Monday, March 22, 2010

BAGAIMANAKAH MEMILIH AGAMA?


BAGAIMANAKAH MEMILIH AGAMA?
 Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda

Pada masa Sang Buddha, telah ada banyak aktivitas intelektual besar di India. Beberapa orang terpandai yang diketahui oleh dunia telah berkecimpung di dalam kontroversi keagamaan besar sepanjang masa.

Apakah ada Sang Pencipta? Tidak adakah Sang Pencipta? Adakah jiwa itu? Tidak adakah jiwa itu? Apakah dunia tanpa awal? Apakah ada awal permulaan?

Ini merupakan beberapa topik yang hangat diperdebatkan sepanjang waktu. Dan tentu saja, seperti saat ini, semua mengklaim bahwa hanya dialah yang memiliki semua jawaban dan siapapun yang tidak mengikutinya akan dikutuk dan dimasukkan ke dalam neraka! Sebenarnya, semua pencarian keras atas kebenaran ini hanya akan menghasilkan lebih banyak lagi kebingungan.

Sekelompok pemuda yang saleh dari suku Kalama pergi menghadap Sang Buddha untuk menyampaikan kebingungan mereka. Mereka bertanya kepadaNya apa yang seseorang harus lakukan sebelum menerima atau menolak suatu ajaran.

1.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Berita Semata
Nasihat Sang Buddha seperti yang disebutkan dalam Kalama Sutta adalah untuk tidak menerima apapun berdasarkan pada berita, tradisi, kabar angin semata. Biasanya orang mengembangkan keyakinan mereka setelah mendengarkan perkataan orang lain. Tanpa berpikir mereka menerima apa yang orang lain katakan mengenai agama mereka atau apa yang telah tercatat dalam buku-buku keagamaan mereka. Kebanyakan orang jarang sekali mengambil resiko untuk menyelidiki, untuk menemukan apakah yang dikatakannya benar atau tidak. Sikap umum seperti ini sukar untuk dipahami, khususnya di dalam era modern saat ini ketika pendidikan sains mengajarkan orang untuk tidak menerima sama sekali apapun yang tidak bisa dijelaskan secara rasional. Bahkan sekarang ini banyak yang disebut sebagai pemuda berpendidikan  hanya menggunakan emosi atau ketaatan mereka tanpa menggunakan pikiran naralnya.

Dalam Kalama Sutta, Sang Buddha memberikan nasihat yang sangat liberal (bebas) kepada sekelompok pemuda dalam menerima suatu agama secara rasional. Ketika orang-orang muda ini tidak dapat memutuskan bagaimana memilih agama yang sesuai, mereka menghadap kepada Sang Buddha untuk mendapatkan nasihatNya. Mereka mengatakan kepadaNya bahwa semenjak berbagai kelompok agama memperkenalkan agamanya dalam berbagai cara, mereka mengalami kebingungan dan tidak bisa memahami cara keagamaan mana yang benar. Para pemuda ini bisa diibaratkan dalam istilah modern sebagai para pemikir bebas (free thinkers), atau para pencari kebenaran (truth seekers). Inilah mengapa mereka memutuskan untuk mendiskusikan hal ini dengan Sang Buddha. Mereka memohon kepada Sang Buddha untuk memberikan beberapa garis pedoman untuk membantu mereka menemukan suatu agama yang sesuai dimana dengannya mereka dapat menemukan kebenaran.

Dalam menjawab pertanyaan mereka, Sang Buddha tidak mengklaim bahwa Dhamma (ajaranNya) merupakan satu-satunya ajaran yang bernilai dan siapapun yang mempercayai hal lain akan masuk ke neraka. Justru Beliau memberikan beberapa nasihat yang penting untuk mereka pertimbangkan. Sang Buddha tidak pernah menganjurkan orang untuk menerima suatu agama hanya melalui iman (faith) semata tetapi Beliau menganjurkan mereka untuk mempertimbangkan dan memahami segala sesuatunya tanpa bias (praduga/menyimpang). Beliau juga tidak menganjurkan orang untuk menggunakan emosi atau ketaatan semata yang berdasarkan pada kepercayaan yang membuta di dalam menerima suatu agama. Inilah mengapa agama yang berdasarkan pada ajaranNya sering digambarkan sebagai agama rasional. Agama ini juga dikenal sebagai agama merdeka dan beralasan (religion of freedom and reason). Kita seharusnya tidak menerima apapun melalui iman atau emosi untuk mempraktikkan suatu agama. Kita seharusnya tidak menerima suatu agama begitu saja dikarenakan agama itu menghilangkan ketakutan bodoh kita mengenai apa yang akan terjadi pada diri kita, kapan kita mati ataupun ketakutan kita ketika diancam oleh api neraka jika kita tidak menerima beberapa ajaran atau yang lainnya. Agama harus diterima melalui pilihan bebas. Setiap pribadi harus menerima suatu agama karena pemahaman dan bukan karena agama itu merupakan hukum yang diberikan oleh suatu penguasa atau kekuatan-kekuatan supernatural. Menerima suatu agama haruslah bersifat pribadi dan berdasarkan pada kepastian rasional akan agama yang akan diterima.

Orang dapat membuat berbagai macam klaiman mengenai agama mereka dengan membesar-besarkan berbagai macam peristiwa untuk mempengaruhi orang lain. Kemudian, mereka dapat memperkenalkannya sebagai pesan surgawi untuk menumbuhkan iman atau rasa percaya. Tetapi kita harus membaca apa yang tertulis secara analitis dengan menggunakan akal sehat dan kekuatan pikiran. Itulah mengapa Sang Buddha menasihatkan kita untuk tidak menerima secara tergesa-gesa apapun yang tercatat, tradisi, atau kabar angin semata. Orang mempraktikkan tradisi-tradisi tertentu yang berdasarkan pada kepercayaan, kebiasaan atau cara hidup komunitas dimana mereka berada. Namun, beberapa tradisi sangatlah penting dan berarti. Oleh karena itu, Sang Buddha tidak mengecam semua tradisi adalah salah tetapi menasihatkan kita untuk mempertimbangkannya dengan sangat berhati-hati praktik mana yang penuh arti dan mana yang tidak. Kita harus mengetahui bahwa beberapa tradisi tertentu tersebut menjadi ketinggalan jaman dan tidak berarti lagi setelah beberapa periode waktu. Hal ini mungkin disebabkan karena kebanyakan di antaranya diperkenalkan dan dipraktikkan oleh orang-orang primitif dan pemahaman mereka tentang kehidupan manusia dan alam sangatlah terbatas pada masa itu. Jadi, pada masa sekarang ini ketika kita menggunakan pendidikan sains modern kita dan pengetahuan akan alam semesta, kita dapat melihat sifat sesungguhnya dari kepercayaan mereka. Kepercayaan yang dimiliki orang-orang primitif mengenai matahari, bulan, dan bintang-bintang, bumi, angin, halilintar, guntur dan halilintar, hujan dan gempa bumi, berdasarkan pada usaha mereka untuk menjelaskan fenomena alam yang nampaknya sangat mengerikan. Mereka memperkenalkan fenomena alam tersebut sebagai tuhan-tuhan (dewa) atau perbuatan-perbuatan tuhan dan kekuatan-kekuatan supernatural.

2.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Tradisi Semata
Dengan pengetahuan kita yang telah maju, kita dapat menjelaskan fenomena alam yang nampaknya mengerikan ini sebagaimana apa adanya. Itulah mengapa Sang Buddha mengatakan, “Janganlah menerima dengan segera apa yang kau dengar. Janganlah mencoba untuk membenarkan perilaku tidak rasionalmu dengan mengatakan ini adalah tradisi-tradisi kami dan kita harus menerimanya.” Kita seharusnya tidak percaya begitu saja kepada takhayul ataupun dogma agama karena orang yang dituakan melakukan hal yang sama. Ini bukan berarti kita tidak menghormati para sesepuh kita, tetapi kita harus melaju bersama waktu. Kita seharusnya memelihara kepercayaan-kepercayaan yang sesuai dengan pandangan dan nilai-nilai modern dan menolak apapun yang tidak diperlukan atau yang tidak sesuai karena waktu telah berubah. Dengan cara ini kita akan dapat hidup dengan lebih baik.

Satu generasi yang lalu, seorang pendeta Anglikan, Uskup dari Woolich menyatakan sebuah kalimat, “Tuhan dari celah“ (God of the gaps) untuk menjelaskan bahwa apapun yang tidak kita pahami merupakan atribut tuhan. Karena pengetahuan kita terhadap dunia telah berkembang, kekuatan tuhan pun berkurang secara bersamaan.

3.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Kabar Angin Semata
Semua orang suka mendengarkan cerita. Mungkin itulah mengapa orang mempercayai kabar angin. Anggaplah ada seratus orang yang telah melihat sebuah peristiwa tertentu dan ketika setiap orang menceritakannya kembali kepada yang lain, ia akan menghubungkannya dengan cara yang berbeda dengan menambahkan lebih banyak hal lainnya dan membesar-besarkan hal yang kecilnya. Ia akan menambahkan “garam dan bumbu” untuk membuat ceritanya lebih seru dan menarik dan untuk memperindahnya. Umumnya setiap orang akan menceritakan suatu kisah seolah-olah dialah satu-satunya yang dapat menceritakan kepada orang lain apa yang benar-benar terjadi. Inilah sifat sesungguhnya dari cerita yang dibuat dan disebarkan oleh orang. Ketika Anda membaca beberapa kisah dalam agama apapun, cobalah untuk ingat bahwa kebanyakan dari interpretasinya adalah hanya untuk menghias peristiwa kecil untuk menarik perhatian orang. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada apapun bagi mereka untuk diceritakan kepada orang lain dan tak seorang pun akan menaruh perhatian pada kisah itu.

Di sisi lain cerita dapat sangat bermanfaat. Cerita merupakan cara yang menarik untuk menyampaikan pelajaran moral. Literatur Buddhis merupakan gudang yang besar dari beragam kisah cerita. Tetapi itu hanyalah cerita. Kita harus tidak mempercayainya seperti seolah-olah cerita itu adalah kebenaran mutlak. Kita seharusnya tidak seperti anak kecil yang percaya bahwa seekor serigala dapat menelan hidup-hidup seorang nenek dan berbicara kepada manusia! Orang dapat berbicara mengenai berbagai macam keajaiban, tuhan-tuhan/dewa, dewi, bidadari-bidadari dan kekuatan mereka berdasarkan pada kepercayaan mereka. Kebanyakan orang cenderung untuk menerima dengan segera hal-hal tersebut tanpa penyelidikan apapun, tetapi menurut Sang Buddha, kita seharusnya tidak mempercayai dengan segera apapun karena mereka yang menceritakannya kepada kita akan hal itu pun terpedaya olehnya. Kebanyakan orang di dunia ini masih berada dalam kegelapan dan kemampuan mereka untuk memahami kebenaran sangatlah miskin. Hanya beberapa orang yang memhami segala sesuatu secara sewajarnya. Bagaimana mungkin seorang buta menuntun seorang buta lainnya? Kemudian ada perkataan lain, ”Jack  si mata satu dapat menjadi raja dikerajaan orang buta.” Beberapa orang mungkin hanya mengetahui sebagian dari kebenaran. Kita perlu berhati-hati dalam menjelaskan kebenaran mutlak ini kepada mereka.

4.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Otoritas Teks-Teks Keagamaan Semata
Selanjutnya Sang Buddha memperingati kita untuk tidak mempercayai apapun berdasarkan pada otoritas teks-teks keagamaan ataupun kitab-kitab suci. Beberapa orang selalu mengatakan bahwa semua pesan-pesan yang terdapat dalam kitab-kitab suci mereka disampaikan secara langsung oleh tuhan mereka. Sekarang ini, mereka mencoba untuk memperkenalkan buku-buku tersebut sebagai pesan dari surga. Hal ini sukar untuk dipercaya bahwa mereka menerima pesan ini dari surga dan mencatatnya dalam kitab suci mereka hanya pada beberapa ribu tahun yang lampau. Mengapa wahyu ini tidak diberikan lebih awal? (Menimbang bawa planet bumi ini berusia empat setengah miliar tahun). Mengapa wahyu tersebut dibuat hanya untuk menyenangkan beberapa orang tertentu saja?  Tentunya akan jauh lebih efektif jika mengumpulkan semua orang dalam suatu tempat dan menyatakan kebenaran kepada banyak orang daripada bergantung pada satu orang untuk melakukan pekerjaan itu. Bukankah tetap lebih baik jika tuhan-tuhan mereka menampakkan diri pada hari-hari penting tertentu dalam setahun untuk membuktikan keberadaan dirinya secara berkala? Dengan cara demikian tentunya mereka tidak akan memiliki kesulitan sama sekali untuk mengubah seluruh dunia!

Umat Buddha tidak berusaha untuk memperkenalkan ajaran Sang Buddha sebagai pesan surgawi, dan mereka mengajarkan tanpa menggunakan kekuatan mistik apapun. Menurut Sang Buddha, kita tidak seharusnya menerima ajaranNya seperti yang tercatat dalam kitab suci Buddhis secara membuta dan tanpa pemahaman yang benar. Ini merupakan kebebasan yang luar biasa yang Sang Buddha berikan kepada kita. Meskipun Beliau tidak pernah mengklaim bahwa umat Buddha adalah orang-orang pilihan tuhan, Beliau memberikan penghargaan jauh lebih besar kepada kecerdasan manusia dibanding dengan yang pernah dilakukan oleh agama manapun.

Cara yang terbaik bagi seseorang yang berasional untuk mengikuti adalah mempertimbangkan secara hati-hati sebelum ia menerima atau menolak segala sesuatu. Mempelajari, berpikir, menyelidiki sampai Anda menyadari apa yang ada sebenarnya. Jika Anda menerimanya hanya berdasarkan pada perintah atau kitab-kitab suci, Anda tidak akan menyadari kebenaran bagi diri Anda sendiri. 

5.
Janganlah Bergantung Pada Logika dan Argumentasi Pribadi Saja
“Janganlah bergantung pada logika dan argumentasi pribadi saja” merupakan nasihat lain dari Sang Buddha. Janganlah berpikir bahwa penalaran Anda adalah hal yang mutlak. Kalau tidak demikian, Anda akan berbangga diri dan tidak mendengarkan orang lain yang lebih mengetahui dibandingkan dengan diri Anda. Biasanya kita menasihatkan orang lain untuk menggunakan penalaran. Benar, dengan menggunakan daya pikiran dan akal yang terbatas, manusia berbeda dengan hewan dalam hal menggunakan pikirannya. Bahkan seorang anak kecil dan orang yang tidak berpendidikan pun menggunakan penalaran sesuai dengan usia, kedewasaan, pendidikan, dan pemahaman. Tetapi penalaran ini berbeda berdasarkan pada kedewasaan, pengetahuan, dan pengalaman. Sekali lagi, penalaran ini merupakan subjek dari perubahan, dari waktu ke waktu. Identitas seseorang atau pengenalan akan konsep-konsep juga berubah dari waktu ke waktu. Dalam penalaran seperti itu tidak ada analisa terakhir atau kebenaran mutlak. Karena kita tidak memiliki pilihan lain, kita harus menggunakan penalaran terbatas kita secara keras sampai kita mendapatkan pemahaman yang sebenarnya. Tujuan kita seharusnya adalah mengembangkan pikiran kita secara berkesinambungan dengan bersiap diri untuk belajar dari orang lain tanpa menjadi masuk ke dalam kepercayaan membuta. Dengan membuka diri kita pada cara berpikir yang berbeda, dengan membiarkan kepercayaan kita tertantang/teruji, dengan selalu tetap membuka pikiran, kita mengembangkan pemahaman kita atas diri kita sendiri dan dunia di sekeliling kita. Sang Buddha mengunjungi setiap guru yang dapat Beliau temukan sebelum Beliau mencapai Pencerahan terakhir. Meskipun kemudian Beliau tidak menerima apapun yang mereka ajarkan. Justru, Beliau menggunakan penalaranNya untuk memahami Kebenaran. Dan ketika Beliau mencapai Penerangan Agung, Beliau tidak pernah marah atau mengancam siapapun yang tidak setuju dengan ajaranNya.

Sekarang marilah kita mempertimbangkan argumen dan logika. Kapanpun kita berpikir bahwa suatu hal tertentu dapat kita terima, kita mengatakan hal itu adalah logika. Sebenarnya, seni logika merupakan alat yang bermanfaat bagi sebuah argumen. Logika dapat diekploitasi oleh para orator (ahli pidato) berbakat yang menggunakan kepandaian dan kecerdikan. Seseorang yang mengetahui cara berbicara dapat menjatuhkan kebenaran dan keadilan serta mengalahkan orang lain. Seperti para pengacara berargumen di pengadilan. Kelompok-kelompok agama yang berbeda berargumen untuk membuktikan bahwa agama mereka lebih baik dari agama-agama yang lainnya. Argumen-argumen mereka berdasarkan pada bakat dan kemampuan mereka untuk menyampaikan pandangan-pandangan mereka tetapi sebenarnya mereka tidak tertarik kepada kebenaran. Inilah sifat dasar dari argumen. Untuk mencapai kebenaran, Sang Buddha menasihatkan kita untuk tidak terpengaruh oleh argumen atau logika tetapi menasihatkan kita untuk menggunakan penyelidikan yang tidak bias. Ketika orang-orang mulai berargumen, secara alami emosi mereka juga muncul dan hasilnya adalah argumen yang memanas. Kemudian, egoisme manusia menambah lebih banyak lagi api dalam perang kata-kata ini. Pada akhirnya, menciptakan permusuhan karena tak ada seorang pun yang mau menyerah. Oleh karena itu, seseorang seharusnya tidak memperkenalkan kebenaran agama melalui argumen. Ini merupakan nasihat penting lainnya dari Sang Buddha. 

6.
Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Pengaruh Pribadi Seseorang Semata
Kemudian nasihat selanjutnya adalah janganlah menerima apapun sebagai kebenaran mutlak berdasarkan pada pengaruh pribadi seseorang. Hal ini mengacu pada kepercayaan yang dilihat sebagai kebenaran melalui imajinasi pribadi seseorang. Meskipun kita memiliki keraguan dalam pikiran kita, kita menerima hal-hal tertentu sebagai kebenaran setelah penyelidikan yang terbatas. Semenjak pikiran kita terpedaya oleh banyaknya keinginan dan perasaan-perasaan emosional, sikap batin ini menciptakan banyak ilusi. Dan kita juga sebenarnya memiliki kebodohan batin. Semua orang menderita yang diakibatkan dari kebodohan batin dan ilusi. Kekotoran batin menyelimuti pikiran yang kemudian menjadi bias dan tidak dapat membedakan antara kebenaran dan ilusi. Sebagai hasilnya, kita menjadi percaya bahwa hanya kepercayaan kitalah yang benar. Nasihat Sang Buddha adalah untuk tidak mengambil sebuah kesimpulan dengan segera dengan menggunakan perasaan emosional kita tetapi untuk mendapatkan lebih banyak lagi informasi dan penyelidikan sebelum kita mengambil kesimpulan terhadap sesuatu. Ini berarti kita harus bersedia mendengarkan terlebih dulu apa yang orang lain katakan. Mungkin mereka dapat menjernihkan keragu-raguan kita dan membantu kita untuk mengenali kesalahan atas apa yang kita percayai sebagai kebenaran. Sebagai contoh untuk hal ini adalah suatu masa ketika orang-orang pernah mengatakan bahwa matahari mengelilingi bumi dimana bumi berbentuk datar seperti layaknya uang logam. Hal ini berdasarkan pada keterbatasannya pengetahuan mereka, tetapi mereka bersiap untuk membakar hidup-hidup siapapun yang berani mengemukakan pandangan yang lain. Terima kasih kepada Guru Tercerahkan kita, Buddhisme dalam sejarahnya tidak memiliki catatan gelap dimana orang tidak diperkenankan untuk menentang apapun yang tidak masuk akal seperti itu. Inilah mengapa begitu banyak aliran Buddhisme saling bertautan secara damai tanpa mengecam satu sama yang lain. Berdasarkan pada petunjuk-petunjuk yang jelas dari Sang Buddha, umat Buddha menghormati hak-hak orang lain untuk memegang pandangan yang berbeda.

7.
Janganlah Menerima Apapun Yang Kelihatannya Benar
Nasihat selanjutnya adalah janganlah menerima apapun yang kelihatannya benar. Ketika Anda melihat segala hal dan mendengarkan beberapa tafsiran yang diberikan oleh orang lain, Anda hanyalah menerima penampilan luar dari obyek-obyek tersebut tanpa menggunakan pengetahuan anda secara mendalam. Kadangkala konsep atau identitas yang Anda ciptakan mengenai suatu obyek adalah jauh dari kebenaran hakikinya.

Cobalah untuk melihat segala sesuatu dalam sudut pandang yang sebagaimana mestinya. Buddhisme dikenal sebagai Ajaran Analisis (Doktrin of Analysis). Hanya dengan melalui analisa kita dapat memahami apa yang sebenarnya terdapat pada sebuah obyek dan apakah jenis dari elemen-lemen dan energi-energi yang berkerja dan bagaimanakah hal-hal itu bisa ada, mengapa mengalami kelapukan dan menghilang. Jika Anda menelaah sifat alami dari hal-hal ini, Anda akan menyadari bahwa segala sesuatu yang ada adalah tidak kekal dan kemelekatan terhadap obyek-obyek tersebut dapat menimbulkan kekecewaan. Juga, Anda akan menyadari bahwa tidak ada hal penting dalam pertengkaran mengenai ide-ide ketika dalam analisa terakhir, ketika melihat hal-hal tersebut dalam sudut pandang yang sebebarnya, ternyata hal-hal tersebut hanyalah ilusi belaka. Umat Buddha tidaklah terjebak dalam hal-hal kontoversial mengenai kapan dunia akan berakhir karena mereka melihat bahwa secara pasti segala sesuatu yang terdiri dari perpaduan akan mengalami kehancuran. Dunia akan berakir. Tidak ada keraguan akan hal itu. Kita berakhir setiap waktu kita menarik napas masuk dan keluar. Akhir dunia (yang disampaikan oleh Sang Buddha) hanya semata-mata peristiwa dramatis dari sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan ilmu astronomi modern mengatakan pada kita bahwa dunia bergejolak setiap saat. “Mereka yang tidak mengkhawatikan masa lalu, mereka yang tidak mengkhawatirkan masa depan, maka mereka hidup dalam ketenangan” (Sang Buddha). Ketika kita mengetahui kebenaran ini, maka akhir dunia tidak lagi menjadi hal yang begitu menakutkan dan tidaklah pantas untuk dikhawatirkan.

8.
Janganlah Bergantung Pada Pengalaman Spekulasi Pribadi Seseorang.
Sang Buddha kemudian memperingati para pengikutnya untuk tidak bergantung pada pengalaman spekulasi pribadi seseorang. Setelah mendengarkan atau membaca beberapa teori tertentu, orang dengan mudah tiba pada kesimpulan tertentu dan memelihara kepercayaan ini. Mereka menolak dengan sangat keras untuk mengubah pandangan mereka karena pikiran mereka telah terbentuk atau karena sewaktu beralih pada kepercayaan tertentu, mereka telah diperingatkan bahwa mereka akan dibakar di dalam neraka jika mereka mengubah pendiriannya. Dalam kebodohan dan rasa takut, orang-orang malang ini hidup dalam surga kebodohan, mereka berpikir bahwa kesalahan-kesalahan mereka secara ajaib akan diampuni. Nasihat Sang Buddha adalah untuk tidak membuat kesimpulan gegabah apapun untuk memutuskan apakah sesuatu itu benar atau sebaliknya. Manusia dapat menemukan berbagai macam hal di dunia ini tetapi hal yang paling sukar bagi mereka untuk dilihat adalah kebenaran atau realita dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan. Kita seharusnya tidak bergantung pada desas-desus spekulasi untuk memahami kebenaran. Kita boleh menerima beberapa hal tertentu sebagai dasar yang digunakan untuk memulai sebuah penyelidikan yang akhirnya akan memberikan kepuasan pada pikiran. Keputusan yang kita ambil dengan cara spekulasi dapat dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh sekelompok orang buta yang menyentuh bagian berbeda dari tubuh seekor gajah. Setiap orang buta tersebut memiliki keputusan sendiri mengenai apa yang ia pikirkan tentang bentuk dari gajah tersebut. Bagi masing-masing orang buta tersebut, apa yang ia katakan adalah benar. Meskipun mereka yang dapat melihat hal-hal tersebut tahu bahwa semua orang buta tersebut salah, dalam pikiran orang-orang buta tersebut mereka berpikir bahwa merekalah yang benar. Juga janganlah seperti katak dalam tempurung kelapa yang berpikir bahwa tidak ada dunia lain di luar apa yang dapat ia lihat.

Kita terbutakan oleh kekotoran batin kita. Inilah mengapa kita tidak dapat memahami kebenaran. Inilah mengapa orang lain dapat menyesatkan dan mempengaruhi kita dengan sangat mudah. Kita selalu mudah mengganti kepercayaan yang telah kita terima sebagai kebenaran karena kita tidak memiliki pemahaman yang mendalam. Orang-orang mengubah lebel agama mereka dari waktu ke waktu karena mereka mudah terpengaruh oleh emosi manusia. Ketika kita sudah menyadari kebenaran tertinggi, kita tidak perlu lagi mengubahnya dalam keadaan apapun karena dalam kebenaran terakhir tidak ada hal yang diubah, ia adalah Mutlak.

9.
Janganlah Dengan Mudah Mengubah Pandangan Kita Karena Kita Terkesan Oleh Kemampuan Mengesankan Seseorang
Kita seharusnya tidak mengubah pandangan-pandangan kita dengan mudah karena kita terkesan oleh kemampuan mengesankan seseorang merupakan nasihat selanjutnya Sang Buddha yang diberikan kepada orang-orang muda yang disebut dengan suku Kalama. Seberapa orang memiliki kemampuan yang mengesankan Anda dengan perilaku dan kemampuan nyata untuk melakukan hal-hal tertentu. Sebagai contoh, akankah Anda mempercayai secara membuta seorang gadis yang ada di iklan televisi yang mengatakan kepada Anda bahwa Anda juga dapat menjadi cantik secantik dirinya, memiliki gigi seindah giginya, jika Anda menggunakan pasta gigi merek tertentu?  Tentu tidak.Anda tidak akan menerima apa yang ia katakan tanpa memeriksa secara hati-hati kebenaran akan pernyataanya. Ini juga sama dengan para pembicara fasih yang mengetuk pintu Anda untuk menceritakan cerita yang mempesona tentang “kebenaran” mereka. Mereka mungkin berbicara mengenai beragam guru-guru agama, guru-guru, dan ahli-ahli meditasi. Mereka juga akan menikmati memberi pernyataan yang dilebih-lebihkan untuk membuktikan kekuatan dari guru-guru mereka untuk mempengaruhi pikiran Anda. Jika Anda secara membuta menerima perkataan-perkataan mereka sebagai Kebenaran, Anda akan memelihara pandangan yang goyah dan dangkal karena Anda tidak sepenuhnya yakin. Anda dapat mengikuti mereka dengan iman untuk beberapa saat, tetapi suatu hari Anda akan merasa kecewa, karena Anda tidak menerimanya melalui pemahaman dan pengalaman Anda. Dan segera setelah guru mengesankan lainnya datang, Anda akan meninggalkan yang pertama.

Telaahlah nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha. Pikirkan bagaimana beralasannya, masuk akalnya, dan ilmiahnya cara pengajaranNya. “Janganlah mendengarkan orang lain dengan kepercayaan membuta. Dengarkanlah mereka dengan segala pengertiannya, tetapi tetaplah penuh perhatian dan dengarlah dengan pikiran terbuka. Anda tidak seharusnya menyerahkan pendidikan dan kecerdasan Anda kepada orang lain ketika Anda sedang mendengarkan mereka. Mereka mungkin mencoba untuk membangkitkan emosi Anda dan mempengaruhi pikiran Anda sesuai dengan kebutuhan duniawi Anda untuk memuaskan keinginan Anda. Tetapi tujuan mereka mungkin bukan berkepentingan untuk menyatakan kebenaran.”

10.
Janganlah Menerima Apapun Atas Pertimbangan Bahwa “Inilah Guru Kami”
Janganlah menerima apapun atas pertimbangan bahwa “Inilah guru kami”, merupakan nasihat terakhir Sang Buddha dalam konteks ini. Pernahkah Anda mendengar guru agama lain manapun yang mengutarakan kata-kata seperti ini? Yang lainnya semua mengatakan, “Sayalah satu-satunya guru terhebat, Saya adalah Tuhan. Ikutilah aku, sembahlah aku, berdoalah padaku, jika tidak kau tidak akan memiliki keselamatan.” Mereka juga mengatakan, “Janganlah kau menyembah tuhan lain atau guru lain.” Berpikirlah untuk sejenak untuk memahami sikap Sang Buddha. Sang Buddha mengatakan, “Kau seharusnya tidak bergantung secara membuta kepada gurumu. Ia mungkin saja adalah penemu sebuah agama atau guru yang terkenal, tetapi meskipun demikian kau tidak seharusnya mengembangkan kemelekatanmu terhadapnya sekali pun.”

Beginilah caranya Sang Buddha memberikan penghargaan yang semestinya kepada kecerdasan seseorang dan memperkenankan manusia menggunakan kehendak bebasnya tanpa bergantung pada orang lain. Sang Buddha mengatakan, “Kau bisa menjadi tuan atas dirimu sendiri.” Sang Buddha tidak pernah mengatakan kepada kita bahwa Beliau-lah satu-satunya Guru Yang Tercerahkan dimana para pengikutnya tidak diperkenankan untuk memuja tuhan/dewa dan guru agama lain. Beliau juga tidak menjanjikan para pengikutnya bahwa mereka dapat dengan mudah pergi ke surga atau mencapai Nibbana jika mereka memujaNya secara membuta. Jika kita mempraktikkan agama begitu saja dengan bergantung kepada seorang guru, kita tidak akan pernah menyadari kebenaran. Tanpa menyadari kebenaran mengenai agama yang kita praktikkan kita dapat menjadi korban dari kepercayaan yang membuta dan memenjarakan kebebasan berpikir kita dan akhirnya menjadi budak bagi seorang guru tertentu dan mendiskriminasikan guru yang lain.

Kita harus menyadari bahwa kita harus tidak bergantung pada orang lain dalam penyelamatan diri kita. Tetapi kita dapat menghormati guru agama manapun yang sungguh dan pantas untuk dihormati. Para guru agama dapat mengatakan kepada kita bagaimana untuk meraih keselamatan kita, tetapi seseorang tidak dapat menyelamatkan orang lain. Penyelamatan ini bukan seperti menyelamatkan sebuah kehidupan ketika dalam bahaya. Ini adalah pembebasan terakhir dari kekotoran batin dan penderitaan duniawi. Inilah mengapa kita harus berkerja secara individual (sendiri) untuk meraih pembebasan kita atau kemerdekaan penuh berdasarkan pada nasihat yang diberikan oleh guru-guru agama.

“Tidak ada orang lain yang menyelamatkan kita selain diri kita. Sang Buddha hanyalah menunjukkan jalannya.”

Dapatkah Anda pikiran guru agama manapun yang pernah mengatakan hal ini? Inilah kebebasan yang kita miliki dalam Buddhisme.

Inilah sepuluh nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha kepada sekelompok pemuda yang disebut suku Kalama yang datang menemui Sang Buddha untuk mengetahui bagaimana menerima suatu agama dan bagaimana untuk memutuskan mana agama yang benar.

Nasihat Beliau adalah: “Janganlah mementingkan diri sendiri dan janganlah menjadi budak bagi yang lain; Janganlah melakukan apapun hanya untuk kepentingan pribadi tetapi pertimbangkan untuk kepentingan pihak lain.” Beliau mengatakan kepada suku Kalama agar mereka dapat memahami hal ini berdasarkan pada pengalaman pribadi mereka. Beliau juga mengatakan bahwa di antara beragam praktik dan kepercayaan, ada hal-hal tertentu yang baik bagi seseorang tetapi tidak baik bagi yang lain. Dan sebaliknya, ada hal-hal tertentu yang baik bagi orang lain tetapi tidak baik bagi seseorang. Sebelum Anda melakukan apapun, Anda harus mempertimbangkan baik manfaat maupun ketidakmanfaatan yang akan bertambah pada diri Anda. Inilah garis pedoman untuk pertimbangan sebelum Anda menerima suatu agama. Oleh karena itu, Sang Buddha telah memberikan kebebasan secara penuh kepada kita untuk memilih suatu agama berdasarkan pada pendirian diri sendiri.

Buddhisme merupakan suatu agama yang mengajarkan seseorang untuk memahami bahwa manusia bukanlah untuk agama tetapi agama itulah yang untuk manusia gunakan. Agama dapat diibaratkan sebagai rakit yang digunakan manusia untuk menyeberangi sungai. Ketika orang itu sampai di pinggiran sungai, ia dapat meninggalkannya dan melanjutkan perjalanannya. Seseorang seharusnya menggunakan agama untuk perbaikan dirinya dan untuk mengalami kebebasan, kedamaian, dan kebahagiaan. Buddhisme merupakan suatu agama yang dapat kita gunakan untuk hidup penih kedamaian dan membiarkan yang lain untuk juga hidup penuh kedamaian. Saat mempraktikkan agama ini kita diperkenankan untuk menghormati agama lain. Jika sukar untuk menghormati sikap dan perilaku agama lain maka setidaknya kita perlu bertoleransi tanpa mengganggu atau mengecam agama lain. Sangatlah sedikit agama lain yang mengajarkan para pengikutnya untuk mengadopsi sikap bertoleransi ini.


-end-

Judul Asli:
How To Choose A Religion?
Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

Friday, March 19, 2010

Buddhisme, Satu-Satunya Sains Yang Sejati


Buddhisme, Satu-Satunya Sains Yang Sejati
 Ven. Ajahn Brahmavamso Mahathera

Perth, Australia -- Saya dulunya seorang ilmuwan. Saya belajar Ilmu Fisika Teoritis di Universitas Cambridge, berada di dalam gedung yang sama dengan seseorang yang kemudian dikenal sebagai Profesor Stephen Hawking. Saya menjadi kecewa dengan sains ketika sebagai orang-dalam, saya melihat betapa menjadi dogmatisnya seorang ilmuwan. Dogma, menurut kamus, merupakan pernyataan arogan dari sebuah opini.(1)

Ini merupakan suatu uraian yang sesuai dari sains yang saya saksikan di laboratorium Cambridge. Sains telah kehilangan rasa malunya. Opini yang bersifat egoistis mengalahkan pencarian Kebenaran yang berimbang. Aforisme (peribahasa) favorit saya pada waktu itu adalah: “Keunggulan seorang ilmuwan besar diukur oleh banyaknya waktu yang mereka gunakan untuk MERINTANGI KEMAJUAN di dalam bidang mereka!”

Untuk memahami sains yang sebenarnya, seseorang bisa kembali kepada salah satu bapak pendirinya, seorang filosof Inggris, yaitu Francis Bacon (1561 – 1628). Ia menyelesaikan kerangka kerja yang dengannya sains mengalami kemajuan, yaitu “kekuatan besar dari kasus-kasus penolakan"

Ini berarti bahwa, dalam mengajukan sebuah teori untuk menjelaskan beberapa fenomena alam, maka seseorang harus mencoba sebaik mungkin untuk bisa membuktikan kebalikan dari teori itu! Seseorang seharusnya menguji teorinya dengan eksperimen yang menantang. Seseorang harus mengujinya dengan argumen yang ketat.

Hanya ketika suatu kelemahan muncul pada teori, maka sains itu mengalami kemajuan. Sebuah penemuan baru telah memungkinkan sebuah teori untuk dapat disesuaikan dan diperbaiki. Metodologi sains yang fundamendal dan murni ini memahami bahwa tidaklah mungkin untuk membuktikan semuanya dengan kepastian yang mutlak. Seseorang hanya bisa menyangkal (membuktikan kebalikan) dengan kepastian yang mutlak.

Sebagai contoh, bagaimana seseorang dapat membuktikan hukum dasar gravitasi yang mengatakan “apa yang naik akan turun dengan segera?” Seseorang bisa melempar ke atas beberapa objek sebanyak sejuta kali dan melihat objek-objek tersebut jatuh sebanyak sejuta kali. Tetapi tetap tidak membuktikan “apa yang naik akan turun”.

Bagi NASA, mungkin setelah “melempar” roket Saturnus ke atas, ke ruang angkasa untuk menjelajahi planet Mars, maka roket itu tidak pernah turun ke bumi lagi. Sebuah kasus negatif cukup untuk menyangkal (membuktikan kebalikan) dari teori dengan kepastian mulak.

Beberapa ilmuwan yang salah arah mempertahankan teori bahwa tidak ada kelahiran kembali, mengatakan bahwa arus kesadaran ini tidak dapat kembali kepada keberadaan manusia secara berlanjut. Menurut sains, seseorang perlu menyangkal (membuktikan kebalikan) teori ini, yaitu dengan menemukan satu kasus kelahiran kembali, hanya satu kasus!

Seperti beberapa dari Anda sudah mengetahuinya, Professor Ian Stevenson, telah mendemonstrasikan banyak kasus kelahiran kembali. Teori tidak ada kelahiran kembali telah dapat disangkal. Kelahiran kembali sekarang adalah sebuah fakta ilmiah!

Sains modern memberikan prioritas yang rendah bagi usaha apapun untuk menyangkal (membuktikan kebalikan) teori yang ia pelihara. Ada terlalu banyak kepentingan kekuasaan, gengsi dan dana penelitian. Komitmen yang berani untuk kebenaran akan membuat terlalu banyak ilmuwan keluar dari zona kenyamanan mereka.

Para ilmuwan, sebagian besar, telah dicuci otaknya oleh pendidikan mereka dan dalam kelompok mereka untuk melihat dunia dengan cara yang sangat sempit, sangat kecil sekali. Ilmuwan yang paling parah adalah mereka yang berkelakuan seperti evangelis eksentrik (2), mengklaim bahwa hanya mereka sajalah yang memiliki seluruh kebenaran, dan kemudian merasa berhak untuk memaksakan pandangan-pandangan mereka kepada orang lain.

Orang awam mengetahui begitu sedikit mengenai sains, bahkan mereka sukar untuk memahami bahasa yang digunakan sains.

Kemudian, jika mereka membaca di surat kabar atau majalah “seorang ilmuwan mengatakan demikian?”, maka mereka langsung secara otomatis menerima hal itu sebagai kebenaran. Bandingkan hal ini dengan reaksi kita ketika kita membaca dalam jurnal yang sama “seorang politikus mengatakan demikian?”! Mengapa para ilmuwan memiliki kredibilitas yang tidak tertandingi seperti itu?

Mungkin ini disebabkan oleh bahasa dan ritual sains menjadi begitu jauh beralih kepada orang awam, dimana para ilmuwan kini menjadi dipuja-puja dan menjadi keimamaman yang mistis.

Berpakaian dengan pakaian upacara berupa jas laboratorium putih mereka, melafalkan bahasa yang tidak dapat dimengerti mengenai fraktal multi dimensi alam semesta yang paralel, dan mempertunjukkan upacara gaib yang mengubah logam dan plastik menjadi TV dan komputer, pada masa modern ini para ahli kimia begitu hebatnya sehingga kita akan percaya apapun yang mereka katakan. Ke-elitan sains menjadi sesuatu yang mutlak seperti halnya seorang Paus.

Beberapa orang mengetahui lebih baik. Banyak dari apa yang telah saya pelajari 30 tahun yang lalu sekarang telah terbukti salah. Sayangnya, banyak para ilmuwan dengan integritas dan rasa malu, yang menegaskan apa itu sains sesungguhnya, pekerjaannya masih dalam pengembangan.

Mereka mengetahui bahwa sains hanya dapat mengusulkan sebuah kebenaran, tetapi tidak akan pernah mencapai sebuah kebenaran. Saya pernah diceritakan oleh seorang praktisi Buddhis, dimana pada hari pertamanya di sekolah medis di Sydney, seorang Profesor terkemuka, kepala dari Sekolah Medis tersebut, memulai pidato penyambutannya dengan menyatakan “Setengah dari apa yang akan kami ajarkan kepada kalian pada beberapa tahun ke depan adalah salah. Permasalahannya adalah kami tidak tahu apa yang setengahnya lagi!” Itulah perkataan dari seorang ilmuwan sejati.

Beberapa ilmuwan evangelis akan melakukan sebaik mungkin untuk mengungkapkan perkataan kuno (yang sudah digubah) “Ilmuwan datang saat para malaikat takut untuk melangkah” dan mereka berhenti untuk membahas mengenai sifat alami pikiran, kebahagiaan, apalagi Nibbana. Khususnya para ahli neurology (ahli urat saraf) cenderung mengalami neurosis. (Neurosis : suatu ketundukan yang di luar batas terhadap pikiran-pikiran atau benda-benda yang tidak realistis) (3) 

Mereka mengklaim bahwa pikiran, kesadaran dan kehendak, pada saat ini cukup dijelaskan melalui aktivitas di dalam otak. Teori ini telah disangkal lebih dari 20 tahun yang lalu oleh penemuan Prof. Lorber mengenai seorang pelajar di Universitas Sheffield yang memiliki IQ 126, lulusan terbaik dalam bidang matematika, tetapi ia tidak memiliki otak secara virtual (Science, Vol. 210, 12 Dec 1980)!

Yang terbaru, hal tersebut telah disangkal oleh Prof. Pim Van Lommel, yang mempertunjukkan keberadaan aktivitas kesadaran setelah kematian secara klinik, yaitu ketika seluruh aktivitas otak telah berhenti (Lancet, Vol. 358, 15 Desember 2001, p 2039).

Meskipun mungkin ada banyak hubungan antara sebuah aktivitas terukur di bagian otak dan kesan mental, beberapa peristiwa atau fakta yang ada secara berdampingan tidak selalu menyiratkan bahwa yang satu adalah penyebab dari yang lain. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu, sebuah penelitian memperlihatkan sebuah hubungan yang jelas antara perokok dan tidak terjadinya gejala penyakit Alzheimer.

Bukanlah karena merokok yang menyebabkan kekebalan terhadap penyakit Alzheimer, seperti yang diharapkan oleh perusahaan tembakau, ini hanyalah karena para perokok tidak memiliki hidup yang cukup panjang untuk mendapatkan penyakit Alzheimer!

Contoh di atas merupakan peristiwa yang bersamaan dari dua fenomena, bahkan ketika terulang kembali, bukanlah berarti salah satu fenomena tersebut merupakan penyebab dari fenomena yang lainnya. Mengklaim bahwa aktivitas di dalam otak menyebabkan suatu kesadaran, atau pikiran, jelaslah bukan merupakan hal yang bersifat ilmiah.

Buddhisme lebih bersifat ilmiah dibanding dengan sains modern. Seperti halnya sains, Buddhisme berdasarkan pada hubungan sebab-akibat yang dapat dibuktikan. Tetapi tidak seperti sains, Buddhisme menghadapi setiap kepercayaan dengan saksama.

Kalama Sutta yang terkenal dalam Buddhisme menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mempercayai secara penuh pada “apa yang seseorang ajarkan, pada tradisi, kabar burung, kitab suci, logika, kesimpulan, penampilan, kesepakatan berdasarkan pada opini, berdasarkan kesan atas kemampuan sang guru, atau bahkan pada guru pribadi seseorang”.

Berapa banyak ilmuwan yang tegas dalam pemikiran mereka seperti ini? Buddhisme menghadapi segalanya, termasuk logika.

Perlu dicatat adalah bahwa Teori Kuantum muncul sebagai sesuatu yang tidak logis, bahkan bagi seorang ilmuwan besar seperti Einstein, ketika teori tersebut diajukan untuk pertama kalinya. Teori tersebut belum disangkal. Logika hanya dapat dipercaya sebagai anggapan-anggapan sebagai dasarnya. Buddhisme hanya mempercayai pengalaman yang jelas/jernih dan objektif.

Pengalaman yang jelas atau jernih terjadi ketika alat ukur seseorang berupa pikiran sehatnya, cermelang dan tidak terganggu. Dalam Buddhisme, hal ini terjadi ketika rintangan berupa kelambanan dan kemalasan serta keresahan dan penyesalan, seluruhnya dapat diatasi. Pengalaman yang objektif merupakan pengalaman yang bebas dari segala penyimpangan (bias).

Dalam Buddhisme, tiga jenis penyimpangan (bias) adalah, napsu keinginan, kehendak buruk dan keragu-raguan yang bersifat tidak pasti. Napsu keinginan membuat seseorang hanya melihat apa yang ingin ia lihat, napsu keinginan membelokkan kebenaran sehingga sesuai dengan apa yang disukai oleh seseorang. Kehendak buruk membuat seseorang buta pada apapun juga yang mengganggu atau yang membingungkan pandangan seseorang dan ia mengubah kebenaran dengan penyangkalan.

Keraguan yang tak pasti dengan keras kepala menolak segala kebenaran tersebut, seperti kelahiran kembali (tumimbal lahir), yang merupakan hal benar-benar sahih, tapi yang jatuh di luar dari kesesuaian dengan pandangan dunia.

Singkatnya, pengalaman yang jelas atau jernih dan objektif hanya tejadi ketika “Lima Rintangan” dalam diri seorang Buddhis telah diatasi. Hanya setelah itulah seseorang dapat mempercayai data yang datang melalui pengertian seseorang.

Karena para ilmuwan tidaklah bebas dari kelima rintangan ini, mereka jarang berpikir jernih dan objektif. Sebagai contoh, hal ini biasa bagi para ilmuwan untuk mengabaikan data yang mengganggu, yang tidak sesuai dengan teori-teori berharga mereka, atau yang lainnya adalah membatasi bukti-bukti tersebut untuk dilupakan dengan menyimpannya sebagai suatu `anomali` (ketidaknormalan).

Bahkan sebagian besar umat Buddha tidaklah berpikir jelas dan objektif. Seseorang haruslah memiliki pengalaman Jhana untuk menyingkirkan lima rintangan ini secara efektif (menurut Nalakapana Sutta, Majjhima Nikaya 68). Jadi hanyalah para meditator yang sempurna yang dapat mengklaim dirinya ilmuwan sejati, yang memiliki pikiran jelas dan objektif.

Sains mengklaim untuk tidak hanya mengandalkan pengamatan yang jernih dan objektif, tetapi juga pada pengukuran. Tetapi dalam sains, apakah yang disebut dengan pengukuran itu? Untuk mengukur sesuatu, menurut sains murni dari Teori Kuantum, adalah meruntuhkan Persamaan Gelombang Schroedinger melalui tindakan pengamatan (observasi).

Selain itu, bentuk Persamaan Gelombang Schroedinger “yang tak teruntuhkan”, dimana sebelum pengukuran apapun dilakukan, mungkin merupakan deskripsi yang paling sempurna sains dari dunia.

Itu merupakan deskripsi yang aneh! Menurut sains murni, realitas tidaklah terdiri atas unsur yang teratur baik dengan massa yang tepat, energi dan posisi di angkasa yang kesemuanya hanya menunggu untuk diukur. Realitas merupakan ketidakjelasan yang luas dari segala kemungkinan, hanya beberapa saja yang menjadi lebih jelas dibanding dengan hal yang lainnya.

Bahkan kualitas dasar "yang dapat diukur" seperti “hidup” atau “mati” yang telah didemonstrasikan oleh sains terkadang menjadi tidak berlaku. Dalam eksperimen pikiran `Schroedinger`s Cat` yang jahat, kucing Prof. Schroedinger secara cerdik ditempatkan pada situasi sebenarnya dimana ia tidaklah mati ataupun hidup, dimana pengukuran semacam demikian menjadi tidak berarti. Realitas, berdasarkan Teori Kuantum, adalah di luar ambang pengukuran. Pengukuran mengganggu realitas, ia tidak pernah mendeskripsikan realitas dengan sempurna.

Adalah `Prinsip Ketidakpastian` yang terkenal dari Heisenberg yang menunjukkan kesalahan yang tidak dapat dielakkan antara dunia Kuantum asli dan dunia terukur dari sains palsu.

Lagi pula, bagaimana setiap orang dapat mengukur sang pengukur, yaitu pikiran? Pada sebuah seminar baru-baru ini mengenai Sains dan Agama, dimana saya menjadi pembicara, seorang Katholik di dalam hadirin dengan beraninya mengumumkan bahwa setiap kali ia melihat bintang-bintang melalui teleskop, ia merasa tidak nyaman karena agamanya menjadi terancam.

Saya mengomentarinya bahwa setiap kali seorang ilmuwan melihat dengan cara yang terbalik melalui teleskop, untuk observasi orang yang sedang melihat, maka mereka merasa tidak nyaman karena sains mereka terancam oleh apa yang dilakukan oleh penglihatannya! Jadi apa yang dilakukan oleh penglihatan, apakah pikiran ini yang menghindar dari sains modern?

Suatu saat, seorang guru kelas satu bertanya kepada kelasnya, "Apakah benda yang terbesar di dunia?" Seorang gadis kecil menjawab, "Papaku". Seorang anak laki-laki kecil berkata, "Seekor gajah." Karena dia pernah ke kebun binatang baru-baru ini. Gadis yang lain mengusulkan, "Sebuah gunung".

Puteri berusia enam tahun dari sahabat karibku menjawab, "Mataku adalah benda yang paling besar di dunia!" Kelas itu terhenti. Bahkan guru tersebut tidak mengerti apa yang dijawabnya. Jadi sang filosofis kecil ini menjelaskan, "Yah, mataku bisa melihat papanya, seekor gajah dan sebuah gunung juga. Ia juga bisa melihat banyak lagi. Jika semuanya bisa sesuai ke dalam mataku, maka mataku pastilah benda terbesar di dunia!" Luar biasa!

Namun begitu, gadis kecil itu tidak sepenuhnya benar. Pikiran bisa melihat segala sesuatu yang bisa dilihat mata seseorang, dan ia juga bisa membayangkan begitu lebih banyak lagi. Pikiran juga bisa mendengar, membaui, merasakan dan menyentuh, sama baiknya dengan berpikir. Faktanya, segala sesuatu yang bisa diketahui bisa muat ke dalam pikiran. Oleh karena itu, pikiran pastilah benda yang terbesar di dunia. Kesalahan sains sudah jelas sekarang. Pikiran tidaklah berada di dalam otak, begitu pula di dalam tubuh. Otak, tubuh dan dunia beserta sisanya, ada di dalam pikiran!

Pikiran adalah indera keenam dalam Buddhisme, dialah yang mana memandu kelima panca indera yakni penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapan dan sentuhan, dan melebihi mereka dengan daerah kekuasaannya sendiri. Ia bersesuaian bebas dengan "Akal Sehat" dari Aristoteles yang mana bertentangan dari panca indera.

Memang benar bahwa filsafat Yunani kuno, dari mana sains dikatakan berasal, mengajarkan indera keenam sama seperti Buddhisme. Di suatu tempat bersamaan dengan perjalanan sejarah dari pemikiran orang Eropa, mereka kehilangan pikirannya! Atau, sama seperti Aristoteles yang akan mengemukakan demikian, mereka dengan suatu cara telah mengesampingkan "Akal Sehat" mereka! Dan demikianlah kita mendapatkan sains. Kita mendapatkan materialistis tanpa hati sedikitpun. Orang bisa dengan akuratnya mengatakan bahwa Buddhisme adalah sains yang menyimpan hatinya, dan yang tidak kehilangan pikirannya!

Demikianlah Buddhisme bukan suatu sistem kepercayaan. Buddhisme adalah sains yang ditemukan dalam observasi yang objektif, yaitu meditasi, selalu seksama untuk tidak mengganggu realitas melalui pengukuran buatan yang mengesankan, dan ia secara jelas dapat diulang.

Manusia telah menciptakan kembali kondisi-kondisi eksperimental, dikenal dengan menetapkan faktor-faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, selama lebih dari duapuluh enam abad sekarang, lebih lama dibandingkan dengan sains. Dan mereka Professor-Professor Meditasi yang ternama, Arahat-Arahat pria dan wanita, kesemuanya telah tiba pada kesimpulan yang sama seperti Sang Buddha.

Mereka telah membuktikan Hukum Dhamma yang abadi, atau dikenal sebagai Buddhisme. Jadi Buddhisme adalah satu-satunya sains yang sejati, dan saya gembira untuk mengatakan bahwa saya masih seorang ilmuwan dalam hati saya, hanya saja seorang ilmuwan yang lebih baik daripada apa yang pernah saya dulunya dapatkan di Cambridge.
--end-- Y.M. Ajahn Brahmavamso Mahathera dilahirkan di Peter Betts di London, Inggris pada tanggal 7 Agustus 1951. Beliau adalah kepala bhikkhu dari Vihara Bodhinyana di Australia Barat, Direktur Spiritual dari Buddhist Society Australia Barat, Penasihat Spiritual dari Buddhist Society Victoria, Penasihat Spiritual dari Buddhist Society Australia Selatan, Pelindung Spiritual dari Buddhist Fellowship di Singapura, dan Pelindung Spiritual dari Bodhikusuma Centre di Sydney.

Courtesy: Buddhist Society of Western Australia.

Catatan:
  1. dogma: pokok ajaran tentang kepercayaan yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan.(sbr: KBBI)
  2. evangelis: seseorang yang berusaha mengalihyakinkan kepercayaan orang lain ke dalam ke-Kristen-an.(sbr: Oxford Dictionary)
  3. neurosis: penyakit syaraf yang berhubungan dengan fungsinya tanpa ada kerusakan organik pada bagian-bagian susunan syaraf.(sbr: KBBI)
Judul asli: Buddhism, The Only Real Science
Oleh: Ven. Ajahn Brahmavamso Mahathera
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com

Friday, March 12, 2010

Keyakinan Dalam Agama Buddha



Keyakinan Dalam Agama Buddha
Oleh: Willy Yandi Wijaya

Pentingnya Keyakinan

Sebagai umat Buddha, kita tentunya mempunyai keyakinan terhadap Buddha, Dharma dan Sangha. Namun, dalam Agama Buddha, keyakinan yang harus dimiliki tidak sama dengan keyakinan dalam agama lain. Sebelum membahas lebih lanjut bagaimana keyakinan (saddha) dalam agama Buddha, kita harus tahu bahwa keyakinan sangat penting bagi pengembangan dan pelatihan batin sehingga membawa kebahagiaan. Di dalam Anguttara Nikaya III, 206 disebutkan bahwa keyakinan terhadap agama Buddha merupakan salah satu dari lima ‘kekayaan’ yang dimiliki oleh seorang umat Buddha. Di dalam Anguttara Nikaya III, 127 juga disebutkan bahwa umat Buddha harus mengembangkan keyakinan terhadap ajaran Buddha.

Mengapa keyakinan penting? Sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan, keyakinan atau Saddha dapat membentuk pikiran benar dengan pengembangan ke dalam diri. Sedangkan pengembangan pikiran cinta kasih (metta), pikiran melepas dan memberi (dana) dan pikiran welas asih (karuna) adalah pengembangan pikiran benar secara aktif seperti yang disebutkan di dalam Samyutta Nikaya 45.8 dengan objek pelatihan ke luar yang melibatkan orang lain. Jadi Saddha (keyakinan) merupakan suatu bentuk pelatihan pikiran benar yang dikembangkan hanya dengan pikiran sendiri tanpa melibatkan orang lain. Jadi keyakinan merupakan salah satu aspek yang mendukung pikiran benar.

Keyakinan sangat penting karena mendorong kita untuk membuktikan sendiri ajaran Buddha. Dilukiskan oleh Nagarjuna bahwa keyakinan mendahului pemahaman karena tanpa keyakinan bagaimana bisa memahami. Namun, keyakinan dalam agama Buddha bukan sekedar keyakinan terhadap suatu makhluk tertinggi yang akan menyelamatkan kita jika meyakininya. Untuk mencapai pencerahan sebagai makhluk suci (arahat), keragu-raguan juga perlu dilenyapkan dengan keyakinan terhadap kebenaran realitas dunia ini (Dharma).


Keyakinan Sudut Pandang Buddhis

Keyakinan dalam agama Buddha disebut Saddha. Objek keyakinan dalam agama Buddha ada tiga, yaitu:
1. Buddha
2. Dharma
3. Sangha

Perlu diingat bahwa keyakinan terhadap Buddha, Dharma maupun Sangha bukanlah keyakinan terhadap bentuk objeknya, seperti patung, kitab suci, atau biksu. Namun, keyakinan yang benar adalah keyakinan terhadap makna dibalik simbol tersebut, seperti keyakina terhadap Buddha mewakili keyakinan terhadap seorang guru (Buddha) yang perlu diteladani. Beliau mencontohkan bagaimana perilaku-perilaku yang baik (sila), ucapan yang bermanfaat, pikiran yang positif. Keyakinan terhadap Dharma juga bukanlah keyakinan buta terhadap ajaran yang tertulis dalam kitab suci. Keyakinan terhadap Dharma adalah keyakinan terhadap ajaran Buddha yang diwujudkan melalui praktik nyata dan langsung. Keyakinan terhadap Sangha mewakili keyakinan terhadap kemampuan setiap orang untuk mencapai tahap pencerahan seperti Buddha. Keyakinan terhadap Sangha juga mempunyai makna bahwa kita perlu menyebarkan kebenaran kepada orang lain agar berada di dalam jalan pelatihan spiritual.

Ciri-ciri Keyakinan Dalam Buddhis

Seperti yang telah disebutkan, keyakinan dalam Agama Buddha mempunyai bentuk yang berbeda dengan keyakinan dalam agama lain. Ada 2 ciri keyakinan dalam buddhis, yakni:
1. Membuka pandangan; meliputi keterbukaan dan keingintahuan
2. Praktik; meliputi ritual (puja) dan pelaksanaan moralitas (sila) yang benar

Membuka pandangan adalah ciri yang membedakan keyakinan dalam buddhis dengan yang lain. Umat Buddha berkeyakinan dengan mendasarkan pikiran yang terbuka terhadap ajaran lain. Bila tidak disertai dengan keterbukaan, keyakinan dalam Agama Buddha akan sama dengan agama lain. Membuka pandangan dengan kebijaksanaa akan menghindari kefanatikan umat Buddha. Keyakinan menghindari kebijaksanaan berkembang menjadi skeptisme berlebihan yang bersumber dari ego. Jadi dalam keyakinan dibutuhkan suatu pandangan benar yang sejalan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Pandangan benar yang akhirnya akan membuka wawasan kebijaksanaan yang murni dan tidak ternoda yang akan membawa kepada pencerahan sejati.

Pratik adalah bentuk keyakinan dalam buddhis. Praktik berdasar keyakinan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Bentuknya adalah implementasi ajaran Buddha dalam perbuatan, ucapan dan pikiran yang benar. Moralitas dilaksanakan sebagai wujud keyakinan. Selain itu, praktis keyakinan bisa diwujudkan melalui ritual (puja). Tentunya ritual yang dilaksanakan dilakukan dengan pemahaman yang benar. Ritual dapat meningkatkan keyakinan, namun jangan menjadi ikatan dan salah pengertian. Ritual yang baik adalah perenungan terhadap perbuatan yang dilakukan selama ini dan pengembangan pikiran penuh cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan.


Daftar Pustaka

Dhammika, Ven. S. 2004. Dasar Pandangan Agama Buddha. Surabaya: Yayasan Dhammadipa Arama.
Sangharakshita, Ven. 2004. Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jakarta: Karaniya.
Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

Wednesday, February 24, 2010

Alam Neraka


Alam Neraka
Oleh UP. Dharma Mitra (Peter Lim)


Sang Buddha bersabda : "DOSE NAHICANDAJATATAYA DOSA SA DISAMNIRYAM UPPAJJANTI : Semua makhluk dilahirkan di alam neraka (niraya) dengan kekuatan dosa (kebencian) " .

Suatu saat berceritalah si A, kepada teman-temannya bahwa dia akan lebih senang kalau nantinya, setelah meninggal dunia, sebaiknya dilahirkan di alam neraka. Mengapa…? Karena, menurutnya di alam neraka bakalan ketemu aktris / aktor yang cakep. Apakah pendapat ini benar atau salah? Sungguh sulit sekali diketemukan jawabannya, karena hingga saat dan detik ini, walaupun katanya dunia sudah sedemikian canggih, biro perjalanan dengan jurusan kesana belum terbentuk mungkin karena peminatnya belum ada, atau ketidakmampuan mendata daerah pariwisata (siapa tahu ada !) yang terdapat disana.  
 
Kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang sederhana, neraka (niraya) berarti tiada kebahagiaan dan di dalam agama Buddha, alam ini merupakan salah satu dari empat alam derita (duggati bhumi). Di alam neraka ini, boleh dikatakan tiada dijumpai kebahagiaan sama sekali, di mana-mana yang dijumpai adalah jeritan, tangisan dan rintihan yang memilukan, sebagai akibat dari pembayaran hutang-hutang akusala karma (perbuatan perbuatan jahat), yang pernah diperbuat sebelumnya. Pembayaran hutang-hutang akusala karma (perbuatan-perbuatan jahat) ini, bisa saja dalam bentuk siksaan/deraan sebagai alat bayanya. Ibarat orang yang menderita kesakitan, mis : kanker maka disaat saat yang kritis ini, akan merintih-rintih menahan sakit, dan bagaimanapun cantik atau gantengnya seseorang, PASTI refleksi pancaran wajahnya akan menimbulkan gambaran yang jelek. Kalau tak percaya, cobalah dibuat mimik wajah bagaikan jeruk purut (jeruk yang asamnya luar biasa), apakah akan timbul kepermukaan, wujud yang cantik/ganteng ? Kita pasti akan kelihatan cantik/ganteng, kalau berada dalam kondisi yang sehat ! Demikian juga halnya, walaupun memiliki cantik bagaikan dewi tapi kalau sudah berada di alam neraka, maka kecantikannya akan amburadul (ngak karuan) atau pudar sebagai akibat dari, menahan siksaan/deraan yang dialami. 

Alam neraka bukanlah merupakan alam yang final, dalam arti kata kekal mengalami siksaan/deraan. Terlahirkan di alam ini sifatnya adalah transien (sementara) dan hanya untuk melunasi, akusala karma (perbuatan-perbuatan jahat) yg telah disemai, di kehidupan sebelumnya. Setelah hutang-hutang akusala karma (perbuatan-perbuatan jahat) ini terlunasi, maka akan ditumimbal lahirkan lagi, di salah satu dari 31 alam kehidupan, yang disesuaikan dengan kekuatan karma (perbuatan), yang dimiliki. Jika kekuatan karma (perbuatan) baik lebih dominan, dibandingkan kekuatan karma (perbuatan) jahat, maka akan ditumimbal lahirkan di alam Manusia, Dewa atau Brahma TAPI jika kekuatan perbuatan jahat lebih dominan, maka akan ditumimbal lahirkan di alam duggati (alam derita) mis : alam setan, binatang, jin atau neraka. Didalam agama Buddha dijelaskan bahwa terdapat 8 Maha Niraya (neraka besar) terdiri dari :


  1. Sanjiva : makhluk apapun juga yang terlahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk yang dimilikinya. Di alam ini, makhluk makhluknya dipotong-potong menjadi kepingan-kepingan yang tiada akhirnya. Apakah akan mengalami kematian setelah menerima siksaan ini…? Ya, pasti ! Tapi setelah mati ia akan hidup dan hidup lagi, sampai kekuatan akusala karmanya habis, dan setelah itu dia akan terlepaskan dari alam siksaan ini dan ditumimbal lahirkan, di salah satu dari 31 alam kehidupan, yang disesuaikan dengan kekuatan karma, yang dimiliki. Sanjiva bisa juga berarti hidup dan hidup lagi.


  2. Kalasuta : benang hitam. Makhluk apapun juga yang terlahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, tubuhnya dijelujuri (dijahit) dengan benang hitam dan dipukuli, dengan beliung sampai sisa-sisa akusala karma (perbuatan-perbuatan jahat) nya HABIS, barulah terbebaskan dari derita ini.


  3. Sanghata : neraka penghancur. Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini, akan merasakan pernderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, akan merasakan terpaan/terjangan benda-benda keras, mis : batu karang dari empat penjuru angin, ke arah tubuhnya tanpa henti-hentinya. Semuanya ini akan berakhir, jika akusala karmanya telah terlunasi.

  4. Roruva : daerah tertarus. Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, akan merasakan masuknya nyala api dan asap ke tubuh, melalui sembilan lubang mis : telinga, hidung, mulut dan lain lain serta membakar di dalamnya. Dan pada akhirnya akan menimbulkan keperihan yang luar biasa. Derita ini akan berakhir, jika sisa-sisa akusala karmanya telah habis.

  5. Maha roruva : daerah tertarus yang besar. Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makhluk makhluk yang dilahirkan di alam neraka ini, juga akan merasakan penderitaan yang luar biasa, ia dipanggang bagaikan sate di atas bara yang menyala. Ratapan dan tangisan yang menderu-deru, terdengar keras sekali di alam ini. Siksaan di alam ini juga akan berakhir, jika hutang-hutang akusala karma (perbuatan jahat) telah terlunasi.

  6. Tapana : pembakar. Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk yang dimilikinya. Makhluk makhluk yang terlahirkan di alam ini, tubuhnya akan dibakar dengan tangan terikat di tiang besi yang panas dan lantainya menyala-nyala, diiringi dengan adanya api yang besar sekali. Sungguh derita yang menyakitkan sekali dan akan berakhir, jika sisa-sisa akusala karmanya habis.


  7. Patapa : pembakaran yang hebat. Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini akan merasakan penderitaan yang luar biasa akibat dari karma buruk yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, akan di dera penderitaan yang luar biasa dan juga akan berakhir, jika sisa-sisa akusala karmanya habis.


  8. Avici : tanpa penghentian. Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, akan selalu merasakan serangan api dari segala sisi, yang tanpa hentinya. Diantara ke delapan alam neraka ini, maka neraka Avici adalah yang paling lama masa hukumannya dan juga merupakan neraka yang paling menderita serta berat siksaannya. Terlahirkan di neraka Avici adalah sebagai akibat dari melakukan 5 perbuatan durhaka (panca nantariya karma) yang terdiri dari : membunuh ibu, membunuh ayah, melukai Sang Buddha, membunuh arahat dan memecah belah Sangha (persaudaraan para Bhikkhu/Bhikkhuni).  
    Di neraka Avici disaat ini, berdiam Devadatta yang mana di masa kehidupan Sang Buddha Gautama, sering berusaha mencelakakan Sang Buddha dan memecah belah Sangha. Setelah mengetahui kondisi dan keadaan yang menyedihkan di alam neraka, apakah masih ada terpikirkan di akall logika kita, untuk mau terlahirkan di alam neraka, hanya untuk menjumpai aktris dan aktor idola? Adalah suatu hal yang mustahil, memikirkan sesuatu yang indah, jika kondisi pikiran kita lagi kacau atau berada dalam kesakitan. Hamburger yang bagai-manapun nikmatnya, akan jadi hambar jika kondisi badan sakit-sakitan ! Agar terhindari dari jeratan alam neraka, marilah kita menjauhi/ mengharamkan :

    1. Tindakan-tindakan yang bisa mencelaka-kan/membunuh makhluk hidup, misalnya para Bhikkhu/ni, umat yang taat pada agamanya, baik dia beragama Buddha, Islam, Kristen, Katholik maupun Hindu.


    2. Penggunaan kekuasaan untuk memeras, menganiaya dan menyiksa ataupun membunuh makhluk lainnya.


    3. Korupsi atau mengambil sesuatu yang bukan-lah merupakan HAK, mencari keuntungan berupa materi (uang, benda-benda berharga dan lain lain), yang bertentangan dengan kebenaran, sehingga menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain. SUKHA VAGGA XV : 204 "KESEHATAN : anugerah yang utama. KEPUASAN : kekayaan yang terbesar. KEPERCAYAAN : keluarga yang terbaik. NIRWANA : berkah yang tertinggi".


    4. Perbuatan-perbuatan yang merugikan masyarakat, mis : membakar kota, rumah tempat ibadah (Vihara, Mesjid, Gereja maupun Puri), kantor atau merusak candi-candi dan tempat tempat suci peninggalan sejarah agama, apapun juga.


    5. Pandangan hidup yang sempit, mis : anti agama (selalu memuji-muji agama yang dianutnya lah, yang terbaik sedangkan agama orang lain dicela habis-habisan), tidak percaya akan hukum karma(siapa yang menabur/menyemai maka dialah yang akan selalu memetik) dan selalu menyalahkan orang lain atas kemalangan/kekurangan yang dimilikinya, tidak meyakini akan adanya proses tumimbal lahir sehingga memiliki pandangan hidup yang salah, yang menyatakan hidup hanya sekali dan oleh karena itu, hidup ini dinikmati sepuas-puasnya, dengan menghalalkan segala macam cara, untuk mencapai tujuan yang didambakan. Perbuatan durhaka yang tidak terampuni adalah membunuh orang tua (ayah dan ibu), membunuh arahat (orang suci setingkat Buddha), melukai Sang Buddha dan menyebabkan terjadinya perpecahan di dalam Sangha (persaudaraan para bhikkhu-/bhik-khuni).


    6. Perbuatan asusila (perzinahan) dan melakukan pengguguran kandungan.


    7. Pelanggaran sila mis : melakukan hubungan intim, dengan suami/istri orang lain, merebut suami/istri orang lain, untuk dijadikan teman hidup ataupun keisengan belaka dan merusak kerukunan hidup rumah tangga orang lain. Di dalam sabdaNYA, Sang Buddha menekankan bahwa ada empat ganjaran bagi orang yang suka berzina yaitu :

      1. kehilangan rezeki


      2. terganggu tidurnya


      3. dikutuk oleh orang dan


      4. akan masuk neraka.

      Hanya orang-orang yang diliputi oleh kebodohanlah, akan melakukan tindakan tercela yaitu perzinahan. Kenikmatan yang sekejab, dibayar dengan penderitaan sepanjang masa!


    Kesimpulan :
    Adalah suatu pandangan yang sangat keliru, jika masih beranggapan bahwa kecantikan/kegantengan, akan mampu bertahan di alam neraka. Yang logisnya adalah pada waktu mengalami / menjalani siksaan, kemungkinan besar adalah rambutnya sudah awut-awutan, wajahnya pucat dan berkeringat menahan sakit, lidahnya menjulur karena kehausan, mulutnya mengeluarkan cairan yang beraneka ragam, bisa saja darah, dahak, liur maupun lendir, berceceran dimana mana. Apakah dikondisi ini, masih bisa dikategorikan cantik / ganteng .? Hiiiii amit-amit ! Kalau diperhatikan dari ke delapan jenis alam neraka di atas, maka tidak satupun dijumpai keadaan/kondisi yang memungkinkan, di dapatnya sedikit saja kebahagiaan. Bisa disimpulkan bahwa makna dari kata niranya (neraka) adalah tiada kebahagiaan, benar adanya. Adakah yang ingin mencobanya? Kalau tidak, marilah direnungkan dan diamalkan ajaran luhur Sang Buddha, dalam bentuk yang nyata, disetiap derap langkah yang akan dilalui.
    "Bagaikan kota di perbatasan yang dijaga ketat, yang dikitari oleh benteng-benteng yang kuat. Demikianlah hendaknya anda menjaga diri anda JANGAN sampai membiarkan anda tergelincir AGAR kesedihan tak menyusul sesampai di neraka"demikianlah yang telah disabdakan oleh Sang Buddha. Selagi kita berada di alam manusia, marilah kita melindungi diri kita, dengan dimilikinya sila yang baik, agar terbebas dari perbuatan tecela. Selalulah waspada dan mawas diri, akan gerak-gerik kenikmatan duniawi. Janganlah sampai terjerumus ke perbuatan perbuatan tercela. Hiduplah penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang, kepada siapapun juga. Dengan dikuasainya tanha (nafsu keinginan) dan tersirnanya avijja (kebodohan)berkat dari prajna (kebijaksanaan) Sang Buddha, maka kita akan terbebaskan dari alam neraka, begitu kematian datang menjemput. Akhir kata, dengan adanya pengertian yang benar tentang kondisi alam neraka ini HENDAK-NYA, kita disetiap saat dan detik, selalu mengkontribusikan perbuatan terpuji, baik melalui pikiran, ucapan maupun tindakan badan jasmani sehingga akhirnya berdaya guna, bagi semua makhluk dan terutama sekali bagi bangsa dan negara kita tercinta. Indonesia.
    Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu - Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan Semoga semuanya senantiasa berbahagia...sadhu…..sadhu..sadhu....


Ajaran Yang Menjamin Keberhasilan

 

Buddhe dhamme ca sanghe ca dharo saddhan nivesaye

Orang yang bijaksana akan meletakkan keyakinannya kepada Buddha, Dhamma dan Sangha.
 
(Pabbatupama Sutta, Kosala Sanyutta)


Jika ajaran dari suatu agama tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, maka agama tersebut tentu tidak bias berkembang. Agar bisa diterima dalam masyarakat, ajaran-ajaran dasar dari suatu agama harus bisa diterapkan ke dalam nilai-nilai sosial, tujuan-tujuan sosial, dan urusan-urusan kemasyarakatan yang lain (bersifat keduniawian). Lantas, bagaimanakah dengan ajaran agama Buddha ? Apakah ajaran-ajaran dasar dari Sang Buddha yang terdapat dalam kitab suci Tipitaka bisa diaplikasikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan bermasyarakat ?

Beberapa penulis yang membahas ajaran-ajaran Sang Buddha telah memberikan pendapat mereka tentang hubungannya antara agama Buddha dengan ilmu-ilmu kemasyarakatan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa agama Buddha tidak mengajarkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan sebagian lagi berpendapat sebaliknya.

Salah satu contoh adalah pendapat Max Weber yang mengatakan bahwa agama Buddha tidak mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan politik dan kemasyarakatan. Tetapi jika kita mempelajari agama Buddha secara mendalam, kita akan mendapatkan beberapa bukti kuat berdasarkan pada kitab suci Tipi?aka , untuk membuktikan bahwa pendapat Max Weber adalah salah. Dalam kaitannya dengan aspek-aspek sosial, perlu diingat bahwa Sang Buddha tidak pernah mengklaim diri-Nya sebagai pelopor perubahan kemasyarakatan di India. Menurut kitab suci Tipi?aka Sang Buddha disebut sebagai Pembabar Dhamma yang tiada bandingnya (Anuttara? Dhammacakka? pavatteti). Oleh karena itu Dhamma yang telah diputar oleh Sang Buddha dijadikan sebagai patokan, kriteria, penuntun masyarakat Buddhis dalam menjalankan kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian sejak diputarnya Dhamma oleh Sang Buddha, telah terbentuklah masyarakat Buddhis yang berdasar pada ajaran-ajaranNya.

Tahap pertama yang terpenting adalah pemutaran roda Dhamma yang pertama Dhammacakkappavatthana Sutta yang telah dibabarkan oleh Beliau di Taman Rusa Isipatana, di kota Benares. Setelah kelima pertapa yang disebutkan dalam Dhammacakkappavatthana Sutta diterima oleh Sang Buddha maka telah terbentuklah untuk pertama kali dengan apa yang disebut masyarakat Sangha (meskipun dalam hal ini lebih tepat disebut sebagai kelompok Sangha). Hal ini merupakan hal yang sangat penting jika kita belajar aspek-aspek dasar agama Buddha. Untuk tahap berikutnya Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu, upasaka/upasika (murid-murid Beliau) tentang bagaimana cara-cara untuk mendapatkan kesejahteraan. Setelah Sang Buddha mendapat pengikut yang banyak maka terbentuklah apa yang dikatakan sebagai "masyarakat Buddhis".

Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa Sang Buddha meskipun Beliau bukan sebagai revolusioner di bidang sosial, tetapi Beliau menginginkan adanya dunia Buddhis, sebagai suatu kelompok/masyarakat yang baru di tengah-tengah beberapa kelompok masyarakat dari agama dan kepercayaan yang lain, yang ada pada waktu itu. Adapun tekad Sang Buddha untuk membentuk apa yang dinamakan masyarakat Buddhis bisa kita lihat dari Maha Parinibbana Sutta sebagai berikut : "Saya tidak akan berParinibbana sebelum ajaran-ajaran agung-Ku telah dimengerti, telah menyebar, serta telah diajarkan dengan baik kepada manusia."

Sang Buddha sangat memperhatikan secara mendalam tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh setiap manusia yang ada pada saat itu misalnya dengan meningkatkan kondisi dari masing-masing individu dan juga masyarakat untuk menunjang kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa pernyataan Dhamma Vinaya mengandung pengertian material dan spiritual.

Yang menjamin keberhasilan

Dalam Sutta Nipata, Maha Mangala Sutta terdapat ajaran dari Sang Buddha yang menjelaskan tentang cara-cara untuk mendapatkan keberhasilan. Khotbah di hutan Jeta pemberian saudagar Anattapindika ini membabarkan tentang 38 jenis perbuatan yang apabila dilakukan akan membawa seseorang bisa mendapatkan suatu keberhasilan. Secara garis besar ke-38 jenis perbuatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu :

  1. Sila (kemoralan)
    Dasar kehidupan bermoral, terdiri dari tiga persiapan untuk dapat hidup bermoral, yang pertama; tak bergaul dengan orang yang dungu; bergaul dengan orang yang bijaksana; menghormat mereka yang patut untuk dihormat.

    Bagian kedua adalah penunjang untuk hidup bermoral; hidup di lingkungan yang sesuai; hal ini didapat berkat jasa dari kehidupan yang lampau; menuntun diri ke arah yang benar. Dan yang ketiga adalah pendidikan dalam hidup bermoral; memiliki pengetahuan; trampil serba bisa (dalam hal kebajikan); terlatih baik dalam tata susila; menyenangkan tutur katanya.

    Kehidupan sosial masyarakat; Dalam hal ini juga dibagi menjadi tiga bagian, yang pertama adalah kehidupan berkeluarga; membantu ayah dan ibu; menjaga baik-baik anak dan istri; serta memiliki pekerjaan yang penuh damai. Kedua adalah kehidupan sosial; suka berdana; berperilaku pantas; membantu sanak keluarga dan bertindak tidak tercela. Yang ketiga adalah kehidupan pribadi; berhenti berbuat jahat dan terbebas dari kejahatan; menghindari meminum minuman yang merusak; tekun dalam melaksanakan kehidupan bermoral.

  2. Samadhi (konsentrasi)
    Dalam hal ini terdapat dua bagian utama yaitu yang pertama adalah persiapan diri untuk bersamadhi; memiliki rasa hormat; rendah hati; merasa puas; senantiasa berterima kasih; mendengarkan dhamma pada saat yang sesuai.

    Bagian berikutnya adalah latihan untuk samadhi; sabar; bergaul dengan manusia teladan dalam dhamma; ikut serta dalam diskusi keagamaan.

  3. Pañña (kebijaksanaan)
    Juga terbagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah jalan menuju kebijaksanaan; menjalankan kehidupan suci; memahami empat kebenaran mulia; merealisasi Nibbana. Dan sebagai hasil dari kebijaksanaan adalah : pikiran tanpa kesedihan; tanpa noda dan mantap; tetap tidak terganggu walau dipengaruhi kesulitan-kesulitan duniawi (terutama pasang surutnya kehidupan di dunia ini, atau kondisi-kondisi kehidupan).
[ Dikutip dari Artikel Berita Dhammacakka Edisi : 30 Juli 2000 ] 

Agama Dan Penyalahgunaan Narkotika

 
Agama Dan Penyalahgunaan Narkotika
Oleh Bhikkhu Pandit P. Pemaratana Nayaka Mahathera 
 


Obat bius bukanlah sesuatu yang baru bagi umat manusia, sebagai contoh, marijuana (ganja) telah dikenal manusia hampir 5000 tahun. Narkotika seperti opium dan bermacam-macam produknya seperti heroin, morfin, paragorik dan kodein, biasanya digunakan dalam pengobatan sebagai obat penenang dan penawar sakit, sedangkan obat bius buatan manusia seperti LSD( Lysergic acid diethylamide/semacam obat bius yang keras) digunakan dalam jumlah tertentu untuk pengobatan gangguan mental dan gangguan emosional.

Akan tetapi dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah obat bius menjadi begitu hangat khususnya diantara kaum muda, masalah ini mengancam beberapa atau seluruh negara di dunia sebagai masalah utama kesehatan. Beribu-ribu bahkan berjuta-juta pemuda menderita, hidup tanpa arti, dan tragis. Suatu penderitaan dan kesakitan yang tidak terbatas. Mengapa mereka menggunakan obat bius? Alasan-alasan yang diberikan oleh beberapa pengguna obat bius tersebut termasuk yang hanya " ingin tahu " dan " iseng saja " adalah " karena hanya itulah yang dapat dilakukan ". Alasan-alasan ini terutama yang diberikan oleh mereka yang sebelumnya tidak pernah menggunakan obat bius dan yang didesak serta didorong untuk memulainya.

Kadang-kadang obat bius digunakan sebagai jalan keluar dari keadaan yang tidak menyenangkan, terutama oleh mereka yang bingung dan frustasi dimana mereka kehilangan/tidak dapat menerima kenyataan. Bahaya yang mengancam dalam penggunaan obat bius ini ialah dapat membuat seseorang menjadi ketagihan atau lebih buruk lagi dapat kecanduan obat bius tersebut. Jika secara psikologi, seseorang sudah terikat dengan obat bius, maka akan sangat sulit baginya untuk menghilangkan kebiasaan tersebut.

Pengaruh-pengaruh buruk dari kelebihan penggunaan obat bius meliputi sakit mental, panik, cacat lahir, kehilangan koordinasi tubuh, penghayal, tidak bergairah, kegagalan dalam penggunaan organ tubuh. Secara sosial seorang pencandu obat bius biasanya akan menyebabkan kesulitan bagi dirinya sendiri daam kaitannya dengan hukum. Banyak sekali pencandu obat bius ditangkap karena mencuri atau melakukan kejahatan lainnya. Jika persediaan obat bius habis, pecandu obat bius akan melakukan kejahatan dalam upaya mendapatkan uang yang cukup untuk membeli obat bius yang mahal itu. Biasanya kesehatan yang buruk dari pecandu sering memperpendek hidupnya sekitar 15 sampai 20 tahun.

Gerakan Anti Obat Bius

Pemerintah mengalami kesulitan dalam kampanye anti obat bius, karena obat bius dapat dengan mudah disembunyikan dan dibawa. Selain itu, perdagangan obat bius merupakan bisnis yang sangat menguntungkan. Sebagai contoh, satu kilogram opium mentah yang dibeli dari petani di Turki sekitar 100 dollar US, setelah diproses menjadi morfin, heroin, dll, dan diseludupkan ke Amerika mungkin dapat dijual sekitar 600.000 dollar US. Karena keuntungan yang besar itu, maka hukum tidak akan dapat menghalangi perdagangan obat bius tersebut.

Oleh karena itu, dalam penyelesaian masalah ini, tidak hanya terletak pada hukuman yang berat bagi penyalur obat bius. Perhatian harus juga ditujukan untuk mendidik masyarakat akan bahaya dari penggunaan obat bius. Selain itu alternatif yang dapat dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk keluar dari rasa frustasinya melalui kegiatan yang berguna dan tidak berbahaya. Dalam hal ini Agama dapat dan harus memainkan peranannya.

Sebagai contoh, sekolah minggu atau vihara-vihara merupakan tempat yang baik untuk menghabiskan waktu seseorang sekaligus untuk menahan diri dari penggunaan obat bius

dan kemabukan. Tempat seperti itu menyediakan pendidikan umat Buddha untuk hidup damai dan mengatur dirinya dalam hidup sehari-hari menurut Sila yang akan mengangkat standar hidupnya. Buddhisme mengajarkan suatu nilai moral dasar dan tidak hanya menolong diri sendiri tapi juga masyarakat agar hidup dalam dasar-dasar tersebut (Sila).

Pemerintah dapat mengadakan pendidikan demikian untuk melenyapkan bahaya yang dihasilkan dari kecanduan warga negaranya terhadap alkohol dan obat bius.

Pengaruh-pengaruh buruk dari penggunaan obat bius

Sang Buddha bersabda, " Keinginan terhadap sesuatu yang bersifat materi dan keinginan terhadap kenikmatan hawa nafsu akan membuat manusia menjadi egois dan tidak akan pernah puas. Orang seperti itu hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak perduli terhadap apa yang terjadi pada orang lain sebagai akibat dari kesalahan dan keegoisannya.

Gambaran ini sesuai bagi pecandu obat bius, yang mencari kesenangan bagi dirinya dan untuk sementara waktu melupakan masalahnya dengan menggunakan obat bius. Tindakannya dalam melakukan kejahatan untuk membiayai obat bius yang diperlukannya , dan pengaruh dari hal itu akan menimbulkan masalah-masalah buruk terhadap masyarakat. Secara singkat obat bius menyebabkan ketidaktahuan dan kegelapan pikiran. Mereka adalah " iblisnya pikiran " dan " penguras isi dompet ". Mereka menimbulkan kesengsaraan bagi suami-suami, istri-istri dan anak-anak. Mereka berbahaya bagi kesehatan manusia, hasilnya adalah kemerosotan dalam fisik dan moral.

Pada bagian atas digambarkan kepribadian pencandu obat bius. Hal ini penting untuk mengetahui karakter, kepribadian, dan tipe dari kecanduan obat bius agar dapat diberikan penanganan yang sesuai dalam merehabilitasi, memperbaiki atau mengobati mereka.

Pengetahuan akan kepribadian pencandu obat bius memungkinkan pemerintah yang bersangkutan, swasta maupun perwakilan-perwakilan kesejahteraan untuk menyediakan pendidikan terhadap bahaya dari ketergantungan obat bius ( kaum muda pengguna obat bius lebih meningkat jumlahnya dibanding kelompok-kelompok yang lebih tua dalam abad 20 dari pada abad-abad sebelumnya )

Tiga type dari pecandu obat bius

Kami mengklasifikasikan obat bius sebagai berikut :

  1. Pecandu-pecandu utama.
    Termasuk didalamnya orang-orang dengan kepribadian buruk,gelisah dan depresi. Pencandu-pencandu dengan kepribadian dengan kepribadian demikian memiliki motivasi yang mentah dan tidak memiliki kemampuan untuk mengenali tujuan secara dewasa.Pencandu-pecandu dengan kegelisahan dan karakteristik depresi ini memiliki cita-cita yang tinggi tetapi dengan penghargaan yang rendah.Reaksi mereka terhadap situasi lingkungan menghasilkan ketakutan dan depresi.Juga perlu dicatat bahawa orang-orang yang profesional dan semi profesional dengan pendidikan yang lebih tinggi dapat pula termasuk ke dalam kelompok terakhir. Oleh karena itu,pemerintah perlu segera melakukan sesuatu tindakan yang "sesuai" untuk merehabilitasi pencandu-pecandu yang menderita itu.
  2. Pecandu-pecandu Symptomatic.
    Mereka agresif, dan bersifat antisosial (psikopat). Mereka menolak untuk mengikuti peraturan moral masyarakat . Biasanya mereka juga melakukan tindakan-tindakan kejahatan.
  3. Pecandu-pecandu obat bius yang bersifat reaktif.
    Yang termasuk kelompok –kelompok ini adalah anak remaja. Bagi mereka penggunaan obat bius merupakan jalan untuk mendapatkan sambutan dari kelompok sebayanya. Anak muda ini mecoba obat bius karena ingin tahu dan dalam beberapa kasus karena ketidaktahuan akan bahaya obat bius. Untuk kelompok pecandu obat bius ini seharusnya disediakan pendidikan yang sesuai. Ketika Sang Buddha mencapai penerangan sempurna, Beliau menunjukan jalan bagi pengikutNya dengan cara mengundang "datang dan buktikan" (Ehipasiko). Jalan itu,yang paling menentukan dalam Empat Kesunyataan Mulia dari Buddhisme yang disebut juga Jalan Utama Beruas Delapan. Kedelapan ruas jalan ini digolongkan dalam Sila (Moralitas), Samadhi (konsentrasi), dan Panna (kebijaksanaan).
Sila terdiri dari berkata benar, perbuatan benar, dan mata pencaharian benar. Samadhi terdiri dari usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar. Panna terdiri dari pengertian benar dan pikiran benar.

Untuk umat Buddha, peraturan moral yang terdiri dari lima aturan ( Panca Sila ) yang sederhana yaitu; menjauhkan diri dari pembunuhan, pencurian, prilaku seks yang tidak wajar, berkata dusta dan minuman yang memabukkan dan obat bius. Dengan lima perbuatan ini umat Buddha membangun dirinya sesuai dengan moral dasar, setiap hari membersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Selain itu, pada hari Uposatha (hari puasa) seperti hari-hari pada saat bulan purnama, ia dapat, jika ia mau untuk menjalankan tiga tambahan peraturan yang sifatnya lebih tinggi ( Atthanga sila atau delapan peraturan).

Sang Buddha tidak menganjurkan pertapaan yang berat, tetapi hanya sesuatu yang diperlukan untuk membebaskan seseorang karena cinta kasih yang besar. Suatu manfaat hidup sederhana dari umat Buddha teladan dengan mempraktekkan kemurahan hati serta mengembangkan kebajikan yang universal. Untuk kehidupan umat Buddha diberikan suatu nilai dasar moral yang mana menyelimuti kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan.

Aturan susila dan disiplin, bagaimanapun hanya permulaan dari ajaran Sang Buddha. Tujuan mereka adalah untuk membuka jalan kepada kemajuan batin melalui pengembangan batin. Obat bius dan perusak pikiran yang lain tidak mempunyai tempat dalam memahami sifat dasar dari kenyataan yang sebenarnya.

Sigalovada Sutta

Sang Buddha mengemukakan beberapa kotbah untuk menambah ajaran-Nya. Kotbah-kotbah ini sering diucapkan dalam istilah yang sederhana dan dapat dengan mudah dimengerti. Sebagai contoh pertama, saya akan mengutip dari Sigalovada Sutta, yang mana terutama terdiri dari nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha kepada Sigala.

Sang Buddha menasihati Sigala bahwa ada 6 saluran pemborosan untuk menghamburkan kekayaan, yang mana oleh seorang umat Buddha harus dihindari, mereka adalah:

Kegemaran akan minuman keras
Berkeliaran di jalan tanpa kenal waktu
Sering berpelesir
Gemar berjudi
Bergaul dengan orang jahat
Ketagihan akan kemalasan (malas bekerja)

Dalam hal pertama, Sang Buddha bersabda, "O, Sigala, ada 6 akibat buruk dari kegemaran akan minuman keras, yang mana disebabkan oleh ketagihan dan ketidaktahuan, yakni:

Harta bendanya segera habis
Menimbulkan pertengkaran
Mudah diserang penyakit
Mendapat reputasi buruk
Mendapat rasa malu
Kecerdasan menurun

Kemudian, di dalam Parabhava Sutta (sebab-sebab kemerosotan), Sang Buddha bersabda, "Manusia yang ketagihan kepada wanita, minuman keras, perbuatan jahat, menghambur-hamburkan segala sesuatu yang dimiliki, itulah sebab kemerosotan seseorang".

Dalam Manggala Sutta (berkah termulia), Sang Buddha ditanya bagaimanakah berkah termulia itu? Sang Buddha menjawab, " … menghindari dan menjauhi perbuatan jahat, menjauhkan diri dari minuman keras, dan tekun dalam menjalankan kebajikan, itulah berkah termulia."

Dari apa yang telah disebutkan di atas, sekarang jelaslah bahwa Buddhisme menyediakan petunjuk-petunjuk khusus bagi kemajuan dan perkembangan diri pemuda-pemuda di zaman moderen, jika kita lihat kembali mengenai self reliance dan latihan serta pencapaiannya dalam sejarah kita tidak dapat mengatakan bahwa agama secara umum telah sukses untuk jangka waktu yang panjang dalam menggali sifat-sifat baik dalam diri manusia. Kesalahan terletak pada sifat manusia itu. Insting binatang yang terdapat pada diri manusia " yang paling kuat yang dapat bertahan hidup "sering kali lebih kuat daripada ajaran agama.

Oleh karena itu agama modren harus mampu membangkitkan keyakinan penuh dalam diri manusia. Agama harus dapat menahan pernyataan-pernyataan keras dari pengetahuan ilmiah dan secara filosofis harus cukup luas mencakup semua elemen dari perjalanan-perjalanan manusia. Hanya agama yang demikian yang dapat memberikan kepada manusia suatu kesadaran yang mendalam tentang nilai-nilai spiritual dan perasaan aman serta mendominasi pikiran mereka sehingga dapat membuat mereka mengikuti jalan kebenaran tanpa rasa takut karena mengetahui benar bahwa pada akhirnya kebijakan akan menang.

Obat penenang tidak pernah dan tidak akan pernah menyentuh bagian terdalam dan kehidupan subyektif manusia untuk mempengaruhinya untuk perbaikan dan untuk masyarakat. Hanya dengan suatu agama yang sesuai dengan sifat alami pikiran yang akan bias menyentuh dan memperbaiki kekacauan serta mengobati pikirannya.

Alkoholisme Dan Kecanduan Obat Bius

Biasanya manusia menyukai rangsangan syaraf walaupun mereka merasa tidak begitu memerlukannya. Diantara perangsang tersebut, yang paling kuat ialah kecanduan alkohol dan obat bius Psychedelic. Pada tingkat permulaan, pecandu alkohol dan pecandu obat bius meminum dan menelan minuman keras ini dengan kesalahpengertian bahwa obat bius ini dapat memberikan tambahan tenaga bagi mereka. Pada akhirnya minuman keras yang sama dapat menyerangnya dan dapat membuatnya tidak berdaya sehingga menyebabkannya menjadi seorang psikoneurotis yang tidak tersembuhkan. Jika kecanduan alkohol dan obat bius, berkembang menjadi suatu kebiasaan hidup dalam diri seseorang, maka akan menimbulkan banyak kesukaran untuk keluar dari kebiasaan buruk tersebut.

Cara dan jalan terbaik adalah tidak terpengaruh, bahkan dalam jumlah yang sedikit atas kesenangan yang berbahaya ini. Bagi mereka yang telah dimangsa oleh kesenangan yang merusak ini, cara terbaik dan paling membantu untuk dilakukan adalah harus berteman lebih dekat dengan orang-orang bijaksana dan menjalankan ajaran agama serta tentu saja mencoba menghilangkan penggunaan obat bius . Jika keinginan terhadap alkohol dan obat bius tersebut timbul di dalam pikiran, maka seseorang dapat menghindari dan menghilangkan keinginan tersebut dengan beberapa macam minuman tanpa alkohol. Beberapa orang memakan sayuran hijau atau mikrobalan kuning (Sansekerta, amalaka dan haritake) dalam situasi sulit seperti ini.

Salah satu akibat buruk kecanduan alkohol dan kecanduan obat bius adalah dapat memperbudak dan memperlemah kemauan keras dari seseorang. Ini merupakan kebiasaan mental yang dapat mengacaukan dan dapat melemahkan pikiran. Orang tersebut disebut mengalami gangguan mental (Neurotik). Tidak sulit untuk sembuh dari hal tersebut.

Umumnya, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui nilai-nilai kehidupan. Generasi yang lebih muda secara keseluruhan lebih banyak lagi. Semakin tidak tahu dan berpikir panjang, semakin mudah seseorang terjebak dalam kejahatan. Seperti yang disebutkan dalam tulisan diatas, alkohol dan obat bius adalah alat yang mudah untuk mendapatkan uang yang banyak. Dalam perdagangan seperti ini, orang yang bodoh karena kebodohannya biasanya bersedia membayar sesuai dengan permintaan si penjual.

Pikiran bijaksana harus sadar akan siasat buruk dari pedagang-pedagang yang merusak ini. Sudah waktunya bagi orang-orang sosial dan para dermawan, pemuka agama dan pemerintah untuk tampil ke depan dan berusaha sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan mereka untuk mencegah orang-orang bodoh yang dimangsa oleh sifat buruk dan kejahatan tersebut.

Meditasi

Kita sekarang melangkah pada persoalan dari pecandu obat bius dan meditasi. Sang Buddha menyatakan bahwa pikiran kita yang terkonsentrasi pada usaha benar dan pengertian benar dapat menghasilkan hasil yang besar. Pikiran yang bersih dan sehat akan menuju kepada kesehatan dan kehidupan yang tenang. Hal ini dapat dicapai apabila pikiran terkendali dan dijaga pada garis yang benar sehingga berguna bagi pemiliknya dan bagi masyarakat. Oleh karna itu pikiran seseorang bisa menjadi sahabat atau musuh. Kecanduan obat bius dalam pandangan ini adalah buruk karena menghasilkan kekacauan pikiran yang mana merugikan pemiliknya maupun orang lain. Penggunaan Halucinogen (Obat yang dapat menimbulkan hayalan) atau obat bius seperti LSD menghasilkan kekacauan dan kekeliruan pikiran. Obat bius ini mengakibatkan perubahan persepsi, pikiran dan perasaan atau pengaruh-pengaruh batiniah yang mana dapat membawa seseorang lebih keliru, bingung dan mengerikan. LSD berbahaya karena pandangan yang keliru atas hasilnya, dimana mengakibatkan pecandu sering melakukan bunuh diri.

Sebaliknya, meditasi adalah suatu proses daya cipta batin yang tidak pernah berakhir. Meditasi merubah emosi yang tidak terkendali, pikiran dan perasaan menjadi suatu kesatuan harmonis yang menerangi pikiran. Mental Buddhis berkembang melalui meditasi yang berkaitan dengan sublimasi, harmonisasi dan integrasi dari semua kwalitas manusia dan kemampuan yang menekankan pada pentingnya usaha individu (Viriya), Hasil dari pelaksanaan ajaran agama ialah daya cipta pikiran (Dhammavicaya), pengetahuan akan kebijaksanaan (Panna), kesadaran langsung dari pemusatan meditasi (Ekaggata), mencintai semua mahluk (Metta) dan keyakinan dengan pengertian (Saddha) terhadap guru yang telah mencapai penerangan sempurna. Orang bijaksana akan mengikuti petunjuk dari pimpinan agama dengan memusatkan perhatiannya. Pemeliharaan pikiran dan penerangan tidak dapat dicapai melalui pemakaian obat bius seperti LSD. Penggunaan obat bius hanya akan menyebabkan ketidakteraturan pengembangan pikiran dari orang biasa yang tidak berpengetahuan atau pertimbangan-pertimbangan yang memungkinkannya untuk mengetahui kebenaran.

Bagaimana Bermeditasi

Meditasi akan berhasil dengan jalan dipraktikkan, tidak hanya untuk mengembangkan kemaun keras, tetapi juga sebagai suatu alat yang mudah bagi pecandu alkohol dan pecandu obat bius untuk membuang kebiasaan buruk mereka dan menghancurkan kebiasaan tersebut. Oleh karna itu, bagaimana bermeditasi pada gilirannya akan dijelaskan pada bagian ini. Tempat yang terbaik untuk bermeditasi ialah tempat yang terpencil, sepi dan suasana religius yang tenang. Dapat di dalam rumah pemiliknya sendiri atau di ruang meditasi atau di tempat suci di vihara-vihara. Bangsa Indian kuno lebih menyukai di bawah pohon atau di batu besar di dalam hutan.

Sikap badan yang terbaik untuk bermeditasi ialah sikap bunga teratai maksudnya ialah duduk diatas lantai atau di atas alas duduk, letakkan kaki kiri di atas paha kanan dan kaki kanan di atas paha kiri. Sikap badan ini memungkinkan duduk dengan menyenangkan di atas bangku atau kursi dengan badan dan kepala tegak. Jika orang tersebut sudah duduk dengan baik pada posisi duduknya, ia harus menegangkan tubuhnya. Ketegangan akan menghentikan setiap ketegangan dan gerakan. Jika tubuh telah tenang, ia akan teguh seperti batu, batang kayu atau tumbuhan. Di dalam tubuh yang tenang, tidak ada usaha fisik maupun ketegangan yang diperlukan untuk sikap badan seperti itu. Cara terbaik dan termudah untuk mencapai obyek meditasi ialah melalui pernafasan, menghirup dan membuang nafas. Dimana saja seseorang berada dan kemana saja ia pergi, obyek meditasi ini seharusnya selalu bersamanya. Jika badan dalam keadaan tenang, sang mediator harus mencoba memusatkan pikirannya (mencapai kesadaran) hanya dalam dua bentuk gerakan, memasukkan dan mengeluarkan nafas. Dalam usaha ini, ia harus menghentikan semua bentuk pikiran dan mencoba untuk sadar akan gerakan pernafasan. Ketika mencapai kesadaran dengan konsentrasi yang benar, orang tersebut tidak mengetahui apa-apa, kecuali gerakan pernafasan. Ia melupakan sekitarnya, bahkan tubuhnya sendiri. Konsentrasi akan menuju ke pikiran yang terkendali dan menjinakkannya. Oleh karena pengendalian ini, kemauan keras akan berkembang dan memperkuat dirinya. Selain itu konsentrasi adalah suatu jalan untuk mempertajam pencapaian kesadaran yang mana membantu penajaman persepsi, dan pada gilirannya membantu gambaran yang benar atau pemikiran rasional yang akan menyebabkan timbulnya kemauan yang keras. Tidak ada batas waktu untuk mencapai konsentrasi pikiran. Sampai Anda merasa puas, anda boleh melanjutkan meditasi. Jikalau Anda adalah seorang pecandu alkohol atau pecandu obat bius, Anda harus menghentikan penelanan obat-obat dan alkohol ini paling sedikit tiga hari sebelum meditasi.

Renungkan secara mendalam atau dalam keheningan kalimat ini tujuh kali atau lebih: "Alkohol dan obat bius adalah merusak dan berbahaya bagi kesehatan pikiran. Sekarang keinginan dan perbudakanku terhadapnya dengan cepat diturunkan dan secara berangsur-angsur dihilangkan. Aku akan tumbuh sebagai manusia dengan kemauan keras. Sekarang aku dapat menghentikannya sama sekali. Ini adalah kemenanganku ".

[ Naskah asli: Religion and Drug abused, diterjemahkan oleh Edi Wijaya. Dikutip dari Majalah Dharma Prabha]

Saturday, February 20, 2010

Agama Dan Politik Moral


Agama Dan Politik Moral
Oleh Daniel Johan 



Dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan, hubungan antara agama dan politik jelas memiliki suatu keterkaitan, namun tetap harus dibedakan. Satu pihak, masyarakat agama memiliki kepentingan mendasar agar agama tidak dikotori oleh kepentingan politik, karena bila agama berada dalam dominasi politik, maka agama akan sangat mudah diselewengkan. Akibatnya agama tidak lagi menjadi kekuatan pembebas atas berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan, sebaliknya agama akan berkembang menjadi kekuatan yang menindas dan kejam.
 
Di pihak lain, adalah kewajiban moral agama untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menurut seleranya sendiri yang bisa membahayakan kehidupan. Agar agama dapat menjalankan peran moral tersebut, maka agama harus dapat mengatasi politik, bukan terlibat langsung ke dalam politik praktis. Karena bila agama berada di dalam kooptasi politik, maka agama akan kehilangan kekuatan moralnya yang mampu mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menekan kehidupan dan menyimpang dari batas-batas moral dan etika agama, masyarakat, dan hukum.

Dalam konteks keterkaitan ilmiah, maka hubungan antara agama dan politik harus kita waspadai sehingga ia tidak sampai berjalan pada posisi yang salah. Salah satu ukuran atau kunci yang paling mudah dikenali agar kita dapat menarik batas yang mana politik yang harus dihindari sehingga kita tidak terjebak ke dalam arus politik kotor, khususnya oleh kaum Buddhis adalah dengan menghindari penggunaan kekerasan. Artinya politik yang harus dihindari adalah politik yang menyangkut perebutan kekuasaan melalui penggunaan kekerasan, termasuk dengan memperalat orang lain atau suatu organisasi, apalagi bila sudah menggunakan simbol-simbol agama yang bisa sangat menyesatkan.

Jadi, agama secara moral dan politis berada pada posisi yang benar pada saat agama tidak menjadi alat untuk memperebutkan atau mempertahankan status quo kekuasaan. Sehingga pada saat agama mengarah kepada politik kekuasaan, pada saat itulah agama dalam posisi yang salah dan berbahaya. Jadi ada 2 hal keterkaitan yang menjadi wacana diskusi kita, pertama bagaimana agama dapat membentengi diri mereka dari setiap kecenderungan/kekuatan politik yang berkembang di sekitar mereka, sehingga agama dapat tetap menjadi kekuatan pembebas dan bukan sebaliknya menjadi yang dibebaskan atau pencipta masalah karena telah terdistorsi oleh kekuatan-kekuatan politik tersebut. Kedua bagaimana agama dapat memainkan peran moral mereka untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menyimpang dan menekan kehidupan.

Tetapi kedua hal di atas hanya dapat berjalan dengan baik bila kita memiliki pemahaman yang cukup mendalam atas setiap proses politik yang berjalan. Tanpa adanya pemahaman atas proses politik, sulit bagi kita untuk membentengi diri karena proses pemahaman tersebut akan menimbulkan kepekaan nurani pada saat politik berjalan pada arah yang salah, sekaligus menimbulkan suatu perencanaan bagaimana arah politik yang seharusnya dan diharapkan, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang menjadi keyakinan kita, baik menyangkut rasa keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan.

Sebaliknya, kebutaan kita atas persoalan politik akan membuat kita begitu mudah dibodohi oleh kepentingan-kepentingan dan muatan-muatan politik yang tidak jelas arahnya. Jadi usaha agar agama tidak dikotori dan diberi muatan politik tidak berarti agama harus mengalami pendangkalan fungsinya sebagai agen pembebas. Justru pemahaman atas proses politik diperlukan karena agama memiliki peranan yang penting agar nilai-nilai moral dan spiritual mampu memberikan muatan bagi politik, bukan sebaliknya. Selain itu, saat ini pemahaman atas sistem politik, baik yang menyangkut masalah ekonomi maupun sosial menjadi semakin penting bagi seorang Buddhis karena bagaimanapun juga, berbicara mengenai Buddhisme adalah berbicara mengenai bagaimana kita memahami penderitaan, untuk kemudian memahami sebab dan jalan untuk mengatasinya. Buddhisme akan kehilangan akarnya bila tidak sanggup lagi berbicara dan peduli dengan penderitaan dunia saat ini yang sudah sedemikian kompleks.

Tetapi memahami penderitaan saat ini tidaklah semudah kita memahami penderitaan pada zaman Buddha. Masyarakat luas saat itu tidaklah seburuk sekarang dan sistem yang ada juga belum terlalu kejam. Dan perubahan seseorang masih dapat memberikan pengaruh yang besar. Contohnya adalah Supata yang dikenal sebagai Anathapindika. Ia adalah seorang yang kaya raya, seorang banker pada zaman Buddha, menjadi pendukung seluruh orang miskin di wilayahnya. Tapi pada zaman sekarang, kita mungkin dapat menemukan seorang banker atau raja yang baik, atau bahkan mungkin mengganti penguasa yang lalim, tapi hal ini tetap saja tidak membawa perubahan yang mendasar. Ini bukan semata-mata kesalahan si banker atau penguasa yang lalim.

Ini menyangkut seluruh bagian dari suatu sistem yang pincang dan tidak demokratis. Melalui sistem ini manusia saling membunuh dan menerkam. Karenanya kita perlu mempertanyakan setiap sistem yang berlangsung, tapi bukan membenci orang-orang yang terlibat dalam sistem tersebut. Oleh karena itu pemahaman atas sistem politik, ekonomi, maupun ideologi menjadi sangat penting. Usaha untuk mengatasi penghancuran lingkungan, ketidakadilan, dan berbagai kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi, misalnya, jelas menjadi tugas seorang Buddhis.. Tapi kita juga tidak boleh lalai untuk menyadari bahwa setiap komitmen moral yang kita miliki terhadap usaha pembebasan penderitaan, sesungguhnya bersifat politis.

Mengatasi penderitaan memang merupakan komitmen moral, tapi melakukan perubahan struktural yang tidak demokratis agar rakyat terbebas dari struktur sosial yang menindas dan banyak menimbulkan penderitaan, maupun yang melanggengkan ketergantungan dan ketidak berdayaan mereka, merupakan keputusan politik. Jadi jelas, pembebasan penderitaan saat ini tidak dapat dipahami hanya dalam konteks pribadi, karena Buddhisme selain memberi sarana bagi pembebasan pribadi, ia juga harus dapat melapangkan jalan bagi pembebasan sosial dan lingkungan.

Kita teringat dengan perjuangan Ambedhar, seorang pemimpin besar dan bapak konstitusi India. Meskipun ia menjadi Buddhis pada saat-saat akhir masa hidupnya, akan tetapi kedalaman spiritual dan intelektualnya membuat ia mampu membawa ajaran Buddha dengan cara yang mengagumkan. Ia tidak hanya menjadikan Buddhisme sebagai sumber pencerahan pribadi, tapi juga bagaimana nilai Buddhisme mampu memberikan pengharapan dan pencerahan bagi jutaan rakyat India, yang mengalami banyak ketidakadilan dan pendiskriminan saat itu. Buddhisme saat itu telah menjadi kekuatan pembebas yang begitu hebat, bukan hanya sebagai pembebasan pribadi, tapi juga pembebasan sosial dan politik.

Ambedhar senantiasa mengingatkan bahwa tidaklah cukup bagi seorang Buddhis berbicara mengenai sebab penderitaan hanya dari kebencian, keserakahan, dan kebodohan individual. Itu hanya satu sisi dari sebab "internal" karena di samping itu, struktur sosial dan politik yang pincang adalah juga sebab penderitaan sebagai sebab-sebab yang tidak tersentuh. Sebagai seorang Buddhis, transformasi pribadi memang harus tetap dilakukan, tapi kita akan tetap dibodohi bila kita tidak memahami secara jelas bagaimana sebuah sistem berjalan dan cara untuk mengubah sistem dan kondisi masyarakat yang menindas.

Bila selama ini etika sosial Buddhis telah menjadi begitu pribadi, maka kita perlu menginter- pretasikannya kembali sehingga sila selain berguna untuk menuntun cara hidup individu, ia juga harus dapat mempertanyakan berbagai sistem dan kebijaksanaan yang berlangsung dengan melihat bagaimana suatu sistem juga mengandung suatu kekerasan dan penindasan. Pancasila Buddhis misalnya, dalam masyarakat tradisional yang hidup sederhana, masalah-masalah etika/sila juga menjadi mudah dan sederhana. Seseorang dapat saja berkata "Saya baik, saya tidak membunuh, mencuri,….." tapi ketika masyarakat sudah berkembang semakin kompleks, kesederhanaan etika seperti itu menjadi kurang berfungsi. Tidak mencuri, sila kedua misalnya, secara formal seseorang mungkin memang bukan pencuri. Tapi bagaimana dengan sistem tata niaga atau sistem embargo ?. Apakah hal tersebut tidak melanggar sila.

Begitupun dengan pemikiran Buddhis atas pencerahan dan kebijaksanaan yang mutak diperlukan sehingga tidak selalu diartikan sebagai pencerahan pribadi.. Kebijaksanaan (panna) harus mengandung pemahaman yang benar atas diri sendiri dan masyarakat. Bila kita memahami masyarakat dan bila masyarakat dalam kondisi yang diliputi oleh ketidakadilan, mengeksploitasian, dan kekerasan, bagaimana tanggapan kita atas hal tersebut? Apakah kita melepaskan tanggung jawab moral sosial kita dan cukup menjadi "seorang Buddhis yang baik". Apa benar Buddhisme tidak memiliki tanggung jawab dan kepedulian sosial?

Kesadaran-kesadaran inilah yang masih perlu dibangun dan disadari oleh setiap generasi muda Buddhis para calon intelektual muda bangsa. Memang ini masih menjadi sesuatu yang sangat baru dan asing bagi sebagian besar masyarakat Buddhis, karena selama ini kita terlalu sering membiarkan diri kita berdiri terlalu jauh dari masalah-masalah sosial politik aktual. Tapi dengan memahami bahwa sistem juga adalah bagian yang tidak terlepas dari penyebab penderitaan, semoga kita dapat semakin terbuka untuk mulai belajar setiap proses sosial politik yang berlangsung, sehingga kita dapat semakin menyadari hakekat pembebasan yang menjadi amanat dasar dari Dharma.

Bila Dharma sesuatu yang tidak terikat oleh waktu, ia juga harus dapat berguna bagi usaha pembebasan di segala zaman. Sudah saatnya bagi generasi muda Buddhis, khususnya mahasiswa calon intelektual muda, untuk mulai berani berbicara mengenai landasan ekonomi, termasuk politik yang seringkali menjadi sebab tak tersentuh dari persoalan penderitaan dan kemanusiaan. Akhirnya mengapa pemahaman dan wawasan yang mendalam atas persoalan sosial politik diperlukan, karena sebagai manusia yang memiliki semangat spiritualitas Dharma, yang selalu bersandar kepada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan, akan terusik nuraninya bila melihat politik berkembang menjadi kekuatan yang kotor, menekan dan menindas. Yang kita inginkan adalah politik moral yang dapat memperjuangkan kehidupan ke arah demokrasi, bukan politik binatang yang mematikan demokrasi dan kemanusiaan.

( Disampaikan pada Seminar Pelatihan Organisasi Wajib PATRIA I, DPD PATRIA Jawa Timur, 15-17 Agustus 1998 )