Homoseksual Dan Ajaran Theravada
Oleh AL. De. Silva
[ Dikutip dari Majalah Manggala ]
Dengan perasaan yang hancur berkeping keping, Santi (bukan nama yang sesungguhnya) meninggalkan halaman sekolah setelah membaca pengumuman, yang menyatakan bahwa dirinya tinggal kelas. Santi sangat menyesali atas keteledoran dan kesalahan jalan, yang telah ditempuh selama proses belajar berlangsung. Boleh dikatakan bahwa selama satu tahun penuh, Santi lebih menprioritaskan kegiatan hura-huranya, dari pada menekuni bidang studi yang diajarkan. Belajar baginya hanya berlaku disaat-saat menjelang ujian, itu pun asal ngulang saja. Boleh juga dikatakan bahwa selama ujian berlangsung, Santi lebih banyak memohon belas kasihan dari teman-temannya, daripada usahanya sendiri. Akhirnya setelah pembagian raport bulanan atau caturwulan, nampaklah angka angka yang memprihatinkan pada bermunculan. Setelah semuanya terjadi, apakah masih ada manfaatnya untuk disesali..? Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, hidupnya terlena dengan pergaulan yang tak tentu rimbanya. Nasehat dari guru dianggap sebagai omelan yang tidak bermakna.
Di sisi yang lain, terlihat si Madia (juga bukan nama yang sebenarnya) dengan langkahnya yang lesu, meninggalkan perusahaan tempat dia berkerja. Telah hampir 15 tahun lamanya, dia bekerja diperusahaan tersebut. Kepergiannya dari perusahaan tersebut adalah karena dipecat atas ketidak jujurannya, terhadap konsumen. Sebenarnya si Madia memiliki potensi, untuk meraih karir yang gemilang tapi sungguh di sayangkan, jalan yang ditempuh, tidaklah sesuai dengan jalur yang telah ditentukan. Dalam memenuhi ambisinya yang meluap luap, Si Madia telah menempuh jalur (jalan) yang salah. Sebagai duta perusahaan, seharusnya dia memberikan data yang akurat dan benar, mengenai manfaat dari produk yang ditawarkan, tapi dia malahan berbuat yang sebaliknya, sehingga banyak konsumen yang merasa tertipu serta kecewa. Setelah diketahui oleh pihak pimpinan, akhirnya diputuskan bahwa si Madia harus sesegera mungkin dipecat, jika tidak maka perusahaan akan mengalami kerugiaan, akibat dari ketidak percayaan konsumen, akan produk yang ditawarkan. Ambisi sich boleh saja tapi jangan sampai menyusahkan orang lain, demikian ditegaskan oleh pihak pimpinan, kepada karyawan yang lainnya. Selanjutnya, disudut suatu warung, terlihat seorang pria setengah baya, yang berusia kira kira 50 tahun, dengan pandangan mata yang kosong, nampak berkomat kamit seorang diri, tanpa memperdulikan tatapan orang orang di sekitarnya. Pria setengah baya tersebut, sebelumnya adalah seorang pejabat yang cukup terhormat tetapi karena keserakahan nya serta menghalalkan segala macam cara, akhirnya dipecat oleh atasannya. Dan masih banyak lagi dijumpai, seseorang mengalami penderitaan, yang jalan yang bisa dijadikan pedoman. Didalam kitab suci Bojjhanga sutta, Sang Buddha menyabdakan bahwa ke 7 jalan ini, akan dapat melindungi diri kita dari jurang derita dan pasti menuntun ke pantai bahagia.
Ketujuh jalan tersebut adalah :
Sati (perhatian benar)
Di dalam mengawali pikiran, tutur kata maupun perbuatan jasmani, hendaknya dimiliki perhatian yang baik, agar tidak menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain. Sati dalam hal ini, lebih ditekankan pada sila (moral) yang baik, didalam setiap derap langkah yang akan dilalui. Begitu kita mengawali suatu perbuatan, baik melalui pikiran, tutur kata maupun tindakan badan jasmani, renungkanlah terlebih dahulu ,akan dampaknya jika atau setelah dilaksanakan. Renungkanlah terlebih dahulu kemungkinan yang bakal timbul, jika unsur kebahagiaan yang lebih dominan muncul maka sudah seyogianya dilanjutkan, tetapi jika sebaliknya yang terjadi, maka sudah sepantasnya dihentikan sedini mungkin. Orang yang telah memiliki Sati, tidak akan menyesali perbuatan yang telah diperbuat dan malahan bangga serta puas, akibat/hasil dari perbuatannya, karena selain tidak berdampak negatif tetapi malahan menimbulkan kebahagiaan. Orang yang telah memiliki Sati, tidak akan mau melakukan perbuatan tercela demi pemuasaan ambisinya. Di manapun dia berada, akan selalu dipuji dan disanjung, atas kemuliaan "sila : moral" atau tingkah lakunya. "Apetacittena na sam-bhajeyya : Janganlah tinggal dan makan bersama dengan orang yang tidak mempunyai PERHATIAN" demikianlah yang telah disabdakan oleh Sang Buddha.
DHAMMAVICAYA (Meneliti dan Menyelidiki Kebenaran).
Buddha Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha, bukanlah untuk dipercaya begitu saja tetapi terlebih haruslah diteliti dan diselidiki kebenarannya. Sang Buddha selama 45 tahun membabarkan ajaran NYA , tidak pernah menyatakan sekalipun, bahwa ajaran NYA lah yang terbenar, dibandingkan ajaran yang lain. Beliau selalu menekankan akan pentingnya, untuk meneliti dan menyelidiki terlebih dahulu, sebelum suatu ajaran dijadikan pedoman hidup, agar dikemudian hari tidak enimbulkan kefanatikan, kemunafikan atau ketidak toleransian. Buddha Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha, juga mengundang untuk dianalisa dan diteliti akan kebenarannya. Salah satu cara agar terhindari dari kefanatikan, kemunafikan dan ketidak toleransian adalah dengan dimilikinya Ehipassiko yang berarti mengundang untuk datang, melihat dan membuktikan kebenarannya. Buddha Dharma bukanlah untuk dipercaya begitu saja. Janganlah begitu mudah mempercayai sesuatu, hanya dikarenakan penampilan luar semata mata. Dengan adanya Ehipassiko kita diminta (dituntut) untuk menyelami dan mengamalkannya terlebih dahulu, sebelum diterima sebagai suatu pegangan hidup (kepercayaan). Dengan dimilikinya Ehipassiko maka yang namanya kebijaksanaan dan keyakinan akan bisa diraih. Kebijaksanaan dan keyakinan merupakan pondasi dasar bagi diri kita, agar terhindar dari kemelekatan pandangan, yang menyatakan bahwa ajaran agama yang dianut olehnya adalah yang terbaik. Kefanatikan adalah hal yang ditabukan didalam agama Buddha dan juga merupakan salah salah satu belenggu bathin, yg sudah seyogianya dibabat sedini mungkin. Bebas dari belenggu bathin (kemelekatan), itulah kebahagiaan yg hakiki.
VIRIYA ( Semangat ).
Ibarat pepatah yang mengatakan "Usia sih boleh saja tua tapi semangat haruslah tetap muda" adalah salah satu perenungan yang sangat baik, untuk dicamkan di dalam kehidupan ini. Pada umumnya semangat akan luntur, dikala tertimpa kegagalan atau kemalangan. Seseorang yang mengalami patah semangat, dikala tertimpah musibah (kemalangan), tidak akan pernah meraih kesuksesan ataupun kebahagiaan. Seorang siswa yang gagal meraih nilai terbaik dan tidak memiliki semangat untuk memperbaikinya, maka akan gagal selamanya. Seorang salesman yang gagal mempromosikan produknya dan tidak bersemangat untuk mengulanginya lagi, maka sampai kapanpun, tidak akan berhasil meraih, apa yang diharapkan. Seorang yang patah hati "broken heart" karena ditinggali oleh kekasih yang tidak setia dan tidak memiliki semangat untuk bangkit kembali, akan meratapi ketidak adilan yang berlaku pada dirinya. Hidupnya akan terbengkalai dan menjadi sia-sia. Inilah ciri khas orang yg benar benar bodoh. Jadi semangat sangatlah penting di dalam hidup ini Semangat itu bisa diibaratkan bagaikan api, yang menghangatkan suasana, agar tidak menjadi kaku dan monoton. Ciri khas orang yang sukses dan bahagia adalah selalu semangat di dalam setiap derap langkah yang akan dilalui, apakah berada dalam kondisi yang menyenangkan (berhasil) atau menyedihkan (gagal), dia tidak akan pernah mundur. Dia senantiasa kreatif, inovatif dan mampu memotivasi diri.
PITI (Kegiuaran / Kegembiraan).
Didalam sabda Nya, Sang Buddha menekankan : "Nabbhatitaharo soko - Nanagatasu khavaho : KESEDIHAN tidak dapat mengembalikan apa yang telah berlalu KESEDIHAN tidaklah mungkin dapat membawa KEBAHAGIAAN pada masa depan". Dari sabda ini, Sang Buddha menekankan akan arti betapa pentingnya, memikirkan hidup untuk saat ini dan janganlah memikirkan apa yang telah berlalu atau apa yang terjadi. Masa lalu bukanlah untuk dikenang atau disesalkan dan masa mendatang bukan pula untuk diketahui atau diresapi. Apa yang diperbuat saat ini, itulah yang menentukan corak kelahiran dimasa mendatang. Apa yang telah diperbuat masa lalu adalah apa yang dirasakan saat ini. Oleh karena itu, perbuatlah kebajikan sedini mungkin (disaat ini) dan sebanyak - banyaknya, agar terbebas dari jeratan derita dan meraih kebahagiaan yang sejati. Nikmatilah hidup ini dengan penuh kegembiraan, dengan sejumlah timbunan perbuatan perbuatan terpuji. Janganlah mengkhawatiri masa depan atau terlalu menyesali apa yang telah terjadi. "Sukham vatatassa na hoti kinci : Sungguh BERBAHAGIA orang yang tidak mempunyai sesuatu yang DIKHAWATIRKAN" , demikian yang sabdakan oleh Sang Buddha.
PASSADHI (Jasmani Dan Bathin Relax)
Waktu yang diprogram (diciptakaan) hanya berfungsi untuk mempermudah kita, mengatur dan mempersiapkan, apa yang akan dikerjakan disaat ini dan mendatang. Tetapi kebanyakan dari kita, diperbudak oleh waktu dan untuk makan saja, adakalanya tidak ada waktu yang memadai, disamping itu juga sering lupa akan istirahat, tidur dan segalanya, hanya dikarenakan untuk memenuhi ambisi duniawi. Manusia yang dibelenggu oleh waktu, akan lebih banyak mengalami kekecewaan dan frustasi daripada kepuasan bathin (kegembiraan). Jasmani dan bathin yang dimanfaatkan tanpa adanya waktu untuk relax, akan menimbulkan beragam penyakit dan ganguan mental. Ibarat mesin yang dimanfaatkan terus-menerus, pasti akan mengalami proses kehancuran lebih dini, dari yang diperkirakan, demikian juga halnya dengan badan jasmani dan bathin yang lemah ini. Oleh karena itu, untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah dengan dimilikinya kesehatan jasmani dan bathin. Beristirahatlah di kala istirahat dan bekerjalah di kala bekerja, itulah ciri khas orang yang bijaksana.
SAMADHI ( Konsentrasi ).
Di dalam "Hasta ariya magga: Delapan jalan utama", samma samadhi (konsentrasi benar) adalah salah satu syarat mutlak, untuk terbebas dari liang derita. Orang yang memiliki konsentrasi benar, tidak akan terpengaruh, untuk mau melakukan tindakan-tindakan tercela. Seseorang bisa terjurumus ke perbuatan yang ternista, misalnya: mencuri, merampok, membunuh ataupun memfitnah, tidaklah terlepas daripada piki-annya yang tidak terbina dengan baik. Hanya orang-orang yang memiliki konsentrasi pikiran yang baiklah, akan berpikir dua kali, sebelum mengawali suatu perbuatan yg tidak baik. "Cittam dantam sukhavaham: PIKIRAN yang telah terlatih memberikan KEBAHAGIAAN". Demikian yang disabdakan oleh Sang Buddha. Pikiran yang terlatih dalam hal suatu permasalahan. Ini adalah pikiran yang terkonsentrasi dengan baik, bebas dari niat jahat dan penuh dengan cinta kasih.
UPEKKHA (Keseimbangan Bathin).
Di dalam Karaniya Metata Sutta, Sang Buddha bersabda: "Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya, melindungi anaknya yang tunggal. Demikianlah hendaknya terhadap semua makhluk dipancarkan pikiran kasih sayang tanpa batas". Apakah dia orang tua kita, suami/istri tercinta, anak-anak terkasihi ,sahabat-sahabat yang baik atau musuh jika salah haruslah diberi sanksi. Sikap Upekkha ini menuntut kita untuk bersikap seadil-adilnya di dalam memutuskan suatu permasalahan. Yang salah dalam penyelesaian satu masalah dan begitu juga ketika berbuat baik. diberikan sanksi dan yang benar diberikan pujian/hadiah. Janganlah terdapat unsur diskriminasi, disaat menyelesaikan suatu masalah. Dikala berdana (beramal), berikanlah suatu dana (derma) tanpa melihat penampilan luar semata-mata, apakah beda agama, suku, bangsa maupun aliran, hendaknya diperlakukan dengan seadil-adilnya.
KESIMPULAN:
Sang Buddha menyabdakan bahwa bahagia tidaknya seseorang, bukanlah ditentukan oleh pihak lain tetapi diri sedirilah, sumber utamanya. Agar hidup ini bebas dari derita dan penuh dengan kebahagian maka berpedomanlah selalu kepada ajaran Sang Buddha. Pedoman tersebut, antara lain adalah dengan selalu memil-ki perhatian benar, ulet meneliti dan menyelidiki serta mengamalkan Dharma, semangat di saat menimbun kebajikan, gembira dikala berbuat baik, mampu mengatur waktu dengan baik (jasmani dan bathin senantiasa relax), memiliki konsentrasi pikiran yang baik dan bathin selalu seimbang dikala menyelesaikan suatu perma-salahan, tanpa pilih kasih serta bertindak seadil-adilnya. Semoga dengan dimilikinya pedoman ini, kehadiran kita disaat yg tepat ini, dapatlah sebagai motivasi awal bagi kebahagiaan semua makhluk.
Sabbe satta sabbe dukkha pamuccantu. Sabbe satta bhavantu sukkhitata : Semoga semuanya senantiasa terbebaskan dari derita dan semoga semuanya selalu bahagia..Sadhu..Sadhu..Sadhu....
Pembabaran Dhamma hari ini mungkin agak berbeda dengan yang biasa diberikan pada waktu-waktu lampau. Kalau biasanya selalu diuraikan Dhamma tentang bagaimana supaya kita hidup berbahagia di dunia, sekarang kita akan melihat dari sisi yang lain. Sesungguhnya, dalam Agama Buddha, ada tiga tujuan hidup yang bisa didapatkan.
Tujuan hidup yang pertama adalah memperoleh hidup bahagia di dunia. Buddha Dhamma menguraikan berbagai cara dan jalan agar tujuan tersebut dapat tercapai. Sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pelajar, sebagai seorang tua, sebagai pedagang, sebagai pekerja, dll. dengan melaksanakan Ajaran Sang Buddha pasti akan mencapai tujuan itu. Cara kita mendidik anak, sikap anak kepada orang tua, sikap atasan kepada bawahan, sikap bawahan kepada atasan, dan yang lain-lain, telah diajarkan pula oleh Sang Buddha agar orang dapat mencapai tujuan ini.
Tujuan hidup yang kedua sebagai seorang umat Buddha, selain hidup di dunia bahagia, adalah dapat terlahir di surga setelah kehidupan ini. Bahasa sederhana kedua tujuan hidup ini adalah hidup di dunia bahagia, mati pun masuk surga. Kenapa demikian? Karena orang tentunya tidak bisa hidup kekal di dunia. Sang Buddha telah bersabda bahwa hidup ini tidak pasti. Justru kematianlah yang pasti. Kita tahu saat ini sedang hidup, namun kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita masih hidup. Kalau sekarang kita sudah berusaha menjadi mahasiswa yang baik, menjadi orang tua yang baik.... Ke mana kita akan pergi setelah mati? Oleh karena itu, kita juga diajarkan cara agar mati masuk surga.
Tujuan hidup yang ketiga lebih tinggi lagi. Tujuan ini juga menjadi tujuan tertinggi seorang umat Buddha yaitu bagaimana agar bisa mencapai Nirwana atau Nibbana. Nirwana atau Nibbana adalah kondisi tidak terlahirkan kembali, baik di dalam kehidupan ini maupun setelah kehidupan ini. Nirwana tidak sama dengan surga. Nirwana adalah konsep Ketuhanan di dalam Agama Buddha, yang kekal, yang abadi. Surga tempatnya lain lagi.
Biasanya kita berbicara tentang bagaimana agar bahagia hidup di dunia. Kali ini akan diceritakan bagaimana pandangan Agama Buddha tentang Surga. Apakah seorang umat Buddha bisa masuk surga? Ini merupakan problem yang pertama. Banyak yang mengatakan bahwa umat Buddha tidak punya surga. Walaupun jarang diceritakan tentang surga, bukan berarti Agama Buddha tidak mempunyainya. Bahkan kalau kita melihat kitab suci agama Buddha yaitu Tripitaka, terdapat surga sebanyak 26 tingkat! Jadi, kalau kita sudah siap, boleh langsung 'berangkat' ke surga.
Memang, seseorang berangkat ke surga tidak bisa ditentukan sebelumnya, tidak tergantung umur. Orang dapat meninggal walau usia masih muda, tanpa harus menunggu usia tua terlebih dahulu. Hidup ini tidaklah pasti, yang pasti adalah kematian. Kita tahu bahwa sekarang ini kita hidup, tetapi kapan kita mati? Hari ini bisa, besok pun bisa. Seratus tahun lagi juga mungkin bisa. Karena itu, marilah kita berbicara tentang surga, karena keberangkatan kita ini tidaklah pasti. Apabila diibaratkan seseorang yang naik pesawat, orang yang meninggal itu sudah take off, sudah lepas landas. Kita yang berada di sini baru boarding, sebentar lagi take off. Ada juga yang baru punya tiket saja. Masih lama. Tetapi semua pasti berangkat, tidak ada pilihan lain.
Karena itu, apakah seorang umat Buddha bisa masuk surga? Jawabannya: bisa! Gampang lagi. Karena terlalu gampang sehingga jarang diceritakan. Akhirnya orang menduga bahwa dalam Agama Buddha tidak mempunyai surga. Padahal, sebaliknya, amat banyak surganya. Ada 26 surga. Kenapa dibutuhkan 26 surga? Karena sesungguhnya setiap makhluk mempunyai perbuatan baik yang tidak sama banyaknya maupun tingkatannya. Seseorang yang telah berbuat baik sejak kecil, tentu surganya lebih tinggi daripada orang yang berbuat baik hanya ketika akan meninggal. Kalau surga bagi yang berbuat baik ketika akan meninggal sama dengan yang berbuat baik sejak kecil berarti rugi dan tidak adil.
Melakukan perbuatan baik itu tidaklah gampang. Perbuatan baik lebih membutuhkan pengendalian diri daripada perbuatan jahat. Perbuatan baik adalah melatih mengurangi ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Itu sulit. Sebaliknya, bila hendak menambah ketamakan, kebencian dan kegelapan batin jauh lebih gampang.. Coba orang diberi tahu: "Jangan marah. Marah itu jelek." Ia akan menganggukkan kepala, setuju, tetapi tetap saja ia masih suka marah-marah. Kalau kita bisa bersabar, berarti sudah termasuk luar biasa. Karena apa? Karena memang mengatasi diri sendiri itu sangat sulit. Oleh karena itu, kalau orang sudah bisa mengatasi diri sendiri untuk waktu yang cukup lama, berbuat baiknya juga sudah cukup lama, pasti surganya lebih tinggi daripada mereka yang berbuat baik hanya sedikit. Di dalam Agama Buddha jelas ada surga, bahkan 26 tingkat, sesuai dengan tingkat perbuatan baik yang telah dilakukan oleh seseorang.
Apabila problem pertama sudah terjawab bahwa dalam Agama Buddha ada surga, bahkan 26 tingkat; problem kedua adalah apakah syarat masuk surga? Ini lebih penting, sebab bila kita sudah memenuhi persyaratannya, berangkat ke surga saat ini pun pikiran akan tenang. Tiket sudah siap. Syarat untuk bisa lahir di surga, terdapat di dalam Tripitaka kitab Anguttara Nikaya IV, 288. Disebutkan di sana, agar terlahir di surga, syarat pertama adalah memiliki keyakinan, yakin kepada ajaran Sang Buddha, masuk surga. Apakah hanya dengan berbekal keyakinan saja dapat masuk surga? Dapat! Kenapa tidak pernah disebutkan? Terlalu gampang. Tetapi sekarang akan diceritakan agar diketahui.
Memiliki keyakinan pada Ajaran Sang Buddha langsung masuk surga. Apakah buktinya? Ada sebuah cerita di jaman Sang Buddha. Ada seorang anak lelaki yang tinggal dengan ayahnya yang amat kikir/pelit. Begitu kikirnya sehingga kalaupun anaknya sakit, anak itu tidak dibawa ke dokter. Dia berusaha mengobatinya sendiri. Karena dia merasa dokter itu mahal. Karena diobati sendiri maka anaknya tidak sembuh. Malah makin sakit. Si Ayah kuatir kalau anaknya akan meninggal. Diletakkannya anak itu di teras rumah agar para tetangga yang datang ke rumahnya tidak akan melihat harta kekayaannya. Karena anak itu diletakkan di teras, malah sakitnya tambah berat dan gawat.
Suatu hari, ketika Sang Buddha sedang bermeditasi, dengan mata batin Beliau melihat bahwa anak itu akan meninggal hari itu juga. Beliau juga memahami bila anak itu meninggal dalam kondisi seperti saat ini maka ia akan terlahir di alam menderita. Maka Sang Buddha kemudian bertekad untuk menolong anak tersebut. Sang Buddha sengaja lewat di depan rumahnya. Sang Buddha dengan anggun dan agungnya melangkah lewat di depan rumah itu. Anak itu melihat Sang Buddha. Ketika dia melihat Sang Buddha, dia kagum, terpesona dengan keagungan dan keanggunan Beliau. Pada saat dia melihat dan terpesona, anak ini kemudian bersikap anjali. Merangkapkan kedua tangan di depan dada, menghormat. Kemudian anak itu berseru: "Aku Berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha." Setelah selesai mengucapkan kalimat perlindungan itu sebagai tanda keyakinannya kepada Sang Tiratana, dia meninggal. Dan, memang anak ini terlahir di alam surga. Dengan modal keyakinan (saddha)-lah dia terlahir di alam surga.
Persyaratan pertama adalah memiliki keyakinan (saddha) kepada Ajaran Sang Buddha, seseorang apabila meninggal dapat terlahir di surga. Lebih dari itu, persyaratan kedua, memiliki dan melaksanakan sila atau kemoralan. Latihan kemoralan yang paling sederhana adalah latihan untuk tidak melakukan lima hal, pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. Lima latihan kemoralan ini dijalankan, mati masuk surga.
Ada sebuah cerita di jaman dahulu. Pada waktu itu hiduplah seorang penjahat besar, penjahat ini suka membunuh, suka merampok serta berbagai bentuk kejahatan dan kekejaman lainnya. Tetapi penjahat ini mempunyai kebiasaan unik, setiap hari Uposatha atau tanggal 1, 8, 15, 23 menurut penanggalan bulan (Imlek), dia menjalani sila atau latihan kemoralan. Libur, tidak berbuat segala bentuk kejahatan. Selama penjahat ini libur, dia menjalankan sila. Dia betul-betul menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, berbohong maupun mabuk-mabukan. Hari itu adalah hari libur total. Pelaksanaan latihan kemoralan sehari dalam satu minggu ini dilakukannya selama bertahun-tahun. Setelah meninggal dunia, penjahat ini karena kejahatannya, dia terlahir di alam menderita, alam peta.
Namun, akibat kebiasaaannya melaksanakan sila seminggu sekali, dia terlahir di alam Vemanika Peta. Alam Peta ini punya kekhususan. Makhluk yang terlahir di alam Peta ini bila malam merasakan penderitaan yang luar biasa namun bila siang berbahagia di surga. Benar-benar suatu kehidupan yang amat berlawanan. Setengah hari di alam menderita dan setengah hari sisanya di alam bahagia. Terlahir di alam bahagia selama setengah hari ini adalah buah perbuatan baiknya, setiap bulan empat kali menjalankan sila di luar 25 hari yang digunakannya untuk membunuh, mencuri, melanggar kesusilaan, berbohong, melanggar kesusilaan dan mabuk-mabukan untuk jangka waktu yang lama, lahir di surga kiranya sudah bukan masalah besar lagi.
Tetapi lebih dari keyakinan (saddha) dan kemoralan (sila), agar dapat terlahir di surga persyaratan ketiga, mengembangkan watak kedermawanan(caga). Ada pula sebuah cerita tentang pengembangan watak kedermawanan sehingga terlahir di surga. Di masa yang telah sangat lama, ada seorang pemuda yang suka berbuat baik. Ia bersama-sama temannya selalu berusaha memberikan dan melakukan yang terbaik untuk lingkungannya. Apabila ia melihat ada sebuah sungai yang arusnya deras, sehingga banyak orang yang tidak bisa menyeberang, maka orang ini kemudian mengajak 32 orang temannya untuk membangun jembatan.
Di waktu yang lain, ketika mereka melihat banyak orang berjalan jauh dan kehausan, mereka ber-33 orang sepakat untuk menyediakan tempat-tempat peristirahatan untuk para pengembara ini lengkap dengan tempat makan dan minumnya. Mereka selalu sibuk berbuat baik dengan berbagai macam cara. Melepaskan binatang yang dikurung dan menderita, dsb. Pokoknya, kebahagiaan mereka, 33 orang ini, adalah berbuat baik. Kebajikan ini selalu mereka lakukan sampai saat meninggalnya. Setelah 33 orang ini meninggal dunia, mereka memiliki satu alam surga baru. Surga untuk mereka dinamakan Alam Surga Tiga Puluh Tiga Dewa (tavatimsa).
Dalam Angutara Nikaya IV, 288 disebutkan bahwa seseorang dapat terlahir di alam surga dengan memiliki persyaratan keempat, kebijaksanaan. Kebijaksanaan di dalam agama Buddha artinya orang yang bisa melihat hidup sebagaimana adanya. Orang yang tidak gampang tergoyahkan batinnya karena proses perubahan dunia. Kehidupan hanyalah berisikan proses sukha-dukkha, untung-rugi, memperoleh pangkat-dipecat, dipuji dan dicela. Mereka yang masih diliputi oleh ketamakan, kebencian dan kegelapan batin pasti akan banyak mengalami kekecewaan menghadapi perubahan dunia. Namun, orang setelah mengenal Dhamma, ia akan mengerti bahwa keseimbangan batin dalam menghadapi perubahan akan diperoleh dari pengendalian keinginannya sendiri. Makin keinginan dikendalikan, makin sedikit kekecewaan dialami. Buddha Dhamma telah mengajarkan cara-cara paling praktis untuk mengendalikan keinginan yaitu dengan melatih meditasi. Latihan meditasi yang rutin akan menimbulkan ketenangan pikiran. Ketenangan pikiran adalah modal utama kebahagiaan. Orang semacam ini ketika masih dalam kehidupan saat ini pun ia telah berbahagia. Apalagi setelah meninggal.
Empat hal inilah yang harus disiapkan supaya kita dapat hidup di dunia bahagia. Memiliki keyakinan adalah hal penting. Menjaga dan mengembangkan keyakinan juga hal yang tidak boleh dipandang ringan. Menjaga dan menumbuhkan keyakinan salah satu caranya adalah dengan setiap hari Minggu datang ke cetiya atau vihara, membaca paritta, mendengarkan dan berdiskusi Dhamma. Dari sini akan muncul keyakinan yang kuat pada kebenaran dan keluhuran Dhamma. Apalagi bila sering memperoleh pengalaman dari orang yang telah merasakan manfaat mengikuti Agama Buddha. Manfaat, dapat bersifat batin maupun fisik. Manfaat batin, misalnya, memperoleh kesembuhan dari suatu penyakit tertentu, kesuksesan kerja, terbebas dari suatu bencana, dll. Sesungguhnya, di dalam kehidupan seorang umat Buddha, banyak juga mengalami mukjizat.
Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan keyakinan kita, sering-seringlah ke vihara, mendengarkan dan diskusi Dhamma. Kemudian selain meningkatkan keyakinan, kita juga hendaknya meningkatkan praktek Dhamma di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tekun mengembangkan kemoralan: tidak membunuh, mencuri, melanggar kesusilaan, bohong dan mabuk-mabukan. Kemudian mengembangkan kedermawanan: suka memberi, berbagi pikiran, suka menyumbang pikiran, suka menyumbang nasehat, juga suka menyumbangkan tenaga untuk kegiatan sosial, untuk teman kita, untuk orang tua kita dan akhirnya kita mengembangkan kebijaksanaan dengan meditasi agar dapat menyadari bahwa segala sesuatu adalah proses. Kalau empat hal ini telah dimantapkan, maka jalan ke surga ibarat jalan tol, mulus, lancar sehingga akhirnya akan diperoleh kebahagiaan di dunia ini dan di kehidupan yang akan datang.
Seperti yang dikatakan dalam syair Dhammapada di atas, seorang bijaksana hendaknya bisamengenal dan melaksanakan Dhamma walaupun baru sebentar dia mengenal Dhamma. Seperti ibaratnya lidah kita.Lidah akan dapat merasakan sayur walaupun sayur itu hanya sebentar melewatinya. Minum pun juga demikian. Satu tegukan sangat cepat air melewati lidah, tahu-tahu sudah masuk. Walaupun demikian, lidah tetap dapat merasakan rasa manis, pahit,asin ataupun yang lain. Tetapi orang yang tidak bijaksana, diibaratkan seperti sebuah sendok. Sendok, walaupun direndam dalam sayur selama 2 minggu, tetap saja ia tidak dapat merasakan rasa sayur itu. Sendok yang setiap hari digunakan untuk menyendok makanan enak dari piring menuju ke mulut, tidak akan pernah dapat merasakan rasa enak makanan itu. Oleh karena itu, dalam mempelajari dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha, ukuran yang digunakan bukan lamanya seseorang telah menjadi umat Buddha, tetapi seberapa banyak dia mengerti dan memahami Dhamma. Walaupun sebentar, walaupun sepintas, tetapi kalau dia langsung mengerti Dhamma dan menembus Dhamma, itu sesungguhnya yang lebih bermanfaat. Kita bisa memanfaatkan hidup dan memanfaatkan Dhamma sehingga memperoleh kebahagiaan.***

Karma Atau Nasibkah Ini?
![]()
"Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih & engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya". Samyutta Nikaya I: 227.
Dengan pandangan mata yang nanar, serta diiringi deraian air mata yang rintik-rintik, si Ani (bukan nama sesungguhnya) menyesali & menolak ketinggalan kelas yang di alami. Di dalam pikirannya selalu timbul pertanyaan mengapa si A, B & C yang menurut pandangannya jauh lebih bodoh alias idiot, bias lulus dengan angka yang menyakinkan, sedangkan dia, tidak! Padahal di caturwulan III saja agak ambruk. Di manakah keadilan itu ? Mengapa dia yang harus tinggal kelas sedangkan orang lain tidak ? Inikah yang namanya kesialan ? Rasanya hidup itu jadi hambar & tiada artinya sama sekali. Di sisi lain, terlihat pula si Badu (juga bukan nama yang sebenarnya) dengan rona wajah yang frustasi membanting-banting semua benda yang ada di sekitarnya. Si Badu menyesali atas ketidakadilan yang sedang berlaku terhadap dirinya. Mengapa orang lain saja selalu sukses di dalam karir sedangkan dia malahan hancur-hancuran ? Di sisi selanjutnya orang lain memiliki kepintaran, kesehatan yang memadai, kekayaan yang berlimpah ruah & ketenaran sedangkan dirinya selalu apes, untuk cari kerja saja, susahnya minta ampun. Mengapa jalur kehidupannya tidak semulus & selancar orang lain ? Mengapa, mengapa dan mengapa ? Lain pula halnya dengan si Ani & Badu, si Nanda (nama bukan sebenarnya) pun dengan pandangan mata yang kosong menatapi ruangan yang berukuran empat kali lima meter persegi, yang seba putih sambil terbaring dengan pasrah.
Telah lebih lima tahun lamanya si Nanda terbaring di ruangan ini akibat dari kecelakaan lalu lintas. Semua tubuhnya dinyatakan lumpuh & kemungkinan untuk sembuh adalah nol koma nol persen. Sudah tak terhitung lagi jumlah tetesan air mata yang mengalir di pipinya yang cekung karena kesepian & rindu akan rumah serta sahabat-sahabatnya. Baginya kematian akan jauh lebih baik daripada menahan beban derita yang tak kunjung habis. Dan yang paling dia sesalkan adalah mengapa dirinya tidak diperlakukan secara adil atau harus mengalami cobaan yang demikian tiga contoh kejadian yang sering dijumpai di tengah-tengah masyarakat.
Banyak yang menyatakan bahwa semuanya itu terjadi karena sudah suratan takdir atau istilah awamnya adalah nasib yang harus dijalani. Dan adakalanya juga menyatakan, itu adalah karma. Apakah sama halnya antar karma & nasib… Pandangan umum menyatakan bahwa yang namanya nasib adalah segala kondisi yang terjadi, apakah yang menyenangkan atau menyengsarakan, mutlak harus diterima serta tidak akan berubah selama-lamanya.
Tapi sesuai dengan konsep Buddhis yang namanya karma adalah segala sesuatu yang terjadi pada setiap makhluk hidup yang tidak akan terlepas dari pada hasil dari perbuatan itu sendiri, di masa sebelumnya. Dalam hal ini ditegaskan bahwa karma yang di miliki seseorang, tidaklah permanen keberadaannya. Si A yang hari ini memiliki karma baik misalnya terlahir di keluarga yang berada, gagah, pintar serta di kagumi oleh semua orang, kondisi ini akan berubah atau tidak, sangatlah tergantung akan perbuatan baik/jahat yang diperbuat pada saat itu.
Hubungan Antara Bikkhu dan Umat merupakan hubungan yang bersifat moral-religius dan bersifat timbal balik, sebagaimana telah dijelaskan Sang Buddha dalam Sigalovada Sutta :
Umat hendaknya menghormati bikkhu dengan membantu dan memperlakukan mereka dengan perbuatan, perkataan dan pikiran yang baik, membiarkan pintu terbuka untuk mereka dan memberikan makanan serta keperluan yang sesuai untuk mereka.
Bikkhu mempunyai kewajiban kepada umat : melindungi dan mencegah mereka dari melakukan perbuatan jahat, memberi petunjuk untuk melakukan perbuatan baik, menerangkan ajaran yang belum didengar atau diketahui, menjelaskan apa yang belum dimengerti, dan menunujukkan jalan untuk menuju Pembebasan.
Bikkhu tidak mempunyai "kekuasaan" terhadap umat dan tidak memberikan "sanksi" pada umat. Namun, kepada umat yang berbuat tidak pantas atau melakukan penghinaan terhadap Dhamma-Vinaya, maka bikkhu akan "berpaling" dari mereka dengan tidak menerima segala persembahannya. Dengan demikian, umat tersebut dianggap tidak pantas mempersembahkan sesuatu kepada bikkhu(atau Sangha), sehingga umat itu kehilangan kesempatan yang baik untuk melakukan perbuatan baik atau jasa.
Sebaliknya, umat pun dapat "berpaling" dari bikkhu yang melakukan perbuatan melanggar Dhamma-Vinaya dengan tidak melayani atau memberi persembahan kepadanya. Ada beberapa hal mengenai kebikhhuan yang perlu kiranya diketahui oleh umat Buddha.
Dalam hubungannya dengan wanita, seorang bikkhu tidak boleh dengan nafsu indriya menyentuh seorang wanita(Sanghadisesa ke-2) dan tidak boleh pula duduk berdua dengan wanita di tempat tertutup (Pacittiya ke-44).
Sang Buddha mengajarkan kepada Yang Ariya Ananda (Maha Parinibbana Sutta) :
"Jangan melihat kepada seorang wanita; Kalau mesti juga, maka janganlah berbicara dengannya; Kalau mesti juga, maka berbicaralah tentang Dhamma dan Sila dan sebutlah Sang Buddha dengan segala kekuatan batinmu."
Selain itu, bikkhu tidak boleh menjadi perantara dalam hubungan perjodohan antara pria dan wanita (Sanghadisesa ke-5). Bikkhu tidak boleh menumpuk kekayaan emas, perak dan lain-lain. (Nissagiya Pacittiya ke-18), atau terlibat dalam perdagangan atau jual-beli (Nissagiya Pacittiya ke-20). Ia tidak boleh berbohong(Pacittiya ke-1), tidak boleh mencaci-maki(Pacittiya ke-2) atau menfitnah(pacittiya ke-3), tidak boleh pula menjawab secara menghindar dan menimbulkan kesulitan dengan berdiam diri(Pacittiya ke-12). Selain itu, ia melatih diri untuk tidak menonton pertunjukan/nyanyian/tarian dan segala sesuatu yang membawanya ke arah kenikmatan indriya. Ia melatih diri untuk tidak mempergunakan tempat tidur atau tempat istirahat yang mewah dan membatasi kebutuhan hidup sesederhana mungkin.
Hendaknya bikkhu tidak menolak persembahan yang dibutuhkan, mengambil sikap atau mengatur tingkah laku seseorang, menyalahgunakan hak, mempersalahkan orang lain atau memperolok, mencapai sesuatu dengan menyiarkan kabar bohong atau menfitnah, berlomba mencari barang-barang lahiriah dengan barang-barang lahiriah (Visudhi Magga). Juga ia tidak demi penghidupannya, meramal dengan melihat suratan tangan, meramal sesuatu yang akan terjadi, penujuman, mempersembahkan korban, mendapatkan jawaban sabda para dewa, dan berpraktek sebagai "dokter" - yang merupakan tipu daya rendah untuk mendapatkan penghidupan.(Digha Nikaya, I)
Penghormatan tingkah laku yang menunjukkan kerendahan hati pada lainnya merupakan hal yang baik dan terpuji (untuk bikkhu dan umat). Ada beberapa cara penghormatan yang diperkenankan Sang Buddha :
1.Vandana(berlutut - "menunjukkan penghormatan dengan lima titik" - dahi,kedua lengan __bawah,kedua lutut).
2.Utthana (berdiri untuk menyambut).
3.Anjali (merangkap kedua telapak tangan untuk menghormat).
4.Samicikamma (cara-cara lain yang baik dan terpuji untuk menunjukkan kerendahan hati).
Cara penghormatan yang sama dilakukan oleh umat kepada bikkhu. Umumnya bikkhu akan menerima penghormatan tersebut dengan mengatakan : "Sukhi hotu" - Semoga engkau berbahagia (di Sri Lanka) atau "Ayu vanno sukham balam" (di Mungthai). Sang Buddha sendiri tidak pernah menetapkan bahwa bentuk penghormatan begini atau begitu harus dilakukan kepada para bikkhu. Dalam hubungan penghormatan ini perlu kiranya diingat bahwa si pelakulah -- bukan si penerima -- yang akan mendapat manfaat dengan memberikan penghormatan kepada yang patut dihormat karena hal itu merupakan suatu perbuatan baik dan akan mengembangkan punna pada si pelaku.
" Pada mereka yang senantiasa menghormat pada orang yang lebih tua akan bertambah empat hal : panjang umur, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan"
(Dhammapada 109)
"Tak bergaul dengan orang yang tak bijaksana, Bergaul dengan mereka yang bijaksana. Menghormat mereka yang patut dihormat, Itulah Berkah Utama. "
( Mangala Sutta)
Sumber : Bikkhu Subalaratano, Dharma K.Widya, Pengantar Vinaya, STAB Nalanda, Jakarta 1993
Pengertian Vinaya berarti Peraturan, Disiplin atau Tata tertib. Kata Vinaya sendiri berarti : melenyapkan/menghapus/menghilangkan- dalam hal ini - segala tingkah laku yang menghalangi kemajuan dalam pelaksanaan Dhamma; atau sesuatu yang membimbing keluar (dari dukkha).
Ada beberapa hal yang menyebabkan Sang Buddha menetapkan Vinaya : "Untuk tegaknya Sangha ( tanpa Vinaya, Sangha tidak akan bertahan lama ), Untuk kebahagiaan Sangha ( sehingga bikkhu mempunyai sedikit rintangan dan hidup damai , Untuk pengendalian diri orang-orang yang tidak teguh ( yang dapat menimbulkan persoalan dalam Sangha), Untuk kebahagiaan bikkhu-bikkhu yang berkelakuan baik ( pelaksanaan sila yang murni menyebabkan kebahagiaan sekarang ini ), Untuk perlindungan diri dari asava dalam kehidupan ini ( karena banyak kesukaran dapat dihindarkan dengan tingkah laku moral yang baik ), Untuk perlindungan diri dari asava yang timbul dalam kehidupan yang akan datang ( asava tidak timbul pada orang yang melaksanakan sila dengan baik), Untuk membahagiakan mereka yang belum bahagia ( orang yang belum mengenal Dhamma akan bahagia dengan tingkah laku bikkhu yang baik ), Untuk meningkatkan mereka yang berbahagia ( orang yang telah mengenal Dhamma akan bahagia melihat pelaksanaannya ), Untuk tegaknya Dhamma yang benar ( Dhamma akan bertahan lama bila Vinaya dilaksanakan dengan baik oleh para bikkhu), Untuk manfaat dari Vinaya (Vinaya dapat memberi manfaat kepada mahluk-mahluk, terbebas dari dukkha, menuju Nibbhana)."
( Anguttara Nikaya, Book of the Tens, Discourse 31)
Terdapat dua alasan tambahan ( Anguttara Nikaya) : " Untuk simpati dengan umat berkeluarga, dan " Untuk mematahkan semangat para bikkhu yang berpikiran tidak baik".
Dhamma dan Vinaya ( gabungan keduanya disebut Buddha Sasana) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dhamma tanpa Vinaya akan merupakan ajaran yang tidak menunjukkan awal atau permulaan untuk dilaksanakan. Sebaliknya vinaya tanpa Dhamma akan merupakan formalisme yang kosong, suatu disiplin yang hanya menghasilkan sedikit buah atau kemajuan.
Dua Jenis Vinaya tidak hanya diartikan sebagai peraturan yang berhubungan dengan kebikkhuan saja. Memang Vinaya Pitaka berisikan peraturan latihan, larangan, yang dibolehkan dan ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan bikkhu namun dikenal pula Vinaya untuk umat berkeluarga atau upasaka-upasika. Dalam pengertian yang sempit, Vinaya untuk umat berkeluarga adalah Pancasila dan pengertian yang lebih luas dalam Sigalovada Sutta disebut pula "Gihi Vinaya" ( Vinaya untuk umat berkeluarga). Terdapat perbedaan antara sila untuk umat berkeluarga dan sila untuk bikkhu. Sila untuk umat berkeluarga bersifat moral semata-mata dan digolongkan dalam Pakati-Sila (sila alamiah). Sementara itu, bagi para bikkhu, selain sila yang bersifat moral, berlaku sila yang khusus untuk cara hidupnya, dan sila itu digolongkan dalam Pannati-Sila("Formulated -Sila").
Para Bikhhu dan umat berkeluarga haruslah mentaati Vinaya atau sila secara murni dan tidak terjatuh dalam pelanggaran . Dikenal adanya "Kukkuccayanta bikkhu" yaitu para bikkhu yang seksama atau teliti yang tidak mau menerima sesuatu apapun kecuali telah diperkenankan oleh Sang Buddha. Terdapat pula "apiccha bikkhu" yaitu bikkhu dengan sedikit keinginan yang merasa malu akan kelalaian dan tingkah laku bikkhu lain yang tidak benar. "Sedikit keinginan" merupakan kata lain dari "Santutthi" (merasa puas), suatu sifat yang sangat berharga untuk seorang bikkhu.
Sang Buddha bersabda :
" Sempurnalah dalam sila, O, bikkhu, sempurnalah dalam Patimokkha. Kendalikanlah diri sesuai dengan Patimokkha. Sempurnalah dalam tingkah laku dan waspadalah dengan melihat bahaya sekalipun pada kesalahan yang paling kecil, dan latihlah dirimu dengan melaksanakan secara benar peraturan-peraturan latihan ini."
Pancasila Umat Buddha yang hidup berkeluarga dalam masyarakat disebut upasaka/upasika. Kata upasaka berarti "yang duduk dekat(Guru)",kadang-kadang disebut pula umat yang berpakaian putih ("white-clad follower" atau "white-rober householder"), sedangkan bikkhu merupakan siswa yang berjubah kuning("Yellow-robed). Dalam hidup sehari-hari mereka telah melatih diri dalam Pancasila.
Dalam Dhammapada 246-247 terdapat sabda Sang Buddha sebagai berikut :
"Siapa saja yang memusnahkan mahluk hidup, berkata dusta dalam dunia ini, mengambil sesuatu yang tidak diberikan padanya, atau pergi bersama istri orang lain, dan memuaskan diri demikian, memotong akar dalam dirinya di alam ini."
Perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu haruslah dihindarkan bila seseorang ingin menjadi seorang "manusia" tidak hanya dalam jasmaninya saja, tetapi juga batinnya.
Pancasila disebut "manussa-dhamma"(Dhamma untuk manusia) karena kelahiran sebagai seorang manusia sangat tergantung pada pelaksanaan Pancasila ini. Kelima sila dari Pancasila merupakan petunjuk tingkah laku moral dasar dan minimal harus dilaksanakan oleh seorang umat Buddha. Pelaksanaan sila-sila ini akan menghindarkan seseorang dari melakukan perbuatan tidak baik dengan perkataan atau badan jasmani dan merupakan dasar untuk perkembangan lebih lanjut dalam Dhamma. Uraian Pancasila adalah sebagai berikut :
1. Saya berjanji melatih diri untuk tidak menghilangkan nyawa mahluk hidup.
2. Saya berjanji untuk melatih diri untuk tidak mengambil sesuatu yang tidak diberikan.
3. Saya berjanji melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila(berzinah).
4. Saya berjanji melatih diri untuk tidak berbicara salah.
5. Saya berjanji melatih diri untuk tidak minum-minuman yang disuling/diragi yang menyebabkan __menurunnya kesadaran.
Pada hari-hari Uposatha, umat Buddha dianjurkan untuk melaksanakan Atthasila (delapan sila), biasanya dengan berdiam di Vihara selama hari tersebut. Kata Uposatha berarti "masuk untuk berdiam"(di Vihara), dan hari Uposatha jatuh pada tanggal 1,8,15,23 penanggalan bulan. Selama di Vihara pada hari Uposatha seorang umat Buddha dapat mendengarkan kotbah Dhamma, berdiskusi Dhamma, atau melatih diri dalam meditasi. Dalam Atthasila, sila ketiga dari Pancasila diganti menjadi :
3. Saya berjanji melatih diri untuk tidak melakukan hubungan kelamin,
dan ditambah dengan tiga sila lainnya, yaitu :
6. Saya berjanji melatih diri untuk tidak makan di luar waktu yang ditentukan (Sesudah pukul 12 siang).
7. Saya berjanji melatih diri untuk tidak melihat/mendengar/melakukan tarian,nyayian musik, pertunjukan, mengenakan perhiasan bunga, mamakai wangi-wangian dan kosmetik.
8. Saya berjanji melatih diri untuk tidak tidur di tempat tidur yang tinggi/besar.
Secara lebih terinci, sila yang harus dilaksanakan oleh umat Buddha dalam kehidupannya dapat diuraikan sebagai Penghindaran Diri dari sepuluh Kamma Buruk, yaitu :
1. Membunuh
2. Mencuri
3. Berhubungan kelamin yang terlarang
4. Berdusta
5. Mencaci
6. Berkata kasar
7. Omong kosong
8. Menyimpan loba (keserakahan)
9. Berkeinginan jahat.
10. Berpandangan keliru.
Dalam hubungan ini, seorang umat Buddha dalam penghidupannya haruslah pula menghindarkan diri dari cara-cara penghidupan yang tidak benar seperti berdagang senjata, mahluk hidup, daging, alkohol, dan racun.
Sumber : Bikkhu Subalaratano, Dharma K.Widya, Pengantar Vinaya, STAB Nalanda, Jakarta 1993
Oleh Thich Nhat Hanh
Suatu hari, Buddha sedang tinggal di dalam sebuah gua, yang sejuk suasananya. Ananda, pelayan Buddha, sedang berlatih meditasi jalan di dekat gua, berusaha untuk menahan orang-orang banyak yang selalu datang untuk untuk mengunjungi Buddha supaya Buddha tidak perlu menerima tamu sepanjang hari. Hari itu, ketika Ananda sedang berlatih, ia melihat seseorang menghampiri. Ketika orang itu semakin dekat, Ananda mengenalinya sebagai Mara (Lihat tentang arti dan apa itu Mara).
Mara telah menggoda Buddha pada malam sebelum Buddha mencapai pencerahan. Mara telah berkata kepada Buddha bahwa ia bisa menjadi seseorang dengan kekuasaan yang hebat —seorang politikus, seorang raja, seorang presiden, seorang menteri luar negri, atau seorang pebisnis sukses dengan uang dan wanita-wanita cantik— jika ia melepaskan latihan perhatian murninya. Mara telah berusaha dengan sangat gigih untukmeyakinkan Buddha, tetapi hal itu tidak berhasil.
Meskipun Ananda merasa sangat tidak nyaman dalam jangkauan Mara, Mara telah melihatnya, jadi ia tidak dapat bersembunyi. Mereka menyapa satu sama lainnya.
Mara berkata, “Saya mau bertemu Buddha”
Ketika kepala dari perusahaan tidak ingin bertemu seseorang, ia meminta sekretarisnya untuk mengatakan, “Maaf, ia sedang ada pertemuan saat ini.” Meskipun Ananda ingin mengatakan seperti itu, ia mengetahui hal itu adalah berbohong. Jadi ia memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di batinnya kepada Mara.
“Mara, kenapa Buddha harus bertemu dengan kamu? Apa tujuannya? Apa kamu tidak ingat bagaimana kamu dikalahkan oleh Buddha di bawah pohon Bodhi? Bagaimana kamu berani untuk bertemu lagi dengannya? Apa kamu tidak memiliki malu? Kenapa ia harus bertemu denganmu? Kamu adalah musuhnya.”
Mara tidak terpengaruh semangatnya oleh kata-kata Y.A. Ananda. Ia hanya tersenyum dan mendengarkan pemuda itu. Ketika Ananda telah selesai, Mara tertawa dan menanyakan,
“Apakah gurumu benar-benar mengatakan kalau ia punya musuh?”
Hal ini membuat Ananda menjadi sangat tidak nyaman. Baginya terlihat tidak benar untuk mengatakan bahwa Buddha memiliki musuh, tetapi ia telah mengatakannya! Buddha tidak pernah mengatakan bahwa ia punya musuh.
Apabila Anda tidak berkonsentrasi dengan sangat dalam atau dengan penuh kesadaran, Anda dapat mengatakan hal-hal yang berlawanan terhadap apa yang anda ketahui dan anda latih. Ananda menjadi bingung.
Ia memasuki gua untuk memberitahukan tentang Mara, berharap bahwa gurunya akan mengatakan,
“Beritahu dia aku tidak ada di rumah!” atau, “Beritahu dia aku sedang ada pertemuan!”
Namun betapa terkejutnya Ananda, Buddha malah tersenyum dan berkata,
“Mara! Menakjubkan! Ajak ia masuk!”
Ananda menjadi bingung terhadap respon Buddha ini. Tetapi ia melaksanakan seperti yang Buddha katakan dan mengundang Mara masuk.
Dan tahukah Anda apa yang Buddha lakukan? Ia memeluk Mara!
Ananda tidak bisa mengerti hal ini. Kemudian Buddha mengundang Mara untuk duduk di tempat yang terbaik di dalam gua, dan, berbalik kepada pengikutnya terkasih seraya berkata,
“Ananda, bisakah engkau membuatkan teh untuk kami?”
Seperti yang Anda bisa tebak, Ananda tidak begitu senang terhadap hal ini. Membuat teh untuk Buddha adalah suatu hal —ia bisa melakukannya ribuan kali sehari— tetapi membuat teh untuk Mara bukanlah suatu hal yang ia ingin kerjakan. Akan tetapi karena Buddha telah meminta ia untuk melakukannya, ia tidak bisa menolaknya.
Buddha memandang Mara dengan penuh kasih; “Wahai sahabat,” sapanya,
“bagaimana kabarmu? Apakah semua baik-baik saja?”
Mara menjawab,
“Tidak, keadaannya tidak baik sama sekali, sangat buruk. Aku sangatlah lelah menjadi Mara. Aku ingin menjadi yang lain, seseorang seperti kamu. Kemanapun kamu pergi, kamu diterima, dan orang-orang membungkuk menghormatimu. Kamu punya banyak biksu dan biksuni dengan wajah menyenangkan yang mengikutimu, dan kamu diberikan persembahan pisang, jeruk, dan buah kiwi."
“Kemanapun aku pergi,” Mara melanjutkan,
“aku harus menggunakan kepribadian seorang Mara —Aku harus berbicara dengan sikap yang menghasut dan mempertahankan sebuah pasukan Mara-Mara kecilku yang kejam. Setiap saat aku bernafas keluar, aku harus menghembuskan asap dari hidungku! Tetapi aku tidak begitu sering memikirkan hal-hal itu; yang lebih menggangguku adalah bahwa, para pengikutku, Mara-Mara kecil, telah mulai berbicara mengenai transformasi dan penyembuhan. Ketika mereka berbicara tentang pembebasan dan Kebuddhaan, aku tak tahan dengan itu. Itulah mengapa aku datang untuk mengajukan kalau-kalau kita bisa bertukar peran. Kamu bisa menjadi seorang Mara, dan aku akan menjadi seorang Buddha.”
Ketika Y.A. Ananda mendengar ini, ia ketakutan dan jantungnya serasa akan berhenti, ia berpikir:
"Bagaimana jika Buddha memutuskan untuk berganti peran? Maka aku akan menjadi pelayan Mara!"
Ananda berharap Buddha akan menolaknya.
Buddha dengan lembut memandang Mara dan tersenyum.
“Apakah menurut pikiranmu mudah untuk menjadi Buddha?” ia bertanya.
“Orang-orang selalu salah memahami aku dan memakai mulutku untuk perkataan mereka. Mereka membangun kuil-kuil dengan patung diriku yang terbuat dari tembaga, semen, emas, maupun jamrud. Sekelompok besar orang mempersembahkan aku pisang, jeruk, permen, dan benda-benda lainnya. Kadangkala aku dibawa dalam prosesi, duduk seperti seorang pemabuk di atas tumpukan bunga-bunga. Aku tidak suka jadi Buddha seperti ini. Terlalu banyak hal-hal buruk yang telah dilakukan atas-namaku. Jadi kamu bisa melihat bahwa menjadi seorang Buddha juga sangatlah sulit. Menjadi seorang guru dan membantu orang-orang berlatih bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Aku tidak berpikir kalau kamu akan sangat menikmati menjadi seorang Buddha. Merupakan suatu hal yang lebih baik jika kita berdua terus melaksanakan apa yang kita lakukan dan berusaha melakukan yang terbaik.”
Apabila Anda sedang berada di sana bersama Ananda, dan jika Anda sedang dalam keadaan penuh kesadaran, Anda akan merasakan bahwa Buddha dan Mara adalah sahabat. Mereka berjumpa satu sama lainnya seperti siang dan malam, seperti bunga dan sampah hadir bersama-sama. Ini adalah ajaran yang sangat dalam dari Buddha.
~ Thich Nhat Hanh.
__________________
Dari: “Di Bawah Pohon Jambu”, terjemahan Dayapala Steven, dan suntingan Bhante Dharmavimala.
Catatan: Mara adalah Godaan batin/pikiran (Gangguan baik dari dalam maupun luar)