dari Gema Dhammavaddhana ] 

Wednesday, February 16, 2011

Batin Kita Menjadi Sejuk Karena Dhamma

 
Batin Kita Menjadi Sejuk Karena Dhamma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Cittaguna
 


Sabbam Rasam Dhammaraso Jināti, Sabbam Ratim Dhammaratī Jinatiti.


Rasa Kebenaran mengalahkan segenap rasa lainnya. Kegembiraan dalam Kebenaran mengalahkan segenap kegembiraan lainnya.
(Dhammapada. 354)
 
Sesuai dengan ajaran penyejuk rohani yang kita tekuni selama ini, sebagai pengikut yang setia, kita selalu menemukan bisikan-bisikan rohani yang membujuk kita untuk selalu sadar setiap saat. Mengapa demikian? Sebab, apabila kita tidak memperhatikan dan menyadari akan diri kita sendiri, kita cenderung mengambil sikap yang kita anggap baik dan benar namun sesungguhnya keliru. Mari kita telusuri dengan baik apa yang akan kita temukan di dalam uraian ini.

Batin tidak mengenal Dhamma jadi panas.
Jika seseorang tidak mengenal bahkan tidak mau mengenal dan justru cara hidupnya bertentangan dengan Dhamma, maka itulah yang menyebabkan dia tidak pernah hidup bahagia. Bagaimana bisa merasakan kesejukan Dhamma, cara untuk meraih dan menikmati kabahagiaan hidup itu sendiri tidak diketahuinya. Karena tidak dikenalnya cara yang sesungguhnya (cara yang baik dan benar) untuk mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan, maka orang menempuh cara yang salah supaya bisa memiliki dan merasakan apa yang diinginkannya. Kalau ini yang terjadi, berarti orang semacam itu tidak mengetahui tentang kebenaran dan kenyataan bahwa hidup ini terjadi karena dikondisikan oleh pikiran. Pikiran yang tidak pernah dilatih dan tidak dikendalikan, akan menyebabkan pikiran itu sendiri menjadi liar sehingga semakin sulit untuk mengenal dan merasakan kepuasan.

Karena tidak pernah tersentuh oleh siraman air Dhamma sedikitpun, maka dapat kita bayangkan betapa panasnya pikiran manusia dalam kondisi seperti itu. Apabila kondisi yang panas tersebut tidak pernah diperhatikan dan tidak dibantu dengan memberikan kondisi yang baru dan dingin, maka kebakaran dan kehangusan terjadi di dalam sampai ke seluruh tubuh.

Seseorang yang memiliki kondisi seperti di atas tidak suka memberi, anadikata mau juga hanya memberi sesuatu yang dia sendiri terlebih dahulu sudah nikmati (sisa). Jadi dia mengembangkan sesuatu yang tidak baik. Di dalam bukunya, "Human Life and Problems", halaman 208, Bhante Dr. K. Sri Dhammananda Mahānāyaka Thero mengatakan, "Banyak orang yang harus mengalami frustrasi dan gangguan urat syaraf sebab mereka tidak pernah melatih pikirannya untuk merasakan kepuasan. Mereka hanya mengembangkan nafsu keinginan (tanha) demi kepuasan indria saja. Bagi mereka, pengembangan adalah hanya pengambangan tañha".

Untuk merasakan kegembiraan, orang seperti ini mengalami kesulitan dengan munculnya berbagai hambatan, tantangan dan gangguan yang bertubi-tubi. Meraih kesegaran batin jauh dari harapan yang mungkin ada pada dirinya.

Batin Sejuk karena Siraman Air Dhamma
Kita mengetahui bahwa di waktu kita merasa haus dan kepanasan, mengharapkan ada air minum dan air untuk mandi. Demikian pula bahwa kita bisa mengerti sesungguhnya batin kita setiap saat memerlukan siraman air Dhamma untuk mengkondisikan timbulnya kesegaran rohani. Kalau batin kita sering dikondisikan dengan diisi kebutuhan-kebutuhan yang dapat menyegarkan batin itu sendiri, maka kesejukan siraman air Dhamma akan dapat dirasakan sehingga kondisi baru yang sejuk dan segar itu akan membantu memper-tahankan ketenangan pikiran. Jika pikiran bisa bertahan dalam keadaan tenang cukup lama, maka ini pertanda bahwa pikiran itu sejuk.

Dengan kondisi yang sudah dalam keadaan sejuk dan tenang, dan tetap dilatih serta dikendalikan dengan penuh pengertian, maka pikiran akan bisa diajak untuk berpikir dan bersikap menyesuaikan diri dengan segala keadaan. Seseorang akan bisa melakukan berbagai bentuk perbuatan baik bilamana pikirannya tidak kering lagi dengan siraman air Dhamma. Ia akan dapat dengan mudah mencerna berbagai hal yang perlu diproses dalam pikiran yang jernih dan akan dengan mudah pula mengambil keputusan yang sesuai. Oleh karena itu, ia dapat merasakan kesejukan Dhamma yang menjadi sumber keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, keharmonisan dan kebahagiaan hidup yang sangat sulit untuk diperoleh. Semua itu memang timbulnya dari dalam diri sendiri yang bersumber dari pikiran tenang, bersih dan jernih, tanpa noda.

Dapat menikmati keindahan Dhamma
Dhamma yang kita pelajari, yang diwariskan oleh guru agung kita Buddha Gotama adalah indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, indah pada akhirnya. Artinya, Dhamma itu tidak pernah timbul kemudian bertahan dan lenyap. Dhamma bersifat universal. Buddha hanya menemukan Dhamma itu kemudian mengajarkannya kepada umat manusia dan makhluk lain di alam semesta ini. Jadi, walaupun tidak ditemukan oleh Buddha, Dhamma itu tetap ada. Dhamma itu bisa kita kenal karena ditemukan dan diajarkan oleh Buddha. Dhamma, yang dikatakan hanya dapat dimengerti oleh orang bijaksana itu, telah dibuktikan oleh orang bijaksana pula, yaitu para Ariya Sangha. Itulah sebabnya mengapa kita, sebagai umat atau pengikut Buddha, harus menyatakan berlindung kepada Tiratana, Buddha, Dhamma dan Sangha.

Supaya kita dapat menikmati keindahan Dhamma, memang kita harus mengenal Tiratana itu dengan baik dan sungguh-sungguh. Kita menjadi penganut Buddha Dhamma yang benar-benar, kalau kita bisa mengerti konsep yang sesungguhnya tentang Tiratana dan bisa melaksanakannya pula dengan sungguh-sungguh. Kita sebenarnya bisa berbuat baik seperti Buddha, walaupun sedikit demi sedikit, dengan mempelajari dan mengerti serta dapat mempraktekkan Dhamma Ajaran Beliau.Semua hal yang berkaitan dengan Dhamma yang ditemukan Buddha dapat dipelajari melalui guru Dhamma (para bhikkhu sangha) sekaligus tuntunan cara prakteknya yang baik dan benar.

Jadi, kalau kita ingin meraih kebahagiaan kita harus mencoba terlebih dahulu untuk memiliki batin yang sejuk. Untuk memiliki batin yang sejuk kita harus bisa menciptakan kondisi yang dapat menimbulkan ketenangan pikiran. Setelah itu baru kita akan dapat merasakan keindahan Dhamma sampai akhirnya pada tingkat kebahagiaan sejati.

Pikiran tenang, Pikiran sejuk, Pikiran bahagia.

[ Dikutip dari Berita Dhammacakka Edisi 31 Januari 1999 ]

Saturday, February 12, 2011

Bahasa Tubuh dan Bahasa Dhamma

 
Bahasa Tubuh dan Bahasa Dhamma
Oleh Pandita D. Henry Basuki


Menurut para ahli sejarah, seseorang itu dapat dikatakan sebagai orang baik atau tidak, nanti kalau sudah mati. Pada saat hari kematiannya itulah akan menjadi cermin bagi seseorang dikatakan baik atau tidak sepanjang perjalanan hidupnya. Artinya perhatian dan penghormatan yang diberikan oleh sanak keluarga, kerabat jauh atau dekat, pengakuan dari warga masyarakat, serta penghargaan dari bangsa dan negara, terhadap seseorang pada hari kematiannya itulah dapat menjadi ukuran seberapa besar kebaikan yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Semakin besar jasa kebajikannya, semakin besar pula perhatian, penghormatan, pengakuan dan penghargaan ditujukan kepadanya.

Lain dengan pendapat para ahli ilmu kemanusiaan. Para ahli ilmu kemanusiaan menyanggah pendapat ahli sejarah, bahwa seseorang dapat dinilai sebagai orang baik atau tidak nanti sesudah meninggal dunia, pernyataan itu tidak seluruhnya tepat, benar dan pasti. Sebab kalau kebaikan seseorang hanya dapat dilihat apabila nanti setelah ia meninggal dunia, kemudian bagaimana dengan seseorang yang masih hidup dan apa yang dapat untuk dinilai dalam perjalanan hidupnya sebagai orang baik atau tidak ?

Maka menurut para ahli ilmu kemanusiaan, seseorang dinilai sebagai orang baik atau jahat, dapat diamati melalui pola pikir, gaya hidup, dan kecenderungannya. Dalam bahasa seni hidup kemanusiaan, atau menurut bahasa tubuh dalam ilmu kejiwaan, sekurang-kurangnya terdapat tiga hal bisa dijadikan alat bantu untuk mengukur seseorang itu baik atau tidak. Rumusnya sebagai berikut, pertama miraga, kedua mirama, dan ketiga mirasa.
  1. Miraga, meliputi hal-hal yang bersifat fisik, jasmaniah. Artinya secara lahiriah dapat dilihat dengan mata terbuka secara nyata. Pendek kata bagaimana cara menata diri. Ini semua merupakan pantulan dari dalam lubuk hatinya.
  2. Mirama, adalah hal-hal yang mengandung unsur gerak. Artinya gerak gerik tubuh, maupun anggota badan jasmani. Dapat dilihat dari bagaimana seseorang cara berjalan, cara duduk, cara makan, cara tertawa, cara tidur. Singkatnya saja seluruh gerak gerik anggota tubuh menggambarkan watak dan kecenderungan perilaku seseorang.
  3. Mirasa, artinya jalan pikiran, termasuk cara bicara dan apa yang dibicarakannya. Dari cara bicara seseorang bisa dengan mudah diprakirakan termasuk golongan kaum terpelajar atau kaum kurang ajar. Adapun menurut bahasa Dhamma, mano kamma, vaci kamma, dan kaya kamma. Seseorang terpuji maupun tercela adalah berasal dari apa yang ia lakukan, ia ucapkan, dan apa yang ia pikirkan.
Pesan para ahli kemanusiaan, untuk menyimpulkan seseorang itu baik atau tidak, hendaknya dilihat dari semua sisi dengan teliti dan telaten. Sebab banyak kebaikan ditunjukkan oleh seseorang akan tetapi segera ternyata, kebaikannya itu untuk menutupi kejahatannya. Atau sebaliknya menurut ukuran dari satu sisi orang itu jelas-jelas culas jelek dan jahat, akan tetapi bila dilihat dari sisi lain ternyata positif, menunjukkan angka-angka besar bernilai kebaikan. Oleh karena itu menurut para ahli ilmu kemanusiaan, tiga aspek tersebut itu tadi merupakan cermin pribadi seseorang tanpa kecuali. Melalui tiga aspek itu pula dapat dinilai sejauh mana kebaikan maupun kejahatan seseorang dalam dirinya.

Sungguh obyektif pesan Dhamma, lihatlah segala sesuatu itu dari sisi yang berbeda sekalipun dengan jelas, dan lihatlah sesuatu itu apa adanya, jangan hanya dilihat apa nampaknya. Kata Buddha, segala sesuatu yang dilihat dari sisi yang berbeda dengan jelas, teliti dan telaten, akan menghasilkan sebuah kesimpulan spektakuler, bukan hanya merupakan sebuah keputusan sepihak dari satu sisi bersifat popular.

Cermin kepribadian dalam beragama

Ternyata banyak juga yang masih belum paham betul arti sesungguhnya apa yang dimaksud sebagai pemeluk agama atau pengikut agama. Sehingga membingungkan juga orang-orang yang nampaknya sudah beragama itu, tetapi pola pikir, gaya hidup dan perilakunya tidak mencerminkan sebagai umat beragama. Ada perbedaan cukup jelas bahwa meskipun sudah sebagai pemeluk agama belum tentu ia sebagai pengikut agama yang dianutnya. Yang dimaksud pengikut adalah mereka yang mendengar nasehat-nasehat, mengikuti petunjuk-petunjuk, serta meniru perilaku para pendiri agama yang dianutnya. Tetapi pemeluk, meskipun sudah memeluk, belum tentu mengikuti petunjuk-petunjuknya, meniru perilaku pendiri agamanya. Untuk itu, meskipun sebagai pemeluk, belum tentu sekaligus sebagai pengikut. Misalnya, Sang Buddha telah meninggalkan bentuk keakuan, atau kekuasaan. Sementara umat-umatnya malah sibuk mencari apa saja yang sudah ditinggalkan oleh Sang Buddha, ke-Aku-an dan kekuasaan.

Selain miraga, mirama, dan mirasa, bagaimana mengukur tinggi rendahnya kadar keimanan umat beragama. Terdapat tiga hal paling tidak bisa menjadi tolok ukur tinggi rendahnya kadar keimanan seseorang dalam beragama secara individu maupun sosial. Tiga hal dimaksud adalah, pertama menjadi umat beragama di tempat ibadah, kedua menjadi umat beragama di rumah, dan ketiga menjadi umat beragama di masyarakat. Pada umumnya belum semua umat beragama dapat mewujudkan tiga aspek hidup beragama di tempat ibadah, di rumah, dan di masyarakat, dengan penuh rasa tanggung jawab secara pribadi, ataupun terhadap keluarganya.

Ada saja seseorang dalam beragama hanya aktif di tempat ibadah, di rumah, atau di masyarakat. Sehingga tidak sedikit para pemuka agama yang amat menonjol di masyarakat akan tetapi keluarganya sendiri justru tidak terurus dengan baik secara agama. Anak pertama pemabuk, anak yang kedua penyabung ayam. Anak ketiga penjudi, sedangkan perilaku anak keempat dan seterusnya semua yang terlarang diterjang. Atau ada seseorang yang bukan main tekunnya ibadah di rumah, bahkan tidak pernah putus (barang satu menit) hubungannya dengan tuhannya, tetapi bertahun-tahun bicara dengan gaya bahasa tidak baku terhadap ayah dan ibu kandung sendiri, dan tidak saling tegur sapa dengan mertuanya yang memberi istri. Karena itu adalah umat beragama paling ideal terpuji kualitas tinggi, apabila bisa menerapkan ketiga cara beragama tersebut secara simultan dan pasti dalam hidup sehari-hari.

Dalam pandangan agama-agama, dan terutama menurut pandangan Buddhis terdapat empat tingkat pola dasar pendidikan moral yang amat berpengaruh pada pembentukan watak jiwa kepribadian seseorang dalam beragama. Empat hal tersebut adalah : etika, estetika, dogma, dan keempat doktrin.
  1. Etika : adalah meliputi budi pekerti, sopan santun, tata krama dalam pergaulan.
  2. Estetika : meliputi aspek-aspek keindahan seni.
  3. Dogma : dimaksud di sini adalah cara menumbuhkan hakekat keyakinan melalui tahu, mengerti dan mengalami sendiri.
  4. Doktrin : di sini adalah hal-hal yang serba logika.
Dalam bahasa Dhamma, dana, sila, samadhi dan pañña. Dari dana, sila, samadhi yang utuh, sebagai wujud nyata dari kerelaan peduli, terhadap orang lain secara santun penuh cinta kasih dan kasih sayang. Memberi karena welas, dan tidak menuntut dibalas. Menjadi manusia yang penuh metta dan pañña seimbang.

Akan tetapi kaum intelek mengatakan agama Buddha anti dogma, yang harus diajarkan adalah hal-hal yang bersifat doktriner imajiner saja, dogma adalah fanatik sempit. Dari cara pandang itu, akibatnya, banyak umat Buddha yang serba logika, tapi lupa akan nilai-nilai etika. Lantaran kurang peduli dengan keindahan seni, pergi ibadah pakai baju mini. Padahal dari dogma yang berdasarkan tahu, mengerti, dan mengalami sendiri akan timbul dari keyakinan yang tidak mudah goyah secara kontekstual.

Kalau saja ketiga-tiganya dapat ditanamkan sejak dini kepada anak-anak didik, terhadap umat-umat beragama, dan kepada masyarakat luas. Pasti dapat diharapkan pertumbuhan anak-anak kelak tahu sopan santun, mengerti budi pekerti, bisa praktek tata krama. Perkembangan umat beragama akan menjadi mantap tidak mudah goyah, meyakini agama sendiri yang terbaik, tidak dengan menjelek-jelekkan agamanya orang lain. Perilaku masyarakat akan mencerminkan watak penuh kepedulian sosial yang merata, serta bisa melestarikan keindahan lingkungannya.

[ Artikel Berita Dhammacakka, edisi : 17 Desember 2000 ]

Friday, February 11, 2011

Bahagia Dalam Dhamma

Bahagia Dalam Dhamma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro



Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci;
di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa benci.
 

Dalam perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang sangat pesat dewasa ini, hampir merambah ke semua sendi-sendi kehidupan. Tetapi bagaimanapun canggihnya teknologi, masih belum bisa menyentuh sisi yang justru merupakan aspek inti dalam kehidupan, yakni aspek batiniah. Justru belaian dari keindahan dan kegemerlapan materi telah membuat mabuk kepayang umat manusia, yang dijanjikan dengan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kebutuhan materi tersebut sehingga memberikan dampak buruk dengan menurunnya daya tahan manusia lahir maupun batin.

Sesungguhnya belaian keindahan dan kegemerlapan duniawi tidak hanya terjadi dewasa ini, melainkan telah terjadi juga dua puluh lima abad yang lampau, dimana saat Pangeran Siddhattha dilahirkan, dan pada saat pertapa Gotama melaksanakan sammasamadhi di Buddha Gaya. Saat Beliau menjalankan praktek pertapaannya, mara berdatangan untuk menghalang-halangi dan menggoda pertapa Gotama dalam usaha untuk Mencapai Penerangan Sempurna. Tiga mara penggoda yang menyamar atau menyerupai wanita-wanita cantik adalah wujud dari keindahan materi yang dapat membuat orang terlena dan terbuai. Tetapi Pertapa Gotama adalah salah satu manusia yang memiliki daya tahan batiniah yang tertinggi sehingga dapat melepaskan diri dari belaian keindahan dan tercapailah kesempurnaan sejati menjadi Buddha.

Perjuangan yang dilakukan oleh Pertapa Gotama merupakan tumpuan dan contoh otentik yang kini diwariskan kepada kita semua untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, agar kita mencapai apa yang kita dambakan. Karena semua yang dilakukan oleh umat manusia dengan penuh kekuatan hati dan pikiran; dengan perjuangan yang gigih, semangat dan tekad yang membara adalah untuk satu tujuan "Hidup Bahagia". Tetapi hendaknya kita selalu ingat apa yang telah diperjuangkan oleh Pertapa Gotama, bahwa majunya materi bukanlah jaminan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki. Hal itu telah terbukti jelas pada kehidupan saat ini.

Melimpah ruahnya materi yang dimiliki seseorang bila tidak hati-hati dalam memanfaatkannya, justru akan menambah keserakahan dan kebencian, walau dalam prakteknya mereka selalu mengatasnamakan demi kepentingan orang banyak. Tetapi mereka lupa pada nilai-nilai spiritual yang lebih berharga daripada nilai materi itu sendiri, sehingga pada saat prakteknya mereka sering menekan, memojokkan dan mengorbankan kehidupan orang lain. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu ingat dengan apa yang telah disabdakan oleh Guru Agung Buddha Gotama dalam Dhammapada ayat 197 dan 199) yang berbunyi, "Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci. Sungguh bahagia kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan."

Begitu jelas bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh justru dengan mengikis dan melenyapkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita yakni, ketidaksukaan atau benci, dendam, irihati, keserakahan, congkak, mau menang sendiri, berpegangan pada pandangan salah dan lain-lainnya. Kemudian kita mengembangkan nilai-nilai kebajikan yakni, toleransi yang mendalam dan tanpa pamrih, cinta kasih dan kasih sayang, simpati dengan keberhasilan orang lain, berpegang teguh pada nilai spritual, berpandangan dan berpikiran benar dan berkeyakinan pada hukum kebenaran (Dhamma).

Terdapat orang yang memberikan argumentasi demikian, apakah bukan dengan melimpah ruahnya materi sehingga seseorang dapat memuaskan nafsu-nafsu keinginannya dan di situlah rasa bahagia dapat diperoleh ? Karena, ibarat seseorang yang ingin sekali makan makanan yang khusus (bubur sarang walet ...), dan ia memiliki banyak uang untuk membeli makanan itu sebanyak-banyaknya sehingga memuaskan keinginannya, maka di situlah kebahagiaan diperoleh.

Argumen dan alasan tersebut sangat masuk akal dan nampaknya benar sekali, tetapi kita harus ingat dengan yang Sang Buddha ajarkan dalam Empat Kesunyataan Mulia tentang berhenti dan lenyapnya dukkha (dukkhanirodha), bahwa bahagia dapat diperoleh dengan terhentinya dukkha dan dukkha akan hilang dan lenyap dengan padamnya nafsu keinginan (tanha). Kemudian bagaimana dengan pemuasan keinginan, apakah bukan malah menambah kuatnya cengkraman keterikatan dalam dirinya, dan menumbuhkan dukkha lara yang mendalam ? Seperti seorang pemuda yang bertemu dengan seorang gadis belia nan molek dan akhirnya tertarik dan menyenangi gadis belia tersebut. Setiap hari bahkan setiap saat pemuda tersebut dirundung oleh keinginan untuk selalu bertemu dan bergandengan dengan sang gadis itu, dan sekali dua kali ia tercapai keinginannya sehingga sang pemuda tersebut semakin cinta dan sayang yang mendalam kepada sang gadis molek itu, bahkan ia ingin sekali memilikinya. Pada suatu ketika tanpa diduga dan dikira sang gadis tersebut dipinang oleh seorang pemuda lain untuk dijadikan istri. Maka apa gerangan yang terjadi pada pemuda yang pertama tadi ? Sang pemuda menjadi kecewa, jengkel, kesal dan marah. Intinya ia menderita batin yang begitu dalam, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Apakah yang menyebabkan sang pemuda menderita ? Apakah karena mencintai dan mengasihi gadis belia itu ? Tidak. Pemuda itu menderita karena keterikatannya atau kemelekatannya sendiri yang mencengkeram batinnya. Kemudian bagaimana dengan gadis belia itu ? Gadis belia tersebut adalah sunyata atau hakekat yang ada. Gadis belia adalah fenomena alam, sama halnya dengan indahnya ombak di samudera lepas yang kita lihat. Siapa saja yang melihat pasti menyenangi dan mencintai, tetapi siapa yang ingin memiliki bersiap-siaplah untuk menderita. Maka dengan kata lain pemuda itu tidak cinta yang sesungguhnya pada gadis itu, karena cinta yang sejati adalah cinta yang universal. Cinta sejati adalah tidak terikat apalagi harus memiliki.

Bagaimana dengan pemuda kedua dan gadis belia itu yang menjadi suami-istri ? Itulah manfaatnya kita belajar Dhamma (hukum kebenaran), maka dengan menyelami Dhamma kita akan mengetahui tentang rahasia kehidupan yang pelik, unik dan rumit ini. Mengapa seseorang menjadi suami-istri ? Karena mereka memiliki kesamaan-kesamaan atau kecocokan kamma, itulah jodoh. Kesamaan yang dimaksud adalah Saddha (keyakinan), Sila (moralitas), Caga (kemurahhatian) dan Pañña (kebijaksanaan). Oleh karena itu, marilah kita memahami dan menghayati Dhamma, agar kita selalu hidup bahagia.

Berkeyakinan pada Dhamma nan agung. Tanpa nafsu, tenang dan penuh bahagia.
Berkeyakinan pada Sangha nan agung. Ladang pembuat jasa yang tiada bandingnya.

[ Dikutip dari Artikel Berita Dhamamcakka Edisi 09 Juli 2000 ]

Wednesday, February 9, 2011

Awan Yang Memberi Hujan

 
Awan Yang Memberi Hujan
Oleh: Raju Anandani


Seorang filsuf pernah mengatakan kepada saya, "Hiduplah seperti kayu cendana yang selalu memberikan keharuman kepada setiap orang didekatnya, bahkan ia tetap memberikan keharuman kepada orang yang memotongnya dengan gergaji, bahkan kepada gergaji yang memotongnya"………

Sejarah penuh dengan kisah orang-orang yang tetap mencintai dan mengasihani musuhnya yang berbahagia di alam sini maupun di alam sana. Juga orang yang membenci dan iri hati kepada musuh, kawan, dan keluargannya, yang akan menderita di alam sini maupun di alam sana.

Ada seorang jahat yang hendak memukul seorang pertapa, namun ia terpeleset dan jatuh. Karena kasih sayang dan rasa kasihan sang petapa menolongnya, tetapi orang yang ditolong malah memfitnahnya.

Sang pertapa hanya berlalu dan tersenyum. Kita pun sebaiknya menydari sifat dunia dimana kita hidup.

Dhamma tetap rekevan untuk masa kini dan cocok untuk raktya jelata maupun kaum intelektual di timur dan barat.

Negara asal Buddhisme, India, memiliki kebudayaan tertinggi di dunia bersama-sama dengan RRC, Mesir dan mesopotania. Ada 4 agama besar yang berasal dari negara tersebut (Aryan Religion), yaitu Hindu, Buddha, Sikh dan Jain. Semuannya mempunyai ajaran tentang meditasi. Ribuan tahun yang lalu Sang Buddha telah mengetahui apa yang baru saja ditemukan ilmuwan barat beberapa tahun yang lalu, misalnya yang disebut dengan partikel atom kecil, kehidupan di palnet dan lain-lain. Ilmuan Albert Einstein, pernah mempelajari Buddhism dan Teosofi di India Selatan. Ia mengatakan bahwa agama tanpa ilmu pengetahuan adalah pincang, tetapi ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta, India adalah negara ke-6 didunia yang berhasil dalam program angkasa luar dan teknolig nuklir untuk perdamaian tetap mempertahankan ajaran agama yang telah berusia 5000 tahun. 

Vipassana Research Institute, yang berpusat di India, terus melakukan riset ilmiah terhadap teori dan praktek meditasi Vipassana, dan lain lain. Berkat jasa S.N.Goenka, meditasi Vipassana dan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha ribuan tahun yang lalu telah berkembang dan diajarkan hampir keseluruh dunia, di berbagai negara di enak benua, termasuk di Indonesia. Kadang-kadang lobha, dosa dan moha dapat menyebabkan para pimpinan, ilmuwan dan masyarakat menyalahgunakan teknologi untuk kehancuran. Sang Buddha bersabda. "Penyebab penderitaan adalah kamma, tindakan mental, yaitu reaksi buta terhadap lobha, dosa dan sankhara." Beliau juga bersabda, semua sankhara adalah tidak kekal, jika engkau memahami hal ini dengan pandangan terang sejati, maka engkau tidak melekat pada penderitaan, itulah jalan penyucian."

Tak ada istilah terlambat untuk seorang yang mau melaksanakan Dhamma. Angulimala telah membunuh puluhan orang namun akhirnya mencapai tingakat kesucian Arahat.

Ajaran-ajaran Buddhis masih tetap relevan untuk masa kini sebagaimana halnya pada ribuan tahun yang lalu. Falsafah yang universal dan abadi ini, merupakan sumber kebijaksanaanbagi semua orang tanpa pandanga agama, kasta, jenis kelamin, warna kulit, dan kepercayaan. Juga memberikan jawaban terhadap semua pertanyaan mengenai tujuan hidup dan eksistensi manusia, sebagaia pedoman bagi para pemeluknya dalam menyelesaikan semua konflik dan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melakukan perbuatan baik dan benar. Juga memberikan panduan dan azas-azas bagi kehidupan yang baik dan benar serta dasar-dasar bagi manusia untuk membedakan antara yang benar dengan yagn salah serta menyadarkan individu yang hanya menyibukkan diri dengan ritual-ritual sehingga mereka lupa akan tujuan hidup yagn sebenarnya yaitu untuk mencapai pemahaman akan kebenaran (truth), Sang Buddha bersabda:

"Dari pemahaman benar maju ke Pikiran benar
Dari pikiran benar maju ke ucapan yang benar
Dari ucapan benar maju ke tindakan benar
Dari tindakan benar maju ke mata-pencaharian benar
Dari mata-pencaharian benar maju ke usaha yang benar
Dari usaha benar maju ke kesadaran benar
Dari kesadaran benar maju ke konsentrasi benar
Dari konsentrasi benar maju ke kebijaksanaan benar
Dari kebjiksanaan benar maju ke pembebasan besar"

Buddhsm bersifat universal, abadi, dan mengajarkan toleransi serta menerima berbagai pemikiran, kepercayaan, dan agama. Jadi bukanlah bersifat sempit, dokmatis, totaliter, dan tidak meremehkan filsafat filsafat lain. Setiap individu dapat menarik manfaat karena kehidupan di masa lampau takkala akaran ini dikumandangkan, tidak jauh berbeda dengan kehidupan masa kini. Manusia telah menciptakan aneka ragam warna dalam sebuah pelangi. Multi bentuk ini merupakan pencerminan dari berbagai aspel dalam alam manusia.

Kewajiban-kewajiban terhadap ajaran Buddhism telah dirumuskan ribuan tahun yang lalu, termasuk tindakan untuk menegakkan kebenaran dengan melaksanakan kewajiban, moral, dan sosial kita. Apabila seorang individu dibimbing oleh Dhamma, barulah dia dapat mencapai Nibbana.

Sang Buddha bersabda: "Sekalipun seseorang telah memberikan dana yang besar, masih jauh bear buah yang ditermanya bila ia berlindung dengan sepenuh hati pada yang tercerahkan, Dhamma dan semua orang suci. Seandainya ia melakukan itu, maka jauh lebih besar buahnya jika ia menjalakan pancasila dengan sepenuh hati; Dan bila melakukan itu, maka jauh lebih besar buahnya jika ia mengembangkan niat baik terhadap semua makhluk walapun hanya selama waktu yang dibutuhkan untuk memerah sapi. Bila ia melakukan semua itu, masih jauh lebih besar buahnya jika ia mengembangkan kesadaran akan ketidakkekalan(anicca) selama satu jentikan jari."

Berbuat sesuai dengan ajaran Buddhis adalah tindakan yang penting terhormat dan termulia, melalaikan tanggung-jawab dapat menciptakan kekacauan, akibatnya menimbulkan perbuatan salah yang dapat memperlemah, akhirnya meruntuhkan struktur sosial. Tindakan haruslah didasarkan pada keadilan, kebenaran, dan tanpa pamrih. Dengan kata lain, dibimbing oleh moralitas dan etika, apakah itu dalam bidang politik, perdagangan, dan ilmu pengetahuan.

Akhir kata, Sang Buddha bersabda "Dengan melakukan kesalahan sendiri, engkau mengotori dirimu sendiri. Dengan tidak melakukan sesuatu yang salah sendiri, engkau menyucikan dirimu sendiri."

Hiduplah seperti pohon cendana yang memberikan keharuman. Seperti awan yang memberikan hujan yang bermanfaat bagi semua makhluk. Kehidupan adalah kehidupan yang sesungguhnya bagi insan yang dapat memberikan kehidupan bagi insan lain.

Dalam kegelapan malam yang tidak mempunyai sinar matahari yang terang, jadilah cahaya lilin yang dapat memberikan terang bagi diri sendiri.

Apabila seorang insan tidak dapat menjadi cahaya matahari bagi insan lain, maka jadilah cahaya lilin bagi insan lain.

Perjalanan yang kita tempuh dapat sana penuh dengan bunga yang indah atau duri yang tajam, tetapi tetaplah berjalan dan berpegangan pada jalan Dhamma.

Sang Buddha bersabda, "Buatlah kebajikan hari ini seolah-olah tidak ada hari esok……"
 
[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.14/Tahun V/1999 ]

Tuesday, January 18, 2011

Apakah Agama Buddha Itu Kuno?

Apakah Agama Buddha Itu Kuno?
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera


Kalau kita melihat agama Buddha 'secara sepintas' maka kita akan dihadapkan pada satu anggapan bahwa agama Buddha adalah agama yang tidak menarik, agama yang kadang-kadang terlihat bersifat mistis dan sudah tidak cocok lagi dengan kehidupan modern seperti sekarang ini. Mengapa demikian? Coba kita perhatikan semua perlengkapan sembahyang yang ada di altar. Ada patung yang maha besar dan kita bernamaskara atau satu persujudan kepada patung tersebut sehingga orang lalu menyatakan bahwa agama Buddha adalah penyembah berhala. Kita juga akan menemukan dupa/hio dan bunga yang mirip seperti untuk sesajen. Kemudian ada lilin yang seolah-olah berkata bahwa agama Buddha belum percaya akan adanya listrik. Belum lagi terlihat gentong yang memberi kesan seolah-olah kita sedang berada disebuah toko barang antik. Kalau kita perhatikan lagi, kita akan menemukan makhluk-makhluk yang lebih antik lagi; yakni bahwa di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini, kita tetap duduk di lantai bila sedang melaksanakan kebaktian. Dari sinilah kritikan-kritikan terhadap agama Buddha dilontarkan! Kita mungkin pernah mendengar orang mengatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang sudah kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini dapat dimengerti karena mereka hanya melihat dari sudut tradisi/luar saja. Padahal ajaran Sang Buddha tidak pernah ketinggalan zaman.

      Lalu apa buktinya bahwa agama Buddha itu mengikuti perkembangan zaman? Setiap kali kita mengikuti kebaktian, kita tentu membaca tuntunan Tisarana dan Pancasila yaitu menghindari pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukkan. Apakah Pancasila ini sudah kuno dan milik umat Buddha saja? Apakah agama lain menghalalkan pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukkan? Tentu kita akan menjawab: "Tidak!" karena semua manusia pasti harus melaksanakan Pancasila baik pada masa yang lampau, sekarang maupun masa yang akan datang. Ini adalah satu bukti bahwa ajaran Sang Buddha selalu mengikuti perkembangan zaman.

      Mungkin hal ini belum dapat memuaskan Saudara karena masih terlalu umum. Untuk itu mari kita lihat intisari/jantung dari seluruh ajaran Sang Buddha. Apakah intisari/jantung ajaran Sang Buddha itu? Intinya adalah "kurangi kejahatan, tambahlah kebaikan, sucikan hati dan pikiran". Apakah hal tersebut hanya berlaku di zaman Sang Buddha dan hanya milik agama Buddha saja? Apakah agama lain menganjurkan: "tambahlah kejahatan, kurangi kebaikan dan kacaukan pikiran?" tentu tidak! Dengan demikian tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa ajaran Sang Buddha sudah kuno dan ketinggalan zaman. Karena sesungguhnya ajaran Sang Buddha selalu mengikuti zaman! Bahkan Albert Einstein yang terkenal sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan pernah menyatakan bahwa "Agama yang bisa menjawab tantangan ilmu pengetahuan adalah agama Buddha".

      Oleh karena itu berbahagialah kita sebagai umat Buddha. Namun hanya berpuas diri sebagai umat Buddha masih belum cukup, karena ada ajaran yang lebih dalam lagi yaitu kita hendaknya bisa melaksanakan ajaran Sang Buddha di dalam kehidupan sehari-hari. Ini penting sekali karena ajaran Sang Buddha itu tidak hanya bersifat teori tetapi perlu dilaksanakan! Hal ini sama halnya dengan contoh orang yang mempunyai hobby berenang. Misalnya Saudara diberitahu bahwa berenang itu menyenangkan dan dengan bisa berenang maka Saudara tidak perlu lagi takut kepada air. Lalu Saudara suka berkhayal tentang berenang. Tetapi kalau Saudara tidak pernah mau mencoba, apakah Saudara akan bisa berenang, walaupun teori-teori berenang sudah dikuasai? Apakah Saudara cuma cukup berbangga: "Ah... saya 'kan bisa teori berenang." Tentu tidak! Demikian pula dengan ajaran Sang Buddha! Ajaran Sang Buddha memang sungguh luar biasa, begitu agung, begitu indah dan tidak pernah ketinggalan zaman. Tetapi kalau Saudara tidak pernah mempraktekkannya, apakah hal tersebut akan bermanfaat? Justru dengan melaksanakan ajaran Sang Buddha, Saudara akan bisa menyelesaikan permasalahan di dalam kehidupan sehari-hari.

      Lalu bagaimanakah cara menyelesaikan permasalahan kehidupan dengan ajaran Sang Buddha? Sebetulnya ajaran Sang Buddha itu sudah terbabar di altar, hanya saja kita jarang memperhatikannya. Perlengkapan sembahyang yang dianggap kuno itu ternyata mampu menjadi salah satu medium yang dapat membabarkan Dhamma karena tersirat makna yang cukup dalam dan bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan:

      1. Patung Sang Buddha
      Patung Sang Buddha ini bentuknya bermacam-macam. Ada yang menggunakan bentuk seperti payung yang ada di Candi Borobudur, ada yang menggunakan gaya India, Thailand, Srilanka, dsb. Kenapa bisa berbeda-beda? Karena sesungguhnya patung Sang Buddha bukan melambangkan/mewujudkan manusia Siddhattha Gotama. Jadi kalau Saudara berada di depan patung Sang Buddha, jangan Saudara membayangkan bahwa Sang Buddha itu seperti patung yang ada di hadapan Saudara atau yang pernah Saudara lihat. Kalau kita mengingat kembali riwayat hidup Sang Buddha, kita akan melihat bahwa ketika Beliau masih menjadi bodhisatva, sesungguhnya Beliau memiliki satu kehidupan yang sangat berlebihan; ada harta, tahta dan wanita. Namun Pangeran Siddhattha adalah manusia yang mempunyai cara berpikir yang berbeda. Ketika Beliau menyadari bahwa hidup ini sesungguhnya tidak kekal dan tidak memuaskan, Beliau pun memutuskan untuk mencari obat yang dapat mengatasi ketuaan, sakit, lahir dan mati; walaupun sangat menderita, Beliau terus berjuang. Bahkan pada suatu hari Beliau bertekad untuk tidak akan berdiri dari tempat duduknya sebelum menemukan obat sakit, tua, lahir dan mati; dan malam itu juga Beliau berhasil menembus hakekat hidup yang tidak kekal yang disebut mencapai Nibbana/padamnya keinginan, yang sekarang diperingati setiap hari Waisak. Inilah sesungguhnya makna yang terkandung dari patung Sang Buddha yaitu lambang semangat yang tidak pernah kenal putus asa. Ketika melihat patung Sang Buddha, hendaknya muncul semangat untuk bekerja, semangat untuk berjuang dalam meraih cita-cita. Kita bersujud di depan patung Sang Buddha adalah untuk menghormati Guru kita yang telah mengajarkan kebenaran, jadi bukan menyembah pada patung. Dengan demikian, kita tidak akan pernah kekurangan/kehilangan semangat dalam perjuangan hidup kita. 

      2. Lilin
      Lilin ini sesungguhnya juga merupakan suatu lambang. Seperti lilin yang rela hancur demi menerangi kegelapan, demikian juga hendaknya seorang umat Buddha mau berkorban untuk kebahagiaan makhluk lain. Pengorbanan besar telah diberikan oleh Guru kita; 6 tahun menderita dan membaktikan diri selama 45 tahun untuk mengajarkan Dhamma setiap hari. Kita pun sebagai murid-muridNya hendaknya bersikap demikian; seperti lilin yang menerangi kegelapan, demikian juga hendaknya kita sebagai umat Buddha bisa menjadi pelita di dalam kehidupan bermasyarakat dengan kebenaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha.

      3. Bunga
      Bunga melambangkan ketidak kekalan; hari ini indah dan wangi tetapi besok akan layu, lusa akan membusuk dan dibuang. Demikian pula dengan diri kita; hari ini kita masih sehat, kuat dan cantik tetapi dengan berlalunya sang waktu; kesehatan, kekuatan dan kecantikan kita pun akan berkurang. Seperti bunga yang sekarang segar, besok akan layu dan dibuang; demikian juga hendaknya kita selalu menyadari bahwa pada suatu ketika kita pun akan dibuang, berpisah dengan yang dicintai dan berkumpul dengan yang dibenci. Oleh karena itu, tidak ada gunanya kita sombong/berbesar kepala karena semua ada batasnya dan tidak kekal. Ini adalah Dhamma yang dipesankan lewat altar. 

      4. Air
      Air ini melambangkan pembersih segala kotoran. Seperti air yang membersihkan semua debu-debu kekotoran; demikian juga ajaran Sang Buddha hendaknya bisa membersihkan segala kekotoran yang melekat di batin dan pikiran kita baik ketamakan, kebencian maupun kebodohan. 

Sunday, December 26, 2010

Antara Lidah Dan Sendok

 
Antara Lidah Dan Sendok
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera
 

Bagaikan lidah yang dapat merasakan setiap rasa sayur yang melewatinya, demikian pula orang bijaksana dapat mengerti Dhamma walaupun baru sejenak mengenalnya (Dhammapada Bala Vagga 65).

Di dalam Dhammapada dikatakan ada dua jenis perkenalan dengan Dhamma. Yang pertama adalah perkenalan biasa-biasa, selanjutnya tetap biasa-biasa saja. Diibaratkan seperti sendok. Sendok tidak pernah kepedasan. Tidak pernah begitu menyentuh lombok langsung berteriak kepedasan. Kenapa? Karena sendok tidak punya rasa. Menyendok sambal bisa, kuah juga mau. Apa saja boleh diambil dengan sendok. Menyendok yang baik dan menyendok yang jelek bisa pula. Sendok tidak bereaksi, karena dia tidak pernah merasakan rasa apapun yang menempel di tubuhnya.

Begitu juga dengan umat yang termasuk jenis ini. Datang ke vihara, ikut puja-bhakti, baca paritta, dan meditasi. Termasuk ngantuk dan melamunnya... Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, satu bulan, dua bulan, setahun, dua tahun sampai sepuluh tahun mengenal Dhamma tetapi masih tetap biasa-biasa.

Ketika ditanya, setelah mengenal Dhamma selama sepuluh tahun apakah masih emosi? Jawabnya, masih. Apakah setelah mengenal dhamma sudah bisa meditasi? Belum. Beginilah jenis yang pertama, selalu mengantarkan sayur ke dalam mulut, tapi tiada pernah merasakan.

Namun ada jenis perkenalan dengan Dhamma yang mulanya biasa-biasa, selanjutnya makin menggebu-gebu. Ibaratnya lidah. Lidah itu luar biasa. Seandainya satu butir nasi dimasukkan ke dalam hamburger yang kita makan, pasti kita akan dapat merasakan nasi itu. Karena lidah kita sudah terbiasa dengan rasanya, meskipun cuma satu butir. Itulah kehebatan lidah. Luar biasa.

Demikian pula dalam mengenal Dhamma. Menjadi umat Buddha bukan dilihat sudah berapa lama sudah jadi umat Buddha. Itu bukan jaminan. Tetapi, yang penting adalah sudah seberapa jauh kita merasakan nikmatnya Dhamma.

Sabbam rasam dhammaraso jinati. Dari seluruh rasa, rasa Dhammalah yang paling unggul (Dhammapada Tanha Vagga 354)

HANYALAH OBJEK

Sudahkah kita merasakan Dhamma? Sudahkah kita merasakan manfaat Dhamma dalam kehidupan kita sehari-hari?

Perkenalan dengan Dhamma kadang hanya sejenak, perkenalan dengan Dhamma kadang hanya sepintas, kesannya itu. Nah, kita termasuk lidah ataukah sendok?

Kalau salah satu dari kita setelah mengenal Dhamma langsung merasakan manfaatnya, maka berbahagialah dia. Karena dia adalah "lidah" yang bermanfaat. Tetapi kalau sampai sudah duduk capek, namakara sampai dahinya hafal, ketika ditanya mengenai Agama Buddha masih tidak mengerti, kita mesti memperbaikinya karena masih kualitas sendok.

Darimanakah kita bisa mendapatkan Dhamma? Sebetulnya Dhamma ada di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dhamma bukan hanya ada di buku-buku. Dhamma bukan hanya yang dibagikan oleh para bhikkhu. Satu contoh, kalau kita pergi ke vihara lalu melihat Buddharupang, maka itu sebetulnya adalah pelajaran Dhamma. Banyak orang yang sudah bernamakara berkali-kali kepada Sang Buddha tetapi nggak mengerti maksudnya. Kebiasaan? Wah, itu salah total.

Kebiasaan sebetulnya sering menimbulkan penyimpangan. Pernah di sebuah vihara terdapat kebiasaan aneh, setiap puja-bhakti harus ada anjing hitam yang diikat di bawah pohon bodhi di halaman vihara. Padahal, asal mulanya hanya karena bhikkhu kepala vihara senang memelihara anjing hitam dan selalu mengikatnya ketika sang bhikkhu melaksanakan puja-bhakti. Ketika bhikkhu kepala vihara meninggal, kebiasaan itu diteruskan tanpa tahu alasannya.

Itulah kebiasaan yang menyimpang. Kita juga sering begitu. Ketika ditanya, kenapa bernamakara? Biar dapat berkah sang Buddha? Oh....

Tidak ada pelajaran dalam Agama Buddha yang mengatakan bahwa dengan namakara bisa dapat berkahnya Sang Buddha. Tidak ada. Kita bernamakara, Sang Buddha tidak tersenyum. Kita tidak namakara, Sang Buddha tidak apa-apa. Tetapi bernamakara atau tidak, itu berhubungan dengan diri kita sendiri.

Pada saat kita bernamakara, sebetulnya pikiran, ucapan, dan perbuatan kita diarahkan kepada hal positif. Kita berusaha berkonsentrasi sehingga bernamakara tiga kali. Dengan bernamakara, kita membutuhkan waktu minimal setengah sampai satu menit untuk punya pikiran, ucapan, dan perbuatan benar. Kalau tiap hari melakukan kegiatan namakara, maka dalam satu bulan kita bisa punya tiga puluh menit pikiran, ucapan dan perbuatan benar. Satu tahun tiga ratus enam puluh menit.

Makin banyak kita namaskara, makin banyak kita menanam kamma baik. Patung Sang Buddha hanyalah sebagai obyek, sasaran, atau sarana kita untuk menanam pikiran, ucapan dan perbuatan benar. Begitu pula bernamakara pada seorang bhikkhu. Itu bukan namakara buat bhikkhunya. Bukan namakara sama jubahnya. Tetapi bhikkhunya sebagai obyek untuk menanam kamma baik lewat pikiran, ucapan dan perbuatan.

Ketika kita bernamakara pada Buddharupang, yang posisinya bumisparsa mudra, sebetulnya ini menunjukkan bahwa kita harus bertekad jangan sampai patah semangat sebelum mencapai cita-cita. Apapun yang menghalangi harus kita hadapi untuk mencapai tujuan akhir. Sebelum cita-cita tercapai jangan pantang mundur. Sekolah mau men-DO, tidak bisa. Kita harus berjuang keras sampai tidak ada kesempatan men-DO kita.

Kita harus bertekad, harus teguh, harus kuat. Kenapa? Karena kita melihat contohnya, Sang Buddha guru kita. Kalau guru kita berani bertekad kuat tidak akan beranjak dari meditasinya sebelum mencapai cita-cita (kesucian -red), maka kita pun juga sebagai murid-muridnya harus bisa. Ini adalah salah satu mudra. Ada banyak mudra, tapi yang diterangkan hanya satu mudra. Supaya kita sebagai umat Buddha tidak ada kata patah semangat. Harus selalu bersemangat. Kalau punya cita-cita, tetaplah teguh. Seperti yang dilakukan Sang Buddha.

SEKOLAH KEDUKUNAN

Lalu soal baca paritta. Tidak jarang di antara kita ada yang mau membaca paritta untuk hal yang aneh-aneh.
Bhante, paritta apa supaya tidak digigit anjing? Baca saja "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Kalau supaya nggak dicopet? "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Itulah parittanya.

Kenapa? Kadang-kadang kita suka aneh-aneh. Supaya tidak digigit anjing pakai paritta ini, agar tidak dicopet baca paritta itu. Jadinya kita seperti menghapal "mantra-mantra". Seperti sekolah kedukunan saja. Padahal Agama Buddha bukan begitu.

Sebenarnya membaca paritta juga mengarahkan kita supaya punya pikiran baik, ucapan baik, dan perbuatan baik. Sama seperti namakara tadi. Ini kalau kita tidak mengerti artinya. Tapi kalau mengerti, lain lagi.

Misalnya dalam paritta Abhinhapaccavekkhana disebutkan aku akan mengalami usia tua, aku belum bisa mengatasi usia tua, aku akan mati, dan aku belum bisa mengatasi kematian. Berarti kita bisa tua dan bisa meninggal. Padahal sekarang masih muda, masih belum meninggal. Mumpung masih muda, masih belum meninggal, kita harus mengembangkan kebaikan, belajar banyak paritta, belajar Dhamma, dan melaksanakannya dengan baik. Semangat hidup akan muncul untuk memanfaatkan setiap momen kehidupan dalam mengembangkan diri.

Inilah salah satu manfaat menjadi "lidah-lidah" Dhamma. Sebagai lidah, kita langsung bisa merasakan rasa asin, manis, dan asam. Demikian pula sebagai umat Buddha, walaupun baru sekali kita mengenal Dhamma tetapi kalau kita mengerti intinya bahwa Dhamma adalah pembawa semangat kehidupan, sehingga tidak akan pernah ragu, tidak pernah patah semangat, maka hidup kita akan selalu diisi dengan prestasi, hasil gemilang dari usaha dan perjuangan kita.

Jadilah lidah yang baik. Janganlah menjadi sendok yang tidak pernah mengetahui rasa makanan. Sehingga biar hanya sebentar ngenal Dhamma, bisa memanfaatkannya dengan baik. Semoga kita berbahagia di dalam Dhamma. Semoga semua makhluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak memperoleh kebaikan dan kebahagiaan sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing.