Showing posts with label pengetahuan Buddhis. Show all posts
Showing posts with label pengetahuan Buddhis. Show all posts

Saturday, February 19, 2011

Bendera Buddhis

 
 
 
Bendera Buddhis
Oleh Hudaya Kandahjaya 
 


Bendera Buddhis resmi dipakai di hadapan publik untuk pertama kalinya pada suatu upacara Wiasak di Dipaduttararama, di Kotahena, Sri Lanka, tepatnya pada tanggal 28 April 1885. tanggal kelahirannya sendiri umumnya dikatikan dengan pemampangan wujud bendera ini di harian Sarasavi Sandaresa pada tanggal 17 April 1885. Sri lanka pada abad kesembilanbelas sedang bergolak menghadapi tantangan akibat kehadiran dan kegiatan misionaris kristen di pulau tersebut. Bendera Buddhis diciptakan untuk mempersatukan umat Buddha Sri lanka dalam menghidupkan kembali agama Buddha. bendera ini juga menjadi lambang kejaayn umat Buddha dalam gerakan tersebut. Belakangan, banyak cendekiawan menamakan gerakan ini sebagai gerakan agama Buddha Protestan.

Gerakan menghidupkan kembali agama Buddha itu antara lain dirumuskan oleh panitia Peringatan Waisak tahun 1880 di Colombo. Anggota panitianya adalah yang Arya hikkaduwe Sri Sumangala thera (ketua), yang Arya Mohottivatte (Migettuwatte) Gunananda Thera, Don carolis hewavitharana, Muhandiram, A.P. Dharmagunawardena, william de Abrew, Carolis Pujitha Gunawardena (Sekretaris), Charles A. de Silva, N.S Fernando, Peter de Abrew, dan H. William fernando. Diantara orang-orang ini Carolis Pujitha gunawardena yang seketaris sering dipandang sebagai perancang bendera buddhis, walaupun pada umumnya ada kecenderungan untuk memandang keseluruhan panitia penyelenggara perayaan Waisak 1885 sebagai yang berjasa bagi proses penciptaannya.

Kolonel Henry Steel Olcott pertama kali datang ke Sri Lanka bersama Madame H.P. Blavatsky, pendiri-pendiri Theosophical Society, pada tahun 1880. ketika bendera Buddhis pertama kali dikibarkan di Sri Lanka, Kolonel Olcott sedang berada di India. ia kembali ke Sri lanka dari India pada tanggal 28 januari 1886. ia mencatat kesan-kesannya begitu melihat bendera Buddhis berkibar di Kotahena. Menurutnya bentuk bendera itu kurang mengena atau serasi untuk dibawa dalam prosesi atau dipancang di rumah-rumah. Kolonel Olcott menyarankan agar bentuknya dibuat sebangun dan seukuran dengan bendera nasional. Sarannya diterima dan pada tanggal 8 April 1886 bendera gubahan baru dipampang kembali di harian Saravasi Sandaresa. bentuk inilah kemudian yang diperbanyak dikibarkan baik pada upacara Waisak 1886 maupun pada setiap vihara dan rumah-rumah di Sri Lanka.

Catatan Kolonel Olcott juga menyebutkan bahwa paduan warna yang terdapat dalam bendera Buddhis versi Sri Lanka adalah serupa dengan yang ada pada bendera yang dipakai Dalai Lama di Tibet. Dalam tradisi agama Buddha, kombinasi warna ini mengacu ke pancaran enam warna aura Buddha. Dalam literatur Sanskrit, ciri unik Buddha yang berupa enam warna cahaya Buddha ini disebut sadvarna-buddha-ramsi; kata ramsi merupakan metatesis dari rasmi). Enam warna itu secara berurutan adalah biru (nila), kuning (ita), merah (lohita) putih (odata), jingga (manjestha, paliL manjettha), dan campuran dari lima warna di atas (prabhasvara, Pali: pabbhassara). Dikatakan juga bahwa warna biru berasal dari rambut dan bagian biru dari mata, warna kuning berasal dari kulit dan bagian kuning dari mata, warna merah berasal dari daging, darah dan bagian merah dari mata, warna putih berasal dari tulang, gigi, dan bagian putih dari mata, dan dua warna lainnya berasal dari berbagai bagian tubuh Buddha. Lalu, formasi urutan warna ini bila dipasang bersebelahan dengan arca Buddha, warna biru menempati posisi diatas atau disebelah dalam.

Pada tahun 1889, Anagarika Dharmapala dan Kolonel Olcott memperkenalkan bendera ini ke Jepang dan selanjutnya ke Burma. Kemudian, sewaktu World Fellowship of Buddhists pada tahun 1950 bersidan di Colombo, atas permintaan Almarhum Profesor G. P. Malalasekera, bendera Buddhis diseakati untuk diterima sebagai bendera umat Buddha di seluruh dunia, Sejak saat itu bendera Buddhis yang berasal mula dari Sri Lanka ini meningkat kedudukannya sebagai lambang Buddhis internasional.
 
[ Dikutip dari Majalah Manggala Edisi September - Oktober 1999 ]

Thursday, February 10, 2011

Asal Usul Pujian : NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASA

 
Asal Usul Pujian :
NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASA


Demikianlah yang telah saya dengar: Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang menetap di dekat Savatthi di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Saat itu brahmana Janussoni sedang keluar dari Janussoni melihat pertapa Pitolika sedang mendatanginya dari jarak tertentu dan melihatnya, ia berkata demikian kepada pertapa Pitolika: "Tuan, saya datang atas kehadiran pertapa Gotama".

"Bagaimana menurutmu, Vacchayana? Apakah pertama Gotama memiliki kebijaksanaan yang luhur? Apakah menurutmu Beliau bijaksana?"

"Namun, sipakah saya ini, Tuan, sehingga saya seyogiannya mengetahui apakah pertapa Gotama memiliki kebijaksanaan luhur atau tidak? Tentu saja hanya orang seperti Beliau yang dapat mengetahui apakah pertapa Gotama memiliki kebijaksanaan luhur".

"Tak diragukan lagi, dengan pujian yang luhur bahwa yang terhormat Vacchayana memuji pertapa Gotama".

"Namun, siapakah saya ini, Tuan, sehingga saya segoyianya memuji pertapa Gotama? Dipuji oleh yang patut dipuji itulah Yang Mulia Gotama, pemimpin para dewa dan manusia".

Ketika hal ini telah diucapkan, brahmana Janussoni turun dari kendaraannya yang serba putih, dan setelah merapikan pakaian atasnya ke bahu, setelah bernamaskara kepada Sang Bhagava, beliau memuji Sang Buddha tiga kali dengan pujian berikut:

"Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa !
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa !
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa"

Serta merta, kalimat yang merupakan ekspresi pujian dan pujian ini cukup luas diketahui, sehingga beberapa umat awam, beberapa umat Buddha dan beberapa brahmana serta sedikitnya seorang Raja, telah mengucapkan kata-kata pujian ini. Oleh karena itu, bilamana saat ini kita membacakan kta-kata ini, ini merupakan rangkaian suara sejak masa lalu, sejak zaman sang Buddha masih hidup. Kita dapat membacakannya seperti brahmana ini melakukannya:

NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASSA !

Sebanyak tiga kali di dalam bahasa Pali, atau dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, yang artinya : "Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna".

[Dikutip dari Mutiara Dhamma XIV ]  

Wednesday, February 9, 2011

Asal Usul Hari Kathina

Asal Usul Hari Kathina
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Dhammavicaro


 
Dalam menyambut masa Kathina yang berlangsung selama satu bulan --dari tanggal 27 Oktober s/d 25 November 1996--, ada baiknya kita mengingat dan menelusuri kembali sejarah Kathina. Bagi umat Buddha, masa Kathina erat kaitannya dengan berdana kepada Sangha. Masa Kathina selalu disambut umat Buddha dengan begitu meriah, ini dapat dilihat dari semangat umat Buddha memperingati Kathina dengna berbondong-bondong datang ke Vihara. Mereka dengan perasaan bahagia, dan penuh ketulusan hati melakukan persembahan kepada Sangha.

Peristiwa ini sudah berlangsung beribu-ribu tahun lamanya dan menarik sekali apabila kita telusuri bagaimana sesungguhnya Kathina sampai ditetapkan oleh Sang Buddha Gotama?

Sejarah mencatat bahwa setelah meraih Pencerahan Agung, Sang Buddha melakukan perjalanan ke Taman Rusa Isipatana, di dekat Benares. Beliau membabarkan Dhamma yang dikenal dengan Dhammacakkapavatana Sutta kepada lima orang pertapa yang pernah menjadi sahabatNya? Kondana, Vappa, Bhaddiya, Mahanama, dan Assaji. Setelah menguraikan khotbah pertama, Sang Buddha tetap tinggal disana. Beliau bertemu dengan Yasa -- anak seorang pedagang kaya raya di Benares -- dan memberikan wejangan Dhamma kepadanya. Disamping itu, Sang Buddha juga membabarkan Dhamma kepada ayah Yasa dan empat sahabat Yasa. Mereka beserta para pengikutnya -- semuanya berjumlah lima puluh lima orang -- meninggalkan kehidupan berumah tangga, memasuki kehidupan tanpa rumah (menjadi Bhikkhu), dan mencapai tingkat kesucian Arahat.

Jumlah siswa Sang Buddha yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat pada saat itu sebanyak enam puluh orang. Kepada mereka Sang Buddha menyerukan untuk menyebarkan Dhamma dengan berkata :

"Aku telah terbebas dari semua ikatan-ikatan, O para Bhikkhu, baik yang bersifat batiniah maupun yang bersifat jasmania; demikianlah pula kamu sekalian, sekarang kamu harus menggembara untuk kesejahteraan orang banyak. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama. Babarkanlah Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya. Umumkanlah tentang kehidupan suci yang benar-benar bersih dan sempurna dalam ungkapan dan hakikatnya. Terdapat makhluk-makhluk yang matanya hanya ditutupi oleh sedikit debu. Kalau tidak mendengar Dhamma mereka akan kehilangan manfaat yang besar. Karena mereka adalah orang-orang yang dapat mengerti Dhamma dengan sempurna. Aku sendiri akan pergi ke Senanigama di Uruvela untuk mengajar Dhamma".

Masa penyebaran Dhamma telah dimulai. Tetapi pada saat itu Sang Buddha belum menyatakan masa Vassa dan masa Kathina. Semangat untuk menyebarkan Dhamma dalam diri para Bhikkhu nampaknya sangat besar.

Hal ini bisa terlihat dari adanya sekelompok Bhikkhu yang mengadakan perjalanan pada musim dingin, musim panas, maupun musim hujan (Sebagaimana diketahui di India hanya dikenal tiga Musim).

Melihat hal ini masyarakat mengkritik dengan mengatakan, "Mengapa para Bhikkhu Sakyaputta (murid-murid Sang Buddha) mengadakan perjalanan pada musim dingin, panas dan musim hujan sehingga mereka menginjak tunas-tunas muda, rumput-rumputan, serta merusak kehidupan yang sangat penting dan mengakibatkan binatang-binatang kecil mati? Tetapi pertapa-pertapa lain, yang walaupun kurang baik dalam melaksanakan peraturan (Vinaya), namun mereka menetap selama musim hujan".

Mendengar keluhan masyarakat tersebut, beberapa orang Bhikkhu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian di atas. Sang Buddha kemudian memberikan keterangan yang masuk akal, dan bersabda :

"Para Bhikkhu, saya izinkan kamu untuk melaksanakan masa Vassa".

Kemudian terpikir oleh para Bhikkhu,

"Kapan masa Vassa dimulai ?".

Mereka menyatakan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau kemudian menyatakan, "Saya izinkan kamu melaksanakan masa Vassa selama musim hujan".

Kemudian terpikir lagi oleh para Bhikkhu,

"Berapa banyak periode untuk memulai masa Vassa ?".

Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha, Beliau berkata,

"O para Bhikkhu, terdapat dua masa untuk memasuki masa Vassa, yang awal dan yang berikutnya. Yang awal dimulai sehari setelah purnama di bulan Asalhi (Kini dikenal dengan Hari Raya Asadha) dan yang berikutnya dimulai sebulan setelah purnama di bulan Asalhi. Itulah dua periode untuk memulai musim hujan". Sejauh ini belum ada ketetapan mengenai Kathina Upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Sang Buddha baru menetapkan masa Vassa dan sejak saat itu, para Bhikkhu melaksanakan masa Vassa. Pada masa Vassa para Bhikkhu menetap selama musim hujan dan melatih dirinya.

Kathina mempunyai kisah tersendiri, sebagai berikut, pada waktu itu Sang Buddha menetap di Savatthi, di hutan Jeta di vihara yang di dirikan oleh Anathapindika. Ketika itu terdapat tiga puluh orang Bhikkhu dari Pava sedang mengadakan perjalanan ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Buddha.

Ketika masa Vassa tiba, mereka belum sampai di Savatthi. Mereka memasuki masa Vassa di Saketa dengan berpikir,

"Sang Buddha tinggal sangat dekat, hanya enam yojana dari sini tetapi kita tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Sang Buddha".

Setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, dengan jubah basah kuyup dan kondisi yang lelah mereka sampai di Savatthi. Setelah memberi hormat, mereka duduk dengan jarak yang pantas.

Sang Buddha berkata,

"O para Bhikkhu, semoga semuanya berjalan dengan baik. Saya berharap kalian mendapatkan sokongan hidup. Selalu penuh persahabatan dan harmonis dalam kelompok. Kamu melewatkan masa Vassa dengan menyenangkan dan tidak kekurangan dalam memperoleh dana makanan".

Kemudian para Bhikkhu menjawab:

"Segala sesuatu berjalan dengan baik, Sang Bhagava. Kami mendapatkan sokongan yang cukup, dalam kelompok selalu penuh persahabatan dan harmonis, dan mendapatkan dana makanan yang cukup. Kami sebanyak tiga puluh orang Bhikkhu dari Pava ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Bhagava, tetapi ketika musim hujan mulai, kami belum sampai di Savatthi untuk bervassa. Kami memasuki masa Vassa dengan penuh kerinduan dan berpikir, Sang Bhagava tinggal dekat dengan kita, enam yojana, tetapi kita tidak mempunyai kesempatan melihat Sang Bhagava. Kemudian kami, setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, menjalankan pavarana, hujan, ketika air telah berkumpul, rawa telah terbentuk, dengan jubah yang basah kuyup dan kondisi yang lemah dalam perjalanan yang jauh".

Setelah memberikan wejangan Dhamma,Sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu,

"O para Bhikkhu, Saya izinkan untuk membuat jubah Kathina bila menyelesaikan masa Vassa secara lengkap........".

Demikianlah izin membuat jubah Kathina ditetapkan Sang Buddha ketika Beliau tinggal di Savatthi.

Sampai sekarang Kathina tetap diperingati sebagai upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha. Hubungan harmonis antara Bhikkhu Sangha dan umat awam seperti yang tercermin dalam masa Kathina ini, sungguh merupakan suatu berkah dalam kehidupan ini. Kathina memang memberikan makna yang mendalam bagi umat Buddha.