Tuesday, September 21, 2010
Perbedaan Dan Persamaan Antara Theravada Dan Mahayana
Sunday, August 15, 2010
Sejarah Agama Buddha Theravada
Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Sang Buddha tidak diketahui dengan pasti. Menurut tradisi Buddhist, Sang Buddha lahir pada tahun 624 BCE ( Before Common Era), dan juga terdapat beberapa perkiraan lainnya terhadap tahun kelahiran Sang Buddha. Tahun 560 BCE adalah tahun yang diterima secara umum sebagai tahun kelahiran Sang Buddha. Kejadian pada garis waktu sebelum tahun 250 sebelum masehi ditunjukkan dengan dua tahun masehi yang berbeda.
Pertama adalah tahun kelahiran Sang Buddha yang ditulis berdasarkan pada sumber "tradisi" yaitu 624 BCE, kemudian diikuti dengan tahun kelahiran Sang Buddha yang berdasarkan pada tahun "sejarah" 560 sebelum masehi. Setelah tahun 250 sebelum masehi, tahun "sejarah" dapat dihilangkan karena waktu dari peristiwa berikutnya diketahui dengan lebih tepat. Cara perhitungan tahun masehi yang berhubungan dengan kejadian dari penanggalan Buddhis tradisional dilakukan dengan melakukan pengurangan dari tahun Buddhis (BE - Buddhist Era) sebanyak 544 tahun
| BE __ | BE Tahun Masehi (CE - Common Era) |
| -80 | -624/-560 Bodhisatta atau calon Buddha, lahir di Lumbini (Nepal saat ini) sebagai Siddhata, pangeran dari suku Sakya. |
| -51 | -595/-531 Boddhisatta meninggalkan kehidupan keduniawian |
| -45 | -589/-525 Selama meditasi di bawah pohon Boddhi di hutan Gaya (Sekarang Bodhgaya, India), saat bulan purnama Siddhi di Bulan Mei, Sang Boddhisata mencapai Kebuddhaan. Selama bulan purnama di bulan Juli, Sang Buddha membabarkan ajarannya yang pertama di daerah dekat Varanasi, menunjukkan kepada dunia Empat Kasunyataan Mulia dan memulai pembabaran Dhamma dan Vinaya selama 45 tahun. |
| 1 | -544/-480 Sang Buddha Parinibbana di Kusinara (Sekarang Kusinagar, India) pada usia 80 tahun Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuan Agung pertama di Rajagaha, India yang dihadiri oleh 500 orang bikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian arahat, yang dipimpin oleh Ven Bikkhu Mahakassapa Thera. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka. |
| 100 | -444/-380 100 tahun setelah sang Buddha parinibbana, diselenggarakan Persamuhan Agung kedua di Vesali. Pada Persamuhan Agung ini dibahas mengenai perbedaan yang terjadi saat itu mengenai aturan Vinaya. Keretakan sangha yang pertama timbul antara sekte Mahasanghika dan Sthaviravadins yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi agama Buddha di utara Asia (Cina, Tibet, Jepang dan Korea). |
| 294 | -250 Persamuhan Agung ketiga yang didukung oleh Raja Asoka di Pataliputra (India). Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan sekte Sarvastivadin dan Vibhajjavadin. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuhan ini, dengan tambahan Khuddaka Nikaya. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan. |
| 297 | -247 Raja Asoka mengirim putranya, Ven Bikkhu Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan agama Buddha di Sri Lanka. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk agama Buddha. |
| 304 | -240 Ven Bikkhu Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas sekte Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravadin . Kemudian Saudara perempuan Bikkhu Mahinda, Bikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Boddhi dan mendirikan Sangha Bikkhuni di Sri Lanka. |
| 444 | -100 Peristiwa kelaparan dan perpecahan yang terjadi di Srilanka menyebabkan kitab suci Tipitaka ditulis untuk menjaga kelangsungan agama Buddha. Raja Vattagamani mengadakan Persamuhan Agung keempat dengan 500 bikkhu dan ahli tulis dari Mahavihara untuk menulis Kitab Tipitaka Pali untuk pertama kalinya pada daun palem. |
| 544 | 1 Dimulainya tahun Masehi (Common Era). Tahun 1 AD atau tahun 1 masehi. |
| 644 | 100 Agama Buddha Theravada muncul pertama kalinya di Burma dan bagian tengah Thailand. |
| 744 | 200 Universitas Buddhis Nalanda berkembang di India , merupakan pusat pelajaran agama Buddha kurang lebih selama 1000 tahun. |
| 969 | 425 Ven Bikkhu Buddhaghosa Thera (Sri Lanka) membuat komentar dari kitab Tipitaka Pali (Atthakatha). |
| 1594 | 1050 Komunitas Bikkhu dan Bikkhuni di Anuradhapura hancur karena invasi dari India bagian selatan. |
| 1604 | 1060 Berkembangnya Theravada di Pagan, Burma. |
| 1614 | 1070 Bikkhu-bikkhu dari Pagan tiba di Polonnaruwa, Sri Lanka untuk mengembalikan kembali garis pentahbisan bikkhu Theravada di Sri lanka. |
| 1744 | 1200 Polonnaruwa hancur oleh invasi asing. |
| 1780 | 1236 Bikkhu-bikkhu dari Kancipuram, India tiba di Sri Lanka untuk membangkitkan kembali sekte Theravada. |
| 1831 | 1287 Pagan dihancurkan oleh invasi Mongol. Jaman kemunduran dimulai. |
| 1900 | 1300s Tradisi hutan dari Sri Lanka berkembang di Burma dan Thailand. Theravada juga menyebar di Laos. |
| 2000 | 1400s Tradisi hutan lainnya dari Sri Lanka juga berkembang di Ayudhaya, ibu kota Thailand saat itu. Tradisi yang baru ini juga berkembang di Burma. |
| 2300 | 1700s Burma menyerang Ayudhaya. Raja Thailand Rama I membantu pemulihan Theravada dengan membawa duplikat kitab Tipitaka Pali dari Sri Lanka. |
| 2400 | 1800s Keadaan Sangha Sri Lanka memburuk dibawah tekanan pemerintahan tiga negara kolonial (Portugis, Belanda dan Inggris). Raja Rama IV dan Rama V dari Thailand mengadakan perubahan pada Sangha Thailand, pada kepemimpinan formasi sekte Dhammayut dan Mahanikaya. |
| 2406 | 1862 Terjemahan pertama Dhammapada ke dalam bahasa barat (Jerman). |
| 2412 | 1868 Persamuhan Agung kelima diselenggarakan di Burma. Kitab Tipitaka Pali ditulis pada 729 batu pualam. |
| 2423 | 1879 Sir Edwin Arnold mempublikasikan syair "Light of Asia", yang kemudian menjadi buku yang paling laris terjual di Inggris dan Amerika, menyebabkan tertariknya orang-orang barat akan agama Buddha. |
| 2424 | 1880 Helena Blavatsky dan Henry Steel Olcott, pendiri dari Theosophical Society, tiba di Sri Lanka dari USA, kemudian memeluk agama Buddha dan memulai kampanye pengembangan agama Buddha dengan mendorong pertumbuhan dan perkembangan sekolah-sekolah Buddhist di Sri Lanka. |
| 2425 | 1881 Pali Text Society didirikan di Inggris oleh T.W.Rhys Davids. Selama lebih dari 100 tahun , banyak bagian dari Tipitaka dipublikasikan dalam tulisan romawi dengan terjemahan ke bahasa Inggris. |
| 2434 | 1890s Vihara Theravada pertama didirikan di Australia oleh para pekerja mutiara di pulau Thursday yang berasal dari Sri Lanka. |
| 2443 | 1899 Bikkhu Theravada barat pertama (Gordon Douglas) ditahbiskan di Burma |
| 2444 | 1900 Ven. Bikkhu Ajaan Mun dan Ven Bikkhu Ajaan Sao membangkitkan kembali meditasi dengan tradisi hutan di Thailand |
| 2469 | 1925 "The Little Circle of The Dhamma" didirikan oleh Max Dunn, Max Taylor dan David Maurice di Melbourne, merupakan kelompok Theravada pertama yang didirikan oleh bangsa barat. |
| 2484 | 1940 Vihara Theravada pertama di Vietnam, vihara Buu Quang (Ratana Ramsyarama) didirikan di Saigon. Kepala viharanya adalah Ven Bikkhu Ho Tong (Vansarakkhita) yang ditahbiskan di Kamboja oleh Ven Bikkhu Chuon Nath, Sangharaja Komboja. |
| 2491 | 1947 Ven Bikkhu Mahasi Sayadaw menjadi kepala pengajar pada pusat meditasi yang disponsori oleh pemerintah Burma di Ranggon. |
| 2494 | 1950 World Fellowship of Buddhist (WFB) atau Persahabatan Buddhis Sedunia didirikan di Colombo, Sri Lanka oleh 500 utusan dari 26 negara. Kemudian oleh semua utusan, disetujui penggunaan Bendera Buddhis dan waktu untuk merayakan kelahiran Sang Buddha (saat bulan penuh di bulan Mei) yang sama . |
| 2495 | 2495 1951 Bikkhuni Dhammadinna (berkebangsaan Amerika) yang ditahbiskan di Sri Lanka, berkunjung ke Australia dan memimpin perayaan Waisak pertama di negeri tersebut. |
| 2498 | Pemerintah Burma mensponsori Persamuhan Agung keenam di Rangoon. |
| 2500 | 1956 Tahun Buddha Jayanti, memperingati 2500 tahun agama Buddha. |
| 2502 | 1958 Ven. Bikkhu Nyanaponika Thera mendirikan Buddhist Publication Society, Perhimpunan Publikasi Buddhis di Sri Lanka untuk mempublikasikan buku-buku Theravada berbahasa Inggris. Pergerakan Sarvodaya Shramadana didirikan di Sri Lanka untuk membawa agama Buddha dalam misi penanggulangan berbagai masalah sosial. Dua orang kebangsaan Jerman ditahbiskan di kedutaan besar Kerajaan Thailand di London. Mereka merupakan orang yang pertama kali ditahbiskan secara Theravada di negara barat. |
| 2509 | 1965 Vihara Buddhis didirikan di Washington D.C, merupakan vihara Theravada pertama di Amerika Serikat. |
| 2514 | 1970 Timbul banyak perhimpunan ikatan persaudaraan Buddhis di Amerika dan Eropa, yang disebabkan oleh penolakan perang di Vietnam, komboja, dan Laos. |
| 2519 | 1975 Ven Bikkhu Ajaan Chah mendirikan Wat Pah Nanachat, vihara hutan di Thailand yang khusus digunakan untuk latihan bagi bikkhu berkebangsaan barat. Insight Meditation Society (IMS), atau Perhimpunan Meditasi Pandangan Terang, didirikan di Massachusetts, Amerika oleh tiga guru (Joseph Goldstein, Sharon Salzberg, Jack Kornfield) yang belajar dibawah bimbingan berbagai guru Buddha dan Hindu di Asia. Vihara Buddharangsee didirikan di Sidney, Australia oleh Bikkhu Khantipalo (Inggris) dan tiga bikkhu Thailand. |
| 2521 | 1977 Ven Bikkhu Ajaan Chah mengadakan perjalanan ke Inggris bersama-sama dengan Ven Bikkhu Ajaan Sumedho (berkebangsaan Amerika yang berlatih di Thailand) untuk memimpin perhimpunan bikkhu di Vihara Hamsptead, yang kemudian pindah ke Sussex, Inggris berubah menjadi Vihara Pah Cittaviveka (vihara hutan Chithurst). |
| 2522 | 1978 Vihara Phap Van, vihara Theravada dari vietnam yang pertama kali didirikan di Pomona, California oleh Ven Bikkhu Tinh Duc. |
| 2524 | 1980 Pusat-pusat meditasi menjadi terkenal di Amerika Serikat dan Eropa. |
| 2526 | 1982 Di West Virginia, Amerika Serikat didirikan vihara Theravada dengan tradisi hutan yang pertama. |
| 2528 | 1984 Vihara Amaravati didirikan di Inggris oleh Ven Bikkhu Ajaan Sumedho. Vihara Bodhinyana didirikan oleh Ven Bikkhu Jagaro (Australia) dan Ven Bikkhu Brahmavamso, yang semuanya merupakan murid-murid dari Ajaan Chah. |
| 2534 | 1990 Vihara Hutan Metta, yang merupakan pusat meditasi dengan tradisi hutan dari Thailand, didirikan di selatan California, Amerika Serikat, dengan kepala vihara Ajaan Suwat. |
| 2541 | 1997 Ven Bikkhu Aggasami (Khanh Hy) mendirikan vihara Theravada Vietnam yang pertama kalinya di Montreal, Kanada, yaitu Pusat Meditasi Pannarama atau Bat Nha Thien Vien. |
| 2542 | 1998 Vihara Dhammasara didirikan di dekat Perth, Australia oleh Buddhist Society of Western Australia. |
Tahun Masehi atau Common Era (CE) sama dengan tata nama BC ('Before Christ') dan AD ('Anno Domini'). Sebagai contoh, 100 BCE (Before Common Era) atau -100 CE sama dengan 100 BC; 100 CE sama dengan 100 AD. Pada pola CE, tahun 1 BCE diikuti dengan tahun 1 CE. Tidak ada tahun Nol.
Sumber dalam Bahasa Inggris : Http://World .std.com/~metta/history.html
Terjemahan : Patria Jatim
Homoseksual Dan Ajaran Theravada
Friday, July 9, 2010
Etika Buddha: Membentuk Pribadi Bersusila Yang Mandiri Dan Peduli
Oleh Jo Priastana S.S
Pendahuluan
Zaman sekarang yang ditandai oleh perubahaan pesat di dalam banyak bidang kehidupan disamping kemajuan juga mendatangkan kegelisahan. Dengan kemajuan komunikasi dan informasi dunia menjadi kecil, dan seturut dengan itu timbulah masalah kegelisahan yang menyangkut masalah moral. Banyak orang merasa tidak punya pegangan lagi tentang norma kehidupan. Bunuh diri egoistic dan anomic yang disebut Emile Durkhein dan melanda kehidupan manusia modern merupakan cirri dari kosongnya norma moral dan makna kebersamaan.
Kita dapat membedakan masalah moral yang menyangkut individu dengan masalah moral yang menyangkut hidup dan urusan orang banyak. Moral individu
juga punya kaitan dengan orang lain, tetapi kaitan itu tidak sekuat pada moral social yang langsung menyangkut orang banyak. Moralitas mastubasi misalnya, tidak menyangkut banyak orang lain bila dibandingkan dengan moralitas system politik atau system ekonomi.
Dalam situasi perubahan dan kegelisahan yang serba tidak pasti ini, maka etika sangat dibutuhkan guna dapat menemukan patokan bertindak. Pada umumnya terdapat tiga system norma moral yang dijadikan patokan, yakni norma berdasarkan keyakinan akan kewajiban mutlak (deontologis); norma berdasarkan tujuan perbuatan (teleologis); atau norma berdasarkan hubungan-hubungan dengan orang lain(relasional).
Moral dan Etika buddhis
Moral erat kaitannya dengan etika. Moral menyangkut kebaikan. Orang yang tidak baik juga disebut sebagai orang yang tidak bermoral. Etika juga menyangkut tentang kebaikan, yakni sebagai kemampuan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam agama etika merupakan factor motivasi yang mendorong dan melandasi cita-cita dan amal perbuatan.
Dalam agama Buddha, moral dan etika sangat dititikberatkan, dan penegakkan moral merupakan perwujudan dari kebutuhan pengembangan diri dari manusia yang selalu berproses. Lebih dari sekedar melakukan upacara, Buddha menekankan untuk menegakan moral atau menjalankan sila, hidup bersusila “Saya tak akan menaruh kayu, Brahmana, untuk umpan api di altar. Hanya didalam diri, api saya nyalakan. Dengan api yang tidk putus-putus membakar ini, dan dengan diri yang selalu dikendalikan, saya jalani kehidupan mulia dan luhur. “ (Samyuttta Nikaya, 2320).
Dalam agama Buddha prilaku moral mengandung dua aspek, aspek negatif: hindarilah atau jangan berbuat kejahatan (papasanakaranam) dan aspek positif : kembangkanlah kebaikan (kusalaupasampada). Keduanya merupakan pasangan terhadap satu sama lain. Pengekangan diri terhadap pembunuhan, misalnya yang merupakan aspek positif dalam pelaksanaan cinta kasih terhadap semua makhluk
“Jangan berbuat jahat. Berbuatlah kebaikan. Sucikan hati dan pikiran.” Inilah inti ajaran para Buddha.
Didalam setiap kebaktian, umat Buddha setelah mengungkapkan keyakinan terhadap Triratna ; Buddha, Dharma dan Sangha, melanjutkan dengan membacakan paritha Pancasila, Lima Sila paling dasar dari kebajikan moral yang wajib dilaksanakan oleh umat Buddha, yaitu : jangan makan minuman yang memabukan dan yang melemahkan kesadaran.
Sila atau moralitas dalam agama Buddha juga terkandung didalam beruas delapan untuk menghentikan dukka, disamping meditasi meditasi dan panna, (kebijaksanaan), yaitu : ucapan benar (sammavacca), perbuatan benar (samma kammanta), dan mata pencaharian benar (sama Ajiva).
Sang Buddha menyebutkan tentang adanya sifat dasar yang melandasi perbuatan manusia, yaitu: merindukan kesenangan (sukhama), dan menghindari kesakitan (dukkhapatikula). Begitupun prilaku manusia bisa didasari oleh motif-motif laten yang terdapat didalam dirinya seperti : keinginan terhadap kelangsungan (bhawa-tanha), keinginan terhadap kenikmatan (kamatanha), atau keinginan akan kehancuran (vibhavatanha).
Terhadap adanya sifat-sifat dasar atau motif-motif alten tersebut, maka penegakkan moral dalam hidup bersusila sangat penting dan ditegaskan oleh Sang Buddha.
“Orang yang selalu mencari kesenangan tidak dapat mengendalikan indria-indrianya, malas dan lemah, ia pasti akan ditaklukan oleh mara, bagaikan pohon kayu yang lemah ditumbangkan oleh angin topan yang dahsyat.” (Dhammapada 7).
“Orang yang dapat mengendalikan indrianya bagaikan seorang kusir yang dapat mengendalikan kudanya, yang telah dapat menghilangkan kesombongannya dan hanya dengan ulet dapat membersihkan batinnya dari noda-noda. Orang seperti ini dicintai oleh para dewa.” (Dhammapada 94)
Sehubungan dengan tindakan-tindakan yang berkenan dengan relasi terhadap yang lain, Sang Buddha menyebutkan terdapatnya empat tipe orang, yaitu : pertama orang yang menyiksa dirinya seperti pertapa, kedua orang yang menyiksa orang lain seperti pemburu, ketiganya orang yang menyiksa dirinya maupun yang lain seperti dalam penyelenggaraan korban besar-besaran, dan keempat orang yang tidak menyiksa yang lain, seperti arahat atau orang suci.
Perbuatan manusia juga tidak dpat dilepaskan dari hubungan-hubungan dan sikapnya dengan orang lain. Dan inipun menentukan mutu kehidupannya.
“Orang yang mencari kebahagiaan dnegan menyakiti orang lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka orang itu tidak akan mendapatkan kebahagiaan setelah kematiannya. Orang yang mencari kebahagiaan dengan tidak menyakiti orang lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan setelah matinya”. (Dhammapada 131).
Bersusila yang mandiri
Terhadap kehidupan bersusila, Sang Buddha menekankan agar kita hendaknya agar kita hendaknya dapat bersikap mandiri, otonom, sebagaimana yang diungkapkannya dengan istilah “Jadilah pulau bagi dirimu sendiri”. Moralitas atau hidup yang bersusila yang mandiri ini adalah dimana kita sendirilah yang dapat memutuskan secara kritis mana yang baik dan mana yang benar, yang dapat kita lakukan melalui kesadaran yang terdapat didalam diri kita.
“Kesadaran adalah jalan menuju kekekalan. Ketidaksadaran adalah jalan menuju kematian, mereka yang sadar tidak akan mati. Orang yang tidak sadar seolah-olah telah mati” (Dhammapada 21)
“Diri sendirilah yang membuat diri jadi jahat. Drii sendirilah yang membuat diri jadi ternoda. Diri sendirilah yang membuat kejahatan terjadi. Namun diri menjadi suci dari noda”. (Dhammapada 165).
Perbuatan manusia dalam agama Buddha juga diatur didalam hokum karma atau sebab-sebab akibat perbuatan. Dinyatakan bahwa perbuatan baik (kusala kamma) akan mendatangkan kebahagiaan dan perbuatan buruk (akusala kamma) akan menghasilkan penderitaan. Perbuatan (kamma) tersbut dapat melalui pikiran (man0), ucapan (vacci) maupun tindakan jasmani (kaya), dan berdaya akibat bila disertai dnegan cetana (niat atau akibat).
Perilaku (karma) seseorang juga ditentukan oleh factor-faktor seperti : rangsangan luar (kontak) misalnya ; situasi; motif yang disadari, misalnya keserakahan, kebencian; dan motif yang tidak disadari. Misalnya keinginan untuk hidup langgeng (jivitukama), keinginan untuk menghindari dari kematian maritukama), keingianan untuk menikmati kesenangan (sukhama), dan penghindaran dari kesakitan (dukkhapatikkula).
“Tidak diangkasa, ditengah lautan ataupun didalam gua-gua gunung; tidak dimanapun seseorang dapat menyembunyikan dirinya dari akibat perbuatan-perbuatan jahatnya.” (Dhammapada 127).
Terhadap perbuatan-perbuatan yang akan kita lakukan, dan bekerjanya hukum karma ini, Sang Buddha juga menganjurkan kita untuk memiliki Hiri dan Otapa atau memiliki rasa malu melakukan perbuatan buruk/salah dan rasa takut akibat dari perbuatan buruk/salah. Disamping berupaya menyadari dan waspada terhadap kecenderungan laten yang mendadari prilaku misalnya melalui hening meditasi.
Sikap Peduli Bodhisattva.
Dalam perkembangan sejarahnya, agama Buddha terpecah menjadi dua mashab besar. Diperkirakan sejak awal abad pertama masehi perpecahan itu memunculkan dua mashab besar : Theravada dan Mahayana. Meski bersumber kepada Buddha Dharma, kedua mashab dengan cirri-ciri masing-masing ajaran ini turut memberikan corak yang khas bagi perilaku penganutnya maupun perwujudannya dalam dunia social dan budaya.
Theravada lebih bersifat ortodoks, bertujuan mencapai cita-cita Arahat (menjadi orang suci) dengan berupaya melenyapkan sifat-sifat negatif yang merupakan belenggu (samyojanna) yang terdapat didalam diri seperti seperti : kepercayaan terhadapku, keraguan, keyakinan bahwa upacara dapat membebaskan, keinginan akan kesenangan indria, kemarahan, keinginan kelangsungan, keinginan pemusnahan, kesombongan, ketidak seimbangan, dan kegelapan batin.
Prinsip negasi-negasionis (melenyapkan yang negatif) ini menjadikan kaum Thjeravedin begitu patuh terhadap prinsip moral dalam sila, serta melakukan meditasi perbersihan batin.
Mahayana lebih bersifat liberal-prograsif, dengan mengembangkan cita-cita Boddhisattva: bertujuan menolong semua makhluk yang menderita dengan : bilamana masih ada setangkai daunpun yang menderita saya tidak akan memasukinya meskipun pintu nirvana itu sudah terbuka untuk saya. Terhadap peraturan-peraturan moral atau susila kaum Mahayana tidak melekat begitu saja namun lebih menitik beratkan kepada semangat atau maknanya. Dengan mengembangkan karuna (belas kasih) kepad segenap makhluk yang menderita, dan dengan tercapainya pemahaman sunyata (kekosongan) melalui prajna (kebijaksanaan trassenden) yang menjadikan dirinya tidak terikat lagi, kaum Mahayana mengembangkan paramita atau kesempurnaan kebajikan (sifat-sifat yang positif) seperti: kedermawanan, moralitas, kesabaran, tekad, mediasi dan kebijaksanaan.
Dengan mengembangkan sad atau enam paramita ini kaum Mahayana mengupayakan berbagai macam cara untuk dapat berbuat baik dan menolong makhluk yang masih menderita (upaya kausalya). Kaum Mahayana juga lebih memandang positif terhadap dirinya, karena di dalam dirinya terkandung bodhicitta (benih/kesadaran Buddha) yang perlu ditumbuh-kembangkan, dan juga menjadi suara hati bagi perilakunya.
Dalam mahjab Mahayana pula berkembang pemahaman terhadap konsep Paramatha-Stya dan Semmuti-Satya atau kebenaran mutlak dan kebenaran relatif. Kedua kebenaran ganda ni tidak dipisahkan satu sama lain. Begitu pula tentang Asankhata Dharma dan Sankhata Dharma atau realitas yang absolut dan realitas yang relatif.
Kebenaran dan realitas dan adanya. Dunia merupakan lading subur bagi penanaman paramita dalam berbagai bidang kehidupan, baik melalui bidang kehidupan, baik melalui pengembangan prajna yang merupakan sumber daya bagi munculnya mansuia-manusia pandai dan cerdas lagi bijaksana, maupun aktualitas karuna yang merupakan sumber daya bagi solidaritas, kepeduliaan terhadap sesama makhluk dan lingkungan.
Bahwa kehidupan dalam dunia yang bersyarat, terkondisi relatif ini merupakan kancah bagi terketemukannya dna berkembagnnya nilai-nilai hakiki, nilai-nilai mutlak yang terkandung dalam moral.
Melalui cita-cita Bodhisattva berdasarkan sunyata (kekosongan, ketidakterikatan) dan karuna (balas kasih), kita mengembangkan kebebasan dan tanggung jawab social, atau moral social seperti misalnya sikap peduli untuk berupaya untuk mengatasi ketidakadilan, kekerasan dan sebagainya.
Kaum Muda Yang Mandiri dan Peduli Etika Buddhis menegaskan untuk hidup bersusila yang mandiri dan peduli. Hidup bersusila ini perlu dibentuk dan ditumbuh-kembangkan, terutama bagi kaum muda yang sedang dalam proses pencaharian diri dan pembentukan idnetitas. Pembentukan pribadi bersusila yag mandiri dan peduli ini sangat penting bagi mahasiswa sebagai kaum muda yang disamping akrab dengan ilmu pengetahuan yang menyangkut teori dan fakta, juga bergumul dengan masalah nilai Kemampuan Mahasiswa untuk memadukan diantara teori, fakta dan nilai, tidak hanya memungkinkan menjadi ilmuwan yang cerdas namun juga menjadi pribadi bersusila yang mandiri dan peduli.
Ciri seorang ilmuwan adalah mampu memadukan antara teori dan nilai fakta. Sedangkan dengan menghubungkan antara teori dan nilai memungkinkan mahasiswa dapat bersikpa selalu budayawan; yang memperhatikan masalah nilai-nilai kehidupan dan menjaga kehidupan ini. Bila seorang mahasiswa mampu menghubungkan antara fakta dan nilai, maka ia telah berperan sebagai seorang agamawan yang secara kritis menilai terhadap apa yang ada dan sekaligus mampu memberi orientasi terhadap apa yang seharusnya atau yang sebenarnya.
Dengan berlandaskan pada sila, keyakinan terhadap hukum karma, , pemahaman terhadap parammaha-satya, sammutti-satya, maupun asankhata-dhamma, sankhata-dhamma, dan pemahaman kritis melalui sunyata serta sikap seorang Bodhisattva yang didasari karuna, maka diharapkan seorang mahasiswa yang bergumul dengan teori, fakta dan nilai, akan memungkinkan terwujudnya pribadi bersusila yang mandiri, otonom, dewasa, dengan bersikap altruis, peduli terhadap lingkungan-dunia, maupun bermoral social yang matang.
[Disajikan dalam “Pekan Orientasi 2 Keluarga Mahasiswa Buddhis Jakarta”, Bumi Tri-dharma, Cipendawa Puncak, 13 – 17 Agustus 1997. Dikutip dari Majalah Buddhis Indonesia Edisi ke 59 / 1997]
Doa, Bisakah Terkabul?

Hidup ini tidak memuaskan. Ada saja yang kita rasa masih kurang kita miliki; harta, rezeki, berkah, sandang-pangan, pekerjaan, kesehatan, keamanan, keturunan, keselamatan, kebahagiaan, dll. Sesungguhnya semua itu bisa kita dapatkan dengan melakukan suatu usaha, dengan membuat sebabnya, karena manusia memang memiliki potensi untuk itu. Manusia bukanlah makhluk lemah dan ringkih, sehingga untuk memenuhi segala kebutuhannya harus mengharapkan belas kasihan makhluk lain. Menurut agama Buddha, manusia bukanlah wayang golek, yang segala sesuatunya diatur dan digerakkan oleh Pak Dalang/Sutradara. Tak ada makhluk lain yang ikut mengatur persoalan nasib seseorang. Namun karena terbelenggu oleh ketidaktahuan, manusia tidak dapat melihat dan merealisasikan potensi yang ada pada dirinya. Mereka lebih suka memohon dan meminta kepada para dewa, sebagai jalan pintas untuk memenuhi segala keinginannya, tanpa mau bersusah payah. Apalagi bila dalam memohon itu dipersembahkan sajian yang mewah dan mahal, maka dianggap akan lebih mempercepat terkabulnya permintaan mereka. Tindakan memohon dan meminta kemurahari hati para Dewa atau Maha Dewa untuk sesuatu inilah yang umum disebut Berdoa.
Umat Buddha memuja Sang Buddha, sama sekali tidak dengan harapan untuk memperoleh hadiah-hadiah duniawi maupun spiritual, seperti: rezeki, harta, pekerjaan, jodoh, keturunan, keselamatan, berkah, diampuni dosanya, sorga, atau pamrih apapun. Bukan juga karena perasaan takut akan hukuman. Kita menghormat dan sujud kepada Sang Buddha karena Beliaulah yang menemukan dan membabarkan Jalan Kebebasan. Karena itu, tidaklah berkelebihan bila Puja Bakti, sembahyang, dalam agama Buddha adalah betul- betul mumi dan tulus.
Dengan mempersembahkan bunga dan dupa di hadapan Buddha Rupang, kita bermaksud membuat diri kita merasa berhadapan langsung dengan Sang Buddha. Dengan cara demikian kita memperoleh inspirasi dari sifat pribadi Sang Buddha yang mulia, dan menghirup kasih sayang Beliau yang tak terbatas, serta merenungi dan mencoba untuk mengikuti contoh mulia Beliau. Pohon Bodhi juga merupakan lambang pencapaian penerangan sempuma. Obyek-obyek penghormatan luar ini tidak mutlak perlu, dan ini hanya berguna untuk memusatkan pikiran seseorang kala bermeditasi.
Seseorang yang sudah maju tidak memerlukan obyek-obyek luar tersebut Karena dengan mudah ia dapat memusatkan perhatiannya dan menggambarkan Sang Buddha dalam batinnya. Demi kebaikan kita sendiri dan karena rasa terima kasih, maka kita melakukan penghormatan luar seperti itu. Tapi yang diharapkan oleh Sang Buddha dari para pengikutnya bukanlah penghormatan seperti itu. Sang Buddha bersabda; bahwa cara penghormatan yang paling tepat adalah melaksanakan ajaran-Nya dengan baik.
Dalam agama Buddha tidak ada doa-doa permohonan, minta-minta keselamatan, berkah, rezeki, pengampunan, dan lain-lain; baik kepada Dewa, Brahma, Sang Buddha sendiri, ataupun Tuhan. Beliau tak pernah manjanjikan hadiah kepada mereka yang berdoa kepada-Nya. Sang Buddha tidak hanya menyatakan betapa sia-sianya doa-doa permohonan, tapi juga Beliau mencela perbudakan mental seperti itu.
Mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan umatnya berdoa atau memohon atau meminta-minta kepada Tuhan, karena Tuhan -Yang Maha Esa- dalam agama Buddha bukanlah suatu pribadi atau makhluk hidup yang menjadi tempat menggantungkan hidup, berdoa, atau memohon. Tuhan dipandang sebagai Tujuan Akhir bagi semua makhluk. Dengan demikian, doa permohonan tidak tepat ditujukan kepada Tuhan dalam pengertian agama Buddha. Sang Buddha telah berhasil menempatkan Tuhan pada proporsi yang sebenamya, yaitu sebagai Dhamma Yang Tertinggi, Yang Tak Bersyarat. Demikian juga halnya dengan Sang Buddha, karena telah menyadari dan menyelami hakikat Tuhan yang sebenamya, maka Beliau tidak seharusnya dipaksa untuk mengurusi hat-hal duniawi. Umpamanya, dengan menjadikannya sebagai cukong yang senang berdagang kesejahteraan atau kebahagiaan; ataupun sebagai hakim yang dapat disuap dengan doa-doa, puji-pujian, maupun persembahan kurban. Sebagai Guru yang menganjurkan Ehipassiko, maka mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan doa permohonan/minta-minta, dapat dikaji dari manfaat atau kegunaan doa yang demikian itu. Untuk mengkaji manfaatnya, kita dapat membuat suatu analogi yang sederhana.
Ada tiga orang petani, menanam jagung dengan faktor-faktor penunjang tanah, air, cuaca, perawatan, dl1- yang sama. Tapi:
- Si A, berdoa siang malam, agar biji jagung yang ditanam tumbuh menjadi pohon mangga.
- Si B, berdoa agar biji jagung itu tumbuh menjadi pohon jagung.
- Si C, tidak berdoa, karena yakin "segala sesuatu itu akan tumbuh dan berbuah sesuai dengan benih yang ditanam".
Adakah yang mampu mengabulkan doa/permohonan si A? Rasanya penjelasan lewat analogi tersebut sudah sangat gamblang. Doa hanya terkabul bila pas dan sesuai dengan benih / karma / perbuatan kita; yang sebetulnya tanpa didoakan/dimohonkan/diminta juga pasti akan terkabul. Untuk membuat keinginan kita terkabul, sebab yang tepat mesti kita miliki atau ciptakan. Berdoa, itu boleh dan bisa saja, seperti kita boleh/bisa menebar pupuk, menyiram dengan air, tapi jika tidak menebar benih, maka tak ada yang tumbuh. Doa permohonan menjadi sia-sia bila kita tidak memiliki simpanan karma balk, tidak memiliki penyebab terkabulnya doa permohonan kita.
Sang Buddha saat menjelaskan bagaimana hukum sebab-akibat bekerja dalam pikiran kita, menyatakan bahwa membunuh akan menyebabkan antara lain, berusia pendek. Menghindari pembunuhan, akan menyebabkan usia panjang dan bebas dari penyakit Bila kita gagal mengikuti nasihat yang paling mendasar ini, tetapi tetap berdoa agar berumur panjang dan memiliki kesehatan yang balk, kita telah salah tafsir. Sebaliknya bila di masa lalu seseorang telah menghindari pembunuhan, menyelamatkan nyawa seseorang atau makhluk lain, maka harapannya mungkin bisa terpenuhi. Dengan cara yang sama, Sang Buddha mengatakan bahwa kemurahan hati merupakan awal dari kekayaan. Jika kita murah hati pada kehidupan yang lalu, dan sekarang berharap agar kekayaan kita bertambah, maka keuangan kita bisa berkembang. Sebaliknya bila kita kikir saat ini, kita sedang menciptakan sebab dari kemiskinan kita di masa mendatang!
Bila ada yang merasa doanya terkabul, maka terkabulnya doa itu sesungguhnya karena ia memiliki sebabnya. Ia mempunyai tabungan karma baik di kehidupannya yang dulu, atau karena usahanya pada kehidupannya sekarang ini. Untuk itu beberapa agama cenderung merangkaikan kata doa menjadi "Berdoa dan bekerja". Kita tentu menyetujui bahwa yang menjadi penentu terpenuhinya keinginan kita adalah kata "bekerja". Sebab, bekerja tanpa berdoa, keinginan kita masih bisa tercapai. Tapi kalau berdoa saja tanpa bekerja, hasilnya tidak pasti. Apakah semua ini berarti bahwa doa permohonan adalah satu hal yang sama sekali tidak berguna? Walaupun jelas doa itu sendiri tak bisa mengabulkan keinginan kita, tentu tak bisa dikatakan 'mutlak sia-sia'. Karena bagaimanapun juga, berdoa jauh lebih baik daripada melamun dengan pikiran kosong, apalagi berbohong, mencuri, mabuk-mabukan, atau perbuatan buruk lainnya. Alih-alih mengajarkan doa-doa permohonan yang sia-sia, Sang Buddha mengajarkan Meditasi. Meditasi bukanlah berdiam diri melamun atau mengosongkan pikiran. Meditasi adalah perjuangan pikiran, latihan pengendalian pikiran; mengesampingkan segala pikiran dan nafsu keinginan yang rendah dan egois, mengendapkan kekotoran batin sehingga pikiran menjadi tenang. Makin maju tingkat meditasi kita, makin tenang, jemih, dan terang pikiran kita. Dengan pikiran yang jernih, tentu kita menjadi lebih waspada, bijaksana, dan lebih bisa membedakan antara yang semu dengan yang sejati. Pada tahap lebih lanjut, ini akan mengubah cara berpikir kita, mengubah pandangan dan tabiat kita menjadi lebih baik. Cara berpikir dan tabiat yang baik tentu membuat tindakan kita pun menjadi baik. Otomatis kelak kita akan memetik kebahagiaan, walaupun kita tidak berdoa, memohon, atau meminta. Meditasi merupakan cara sembahyang yang paling mudah dan bersih, karena tidak mewajibkan seseorang untuk mengucapkan apa-apa yang tidak ia mengerti. Tidak memperbesar keinginan atau keegoisan dengan permohonan atau permintaan untuk kepentingan/keuntungan diri sendiri.
Apakah berarti Dewa tidak bisa menolong manusia?Jangankan Dewa, manusia pun bisa menolong, tetapi bantuan atau pertolongan itu tidak terlepas dari karma kita sendiri, baik pada kehidupan yang lampau maupun yang sekarang. Dewa yang kita mohoni, hanya mampu menyediakan situasi agar karma baik kita bisa tumbuh dan masak.
Bagaimana Dewa bisa menolong? Apabila moral dan batin kita bersih, otomatis para Dewa suka berada di dekat kita. Tanpa diminta pun, mereka akan berusaha membantu kita. Memberi firasat, menghalangi makhluk jahat atau 'black-magic' yang ingin mengganggu. Tapi kalau memang karma buruk kita yang lampau telah masak dan situasi serta kondisinya mendukung, maka siapa pun tak sanggup menolong lagi.
Dalam arti sejati:"Diri sendiri sesungguhnya pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah seseorang dapat melatih dirinya dengan baik, maka ia akan memperoleh suatu perlindungan yang sukar diperoleh". Walau tak ada larangan untuk meminta pertolongan kepada para Dewa, umat Buddha tidak seharusnya menggantungkan hidupnya kepada para Dewa. Kemandirian seharusnya menjadi sikap yang utama. Sebab manusia mempunyai potensi tinggi untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya karena ketidaktahuannya atau kebodohannya yang sangat dalam itulah, maka manusia gagal untuk menyadari kemampuan tersebut.
Perlu diketahui bahwa pertolongan yang dapat diberikan oleh para Dewa maupun makhluk lain hanyalah terbatas pada pertolongan yang bersifat duniawi, tidak kekal, bisa musnah, bisa hilang; sehingga akhimya bisa menimbulkan penyesalan dan kedukaan. Sedangkan kesucian, kebahagiaan sejati, dan kesempurnaan, hanya dapat dicapai melalui usaha dan perjuangan sendiri. Sekarang mungkin timbul pertanyaan, "Kalau memang agama Buddha tidak mengenal ajaran tentang doa, permohonan, atau minta-minta, lalu apa yang dilakukan atau diucapkan oleh umat Buddha saat sembahyang?"
Sang Buddha mengajarkan agar kita memperbaiki yang ada di dalam diri kita sendiri, mengikis Lobha, Dosa, dan Moha. Makin bersih batin kita, makin mampu kita menahan diri dari perbuatan salah; yang berarti makin sedikit buah-buah pahit yang bakal kita terima. Yang diucapkan waktu sembahyang adalah PARITTA atau SUTTA. Dengan mengucapkan paritta atau sutta, pikiran dan ucapan diarahkan untuk berpikir dan berucap yang balk. Itu berarti membuat karma baik lewat pikiran dan ucapan. Makna atau tujuan kita mengucapkan paritta adalah sebagai pengulangan terhadap Ajaran Sang Buddha, agar kita selalu ingat terhadap Dhamma Sang Buddha, selalu ingat kepada sila (kemoralan), kepada sifat-sifat luhur Buddha, Dhamma, dan Sangha. Dan pada akhimya ini memberi kita semangat, penguat tekad, pembangkit usaha untuk melaksanakan Dhamma, serta sebagai pengantar yang menenangkan untuk memulai meditasi.
Umat Buddha menyatakan berlindung kepada Tiratana – Buddha, Dhamma, dan Sangha. Hal ini jangan diartikan sebagai perlindungan yang pasif, karena "berlindung" di sini merupakan pernyataan tekad, janji kepada diri sendiri untuk mempelajari, mempraktikkan Buddha Dhamma sampai akhimya mencapai Tujuan. Jadi terlindung tidaknya, tergantung dari praktik Dhamma kita sendiri; sama sekali tidak terkandung pengertian agar Tiratana menyelamatkan kita, tanpa kita perlu mempraktikkan Dhamma itu sendiri.
Ada juga Paritta yang mirip doa, berisi harapan, memang. Tetapi jelas itu tidak bisa disebut doa, memohon, atau meminta, karena sebetulnya itu adalah PATTIDANA atau Pelimpahan Jasa. Terkabul atau tidaknya harapan itu tergantung pada karma masing-masing. Bukan tergantung pada belas kasihan suatu makhluk. Ada juga yang bermakna ADITTHANA, tekad, untuk mewujudkan harapan itu dengan jalan melaksanakan Dhamma.
Bila kita tak bisa membaca paritta, karena sebagai pemula, maka kita bisa mengucapkan: "Semoga semua makhluk berbahagia". Kalimat itu diulang-ulang terus. Bila hal itu sering kita lakukan dan hayati, maka batin kita akan diliputi oleh rasa cinta kasih (metta). Bila kita hendak melakukan perbuatan/karma buruk yang merugikan makhluk lain, kita cepat menyadari. "Baru saja saya mendoakan agar semua makhluk berbahagia, mengapa sekarang saya ingin menyakiti orang/makhluk lain?" Karma buruk batal kita laksanakan, buah buruk pun tak bakal kita rasakan. "Sembahyang, Puja Bakti, dalam agama Buddha bukan untuk memaksakan keinginan kita, atau mengubah apa yang ada di luar diri kita, tapi untuk mengubah apa yang ada di dalam diri kita, mengikis kekotoran batin; Lobha, Dosa, dan Moha".
Persembahan, boleh atau dilarang?Masalahnya bukan boleh atau dilarang, tetapi bermanfaat tidaknya tindakan itu. Sang Buddha tidak pemah melarang umat awam; Sang Buddha hanya memberitahukan akibat, pahala, dan konsekuensi dari suatu tindakan. Kita sujud dan melakukan persembahan, bukanlah karena Sang Buddha memerlukan, meminta, merasa berhak, apalagi mengharuskan. Seseorang yang telah menyucikan pikirannya dan menikmati kebahagiaan yang datang dari kebijaksanaan dan Kebahagiaan Sejati, sama sekali tidak memerlukan apa-apa dari luar dirinya untuk dapat menjadi bahagia. Dan... Sang Buddha sebetulnya tidak memerlukan atau pun memperoleh apa-apa dari persembahan kita!
Apakah ini berarti persembahan kita sia-sia?Yang mendapatkan manfaat dari persembahan kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita yang belum meraih kesucian, tentu memiliki kemelekatan dan kekikiran. Selalu merasa kurang dan haus. Ini membuat pikiran. kita tidak tenang, mendorong kita untuk menghalalkan segala cara untuk mernperoleh yang kita inginkan. Untuk mengikis kemelekatan dan kekikiran itu, salah satu caranya adalah melaksanakan persembahan atau berdana. Memberi tanpa merasa kehilangan. Hal ini memberikan potensi positif dan mengembangkan pikiran kita, yang selanjutnya memperbaiki tindakan kita.
Bagaimana dengan persembahan hewan kurban?Mempersembahkan hewan kurban juga baik dan bermanfaat. Tapi, disamping kebaikannya itu, karena ia juga telah sengaja menimbulkan suatu pembunuhan -- yang termasuk karma buruk--, berarti persembahan hewan kurban manfaatnya menjadi berkurang, susut Apalagi bila setelah sembahyang, hewan kurban itu dimakan sendiri --tidak didanakan kepada orang lain--, maka manfaatnya menjadi semakin kecil.
Sang Buddha sebagai Guru para Dewa dan manusia, tidak terlalu mengagung-agungkan kehidupan para Dewa, tapi juga tidak terlalu merendahkan kehidupan binatang. Sang Buddha hanya menempatkan pada proporsi yang sebenarnya saja. Memberikan komentar tentang persembahan kurban, Sang Buddha menyatakan: "Barang siapa mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, tidak akan memperoleh kebahagiaan setelah kematian ".
Bagaimana dengan "doa kaul"?"Tuhan/Dewa, berilah kami rezeki/makanan/anak. Kalau doa kami dikabulkan, kami akan mempersembahkan ayam panggang 10 ekor". Secara sadar atau tidak, doa itu bermakna; "Tuhan/Dewa, berilah kami rezeki/makanan/anak, kalau Tuhan/Dewa berikan, nanti saya beri ayam panggang. Tapi kalau Tuhan/Dewa tidak beri, saya juga tidak jadi memberi ayam panggang". Bila Tuhan/Dewa yang kita sembah mampu memberi kita apapun yang kita minta, apakah kita tidak salah kaprah dengan menjanjikan sesuatu kepadanya? Ibarat kita menjanjikan uang sepuluh ribu rupiah kepada Om Liem, bila Om Liem mau mengabulkan permintaan kita...
Bagaimana "kaul" secara Buddhis?Berdana, berbuat baik dulu, baru lalu mengharap, "Semoga dengan kebaikan yang saya lakukan ini, saya bisa mendapatkan kebahagiaan/rezeki/makanan/anak". Jadi, tanam dulu benih jagung kita, baru kita bisa berharap memanen jagung. Kalau kita menanam -mendanakan- sebutir jagung, kelak kita akan mendapatkan hasil, pahalanya berbutir-butir. Kalau kita berharap panen dulu baru kelak menanam, berarti kita perlu banyak belajar dari pak tani.
Semoga tulisan ini bisa memperbaiki cara kita bersembahyang. Semoga semua makhluk berbahagia.
[Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XIV ]
