Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Friday, February 18, 2011

Benarkah Aku Beragama Buddha

 
Benarkah Aku Beragama Buddha
Oleh: Sakyananda
 


Benarkah anda beragama Buddha ? Sebuah pertanyaan ringan, tapi sulit untuk dijawab dengan cepat, seperti kita menjawab pertanyaan berapa 2 x 2 ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita memerlukan waktu untuk mengadakan perenungan dan intropeksi pada diri kita sendiri.

Banyak orang mengaku sebagai umat Buddha, tapi banyak pula yang belum mengetahui Dhamma yang diajarkan Sang Buddha guru junjungan kita. Banyak di antara mereka yang sering datang ke vihara hanya untuk bermain-main atau hanya sekedar ingin bertemu dengan kawan-kawannya yang berasal dari sekolah lain. Apakah ini yang dinamakan bhakti dan sembah sujud kita kepada Sang Buddha selaku umat Buddha ?

Dari ucapan seseorang kita dapat mengetahui kepribadian dan paham yang mereka anut. Alangkah sayangnya, jika seseorang diajak menyelesaikan suatu masalah mereka menjawab dengan jawaban yang tidak pernah ada didalam ajaran oleh Sang Buddha. Tak jarang pula diantara mereka yang mengaku sebagai umat Buddha , tapi sewaktu ditanya masalah Dhamma mereka memberikan suatu jawaban yang jawabannya tidak pernah diajarkan oleh Sang Buddha. Mereka sering mencampuradukkan istilah istilah yang ada di dalam agama lain kedalam agama Buddha.

Sebagai contoh, manusia setelah mati, sebelum dia masuk atau ditentuan masuk ke nereka atau ke surga, ia akan mengalami pengadilan untuk menimbang beratnya perbuatan baik-jeleknya selama hidup sebagai manusia. Pengertian ini tidak pernah ada didalam ajaran Sang Buddha. Kammanyalah yang menentukan seseorang itu dapat masuk ke surga, jika sering berbuat jahat (Akusala kamma) maka ia akan dilahirkan di alam neraka atau alam yang menyedihkan lainnya.

Hukum kamma tau yang lajim disebut hukum sebab-akibat, yaitu hukum alam yang mengatur segala sesuatu tindakan baik yang dilakukan oleh badan jasmani, ucapan dan pikiran yang akan membawa hasil. Dan hasil yang berupa akibat atau buah dari perbuatan kita itu akan buruk, jika kita melakukan perbuatan jahat. Dan akan berbuah dengan baik, jika kita melakukan perbuatan baik. Semua hasil perbuatan ini, baik yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan, kita sendiri yang harus menerimanya.

Mereka yang belum mengerti tentang Dhamma, tidak mau mengakui adannya hukum kamma ini, dan bahkan ada yang mempunyai anggapan bahwa perbuatan jelek atau kesalahannya itu dapat ditembus dengan mengadakan upacara sembahyang atau yang sering disebut dengan istilah pengampunan dosa. Kesalahan- kesalahan seperti diatas amat merugikan kita. Apalagi yang mengajukan pertanyaan itu adalah umat dari agama lain yang ingin mengetahui atau ingin mempelajari Dhamma Sang Buddha.

Sebab jika kita memberikan penjelasan yang salah, mereka juga akan memberikan jawaban yang salah jika ditanya oleh orang lain. Jika mereka sampai tahu bahwa apa yang kita katakan itu salah, maka mungkin saja mereka akan mencemoohkan kita dan akan mengejek atau menyebut kita dengan "Umat Buddha KTP" atau "Umat Buddha Statistik"

Atau bahkan mereka mengatakan "Pura-pura beragama supaya tidak dianggap komunis:, sebab di negara Indonesia kita ini semua orang wajib beragama. Ucapan tanpa tindakan tiadalah berarti. Ibarat intan permata yang indak namun tidak memancarkan sinar karena tidak pernah diasah.

Begitulah dengan kita, jika kita mengetahui dengan mengaku sebagai umat Buddha, maka kita yach.. mau tidak mau harus belajar Dhamma dengan baik. Tak cukup hanya belajar tanpa mau mempraktekkannya didalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari sebagai seorang umat Buddha yang baik. Dari tingkah laku dan tindakan kita yang mencerminkan sebagai umat Buddha yang baik, maka masyarakat disekitar kita akan mengetahui dan mengakui bahwa agama Buddha adalah agama yang besar.

Alangkah baiknya, jika kita hidup ditengah tengah masyarakat yang bebas dari cemohan ataupun menjelek-jelekan agama kita karena tingkah laku kita sendiri. Dengan demikian kita ikut menciptakan suasana rukun, tentram, dan damai diantara kita, sehingga akan terbina suatu masyarakat yang penuh toleransi dan rasa saling menghormati.

Pelajarilah Dhamma! Jika suara hatimu mengatakan "Aku umat Buddha atau aku siswa Sang Buddha", tunjukkan dengan ucapan dan perbuatan yang benar (yang sesuai dengan Dhamma Sang Buddha). Kita perlu membuktikan melalui ucapan dan perbuatan kita agar kita diakui dimasyarakat sebagai umat Buddha yang baik, bukan sebagai umat Buddha KTP.

Sekali lagi pelajarilah Dhamma, jika engkau memang siswa Sang Buddha dan praktekkanlah dalam kehidupan sehari-hari. Niscaya Anda akan hidup bahagia lahir dan bathin.


[ Dikutip dari Majalah Buddhis Sinar Buddha Edisi II ]  

Thursday, December 16, 2010

Tujuan Pengembangan Insight



Tujuan Pengembangan Insight

Oleh: Alm. Yang Arya Bhikkhu Girirakkhito Mahatera




Saat ini nampak jelas sekali para umat mulai seius mengembangkan Dhamma di dalam diri sendiri. Dan kemudian tentu kehausan itu akan ilanjutkan dengan menerapkan ajaran-ajaran Dhamma di dalma diri masing-masing. Sesungguhnya, kalau kita belajar Dhamma adalah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan alam, lingkungan, keadaan, dan kondisi-kondisi yang ada Sebagai individu, manusia, kita tidak jemu-jemu menghadapi situasi/kondisi yang berubah-ubah, yang perubahannya terus berlansung atnnnnnpa pernah behenti; dan kita harus senantiasa berusaha untuk mnejadi harmonis dengan keadaan, lingkungan dan kondisi yang ada. Justru agama, seakan-akan mempunyai harga mati dalam bagaimana menjadikan diri kita ini agar selalu selaras, esimbang, dan harmonis dengan alam maupun linkungan. Jadi agama tidak lagi berpikir atau memcoba membantah, tau mengoreksi kebenaran ajaran agama yang diyakini masing-masing umat, meskipun Sang Buddha mengatakan bahwa silakan periksa, pelajari dan teliti; kalau cocok boleh terus dipakai, kalau tidak ditinggalkan. Dan dari berbagai disiplin ilmu sudah sepakat mengatakan bahwa agama seakn-akan sudah – kalau seperti barang – punya harga mati, harga pas, jadi tidak ada tawar-menawar lagi. Memang demikian. Misalnya agama Buddha, Sang Guru Agung Buddha Gautama menjelaskan tentang apa manusia itu, yang terdiri atas kelompok jasmani, kelompok perasaan, kelompok pikiran, kelompok ingatan, dan kelompok kesadaran. Proses dari tiap-tiap kelompok ini terjadi di dalam diri kita, yang berada ditengah-tengah alam semesta atau dunia ini, yang senantiasa berubah. Tahun 1900-an dengan sekarang tahun 1994-an itu keadaannya sudah berubah.


Sementaar itu, dari perkembangan berbagai disiplin ilmu, kini mulai gencar mempertanyakan apakah agama bisa memenuhi keperluan hidup dalam segala aspeknya? Misalnya, apakah agama sanggup membuat kesejahteraan, kemajuan dalam kehidupan manusia yang begitu banyak aspeknya? Sekarang penduduk Indonesia jumlahnya sudah semakin banyak, ero globalisasi sudah demikian gencar, keterbukaan Indonesia dalam beberapa bidang sudah nampak jelas sekali. Namun kita harus mengakui bahwa sampai sekarang Pemerintah indonesia belum mampu mengatur manusia yang beigtu banyak itu. Lain halnya seperti negara tetangga kita, Singapura, di mana penduduknya relatif sedikit, kemudian pendidikan hidup yang berdisiplin itu sudah sejak lama sekali ditanamkan, serta mayarakatnya dalam kondisi yang kemamurannya hampir mearata. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang supir disana, berapa gaji supir di sana, yaitu 1500 Dolar Sinagpura. Kalau dikruskan, sekitar satu setengah juta Rupiah. Kalau di sini, tidak ada gaji supir yang ssdemikian itu. Karena dengan 1500 Dolar itu baru memenuhi standar kehidupan di sana, walaupun tidak mewah, tetapi tida miskin. Mereka mampu untuk sewa listrik, beli air untuk minum, mandi, cuci, dan sebagainya. Dengan demikian mereka dapat hidup layak. Begitulah keadannya, dan kalau kita lihat disiplinnya, memang sudah maju sekali, terutama bekersihannya. Kalau kita badingkan dengan di sini tentu jauh sekali. Mereka di sana sudah bisa menyesuaikan diri dengan peraturan dan hukum yang berlaku ash, yang tentunya sesuai dengan ajaran agama yang mereka peluk; juga belajar harminis dengan hukum-hukum alam yang diajarkan oleh agama mereka masing-masing.


Oleh karena itu, tiap ajaran agama mempunyai peraturan, yang umum, yang pokok, kemudian yang tambahan. Semuanya adalah untuk menjadikan kita harmonis, seimbang, selaras, dan tidak konflik dengan kepentingan bersama, terutama dengan alam. Kalau misalnya alam kondisi panas terik, lalu kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang panas terik itu, sehingga kita menjadi menderita, kemudian mengeluh, tidak tahan, dan gelisah. Itu berarti bahwa kita belum mampu harmonis dan menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan.


Saya kira gejala ini sangat nyata kelihatan di kalangan kita umat Buddha, sehingga tatkala di suatu waktu ada pertemuan dari orang-orang tertentu di suatu tempat, kelihatan sekali batin para umat di sana tidak harmonis, tidak seimbang; pokoknya minimal ‘dislike’ dalam hati. Karena orang-orang yang hadir di sana, mereka itu adalah kritikus-kritikus bhikkhu yang getol sekali. Mereka itu seakan-akan menjadi polisinya bhikkhu, begitulah. Sebenarnya bhikkhu itu tidak punya “CPM”, tetapi kalau militer punya CPM. CPM itu diangkat dengan resmi oleh yang berwenang dan dididik; pun cara ngeprit pelanggaran yang ada tidak sembarangan, tetapi mengerti aturannya. Tetapi oarng-orang ini rupa-rupannya mereka belajar Dhamma Vinaya, kemudian merasa mengerti, namun bersekutu dengan belum tercapainya keharmonisan kejiwaan; sehingga mereka menjadi kritikus-kritikus uang kadang-kadang menimnulkan akibat-akibat yang minimal dapat menjadi konflik. Kadang-kadang mereka mengerti “KUHP”-nya bhikkhu –kitab “KUHP”-nya para bhikkhu adalah Vinaya. Mungkin dia menghafal, apalgai yang pernah menjadi Bhikkhu, kemudian lepas jubah, itu mereka tahu. Lalu kemampuan menghafal peraturan itu dijadikan atau menjadikan dirinya CPM sukarela yang tanpa ‘beslit’ begitulah kira-kira.


Pengembangan Insight tau Pandangan Terang melalui latihan-latihan Vipassana, itu bukan bertujuan untuk menjadikan kiat pintar mengerti Dhamma, lalu kemudian untuk berdebat, untuk melihat kesalahan orang lain, atu untuk memojokkan orang lain, atau untuk memamerkan pengertian benarnya masing-masing. Bukan beitu maksudnya. Justru dengan Vipassana atau mengerti Dhamma itu, adalah agar kita mengatur batin kita supaya tetap segera harmonis, seimbang, selaras, dan tak ada konflik dengan keadaan, lingkungan, hukum alam, serta kondisi-kndisi yang ada.


Itulah topic yang ingin saya perbicarakan dan bahas di sini, sebagai suatu injeksi, yang mudah-mudahan dapat lebuh menyembuhkan penyakit-penyakit yang kurang perlu aad di dlam batin kita sekarang.


Jadi sekarang, kita mesti berupaya membuat persahabatan kita di dalam Buddh Dhamma ini agar benar-benar bisa mengenyam dan menikmati ketentraman dan keselarasan; kemudian bisa dengan cepat mengeliminir kesalah-fahaman, konflik, dan sebangsanya. Berusaha untuk secepat kilat bisa menuntaskan semua problem, dengan kata lain kiat akhirnya dapat muncul menjadi pribadi-pribadi yang sanggup menjadi problem solvre. Kita tahu “How to solve the problem of life”. Itulah kiranya tujuan yang kita gantungkan dala cita-cita kita. Dan kalau batin kita suadh dewasa maka ‘like and dislike’ itu bisa diturunkan, dikurangi. Itu merupakan ciri-ciri sat hasil yang kita raih. Bagaimanapun kikuknya saudara anggap orang lain menyalahi aturan, apakah Dhamma, apakah Vinaya, kalau seseorang sudah mempunyai Insight, dia tidak lagi usil menjadi polisi. Tidka! Karena apa? Karena dia memaklumi bahwa dunia adalah dunia, sorga adalah sorga, neraka adalah neraka, dunia yang campuran bik dan buruk adalah dunia yang campuran baik dan buruk. Itulah kondisi dunia. Jadi kalau kita belum mengerti, - isi dunia saja belum mengerti-, kita tinggal di dunia, bergaul dengan kawan-kawan yagn masih duniawi, dan kondisi duniawi ada yang baik dan ada yang buruk; lalu kiat masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang baik dan buruknya, kapan kita bisa meningkat?


Perlu diingat dan diketahui bahwa memiliki kualitas mental yang memadai amatlah penting untuk menghadapi kejadian, problem, kondisi, situasi yan berubah-ubah dan sangat rawan ini. Pejabat pemerintah harusnya mempunyai kualitas mental yang tangguh. Para rohaniwan agama juga harus mempunyai mental yang memadai. Tidak boleh sepihak. Kemudian kualitas mental masyarakat juga harus ditingkatkan. Kita jangan malu mengakui bahwa kualitas mental kita, kualitas disiplin kita, ketaatan kepaad peraturan, masih jauh daripada apa yang disebut baik. Maka oleh karena itu, kita harus berusaha meningkatkan kedewasaan kualitas mental ini.


Kalau orang yang mentalnya sudah dewasa ‘like dan dislike’ – kalau dia diumpamakan biji tumbuh-tumbuhan-, dia itu tidak bisa tumbuh di atas lantai yang licin. Walaupun dia disiram dengan air, dia tidak bisa tumbuh. Tetapi kalau tanah gembur kemudian ada hujan turun, dia mudah tumbuh. Rumput pun tumbuh. Jadi mental itu ada kualitasnya; seperti tanah yang gempur, dilempar biji apa saja kalau ada hujan akan tumbuh. Ada mental yang udah digosok dan diproses, sehingga seperti kaca yang jernih dan bersih, atau seperti tegel yang mengkilat. ‘Like dan dislike’ dengan antek-anteknya itu, seolah-olah tidak bisa melekt pada batin orang yang demikian. Secara alami sekali, mereka tidak melekat. Maka itu, kita melihat ada orang yang cepat sekali tersinggung, cepat sekali emosi, cepat sekali konflik. Pokoknya tidak selesai-selesai dan tidak habis-habisnya tersinggung dan membuat konflik.Ada saja yang dipermasalahkan. Nah berbeda dengan orang yang bathinnya sudah dewasa, yang saya umpamakan batinnya sudah digodok, digembleng, diasah, dilap hingga licin dan bersih sekali. Terutama dualisme itu yaitu ‘like and dislike’, merasa diuntungkan atau dirugikan, merasa ddihargai atau diremehkan; itu sulit melekat kepada batin orang sedemikian. Maka sikapnya pun menjadi dewasa sekali.


Kita sekarang amat memerlukan orang-orang seperti itu, terutama kalau kita mendambakan Buddha Dhamma ada manfaatnya, ada kegunaannya; yakni dengan memproses pikiran itu, yang sering saya katakan dari cengeng, mudah tersinggung, mudah melekat kepada dualisme, menjadi sehat, kuta, stabil, mantap. Jadi ke arah sana fokus kita, tujuan kita belajar Buddha Dhamma, sehingga itu menjadi modal dasar ynag dirumuskan oleh pemerintah. Dalam pembangunan bangsa ini, kita harus punya modal iman dan takwa yang kuat, moral etik yang tinggi; kemudian digabung, disekutukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, ketrampilan, dan keuletan, maka kdua-duannya ini akan menjadi sarana untuk membangun pribadi-pribadi, manusia-manusia Indonesia yang diharapkan.


Namun memang kecenderungan manusia itu berbeda-beda. Diantara pada bhikkhu juga ada yang lebih cenderung ke pertapaan aatu meditasi saja, tidak mau campur dengan organisasi atau dengan masalah-masalah duniawi. Pokoknya pertapaan saja, tinggal ditempat sepi, kemudian meditasi, Ini lalu oleh kemajuan perkembangan dunai masa kini, mendapat sorotan yang negatif. Bahkan pernah kita ini dituduh: “Wah, apa Walubi ( Perwalian Umat Buddha Indonesia bukan Perwakilan, red) itu hanya mengajarkan umatny sembahyang saja, meditasi saja, dan kalau khotbah, yang dikhotbahkan bagaiaman mencapai sorga, tetapi sama sekali lupa dengan lingkungan, ada orang miskin, ada rumah kumuh, dan sebagainya. Menurut pandangan yang ada, penerapan agama di Indonesia harus dibarengi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab dijelaskan disana, “agama tidak bisa membuat rumah, tidak bisa membeli mobil”. Untuk membuat kemakmuran, supaya kain banyak, supaya sepatu modelnya banyak, keperluan hidup banyak; itu bukan agama yang mengerjakan, tetapi ketrampiran, teknoligi dan ilmu pengetahuan. Begitu juga dalam aspek kesehatan dan sebagainya. Kita tidak perlu berdebat dan membantah di sana.


Jadi diharapkan agama itu tidak eksklusif. Sekarang kita menganut agama Buddha, Buddha Dhamma, seperti saya sekarang ini sebagai bhikkhu, sudah mulai diminta oleh pemerintah: “Anda jangan hanya mengajarkan meditasi saja”. Usahakan meningkatkan kemiskinanm dari yang dulu income-nya kecil sekarang menjadi bertambah. Namun sudah jelas pula, mental agama adalah modal dasar. Jadi kita harus ditangan kanan memegang Buddha Dhamma, di tangan kiri memegang seluk beluk dan hal ikhwal pembangunan bangsa. Jelas sekali sekarang demikian.


Jadi kiat para penganut agama Buddha tidak boleh lalai, tidak boleh tutup tertelinga telingga atau mata kita, tetapi kiat harus ‘well informed’ tentang masalah-masalah yang ‘up to date’, yang sekarang ini. Sebenarnya saya merasa paling bangga dengan keadaan umat Buddha, terutama dikota-kota besar, karena mereka berpotensi sekali di dalam ikut andil memakmurkan dan mensejahterakan bangsa ini. Bahkan Bapak Presiden, kalau memberikan penghargaan, kebanyakan kepada orang-orang umat buddha yang dengan diam-diam sudah membantu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Kami drai umat Buddha dengan diam-diam sudah banyak mengangkat kemiskinan dengan memberikan mereka pekerjaan.


Memang kita mengharapkan bahwa simpatisan atau penganut agama Buddha semakin banyak. Tetapi dengan semakin banyak muncul orang-orang baru ini, mungkin saja lalu kembali muncul kerawanan, problem tentang kecengengan kejiwaan itu. Sebenarnya yang tua-tua yang harus lebih mengalah. Itu memang sudah hukum pergaulan. Coba kalau kakak dengan adik, siapa yang harus mengalah? Kakaklah ynag harus mengalah, Tetapi sekarang kok terbalik. Umpamanya ada adik yang mengalah, yang kakak-kakaknya malah galak sekali. Jangan sampai terjadi yang demikian.


Bagi saya, yang bagaimana saja teman-teman pengabdi ini, yang cengeng, yang dewasa, yang mudah tersinggung, yang kalem, saya bisa sekali menerima, karena saya ekstra menjaga dan melestarikan diri. Maka oleh kaerna itu, sejak saya senang mengadakan latihan Vipassana, itu tidak lain maksudnya adalah untuk meningkatkan kejiwaan para umat yang sudah mendapat kesempatan dan mempunyai minat ke arah peningkatan itu. Yang penting jangan jadi jaksa, jangan jadi polisi, atau menjadi mata-mata untuk menyelidiki kesalahan orang lain. Itu tolong dielminir. Jangan karena persoalan sedikit saja, sudah ramai. Kog senang sekali melihat dan menceritakan kesalahan, kelemahan, dan kekuarang orang lain? Kecenderungan demikian sepertinya sudah berurat berakar, mendarah-daging. Cobalah kita kerahkan tenaga dan kemauan untuk mengeliminir kecenderungan itu.


Terdapatnya perpercahan-perpecahan di tubuh organisasi, itu juga tdak lain dan tidak bukan, sebabnya adalah kekurangan kedewasaan kejiwaan dan kualitas mental. Jadi sekarang kita harus mempunyai seni atau keahlian untuk mengelimir hal-hal yang demikian itu.


Sekarang ini, kita lepas dari rasa kesal, rasa kurang simpati. Kalau ada rasa kesal atau rasa kurang simpati, kurang setuju, atau kurang sreg, itu ‘kan cuma perasaan. Perasaan yang muncul disebabkan karena kejiwaan belum dewasa, masih ada ego, masih inginmenaruh pandangan sendiri, konsep sendiri, dan sebagainya di depan. Kalau secara sederhana, itu adalah ciri-ciri dari demokrasi, ciri-ciri dari pluralisme, ciri-ciri dari keadaan yang berbeda-beda. Tetapi kemudian, bagaimana agar yang berbeda-beda ini bisa mengkondisikan semangat bersatu. Jadi pluralisme agama di Indonesia itu mengkondisikan para pemimpin berusaha untuk mengatur, membimbing agama ini, supaya tetap bersatu dan rukun. Metodenya: jangan membicarakan tentang doktrin, jangan berdebat tentang perbedaan; kita hanya mengacu kepada kepentingan bersama. Pemerintah lebih lihat lagi. Para pemimpin agama itu sering-sering dikumpulkan, diajak pergi ke propinsi-propinsi, bahkan yang terakhir ini diajak ke Singapura dengan gratis. Bayangkan! Begitu pandainya merukunkan agama-agama yang berbeda-beda, tetapi mempunyai kepentingan yang sama. Jadi kepentingan yang sama itulah yang diacu, yang dipacu, sehingga bisa rukun-rukun selalu.


Naqh, kita juga harus begitu. Dahulukan kepentingan bersama untuk mencapai tujuan dan cita-cita bersama. Kalau ada gangguan, rintangan, godaan, atau bahkan malapetaka yang menhadang, hal itu wajar terjadi. Tetapi kalau kita teguh dengan tujuan demi kepentingan bersama, hal-hal itu akan dapat diatasi secara alami. Saya harap umat Buddha berhati-hati, agar bertindak denagn sehalus-halusnya, belajar melangkah dengan memperhitungkan proses alaminya itu sendiri. Mudah-mudahan konflik-konflik itu tidak perlu ada.


Saya mengharapkan supaya saudara-saudara mengintegrasikan diri, sungguh-sungguh membulatkan tujuan, membulatkan acuan, dan sebagainya, sehingga dengan demikian, rintangan-rintangan yang akan melemahkan posisi dan kondisi kita akan dapat dieliminir. Dan kalau ada perebdaan-perbedaan dan sedikit konflik, itu adalah wajar sekali. Lautan yang luast itu tidak selamannya tenang. Tiba-tiba ada angin puyuh, lalu gelombang itu besar, ia kemudian akan berubah. Laut kembali tenang. Kalau kita sering dihajar ikeh bukti-bukti kondisi yang berubah-ubah demikian rupa itu, maka kesadaran kita juga akan maju, akan bisa memaklumi keadaan yang kadang-kadang dengan tiba-tiba munculnya angin ribut. Sebagai penumpang di kapal "Walubi" (Perwalian Umat Buddha Indonesia bukan Perwakilan, red) ini, mudah-mudahan saudara tidak mabuk, tidak muntah, tidak rebah, dan kemudian kapok naik kapal . Jangan sampai kapok. Kalau kapok, kita tiadk akan bisa menyeberangkan umat Buddha dengan tujuan yang diharapkan. Sebab sekarang, kita ini ibaratnya berangkat naik kapal itu, kadang-kadang gelombangnya besar. Mudah-mudahan kita semua tahan, tidak mabuk, tidak pingsan, dan semoga semuanya tetap sehat dan akhirnya membawa agama Buddha dan umat Buddha ini kepada tingkat dan tujuan yang diharapkan.


[Dikutip dari Mutiara Dhamma VI ]

Tuesday, December 14, 2010

Umat Buddha Dan Solusi Kemarahan





Umat Buddha Dan Solusi Kemarahan
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera




TIPE UMAT BUDDHA

Dapat diterangkan di sini bahwa tipe atau jenis umat Buddha itu ada bermacam-macam. Jenis kelompok umat yang pertama adalah: Umat Buddha KTP. Jadi ke mana-mana disombongkan: Ini lho, KTP saya: Buddhis!" Kalau mereka ditanya, bagaimana riwayat Sang Buddha? Jawabnya: "Ah, itu bukan urusan saya. Itu urusannya para bhikkhu dan para Dharmaduta. Pokoknya saya Buddhis. Ditanya viharanya di mana. Jawabnya: "Bukan urusan saya. Itu urusannya orang-orang yang mau jadi bhikkhu. Ditanya buku parittanya apa, dijawab: Buku paritta bukan urusan saya. Saya susah membaca paritta". Paritta apa saja yang dihafal? Jawabnya: Untuk apa menghafal paritta? Lidah saya keseleo-keseleo! Jadi kamu Buddhis-nya apa? K-T-P! Toh kalau KTP-nya Buddhis, juga bisa masuk surga, cukup. Kalaupun mau ditambah sedikit, pokoknya Buddhisnya sampai dupa. Kalau saya sudah bisa pegang dupa, acung-acung dupa, jungkir balik di depan patung, saya sudah Buddhis: Patung apakah itu? Tidak tahu. Pokoknya saya ikut yang lain. Nah, ini golongan yang pertama. Amat menderita, Saudara.

Golongan yang kedua adalah golongan yang lebih baik daripada yang pertama, yaitu yang disebut umat Buddha bergaya "Kapal Selam". Saudara tentu pernah nonton film "The Man From The Atlantis", bukan? Di sana mereka selalu menggunakan kapal selam. Saudara perhatikan kebiasaan kapal selam; kalau ada bahaya, dia turun, biar aman. Kalau mau ketemu pejabat, dia naik. Nanti kalau santai-santai, nganggur-nganggur: turun. Kalau mau jalan-jalan: naik. Nah, itu cerita film The Man From The Atlantis. Ternyata  cerita itu bukan hanya ada di televisi, tetapi di vihara cerita itu bisa terjadi. Ada acara Waisak: muncul. Tidak ada bhikkhu: tenggelam. Ada bhikkhu: naik. Ini tipe yang kedua.

Tipe yang ketiga adalah tipe yang paling ideal, yaitu umat Buddha yang memang betul-betul mempelajari Dhamma dan melaksanakan Dhamma. KTP-nya Buddhis, rajin datang ke vihara untuk berpuja-bakti, mendengar Dhamma, serta melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. 

JENIS UKIRAN KEMARAHAN DAN SOLUSINYA

Di Bali saya lihat umat Buddhanya telah menunjukkan satu kekompakan/persatuan di dalam mengembangkan Buddha Dhamma. Ternyata orang Bali, umat Buddha di Bali, bukan hanya terkenal bisa mengukir kayu, mengukir barang-barang, meja-kursi, tapi juga bisa mengukir prestasi di dalam memajukan umat Buddha. Oleh karena itu saudara tidak sia-sia menjadi orang Bali. Bisa mengukir, tidak hanya mengukir patung, tapi juga mengukir prestasi untuk memajukan agama Buddha. Dan saya harap, ukirannya jangan berhenti sampai di sini. Ini hendaknya semakin dikembangkan, sehingga ukiran prestasi atau kebajikan saudara itu semakin banyak, ke mana akhirnya manfaat kebajikan ini juga menjadi milik saudara.

Berbicara tentang ukiran yang positif perlu saudara kembangkan, tetapi yang negatif jangan dikembangkan. Apakah yang negatif itu? Sang Buddha di dalam Anguttara Nikaya I ayat 283, bercerita tentang seni mengukir. Beliau bercerita demikian. Saudara-saudara, ada jenis tukang ukir yang bermacam-macam. Yang pertama adalah tukang ukir yang mengukir di batu karang. Jadi ada batu karang yang besar, diukir. Saya tadi baru saja datang dari Tanah Lot, di sana saya melihat batu karang yang besar sekali, dan seperti diukir dindingnya. Begitu juga ketika ke Gunung Kawi, saya melihat gunung batu yang diukir. Ini kepandaian orang Bali dalam hal mengukir. Sang Buddha mengatakan, ada orang-orang yang seperti orang yang bisa mengukir batu cadas, batu karang. Bayangkan, saudara. Batu karang yang teguh, yang kuat, seperti candi Gunung Kawi, diukir. Itu bisa bertahan bertahun-tahun lamanya, bahkan ratusan tahun. Kalau itu ukiran yang positif, tentu kita akan merasa senang dan bahagia. Tetapi seperti saya katakan tadi, yang diceritakan Sang Buddha ini adalah jenis ukiran yang negatif. Orang yang mengukir seperti mengukir di batu karang itu adalah diumpamakan orang yang kalau sudah jengkel, marah, atau benci, ia menyimpan kejengkelan atau kebenciannya itu bukan untuk waktu 1-2 hari, bukan untuk waktu 1-2 bulan, tetapi bertahun-tahun jengkelnya masih ada. Itu seperti orang mengukir di batu karang, seperti mengukir Gunung Kawi. Dari jenis yang pertama ini, saya ingin bertanya, apakah saudara punya Gunung Kawi" di dalam diri saudara? Apakah masih tersimpan kejengkelan saudara yang 10 hari yang lalu? Yang 10 tahun yang lalu?

Suami rewel, langsung dikatakan: "Memang kamu sudah rewel sejak bertahun-tahun lalu". Demikian juga dengan sang suami, bila melihat istrinya akan ke vihara make-up-nya saja lama sekali, lalu suami mengatakan: Ayo cepat, ini sudah mau mulai kebaktiannya. Kamu pasang gincu saja, masa begitu? Jambonnya itu terlalu muda. Hapus. Ganti yang merah tua. Wah, itu terlalu merah, kayak bikang ambon! Hapus. Ganti yang muda lagi. Berkali-kali ganti sampai tissu satu dus habis untuk menghapus pemerah bibir. Suaminya jengkel, kemudian mengatakan: Kamu ini dari sejak menikah sampai sekarang punya anak-cucu, begini terus.

Kalau saudara masih mengucapkan kata-kata seperti itu, hati saudara itu seperti Gunung Kawi, seperti batu karang di Tanah Lot yang diukir, sehingga tidak bisa hilang kejengkelan, dendam saudara itu, baik kepada pasangan hidup maupun kepada yang lain. Kalau sekarang kepada pasangan saja tidak bisa memafkan sampai bertahun-tahun, apalagi sama teman. Kalau di vihara kita melihat teman berbisik-bisik, tertawa cekikikan-cekikikan, saudara berkata: Awas kamu ya, kamu menggosipkan saya. Pokoknya selama kamu belum meninggal, saya tidak akan pernah mau datang ke vihara. Jangan harap saya akan menginjakkan kaki di rumahmu". Itu namanya kita mengukir Gunung Kawi di dalam diri kita. Apakah saudara demikian? Saudara sendiri yang bisa menjawabnya.

Jenis ukiran yang kedua, bukan mengukir di batu karang, atau di dinding batu, tetapi mengukir di pantai. Tadi saya juga mengunjungi Pantai Sanur. Saya cemplungkan kaki saya di pasir pantai, kemudian saya minggir. Tidak lama, jejak telapak kaki saya hilang kena ombak. Tapi hilangnya setelah ombaknya beberapa kali. Nah, saudara, Sang Buddha pun mengumpamakan demikian; seperti orang mengukir di atas pasir. Ada ukirannya, ada gambarnya, bisa bertahan untuk waktu yang sementara. Kalau yang pertama tadi, waktunya tidak terhingga, sampai mendarah daging menulang sumsum kebenciannya tidak bisa hilang. Tapi, kalau yang mengukir di atas pasir, ini lain ceritanya. Jengkel sama temen, jengkel sama pasangan hidup, itu wajar. Pasangan hidup masih punya kesalahan, itu wajar. Namanya saja manusia yang masih punya rasa kebencian. Tetapi kalau kita seperti mengukir di pasir, hendaknya janganlah untuk waktu yang lama.

Jenis berikutnya yaitu jenis yang ketiga. Kalau yang pertama adalah mengukir di batu karang, jenis yang kedua mengukir di pasir, maka yang ketiga adalah yang ideal, yaitu mengukir di atas air. Saudara nanti boleh mencoba di bak mandi saudara. Tulis huruf A. Bekas garisnya ada, tetapi langsung hilang. Demikian pula hendaknya apabila timbul kejengkelan, kemarahan, ketidaksenangan di dalam hati kita, hendaknya jangan ditahan seperti batu karang, bahkan juga jangan ditahan seperti lukisan di pasir, tetapi hendaknya seperti kita melukis di atas air. Cepat hilang kejengkelan itu. Nah, saudara, tiga jenis kejengkelan, tiga jenis ukiran inilah yang mulai kita renungkan sekarang.

Idealnya kita tentu mau menjadi umat Buddha yang terbaik, bukan? Saya yakin tidak ada yang ingin menjadi umat Buddha yang jelek-jelek, tetapi pasti yang baik. Bahkan kalau bisa, yang terbaik. Menjadi umat Buddha yang sungguh-sungguh mau mendengar Dharma, melaksanakan Dharma dengan baik, bukan hanya umat Buddha KTP atau Kapal Selam. Demikian pula dengan kesabaran, hendaknya seperti melukis di atas air. Tapi sekarang, bagaimanakah caranya? Seseorang bisa jengkel, marah, atau tidak senang itu karena ada sebabnya. Apakah yang menjadi sebab kejengkelan/kemarahan?

Kalau kita marah kepada pembantu di rumah, apakah sebabnya? Apakah karena pembantu kurang pintar? Ataukah saudara yang kurang pintar? Tentu saudara menjawab, Pembantu yang kurang pintar. Kenapa demikian? Karena kalau dia pintar, dia sudah jadi boss seperti saudara semua. Jadi, yang kurang pintar itu siapa? Kita sendiri! Kalau misalnya ada pembantu yang menutup pintu saja lupa terus, setiap hari mesti disuruh; kemudian kita omeli;Kamu ini betul-betul bodoh ya, bodoh kayak kerbau. Masa diberitahu untuk menutup pintu saja setiap hari tidak pernah ingat?

Kalau saudara renungkan baik-baik pembantu yang lupa-lupa terus itu mungkin memang otaknya kurang lancar. Kalau saudara omeli sampai setengah jam itu, sebetulnya saudara menjadi seperti dia. Karena dengan ngomel-ngomel, saudara sendiri jadi tidak menutup pintu, pintunya terbuka terus. Padahal kalau sudah tutup pintu itu, sudah selesai masalahnya.

Jadi kalau saudara ngomel, saudara marah, berarti saudara tidak menyadari bahwa kemampuan orang itu jauh di bawah saudara. Berarti yang kurang pintar bukan dia, tetapi saudara sendiri yang kurang pintar memahami kenapa kok dia membuat kesalahan itu. Makanya secara Dharma, alam sudah menunjukkan bahwa kalau satu jari menunjuk orang lain, maka tiga jari menunjuk kepada diri sendiri. Kalau kita menunjuk: Kamu kurang pintar!" Berarti 1 jari menunjuk dia, 3 jari menunjuk ke kita; berarti kita ini 3 kali lebih "kurang pintar daripada dia. Maka dari itu belajarlah dari alam, supaya tidak gampang-gampang kita menunjuk orang lain: kamu bodoh, kurang pintar, buruk, dan sebagainya. Jadi yang pertama harus kita renungkan bahwa sebetulnya mengapa saya marah? Mengapa saya jengkel dengan dia? Itu semua sesungguhnya adalah karena keinginan saya sendiri. Jadi penyebab dari kejengkelan, ketidaksenangan, atau kemarahan, sesungguhnya adalah karena KEINGINAN sendiri.

Coba saudara yang sudah punya pasangan hidup, tanyakan,Kenapa saudara sayang sama pasangan hidup saudara. Kenapa saudara kadang-kadang ingin selalu dekat dengan pasangan hidup saudara? Kadang-kadang inginnya hanya ngomong-ngomong bersama dengan pasangan hidup saudara. Kenapa? Karena pasangan hidup saudara bisa memberikan apa yang saudara inginkan. Wah, kalau saya ngomong-ngomong dengan dia, cocok sekali. Sehingga, karena ngomong-ngomong terus, lalu lupa ke vihara! Atau Wah, saya ini kalau jalan berduaan dengan dia, senang sekali, karena saya itu bisa mengikuti jalan cepat. Kalau ingin jalan lambat sambil nonton-nonton toko, dia bisa ikut pelan, bisa mengikuti keinginan saya. Saya ketemu dengan teman-teman, dia bisa saya ajak dan tidak memalukan saya. Wah, saya bahagia.

Tetapi sebaliknya, dengan pasangan hidup juga bisa jengkel. Kenapa? Karena pasangan hidup saudara tidak memuaskan keinginan saudara sendiri. Diajak ngomong-ngomong: Bagaimana ya, situasi politik zaman sekarang? Langsung pasangan hidupnya menjawab: Iya, situasinya tidak enak. Coba, harga bawang sekarang naik. Ditanya: Bagaimana keadaan vihara sekarang, apakah banyak kemajuan? Jawabnya: Ya, cukuplah. Tapi umat vihara yang dulu itu pernah pinjam sendok, tidak dikembalikan. Padahal sendoknya antik, itu. Bagaimana ya caranya kita minta kembali sendoknya sama dia? Wah, ini sudah tidak cocok. Yang ditanya tentang vihara, jawabannya tentang sendok. Yang ditanya soal politik, jawabannya bawang merah, bawang putih. Sudah tidak karuan ini. Ah, malas saya ngomong-ngomong sama dia, enakan ke vihara, pelarian. Daripada di rumah jengkel terus, stress, lebih baik ke vihara saja, dengar-dengar Dhamma atau kadang-kadang di vihara ngaco-ngaco saja, bisa juga begitu. Nah, saudara, mengapa kita jengkel dengan pasangan hidup kita? Karena kita tidak ingin pasangan hidup kita itu melakukan demikian. Sebaliknya kalau jalan; saya ingin cepat, pasangan hidupnya pelan. Saya ingin pelan sambil nonton-nonton toko, dia malah ngebut, mau cari toilet! Bagaimana ini? Wah tidak cocok. Lebih baik jalan sendiri saja. Kenapa? Karena keinginan tidak tercapai. Begitu juga kalau ketemu teman-teman, diajak ngomong-ngomong. Teman-teman bertanya, Bagaimana ini pasangan hidupmu, bahagia ya, hidup rukun-rukun? Langsung sang istri pasang muka merengut: Rukun apa. Itu kan hanya di depan umum. Kalau di belakang, dia ngomel-ngomel terus sama saya, malah pernah mukulin saya juga, koq. Sang suami lalu berpikir, Wah, ini menjatuhkan martabat dan gengsi. Bisa repot. Ini memalukan saya. Sehingga istri tidak diajak jalan-jalan lagi.

Nah, dari contoh-contoh tersebut, jelaslah kenapa kita senang sama orang, kenapa kita tidak senang sama orang. Itu semua karena keinginan kita. Kalau keinginan tercapai, saya senang. Kalau keinginan tidak tercapai, saya tidak senang. Bukan hanya dengan pasangan hidup atau orang, dengan benda, rumah/tempat, dengan musik, bacaan, apa saja, semuanya tergantung kepada kesenangan saudara. Kalau kesenangan tercapai, saudara senang, cinta, bahagia. Kalau kesenangan atau keinginan tidak tercapai, saudara jengkel, emosi, marah. Kalau demikian, dapat kita simpulkan bahwa marah adalah karena keinginan kita, setuju?

Kalau sekarang marah itu adalah karena keinginan, maka begitu kita marah, hendaknya kita segera menyadari: "Ini keinginan saya. Saya ingin apa sih? Saya ingin dia pintar seperti ini. O..., lalu saya lihat kemampuannya, dia tidak bisa, ya sudah. Keinginan saya, saya turunkan. Tidak usah terlalu menuntut. Kalau kita hanya memegang keinginan saja, Pokoknya dia harus bisa menuruti omongan saya, maka kita akan menderita. Menderita karena keinginan kita sendiri.

Dengan bisa memaklumi kekurangan orang lain, dan mengubah cara berpikir atau keinginan kita, kita dapat mengurangi kemarahan. Jangan terlalu menuntut terhadap orang lain, karena semua orang, semua barang, semua benda itu ada kelemahannya, ada kekurangannya.

Jadi kalau saudara marah, ingat baik-baik: "Ini toh karena keinginan saya. Lalu bagaimana renungannya supaya tidak sering marah? Bagaimana mengendalikan kemarahan? Kita merenungkan demikian: Dia punya kekurangan, tetapi juga punya kelebihan; demikian pula dengan saya. Tiada lagi kemarahan di dalam diri saya. Nah, inilah mantranya. Mantra agar tidak marah. Kalau kita mulai jengkel atau marah kepada seseorang, kita merenungkan atau langsung mengatakan: Dia memang punya kekurangan, tapi juga punya kelebihan. Begitu pula dengan saya. Tiada lagi kemarahan di dalam diri saya. Melakukan perenungan ini, kalau pagi bangun tidur diulang 5 kali, malam mau tidur diulang 5 kali. Dan mulai membaca mantra ini sejak hari ini. Kenapa demikian? Saya 'kan belum marah sama dia? Itu memang benar. Tapi ini untuk siap-siap menghadapi munculnya marah itu. Sama seperti saudara belum ketemu maling, tapi saudara sudah belajar kungfu. Jangan belajar kungfu kalau malingnya sudah datang. Keburu benjol semua kepala saudara. Belajar kungfu itu kalau malingnya belum datang, otomatis jurusnya keluar. Demikian juga dengan kemarahan. Jangan menunggu akan marah, baru merenungkan mantra itu. Mulailah sejak sekarang, mumpung belum marah. Walaupun saudara adalah pasangan hidup yang serasi, saudara hendaknya mulai berpikir demikian. Walaupun di pergaulan saudara tidak ada masalah, mulailah saudara berpikir begitu. Sehingga nanti kalau ketemu teman di organisasi yang menjengkelkan, saudara akan berpikir: Walaupun dia punya kekurangan, toh dia juga punya kelebihan. Saya akan mengingat-ingat kelebihannya.

Dengan demikian maka kejengkelan kita bisa kita kurangi, karena sumber kejengkelan adalah pikiran kita, keinginan kita sendiri. Karena kita ingin dia sempurna, dan tidak ingin dia tidak sempurna. Siapakah yang sempurna dalam dunia ini? Tidak ada yang sempurna. Inilah yang perlu kita renungkan di dalam hati. Jangan ngomong dia punya kelebihan dulu, karena kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak. Kesalahan orang sedikit saja nampak, tetapi kebaikannya meskipun banyak, tidak nampak. Karena itu kesalahan pada orang lain lebih mudah dilihat daripada kelebihan dia. Karena itu kita ngomong dulu kekurangannya pada mantra perenungan kita: Memang dia punya kekurangan, tapi dia pasti punya kelebihan. Begitu pula saya. Tiada lagi kemarahan di dalam diriku. Ini direnungkan terus. Kalau direnungkan terus, maka dalam waktu 1 tahun saya akan melihat ukiran-ukiran di Gunung Kawi, yang berupa kejengkelan-kejengkelan, emosi, kebencian, kemarahan, semuanya menjadi hancur, lumat, rata dengan tanah. Tidak ada lagi emosi di dalam diri saudara.

Tetapi ukiran-ukiran Gunung Kawi yang baik-baik, dengan mengenalkan Dharma kepada lingkungan, keluarga, rekan-rekan dan kerabat saudara, akan terus berjaya untuk waktu yang tak terbatas. Dan kalau saudara bisa mengembangkan hal ini —ukiran yang positif bisa dipertahankan, ukiran yang negatif tidak dilakukan—, maka kebahagiaan akan menjadi milik saudara. Kebahagiaan tidak hanya saudara alami di dalam kehidupan ini, tetapi kebahagiaan juga akan saudara alami setelah kehidupan saudara hidup di duni aini. Artinya saudara pun akan bisa terlahir di surga karena kebaikan saudara. KTP saudara Buddhis, juga bisa lahir di surga. Umat Buddha kapal selam juga bisa lahir di surga. Umat Buddha yang sungguh-sungguh, akan terlahir di surga untuk waktu yang lama dan berkali-kali.

Oleh karena itu lakukanlah kebaikan, karena kebaikan yang dilakukan akan membuahkan kebahagiaan, baik di dalam kehidupan ini, maupun di dalam kehidupan-kehidupan yang selanjutnya.


Semoga semua makhluk, baik yang tampak maupun yang tidak tampak akan memperoleh kebahagiaan lahir dan batin, sesuai dengan kondisi karma masing-masing.

Wednesday, December 8, 2010

Tujuan Hidup Yang Ideal


Tujuan Hidup Yang Ideal 

OlehYang Mulia Bhikkhu Saddhaviro





Dhamma akan melindungi mereka yang mempraktikkannya.


Bapak, ibu, dan saudara-saudara sedhamma yang berbahagia pada kesempatan yang sangat baik ini kita akan membicarakan mengenai tujuan hidup yang ideal. Saya akan mulai dengan cerita cerita yang ada hubungannya dengan tujuan hidup.

Contoh orang pertama:
Ada seorang manusia yang mengalami kesulitan di dalam hidupnya, baik persoalan keluarga maupun persoalan pribadi lainnya. Dia merasakan hidup ini sungguh sulit, sampai-sampai hampir mau mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena merasa tidak kuat menanggung beban hidup ini. Akhirnya dia coba-coba datang ke vihara dan berkonsultasi dengan saya. Setelah dia menceritakan semua unek-uneknya, akhirnya dia bertanya, apa sih yang sebenarnya tuyjuan hidup ini, Bhante? Dalam hati saya mengatakan, andai ./['p\kesulitan-kesulitan hidup yang diderita orang itu h8ilang, pasti dia tidak akan bertanya tentang apa sih tujuan hidup itu. Karena kesulitan yang melilit pada dirinya itu, membuat dia bingung hingga tidak tahu apa tujuan hidupnya ini.

Contoh orang kedua:
Orang yang kedua ini tidak seperti orang yang pertama. Dia tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya. Secara materi dia mampu , apa yang diinginkan bisa terkabul. Namun setelah menikmati keberhasilannya, setelah menuruti keinginannya, sesekali di malam sepi dia merenung, Oh hidup ini kok begini, hidup seolah-olah hanya monoton, pagi bangun, setelah bangun bekerja ke kantor, setelah mengerjakan perkerjaan dikantor, sore pulang menemui keluarga, dan malam hari tidur; pagi bangun lagi, bekerja lagi, dan seterusnya. Rutinitsq kehidupan ini membuat ia bertanya kepoada dirinya apa sih tujuan hidup ini. Pertanyaan yang sama dengan orang pertama tadi, walaupun dalam kondisi yang berbeda. Dalam hati, saya berkata, Oh orang ini bergelimangan dengan kekayaan duniawi, tetapi kekayaan batin atau kebutuhan rohaninya tidak terpenuhi, sehingga dia tidak tahu arah atau tujuan hidup ini.

Contoh orang ketiga:
Orang ini mempunyai pertanyaan yang sama, walaupun latar belakangnya berbeda dengan orang yang pertama dan kedua. Setelah dengan tekun dan serius ia berlatih Vipassana selama 10 haru penuh, dimana gurunya selalu menyuruh dia mengamati tentang anicca - tentang muncul, bertahan, lenyap -, begitu terus-menerus ia mengamati hal-hal yang berkaitan dengan jasmani dan batin itu, lalu ia merasa cocok dengan latihan itu.. Tetapi akhirnya ia juga bertanya, apa sih tujuan hidup ini?

Hidup kita ini panjang, sampai Sang Buddha memberikan kiasan bahwa air mata yang kita teteskan kalau mengalami kesedihan, kesusahan dalam hidup ini, melebihi banyaknya empat samudra. Karena kalau kita kumpulkan air mata kita dari kehidupan-kehidupan yang dulu, sekarang dan yang akan datang itu, akan melebihi 4 samudra, karena kehidupan kita ini sangat panjangnya. Kalau kita tidak tahu apa tujuannya, sangatlah berbahaya, seperti 3 cerita tadi. Sebagai pelajar atau mahasiswa, kita mempunyai tujuan yaitu untuk mendapatkan ijazah atau yang lebih mendasar lagi, memberantas ketidak tahuan atau kebodohan, karena kebodohan itu membawa sengsara dalam kehidupan ini. Bagi anda yang sebagai kaumcvfgrt pebisnis, mempunyai tujuan mendapatkan keuntungan. Begitu pula kaum politikus, mempunyai target-target atau tujuan-tujuan dalam kehidupannya. Itu adalah tujuan dalam perjalanan atau jangka pendek kita. Tetapi kalau hidup yang begitu panjang, seperti kiasan Sang Buddha tadi, lalu tidak mempunyai tujuan, amatlah berbahaya, saudara. Maka dari itu, saya mengajak saudara untuk memilih tujuan hidup yang ideal. Karena kalau kita tidak memilih yang ideal, kita akan lelah mengarahkan langkah kita. Setelah tercapai loncat lagi.

Pada umumnya orang hidup, ingin:
Kaya
Berkuasa
Tenar atau populer
Berumah tangga

Sang Buddha tidak melarang tujuan-tujuan umum tadi, namun itu bukan tujuan hidup yang ideal dalam kacamata Buddha Dharma, melainkan bagaimanahidup ini bisa berbahagia, inilah tujuan hidup yang ideal. Anda mau berumah tangga, tidak menjadi bhikkhu, silakan. Anda tidak berumah tangga dan mau menjadi bhikkhu, silakan. Yang penting anda berbahagia. Inilah yang berharga. Namun kita sulit diarahkan, diajak ke dalam dasar kehidupan yang ideal ini. Orang-orang sudah tercengkeram dengan pola umum ini sejak kecil, walaupun pola umum itu akan membawa beban dalam kehidupannya. Contohnya, pola umum hidup mau berumah tangga. Begitu ibu-ibu dan bapak-bapak melihat anak perempuannya sudah berusia 25 tahun dan laki-laki berusi 30 tahun tetapi belum mendapatkan pasangan, sebagai orangtuannya lalu menjadi resah dan beban itu adalah kerana kita salah meletakkan pola hidup kita, oleh peimikiran yang klurang tepat pada kehidupan ini.

Padahal Sang Buddha tidak menegaskan bahwa hidup ini harus berumah tangga, tetapi hidup harus bahagia. Karena kehidupan ini sudah merupakan penderitaan, maka bagaimana kita bisa mengatasi penderitaan itu. Sang Buddha mengajarkan Dhamma supaya kita hidup bahagia, tidak harus berumah tangga dan juga tidak harus menjadi bhikkhu. Tetapi kita sudah tersedot oleh polah umum tadi. Kalau kita sudah berumah tangga, berhentikah tujuan hidup kita sebagai perumah tangga? Ternyata tidak. Setelah berumah tangga kurang lebih 10 tahun, tapi belum dikaruniai anak, orang ini kembali resah. Orang hidup berumah tangga pada umumnya yang diharapkan adalah mempunyai anak. Ini pandangan pada umumnya, tidak pada kebenarannya. Kalau pada kebenarannya kita harus bahagia, tapi pada umumnya harus mempunyai anak. Karena rumah tangga harus mempunyai anak, maka di situ telah lahir beban. Yang rugi adalah kita bseagai perumah tangga. Padahal Sang Buddha menegaskan, kita harus bahagia, dan tidak mengharuskan mempunyai anak. Karena pila umum tadi harus mempunyai anak, agar di hari tua nanti ada yang mengurus kita. Tapi itu bukan jaminan. Kalau karma buruk orangtua itu berbuah, walaupun mereka mempunyai anak 12 orang, tetap saja di hari tuannya tidak ada seorangpun yang dari anaknya yang mau mengurus irangtua itu. Sungguh merupakan penderitaan lain lagi bagi orangtua tersebut. Kalau saudara berpikir, bila mempunyai anak nanti pasti anaknya akan menolong orangtuanya, itu belum tentu. Ada kasus lain, orang ini tidak mempunyai anak karena dia masih bujang dan menjadi seorang bhikkhu. Karena telah begitu banyak berbuat baik dan sering menolong orang, di hari tuannya ia tidak takut tidak ada orang yang mau menolongnnya. Malah yang mau merawatnya pada rebutan, pada hal ia tidak punya anak. Tapi karma baiknya bicara.

Jadi seandainya bapak atau ibu sudah berumah tangga 10 tahun belum juga mempunyai anak, janganlah berkecil hati. Karena menurut agama Buddha atau menurut tujuan hidup yang ideal, anak bukanlah tujuan hidup. Itu hanyalah berdasarkan pola umum tadi yang mengharuskan mempunyai anak.

Kita bisa mempunyai anak karena ada karma baik di masa lampau. Setelah mempunyai anak, kita berharap lagi agar mendapatkan anak yang baik, tidak nakal, tapi ternyata anaknya nakal. Orangtua menasehati dua patah kata, anaknya sudah menjawab lima patah kata. Kadang-kadang saking jengkelnya si orangtua bertanya kepada anaknya, "Kamu ini anak siapa?", karena tidak sesuai dengan sifat orangtuannya. Kalau kita mempunyai tujuan yang sifatnya umum tadi, sudah tercapai, setelah mempunyai anak, tentunya anak yang baik kita arahkan lagi untuk mendapatkan menantu yang baik. nanti setelah mendapatkan menantu yang baik, tujuan anda bergeser lagi. Tentu saja ini melelahkan perjuangan anda di dalam kehidupan ini. Maka dari itu, saya mengajak saudara-saudara untuk mengubah cara pandang yang semacam ini. Kita arahkan kepada yang pasti, yaitu kepada kebahagiaan. Berumah tangga tidak masalah, tidak berumahtangga juga tidak masalah. Menjadi bhikkhu tidak masalah, yang penting bahagia. Punya anak tidak masalah, tidak punya anak juga tidak masalah. Punya anak yang baik atau punya anak yang tidak baik, itu tidak masalah, yang penting bahagia. Jangan yang penting hidup berumah tangga. Pernah saya ditanya oleh seseorang. Apakah bhikkhu boleh menikah? Lalu saja jawab., "Selama menjadi bhikkhu memang tidak boleh menikah, kecuali kalau sudah tidak tahan menjadi seorang bhikkhu dan menjadi umat awam kembali, dia bisa melakukan pernikahan". Bapak ini bertanya lagi, "Pak bhikkhu, apakah bapak bhikkhu dengan tidak menikah itu tidak menyalahi kodrat Tuhan yang dikatakan lahir perpasangan?". Saya menjawab, "kalau memang Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, mengapa kok ada juga yang mencari kesana kemari sampai akhirnya meninggal dunia juga tidak menemukan pasangannya? Dan perlu bapak ketahui yagn dikatakn menciptakan berpasangan itu adalah tidak perpasangan. Karena tuhan itu tidak perpasangan, jadi kalau saya ini tidak perpasangan, itu adalah karena ingin menuju hakekat Ketuhanan itu sendiri".

Menurut pandangan umum, memang hidup itu harus berpasangan, tetapi menurut agama Buddha tidak harus berpasangan, melainkan bagaimana hidup ini harus bahagia. Ityu saja yang harus dicapai dalam kehidupan ini.

Dalam mencapai bahagia, terdapat 2 macam cara, yaitu:
  1. Kebahagiaan yang bermata kail
  2. Kebahagiaan yagn tidak bermata kail
1. Kebahagiaan yang bermata kail, contohnya adalah kebahagiaan yang kita dapatkan melalui indera-indera kita, yaitu melalui mata melihat yang indah, kuping mendengar yang merdu-merdu, kulit merasakan sentuhan yang nikmat, mulut merasakan makanan yang enak, hidup mencium bauk yang menyenangkan. kebahagiaan ini adalah kebahagiaan awal. kebahagiaan yang sangat mudah kita dapatkan, namun sering mebuat malapetaka dalam kehidupan kita. Itu karena kebahagiaan ini diikuti oleh kemelekatan, diikuti oleh ketagihan dan kalau tidak dipenuhi kita akan tersiksa.

2. Kebahagiaan yang tidak bermata kail. bisa didapatkan dari olah kejiwaan, latihan berpuasa dan latihan meditasi. Dengan meditasi kita akan mendapatkan kegiuran, dan dengan meditasi akan mendapatkan jhana, ketenangan. Itulah yang disebut kebahagiaan yang tidak bermata kail, karena kebahagiana yang kita capai berasal dari diri kita sendiri, bukan berasal dari luar diri kita. Kalau diibaratkan air, kebahagiaan yang bermata kali itu diibaratkan seperti air yang berada di dalam kolam. Air hanya akan ada di sana kalau ada yang mengisinya, entah itu dari huajan atau dari orang yang mengisi kolam tersebut. Begitu air tersebut kita gunakan untuk mencuci, mandi dan sebagainya, maka air kolam itu bisa menjadi habis kalau tidak diisi lagi. Kalau diiisi lagi, bermata kali lagil itu kebahagiana yang pertama tadi. Kebahagiaan yang kedua, yaitu kebahagiaan dari dalam diri kita, ibaratnya air di dalam sumur yang menang airnya keluar dari dalam. Pagi kita pakai mencuci, siang mandi, sorenya sudah terisi lagi, tanpa perlu ada yang mengisi sumur itu. Airnya akan mengalir dengan sendirinya.

Teori-teori kebahagiaan bagi umat awam:
  1. Bahagia karena mempunyai kekayaan. Pengertiaan di sini adalah kita boleh mencari kekayaan sebanyak-banyaknnya, asalkan jangan sampai kekayaan itu menyiksa kita, jangan sampai kekayaan itu tidak mampu melahirkan kebahagiaan dalam kehidupan kita ini, mengingat tujuannya yang ideal dalam hidup ini adalah bahagia. Setelah seseorang bekerja membanting tulang, waktu orang ini berpikir, saya mempunyai rumah, mobil, tanah, dan sebagainya, maka kebahagiaan akan muncuk, kepuasan akan muncul. Itulah yang dikatakan kebahagiaan yang karena memiliki kekayaan.
  2. Kebahagiaan karena bisa menggunakan kekayaan. Setelah kita kaya, kita bisa membantu orang lain. Dan setelah tahu karena bantuan kita orang lain yang kita bantu itu bisa terbebas dari kesulitan, pada saat berpikir demikian, kebahagiaan akan muncul di dalam diri kita. Itulah yang dikatakan kebahagiaan karena bisa menggunakan kekayaan.
  3. Kebahagiaan apabila tidak mempunyai hutang. Dengan tidak mempunyai hutang. Kita tidak akan merasa gelisah karena dikejar-kejar oleh si penagih hutang.
  4. Kebahagiaan karena perbuatan kita baik atau perbuatan kita tidak tercela. Apabila kita tidak mempunyai perbuatan-perbuatan yang tercela di masyarakat, kita akan mendapatkan kebahagiaan. Dengan tidak berbohong, kita tidak akan diganggu oleh kebohongan kita. Orang lain memang bisa kita bohongi, tetapi kebohongan yang kita lakukan itu tidak bisa kita ikut sertakan kepada orang lain. Kebohongan yang kita lakukan itu mengikuti kita, bukan mengikuti orang lain.
Tiga tahapan atau cara lain untuk mendapatkan kebahagiaan, yang berkaitan dengan keinginan:
  1. Bahagia karena tercapainya keinginan kita.
  2. Bahagia karena terkendalinya keingian kita, bisa menjaga emosi kita.
  3. Kebahagiaan karrena berhasil memadamkan keinginan kita.
Itulah cara-cara untuk mendapatkan kebahagiaan.

Kesimpulannya: apabila kita hidup sesuai dengan Dhamma, kita akan bahagia, baik pada saat ini maupun saat yang akan datang. Inilah tujuan hidup yang ideal.

(Sumber : Ceramah Dhamma, disadur oleh: Panitia Ceramah Dhamma VIhara Buddha Sakyamnuni, Denpasar, diedit oleh: Ir Lindawati T. Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XIV, atas izin Ir. Lindawati T)

[ Dikutip dari Majalah Buddhis Indonesia edisi 78 ]

Sunday, December 5, 2010

Suara Keheningan



Suara Keheningan
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Ajahn Sumedho


Sewaktu Anda menjadi semakin tenang, Anda akan dapat mengalami suara keheningan di pikiran. Anda mendengarnya sebagai bunyi yang berfrekwensi tinggi, suatu bunyi dering yang selalu ada. Biasanya bunyi itu tidak pernah diperhatikan. Kini ketika Anda mulai bisa mendengar suara keheningan, bunyi itu merupakan tanda kekosongan - tanda keheningan pikiran. Anda selalu dapat kembali padanya. Bila Anda berkonsentrasi pada suara itu dan melihatnya, maka suara itu dapat membuat Anda merasa sangat damai dan bahagia. Sementara bermeditasi dengan obyek keheningan itu, Anda membiarkan kondisi-kondisi pikiran berhenti tanpa menekannya dengan kondisi yang lain. Kalau tidak, Anda hanya akan berakhir dengan tumpukan satu kondisi di atas kondisi-kondisi lainnya.
Proses menumpuk suatu kondisi di atas kondisi-kondisi lain itulah yang dimaksud dengan "membuat kamma". Misalnya, ketika Anda merasa marah, kemudian Anda mulai memikirkan hal lain untuk melarikan diri dari kemarahan itu. Anda tidak menyukai apa yang sedang terjadi di sini, jadi Anda menoleh ke sana. Berarti Anda melarikan diri. Tetapi jika Anda memiliki cara untuk berpindah dari fenomena yang terkondisi menuju yang tidak terkondisi, maka tidak akan ada kamma yang dibuat, dan kebiasaan-kebiasaan yang terkondisi itu akan memudar serta berhenti. Ini seperti suatu "katup pengaman" di pikiran, suatu jalan keluar, sehingga bentukan-bentukan kamma (sankhara) Anda, mempunyai jalan keluar, jalan untuk mengalir ke luar, bukan berlipat-ganda menciptakan sankhara-sankhara baru.
Satu masalah dalam meditasi adalah: banyak orang yang menganggap meditasi itu membosankan. Orang menjadi bosan dengan kekosongan. Lalu ingin mengisi kekosongan itu dengan sesuatu. Maka kita harus benar-benar sadar, bahwa walaupun pikiran tampaknya sangat hening, namun nafsu-nafsu keinginan dan kebiasaan-kebiasaan lama masih ada di sana. Nafsu-nafsu dan kebiasaan-kebiasaan itu akan datang dan menginginkan sesuatu yang menarik. Karena itu Anda harus sabar, bersedia untuk tidak memberikan perhatian pada kebosanan itu dan tidak menanggapi nafsu keinginan untuk melakukan sesuatu yang menarik. Merasa puaslah dengan kekosongan dari suara keheningan itu. Dan Anda harus bertekad kuat untuk memperhatikan kekosongan dari suara keheningan itu.
Tetapi ketika Anda mulai bisa mendengarkan dan memahami pikiran dengan lebih baik, ada kemungkinan bagi kita untuk merealisasikannya. Setelah berlatih bertahun-tahun, bentukan-bentukan kamma yang kasar akan melemah, sedangkan yang lebih halus juga mulai memudar. Pikiran menjadi lebih tenang dan jernih. Tetapi ini semua membutuhkan kesabaran, daya tahan, kesediaan untuk terus berpraktek di dalam segala kondisi, serta kesediaan untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang paling disenangi.
Orang mungkin percaya bahwa suara keheningan itu memang ada, atau bahwa itu merupakan suatu pencapaian. Tetapi yang penting dalam meditasi sebenarnya bukan pencapaian ini atau itu, melainkan perenungan kebijaksanaan tentang apa yang Anda alami. Cara untuk berefleksi adalah: bahwa apapun yang datang akan pergi; dan latihan ini merupakan latihan untuk mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya.
Saya tidak akan memberi Anda identitas apapun —tidak ada apapun yang dapat dilekati. Ketika mendengar suara itu, beberapa orang ingin tahu, "Apakah itu tingkat sotapanna (pemasuk arus)?" atau "Apakah kita memiliki jiwa?" Kita amat melekat pada konsep-konsep. Apa yang dapat kita ketahui hanyalah bahwa kita ingin mengetahui sesuatu, kita ingin memiliki label untuk "diri" kita. Jika ada keraguan tentang sesuatu hal, keraguan akan muncul dan kemudian ada nafsu yang menginginkan sesuatu. Tetapi latihan ini adalah latihan untuk melepas. Kita bertahan dengan apa yang ada saat itu, mengenali kondisi sebagai kondisi dan mengenali yang tak-terkondisi sebagai tak-terkondisi. Sesuatu yang sangat sederhana, sebenarnya.
Bahkan aspirasi keagamaan pun harus dilihat sebagai suatu kondisi saja! Bukan berarti bahwa Anda lalu tidak boleh memiliki aspirasi, tetapi Anda harus mengenali aspirasi itu sendiri sebagai sesuatu yang terbatas. Dan kekosongan pun bukanlah "diri". Kemelakatan terhadap ide kekosongan itupun kemelekatan, jadi itu harus dilepas! Dengan demikian, prakteknya menjadi praktek memalingkan diri dari fenomena yang terkondisi, bukan menciptakan kondisi baru lagi di sekeliling kondisi-kondisi yang sudah ada. Dengan demikian, apapun yang muncul di dalam kesadaran Anda - kemarahan atau keserakahan atau apapun - Anda tahu bahwa hal itu ada di sana, namun Anda tidak melakukan apapun terhadapnya. Anda dapat menoleh pada kekosongan pikiran, pada suara keheningan. Ini memberi jalan keluar bagi suatu kondisi (misalnya kemarahan) untuk berhenti; Anda membiarkannya pergi.
Kita memiliki kenangan tentang apa yang telah kita lakukan di masa lampau, bukan? Kenangan-kenangan itu muncul di dalam kesadaran bila ada kondisi-kondisi yang pas untuk memunculkannya. Itu adalah buah kamma karena kita telah melakukan sesuatu di masa lampau, telah bertindak karena kebodohan batin, dan melakukan sesuatu karena keserakahan, kebencian dan salah pandangan, dan sebagainya... Bila kamma itu datang di masa kini, orang masih mamiliki dorongan bagi keserakahan, kebencian dan salah pandangan yang muncul di pikiran sebagai buah kamma. Jika kita bodoh sehingga melakukan sesuatu karena bereaksi terhadap ini semua, jika kita tidak memiliki perhatian/kewaspadaan (sati), maka kita semakin banyak menciptakan kamma lagi.
Ada dua cara bagi kita untuk menciptakan kamma: dengan mengikutinya, atau berusaha untuk terbebas darinya. Jika kita berhenti melakukan kamma, siklus kamma memiliki kesempatan untuk berhenti. Buah kamma yang telah munculpun mempunyai jalan keluar, mempunyai "katup lolos" untuk dapat menuju penghentian.


Pengabdian Tiada Henti, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia(Naskah Asli: The Sound of Silence, Diambil dari buku: THE WAY IT IS, Penerbit: Amaravati Buddhist Monastrery-England.)

Saturday, November 27, 2010

Marilah Kita Mengadu Kekuatan



Marilah Kita Mengadu Kekuatan

Oleh Pandita. Dharma Mitra (Peter Lim)






"Memahami dharma (kebenaran) dengan sepenuhnya dan bebas dari kerinduan karena memiliki pandangan terang, orang bijak tersebut bebas dari semua nafsu keinginan, dan tenang bagaikan kolam yang tidak terkacaukan oleh angin."Itivuttaka 91.


Membaca judul yang diatas, spontanitas anda pasti akan kaget ! Betul'khan....? Mengapa....? Karena tidak sesuai dengan prinsip dan landasan dari Buddha Dharma (ajaran Sang Buddha), yang meng 'haram' kan segala bentuk dari kekerasan kekerasan, disamping senantiasa berpedoman pada cinta kasih serta kasih sayang. Yang akan dibicarakan disini, bukanlah bentuk dari kekuatan fisik atau materi, yang bisa mengalahkan atau menghancurkan pihak pihak lain. Tetapi adalah salah satu dari bentuk kekuatan kebajikan (pasti berdampak positif), yang mana bisa menimbulkan kedamaian, ketentraman, kesejahteraan & kebahagiaan bagi makhluk makhluk hidup lainnya. Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat lima kekuatan, yang bisa (pasti) memberikan hasil yang optimal (kebahagiaan) dan telah terbebas dari keduniawian serta selalu berdampak positif, baik bagi sipemilik maupun pihak-pihak lain, yang ada disekitarnya. Kelima kekuatan (panca balam) tersebut adalah :

a. Saddha balam : kekuatan keyakinan.
Mengenai kekuatan keyakinan ini, Sang Buddha menyabdakan :
"Duhai para bhikkhu, para siswa (bhikkhu & umat) dalam Buddha Sasana (ajaran Nya, Sang Buddha) yakin akan sifat sifat luhur Sang Buddha, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna Pengetahuan serta tindak tanduk Nya, sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal semua alam; Pembimbing Manusia, Yang Tiada Taranya, Guru Para Dewa & Manusia, Yang Sadar (bangun), Yang Layak Dimuliakan. Inilah kekuatan keyakinan.".

Dalam hal ini, umat Buddha hendaknya telah yakin & seyakin yakinnya meyakini bahwa Sang Buddha adalah manusia yang telah tercerahi (suci & mulia) & oleh karena itu, maka sudah seyogyanya disetiap derap langkah yang akan, sedang dan telah dilalui, selalu sesuai (berpedoman) dengan jalur dharma (kebenaran), yang tidak merugikan pihak lain disamping dampaknya yang positif.

b. Viriya balam : kekuatan semangat.

Berkenaan dengan kekuatan semangat ini, Sang Buddha menyabdakan :
"Duhai para bhikkhu, siswa siswa yang baik dalam Buddha Sasana ini, hendaknya senantiasa bersemangat untuk menghindari akusala karma (perbuatan perbuatan jahat), bersemangat untuk banyak berbuat kusala karma (perbuatan perbuatan baik). Mereka tekun, teguh, tidak mudah patah semangat, memperhatikan kusala dhamma) (hal-hal yang baik). Inilah kekuatan semangat."

Pada kekuatan semangat ini, kita diarahkan (dibimbing) oleh Sang Buddha, untuk senantiasa menghindari segala bentuk dari perbuatan-perbuatan jahat, dalam kondisi, keadaan & suasana yang bagaimanapun juga. Disamping itu, juga selalu berkreasi pada hal hal yang baik, yang mana bermanfaat bagi diri sendiri dan juga makhluk-makhluk hidup lainnya, yang ada disekitar kita. Dan perbuatan perbuatan baik yang dilakukan, hendaknya telah terbebas dari niat-niat terselubung (jahat) atau adanya pamrih akan ini & itu. Di dalam konsep Buddhis ditegaskan bahwa tidaklah logis, pantas atau dibenarkan, melakukan perbuatan perbuatan baik, yang hanya didasarkan pada keseragaman bangsa, suku, bahasa atau agama. Perbuatan perbuatan baik yang hendak atau akan dicurahkan, haruslah telah terbebas dari ikatan ikatan atau unsur unsur diskriminasi. Penggambarannya, tidaklah berbeda dengan pancaran sinar matahari yang menerangi bumi (segenap pelosok), yang tanpa adanya perbedaan perbedaan.

c.Sati balam : kekuatan kesadaran.

Berhubungan dengan kekuatan kesadaran ini, Sang Buddha menyabdakan :
"Duhai para bhikkhu, siswa siswa yang baik dalam Buddha Sasana ini, hendaknya telah memiliki kesadaran yang baik, mengingat tindakan yang pernah diperbuat dan telah dibuat masih di ingat, mengingat perkataan yang pernah diucapkan & yang telah dibicarakan masih diingat. Inilah kekuatan kesadaran."

Maknanya adalah kita telah memiliki kesadaran bahwa apa yang akan, sedang & yang telah dilakukan. Kalau kondisi ini bisa dipenuhi maka kita akan memiliki suatu kemampuan, untuk bisa memilah-milah, mana yang pantas dilaksanakan dan mana yang harus dihindari. Mengapa bisa demikian...? Karena kita telah berada dalam kesadaran penuh. Umumnya, terjadinya kesalahan-kesalahan atau perbuatan perbuatan tercela, tidaklah terlepas karena lemahnya kesadaran yang dimiliki. Jadi, dengan dimiliki-nya kekuatan kesadaran maka disetiap derap langkah yang akan dilalui, telah terfilter (tersaring) dengan baik. Dan sebagai hasil (akibat) nya maka segala wujud dari penderitaan penderitaan (sebagai akibat dari perbuatan perbuatan jahat) akan bisa disirnakan.

d. Samadhi balam : kekuatan (konsentrasi).

Mengenai kekuatan ini, Sang Buddha menyabdakan :
"Duhai para bhikkhu, siswa siswa yang baik dalam Buddha Sasana ini, hendaknya telah memiliki kekuatan samadhi yang baik. Mereka memiliki samadhi yang sempurna."

Dalam hal ini adalah bisa (mampu) mengontrol, mengarahkan dan memfokuskan pikiran, pada suatu objek (sasaran), yang tidak tergoyahkan lagi oleh godaan-godaan ataupun rintangan rintangan. Jika kondisi ini telah terpenuhi maka dikala mata, telinga, hidung, lidah, kulit & pikiran tersentuh atau kontak pada objek-objek luar (menyenangkan atau tidak), tidak akan bisa (mampu) mempengaruhi bathinnya lagi.

e. Panna balam : kekuatan kebijaksanaan.

Berhubungan dengan perihal ini, Sang Buddha menyabdakan :
"Duhai para bhikkhu, siswa siswa di dalam Buddha Sasana ini, hendaknya telah memiliki kebijaksanaan. Mereka memiliki kebijaksanaan yang sempurna, yang bisa mengingat akan muncul dan lenyapnya segala sesuatu. Inilah kekuatan kebijaksanaan."

Makna dari kebijaksanaan sempurna adalah bisa menerima kebenaran kebenaran yang pasti terjadi (misalnya. : ketidak kekalan, hukum karma, berpisah dengan yg dicintai, dihina dan lain sebagainya) dan bathin senantiasa stabil (tidak tergoncangkan oleh kondisi kondisi yang bagaimanapun juga) serta selalu mengembangkan dan memancarkan cinta kasih segala penjuru.

"Ia yang meneguk rasa dharma (kebenaran) & jernih bathinnya; niscaya hidup berbahagia. Orang bijak senantiasa bergembira dalam dharma (kebenaran) yang dibabarkan oleh para Ariyawan (suciwan)."
Pandita Vagga VI : 79.


Di dalam kitab suci Sangiti Sutta Patikavagga Digha Nikaya, Sang Buddha menyabdakan bahwa faktor-faktor yang bisa menyebabkan timbulnya kebijaksanaan adalah :

  1. Cintamaya panna : kebijaksanaan yang timbul karena adanya pemikiran dan perenungan mendalam terhadap sebab dan akibat.

    Maknanya adalah menyadari & mengerti dengan sebaik baiknya bahwa tiada akibat tanpa adanya sebab yang nyata. Jadi, jika disaat kita (merasa) diperlakukan tidak sewajarnya, maka tindakan yang pertama tama sekali (seyogyanya) yang diperbuat adalah:
    a) Bertanya kepada diri sendiri (introspeksi), mengapakah perihal ini bisa terjadi....?
    b) Selalu yakin bahwa segala kondisi dan keadaan yang dialami, tidaklah terlepas sebagai hasil (akibat) dari karma, yang sudah sepantasnya diterima (dilunasi). Dalam hal ini, tidaklah logis kita menyalahkan pihak-pihak lain atas kemalangan-kemalangan yang dialami.
    c) Selalu mengembangkan dan memancarkan cinta kasih serta kasih sayang kesegala penjuru. Disamping itu, juga meyakini bahwa tidaklah mungkin kebencian akan bisa tertaklukkan dengan kebencian. Kebencian hanya bisa disirnakan dengan kekuatan cinta kasih. Itulah hukum kebenaran yang berlaku di alam semesta ini.
  2. Sutamaya panna : kebijaksanaan yang timbul karena adanya mendengar dan mengajar dharma (kebenaran).

    Maknanya, semakin banyak diketahui hal-hal yang baik dan bermanfaat maka akan semakin kuat dan mantap pula, kebijaksanaan yang dimiliki.
  3. Bhavanamaya panna : kebijaksanaan yang timbul karena adanya pelaksanaan meditasi.

    Secara garis besarnya, makna meditasi adalah mengarahkan pikiran pada suatu objek (sasaran) tertentu. Tujuan dari pelaksanaan ini adalah agar pikiran bisa dibina, difokuskan dan ditujukan pada hal-hal yang baik dan terbebas dari niat niat jahat. Pikiran yang telah terbina dan selalu terfokuskan pada hal-hal yang baik, merupakan sebab utama timbulnya kebijaksanaan. ¡°Rago doso mado moho-yattha panna nagadhati : dimana terdapat nafsu, kebencian, kemabukan dan kebodohan (tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat); disitu tidak terdapat kebijaksanaan.¡± Sanyutta Nikaya 1249.


Kesimpulan :

Di media massa, hampir setiap hari diberitakan, terjadinya perkelahian, pemukulan, pemerkosaan & bahkan pembunuhan. Mengapakah semuanya ini bisa terjadi¡¦.? Sebabnya tiada lain adalah kurangnya (tidak ada) kemampuan, untuk mengembangkan bibit-bibit ke Buddha an (kebajikan), yang telah ada dihati sanubari. Di dalam sabda Nya, Sang Buddha menyabdakan bahwa pada dasarnya (sesungguhnya), kita telah memiliki potensi dan kemampuan, untuk bisa mengembangkan kekuatan kekuatan yang ada di dalam diri kita. Kekuatan kekuatan tersebut adalah : a) Saddha balam : kekuatan keyakinan. Kalau kita senantiasa yakin bahwa perbuatan-perbuatan apapun yang akan, sedang dan telah diperbuat, pasti akan menimbulkan hasil (akibat ) maka kita akan menjauhi diri dari perbuatan perbuatan jahat. b) Viriya balam : kekuatan semangat. Kalau kita senantisa bersemangat di setiap derap langkah yang akan dilalui maka yang namanya iri (kecemburuan) atau kekurang- beruntungan yang di alami, akan bisa disirnakan setahap demi setahap. Sirna-nya kecemburuan atau kekurang-beruntungan ini, akan memotivasi seseorang, untuk senantiasa mau bertindak dan berlaku di jalur yang benar. c) Sati balam : kekuatan kesadaran. Kalau kita senantiasa sadar (mawas diri dan waspada) disetiap apa yang akan, sedang dan telah dilalui maka kita tidak akan terjerumus lagi ke tindakan-tindakan tercela dan malahan selalu sebaliknya, yaitu berbuat kebajikan. d)Samadhi balam : kekuatan samadhi. "Ada lima untai kesenangan inderawi serta pikiran sebagai yang ke-enam. Dengan mengatasi keinginan untuk memuaskan hal hal ini, orang akan bebas dari penderitaan." Sutta Nipata 171. e)Panna balam : kekuatan kebijaksanaan. Kalau di setiap gerak langkah yang akan dilalui dan selalu diliputi oleh kebijaksanaan maka akibat (hasil) nya akan senantiasa berdampak positif, baik bagi diri sendiri maupun pihak-pihak lain. "Andho yatha jotima dhitthaheyya : tanpa mata kebijaksanaan, seseorang tidak ubahnya seperti orang buta yang menginjak lentera penunjuk jalan." Khuddhaka Nikaya 1734. Berdasarkan pada ke lima jenis kekuatan (panca balam) ini, marilah kita bersama sama mengembangkan & mengadukannya. Dalam hal ini, siapakah yang terbaik atau pemenang di dalam pengembangan kekuatan kekuatan kebajikan ini....? Semoga dengan dimilikinya kekuatan kekuatan ini, dapatlah hendaknya kita kontribusikan, demi terwujudnya masyarakat yang damai, tentram, sejahtera dan bahagia. Sudah siapkah kita dalam hal ini....? Sabbe satta sabba dukkkha pamucanntu-sabbe satta bhavantu sukhitata : semoga semua makhuk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia. sadhu..... sadhu..... sadhu.....


Wednesday, November 24, 2010

Wujud Indah Kwan Im

Wujud Indah Kwan Im
Oleh Willy Yandi Wijaya



Mungkin kita tidak asing lagi dengan Avalokitesvara Boddhisattwa atau lebih terkenal dengan sebutan “dewi Kwan Im”.

Beliau dikenal sebagai dewi yang ‘mendengar’ setiap orang yang menderita…
Lalu…
Apakah kita tahu esensi dari wujud beliau….??

Terlepas dari apakah Kwan Im betul-betul nyata atau tidak secara historis, konsep Kwan Im adalah sangat indah sekali….(renungkanlah)

Beliau melambangkan suatu keadaan batin yang paling indah dan damai, yaitu welas-asih. Yang berarti cinta kasih kepada mereka yang menderita. Karena itulah beliau diwujudkan dalam bentuk seorang wanita yang memiliki seribu tangan dan seribu mata. Seribu tangan dan seribu mata yang ada di setiap telapak tangan beliau melambangkan bahwa beliau dapat melihat dengan mata-Nya dan menolong dengan tangan-Nya ke segala penjuru dunia....

Yang perlu dipahami oleh kita adalah bahwa wujud beliau yang sangat ber-welas-asih yang perlu kita tiru ketika kita memuja beliau, bukan hanya sekedar memohon-mohon. Justru ketika kita mengembangkan welas-asihlah, segala permohonan kita akan tercapai dikarenakan akibat dari perbuatan kita yang disertai dengan welas-asih.

Jika kita meyakini beliau dengan pengertian yang jelas yaitu setiap saat mengembangkan welas-asih kepada semua makhluk yang menderita dan lebih lanjut kita dapat mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas, maka kita telah selangkah lebih maju menjadi seorang Buddha.

Setiap saat—kapan dan di mana pun—kita harus senantiasa mengembangkan welas-asih dengan mengingat wujud Kwan Im dan berusaha bertindak seperti beliau yang selalu menolong mereka yang menderita

Ketika tindakan kita semua dilandasi dengan welas-asih maka…
            tidak akan ada kebencian lagi, semua akan saling mencintai
                        tidak akan ada kekerasan lagi, semua akan saling memaafkan
                                    tidak akan ada perang lagi, semua akan saling mengalah
                                                tidak akan ada kehancuran lagi, dan semua akan saling menjaga
                        Dan kehidupan kita semua akan menjadi damai…

Itulah esensi perwujudan Kwan Im yang paling indah yang perlu kita pahami dan perlu kita wujudkan dalam kehidupan nyata.