Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Thursday, December 9, 2010

Vassa




Vassa
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Jinnadhammo Mahathera



Salah satu peraturan di dalam hidup kebhikkhuan adalah menjalankan Vassa. Masa vassa adalah selama 3 bulan dimulai dari bulan Asalha / Asadha hingga sampai bulan Kathina. Tahun ini jatuh pada tanggal 12 Juli sampai dengan 8 Oktober 1995.

Seorang Bhikkhu setiap satu tahun sekali menjalani Vassa selama tiga bulan berturut-turut di suatu tempat. Tempat yang sangat baik untuk melakukan Vassa adalah tempat yang sunyi dan hening di mana umat biasa (orang awam) yagn datang dan pergi sangat sedikit sehingga suasana keheningan itu terjamin. Pada masa hidup Sang Buddha di mana anggota Sangha masih berjumlah sedikit, peraturan untuk mengendalikan Sangha tidak begitu diperlukan, semua savaka (siswa) melaksanakan dan mengikuti jejak Sang Buddha dan mengetahui dengan baik ajaran Sang Buddha. Namun ketika jumlah bhikkhu makin bertambah dan tersebar di mana-mana, peraturan untuk pengendalian diri untuk para bhikkhu menjadi lebih diperlukan. Sehingga ketika itu Sang Buddha mempunyai padangan bahwa seorang bhikkhu haruslah berdiam di suatu tempat selama tiga bulan untuk berdiam diri serta merenungkan segala perbuatan yang diperbuatnnya selama satu tahun.


Pada waktu itu orang-orang zaman dahulu terbiasa untuk tidak bepergian ke mana-mana selama musim hujan karena pada saat itu jalan-jalan berlumpur dan tidak sesuai untuk melakukan perjalanan, dan lagi, banyak makhluk-makhluk kecil yang berkeliaran di tanah dan juga tumbuhan juga mulai berkembang sehingga takut terinjak dan mati. Untuk itulah Sang Buddha menetapkan sebuah peraturan bahwa bhikkhu harus menetap disuatu tempat selama musim hujan atau Vassa dan tidak pergi ke tempat-tempat lain selama masa tiga bulan tersebut.


Hari pertama untuk pelaksanaan itu disebut Vassupanayika yaitu setelah bulan purnama melewati satu hari dalam bulan Asalha (hari pertama pada bulan ke delapan) sedangkan untuk akhir masa vassa disebut Pavarana (upacara akhir vassa). Pavarana (hari penutup masa vassa berakhir) biasanya dilakukan pada tanggal lima belas. Apabila sangha tidak melakukan pavarana pada hari itu, upacara tersebut dapat ditunda dalam jangka waktu dua minggu atau satu bulan atau pada hari-hari lainnya. Jumlah bhikkhu yang menghadiri pertemuan ini sekurang-kurangnya lima orang bhikkhu. Pavarana merupakan kesempatan bagi semua bhikkhu untuk saling mengingatkan satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran yang telah terjadi, sehingga berbagai pelanggaran akan segera jernih setelah diselidiki ataupun diakui dan pada kasus yang berat maka si pelanggar akan dikeluarkan dari Sangha.


Saat melakukan Vassa adalah merupakan saat untuk para bhikkgu melakukan samanadhamma yaitu dhamma untuk seseorang yang membuat dirinya damai atau pelaksanaan meditasi ketenangan atau pandangan terang.


“Bhikkhu yang telah menyepi pada tempat terpencul, yang telah menaklukan pikirannya dan memahami ajaran, menikmati kebahagiaan yang lebih dari orang lain.”
                                                                                                                                (Dhammapada 373)


“Bhikkhu yagn tenang pikirannya, tenang dalam kata-kata, dan tenang tindak tanduknya, yang telah melepaskan segala hal duniawi, sesungguhnya disebut orang yang penuh kedamaian.”
                                                                                                                    (Dhammapada 378)


Bhikkhu yang melaksanakan Vassa harus berdiam di suatu tempat tertentu yang mempunyai batas-batas tertentu sampai hari pavarana dilalui. Apabila seorang bhikkhu mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, bhikkhu tersebut harus mendapatkan izin untuk pergi, tetapi bhikkhu tersebut harus kembali dalam waktu tujuh hari. Apabila dalam waktu tujuh hari terlampaui maka Vassa menjadi gagal.


Beberapa hal yang menyebabkan seorang bhikkhu mendapatkan izin untuk bepergian salama masa Vassa adalah sebagai berikut:
1.        Jika teman dhamma (bhikkhu dan samanera) atau ibu dan ayah sakit, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk merawatnya.
2.        Jika teman dhamma ingin lepas jubah (karena godaan seksual),  maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk memadamkan keinginan tersebut.
3.        Jika terdapat beberapa tugas dari Sangha yang harus dikerjakan seperti kerusakan vihara, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mencari bahan guna perbaikannya. (biasanya tempat itu dipimpin oleh seorang Abbot atau pimpinan vihara dari anggota Sangha).
4.        Jika donatur ingin meningkatkan kebajikan mereka (kusala) dan mengundang bhikkhu maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mendukung keyakinan mereka.


Dari keterangan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Vassa adalah pelaksanaan berdiam diri pada suatu tempat yang sunyi dan hening untuk mendapatkan kesempatan / waktu agar bebas dari kegiatan sehari-hari selama 3 bulan yang mempunyai tujuan untuk merenugnkan segala tindakannya baik ucapan maupun pikiran yang masih mencemari dirinya (kilesa), sehingga seorang bhikkhu dapat melihat kelemahan-kelemahan yang ada serta dapat memperbaikinya.


Di dalam melaksanakan Samanadhamma pada waktu Vassa adalah sangat baik untuk melaksanakan beberapa kegiatan seperti:
  1. Memperbaiki vihara
Hal ini bertujuan untuk memperbaiki sarana-asrana yang mengalami kerusakan-kerusakan di vihara seperti ruangan kebaktian, ruang meditasi, dan tempat tidur serta sarana-sarana lainnya seperti ruang perpustakaan. Kemudian memperbaiki dan memelihara tanaman-tanaman yang ada sehingga suasana vihara kelihatan bersih, indah, dan ketenangannya dapat terjamin.
  1. Pada hari Uposatha membicarakan tentang Dhamma.
Pada Uposatha dilaksanakan pada bulan purnama dan bulan gelap tangal 1, 8, 15 dan 23 pada penanggalan tahun lunar. Biasanya pada hari itu anggota sangha mengadakan suatu pertemuan untuk membicarakan tentang Dhamma dan Vinaya.
Kata Uposatha berarti “masuk untuk berdiam” yang mempunyai makan kepatuhan kepada sila (vinaya). Uposatha merupakan istilah yang dipakai untuk pelaksanaan suatu upacara keagamaan yagn ketat hubungan dengan menahan diri (puasa). Ini merupakan kebiasaan yang telah ada sebelum masa Sang Buddha, dan Sang Buddha menyetujui kebiasaan ini dan memperkenalkannya untuk dipergunakan sebagai hari pertemuan untuk membicarakan dan mendengarkan Dhamma dan merupakan kesempatan untuk pelaksanaan uposatha bagi umat (atthanga uposatha sila). Sehubungan dengan pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha mengizinkan mereka melakukan uposatha pada tanggal 1 dan 15 penanggalan lunar, artinya dua kali dalam sebulan.
Kemudian Sang Buddha memberikan izin kepada  Sangha untuk melakukan uposatha sendiri, di mana dalam setiap pertemuan suatu kelompok bhikkhu, seorang bhikkhu akan membacakan peraturan latihan yang disebut dengan Patimokkha. Ini dilakukan apabila terdapat empat orang bhikkhu atau lebih. Apabila hanya terdapat dua atau tiga bhikkhu, merka disebut gana (group). Mereka diizinkan untuk memberitahukan satu sama lain tentang kemurniaan mereka masing-masing dan bila hanya terdapat seorang bhikkhu ia disebut puggala (seseorang) dan dia harus membuat Addhittanga atau tekad oleh diri sendiri. Dalam setiap vihara (yang mempunyai Sima) harus terdapat sebuah bangunan untuk uposatha  bagi sekurang-kurangnya dua puluh satu orang bhikkhu, dan tempat ini disebut Uposathagara.
  1. Meditasi
Bertujuan untuk pandangan terang yang artinya agar seorang bhikkhu dapat merenungkan segala perbuatan serta tingkah lakunya baik melalui pikiran, ucapan serta tindak tanduknya agar terhindar dari pelanggaran-pelanggaran vinaya. Sebab di dalam kehidupannya sehari-hari tentu banyak dijumpai rintangan-rintangan maupun godaan-godaan yang datangnya baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Oleh sebab itulah meditasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan serta perhatian dari segala persoalan-persoalan yagn timbul.
Pernah sekali murid Sang Buddha bertanya, “Menurut Guru, apakah cukup dengan syair-syair suci, kekuatan gaib serta ajaran Dhamma?” Lalu Sang Buddha menjawab “Tidak cukup. Seseorang mungkin menguasai syair-syair suci, lagu-lagu suci, ajaran agama, kekuatan dan tulisan gaib, tetapi jika dia tidak melakukan meditasi di dalam kehidupannya, maka di dalam dirinya tidak akan ditemukan kedamaian, seperti seseorang yagn hanya mendengarkan Dhamma melalui desas-desus, dia hidup tidak berpedoman pada Dhamma dan tidak mengetahui kehidupan abadi melalui pengalaman-pengalamannya sendiri.Sama halnya dengan seseorang yang mengajarkan Dhamma pada orang lain atau mempertimbangkan Dhamma sepanjang hari. Jika seseorang tidak melakukan meditasi, dia tidak akan mengalami hal-hal yang nyata dan tidak memiliki mata batin, mereka hidup dengan tidak berpedoman pada Dhamma dan tidak akan memperoleh penerangan pada dirinya sendiri. Demikian halnya juga dengan KEBAKTIAN, seseorang tidak akan mendapatkan serta menemukan pandangan terang dengan hanya melaksanakan KEBAKTIAN. Dia harus melakukan MEDITASI. Dengan MEDITASI keseimbangan batin dapat dijaga sehingga kebijaksanaan itu timbul dan bukan yang dibuat-buat tetapi adalah tumbuh dengan sewajarnya.


Disampaing hari uposatha, para bhikkhu juga dapat melakukan latihan-latihan (melatih diri) dalam kehidupan sehari-hari dengan belajar kepada bhikkhu-bhikkhu yang lebih senior atau sebaliknya para bhikkhu senior dapat memberikan pelajaran yang berguna kepada bhikkhu yang baru yang masih belum mantap baik oleh vinayanya maupun pengetahuan akan Dhammanya, sehingga nantinya akan diperoleh bhikkh-bhikkhu yang mempunyai disiplin yang baik dalam menjalankan vinaya yang dipegangnya.


Sebagai anggota Sangha yang dimuliakan oleh umat awam (biasa), apabila ditemukan bhikkhu yang tidak mempunyai disiplin yang baik, maka agama Buddha akhirnya akan hancur dan hal ini tentu tidak diinginkan oleh umat yang beragama Buddha. Oleh sebab itu agar agama Buddha dapat terjamin kelestariannya (kemurniannya) maka para bhikkhu anggota Sangha haruslah mencerminkan persatuan dan kesatuan, tidak saling gontok-gontokan atau saling menuding akan kesalahan yang diperbuat, tetapi adalah dengan jalan saling memberikan pengertian yang mendalam dan memahami akan kedudukan masing-masing pribadi dan menyelesaikan segala persoalan dengan keseimbangan pikiran yang baik serta dapat saling memberi maaf atas kesalahan-kesalahan yagn kecil maupun kesalah pada pelanggaran-pelanggaran yang besar. Dengan demikian agama Buddha tentu dapat berdiri dengan kokoh dan kelestariannya dapat terjamin.


Demikian juga dengan umat awam, dengan sendirinya mereka akan mengerti serta memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai umat Buddha yagn beragama Buddha untuk mempertahankan serta menjaga kelestarian daripada agama Buddha itu sendiri.

Friday, September 17, 2010

Teknik Ceramah




Teknik Ceramah




Memberikan ceramah Dhamma atau Dhammadesana adalah merupakan hal yang tidak akan pernah dapat dihindari dari kehidupan seorang bhikkhu, samanera, maupun para pemuka umat Buddha di Indonesia. Banyak orang stress bila tiba saatnya diminta memberikan Dhammadesana. Sesungguhnya stress dapat digunakan sebagai pendorong agar kita lebih siap menghadapi segala kemungkinan. Para ahli pidato, bintang film dan pemain drama yang banyak pengalaman pun tidak terbebas dari rasa yang wajar ini. Mereka tetap mengalami jantung berdebar, keringat dingin, telapak tangan dan kaki berkeringat, bahkan tidak jarang muncul keinginan buang air secara tiba-tiba. Sebenarnya berceramah dan berbicara ngobrol tidaklah banyak berbeda untuk si pembicara, perbedaan hanya pada jumlah pendengarnya saja. Oleh karena itu, justru stress diperlukan. Kita hendaknya bisa memanfaatkan stress untuk keberhasilan Dhammadesana kita.




Dhammadesana hendaknya diawali dengan pembacaan Vandana dan kemudian menyebutkan beberrapa kalimat yang diambil dari Dhammapada atau dari lain sumber yang akan kita jadikan topik pembicaraan kita. Kalimat Dhammapada dapat diucapkan dalam bahasa Pali atau dalam bahasa Indonesia, tergantung pendengarnya.


Uraian Dhamma haruslah diberikan secara berurutan dan bertahap. Gambarkanlah dengan kata-kata indah sehingga membentuk bayangan dalam tiap pendengar. Selipkan humor segar yang berhubungan dengan topik pembicaraan. Hindari humor yang porno dan kasar serta menyinggung pribadi orang. Tambahkan dalam setiap tahap pembicaraan dengan contoh-contoh nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Contoh ini membantu umat merasakan kedekatan antara topik bahasan dengan kehidupan mereka sendiri.

Ekspresi wajah amat mempengaruhi keberhasilan Dhammadesana. Usahakan wajah kita dapat lebih banyak tersenyum kepada pendengar. Wajah hendaknya lebih sering menghadap pendengar daripada menunduk. Mata juga perlu sering kontak dengan pendengar. Kontak mata diperlukan agar kita dapat selalu menjalin hubungan batin dengan pendengar. Kita akan dapat segera mengetahui pendengar yang antusias, bosan, mengantuk, bingung maupun yang akan bertanya. Dengan demikian kita akan dapat segera mengambil langkah tertentu untuk memberikan kepuasan pada pendengar. Salah satu pedoman yang perlu kita ingat adalah, kita perlu membuat pendengar MENGERTI dan bukan kita hendak membuat Dhammadesana kita SELESAI begitu saja. Dengan demikian, kita harus berjuang menggunakan berbagai macam cara agar pendengar dapat mengerti Ajaran Sang Buddha yang kita berikan. Lebih jauh lagi, kita berusaha agar pendengar dapat melaksanakan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari mereka serta mampu mengajarkan Buddha Dhamma kepada orang-orang di sekitarnya.



3. FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DHAMMADESANA
Untuk melengkapi pengetahuan kita sebelum memberikan Dhammadesana hendaknya kita banyak-banyak membaca buku Dhamma dan pengetahuan lain. Kita juga perlu sering berdiskusi dengan mereka yang dianggap mampu dalam Dhamma. Buku Dhamma yang baik untuk dibaca adalah RIWAYAT BUDDHA GOTAMA. DHAMMASARI, TANYA JAWAB BUDDHA DHAMMA, DHAMMA VIBHAGA dan beberapa bacaan tambahan lainnya. Carilah bacaan penunjang dari banyak perpustakaan yang ada di sekitar kita. Baca pula majalah dan surat kabar untuk dapat mengikuti berita yang paling baru sehingga akan membantu kita mendapatkan contoh-contoh nyata yang masih hangat dibicarakan masyarakat. Kalau perlu, kumpulkanlah guntingan koran dan majalah yang memuat berita-berita yang mungkin ada hubungannya dengan ceramah Dhamma yang biasa kita lakukan. Pencarian informasi tambahan dapat pula dengan mengikuti siaran televisi yang sekarang gampang diperoleh di setiap tempat. Dalam memberikan Dhammadesana ada baiknya kita juga menyiapkan kaset rekaman untuk dapat mempelajari kekurangan dan kelebihan isi dan cara menguraikan Dhamma kita. Selain itu, kita pun akan mempunyai sejumlah koleksi kaset yang dapat dijadikan bahan untuk ceramah serupa pada kesempatan lain.










Friday, September 10, 2010

Pendidikan Seks Untuk Remaja


Pendidikan Seks Untuk Remaja


LATAR BELAKANG

Semakin hari tanggung jawab dan tugas pendidikan orangtua terhadap anak terasa semakin besar. Hal ini dapat terjadi karena di satu sisi, perkembangan dunia khususnya tentang informasi sangatlah luar biasa. Sedangkan di sisi lain, bekal orangtua untuk mendidik anak sangatlah minim. Ledakan arus informasi dapat dilihat dari adanya berbagai siaran TV dari dalam maupun luar negeri yang hampir setiap saat dapat ditonton. Akibatnya, pengetahuan anak sering melampaui orangtuanya. Perkembangan iptek, misalnya, anak dengan gampang dapat menyebutkan dan menanyakan arti istilah “kloning” yang mungkin jarang didengar orangtuanya, apalagi diketahui artinya. Demikian pula dengan adegan ciuman mesra sampai dengan adegan ranjang akan sering terlihat anak di TV. Lebih-lebih lagi bagi remaja yang mempunyai kesempatan memiliki seperangkat komputer yang dapat dihubungkan dengan dunia melalui internet, maka tampilan yang lebih “hot” semakin gampang diperoleh dengan bebas dan cepat.

Sesungguhnya, sebagai bekal mendidik anak, Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188 menyebutkan beberapa tugas orangtua terhadap anak-anaknya antara lain adalah menganjurkan anak berbuat baik, mencegah anak melakukan kejahatan dan memberi kesempatan anak memperoleh pendidikan. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan melalui sekolah saja, melainkan juga pendidikan mental kemoralan. Diharapkan dengan mendapatkan pendidikan yang layak anak mampu membedakan antara perbuatan baik dan jahat. Pengertian perbuatan baik maupun jahat bukan saja menyangkut perbuatan sehari-hari yang kita kenal, seperti halnya berdana – mencuri; menolong – membunuh mahluk hidup, bermeditasi – mabuk-mabukan dan sebagainya. Tetapi, termasuk juga menjaga kesusilaan. Secara lebih khusus lagi, memberikan pendidikan agar seseorang - dalam hal ini - remaja, mampu mempergunakan organ seksual dengan benar. Hal ini jelas sekali apabila kita ingat sila ketiga dari Pancasila Buddhis yaitu tekad untuk melatih diri menghindari perjinahan. Dengan kata lain, perjinahan adalah penyalahgunaan organ seksual.

Anak-anak sejak usia dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seksual yang sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaan mereka. Memang, kadang orangtua agak sulit dan canggung untuk memulai bersikap terbuka dengan anak-anak khususnya berbicara tentang pendidikan seksual. Padahal, dengan sikap keliru tersebut, anak justru akan berusaha mencari sendiri pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan seksual dari berbagai sumber yang mungkin kurang layak. Akibatnya, pengetahuan yang diperolehnya pun akan setengah-setengah bahkan mungkin keliru sama sekali. Lebih gawat lagi, akhirnya anak ingin mencoba pengetahuan yang serba tanggung itu. Tentu sebagai hasil akhirnya, kembali orangtua yang akan pusing tujuh keliling mengambil sikap menentukan langkah apabila anak lelakinya terbukti menghamili teman sekolahnya; atau sebaliknya, mungkin anak wanita yang masih belum lulus SMU harus berhenti sekolah karena mengandung. Sungguh hal yang memusingkan.

Untuk menghindari hal itulah maka makalah ini disusun. Diharapkan setelah membaca makalah ini orangtua akan memiliki sedikit pedoman untuk memberikan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Memang, keterangan dalam makalah ini tidak diberikan secara rinci karena dalam pelaksanaannya nanti hendaknya disesuaikan dengan situasi setiap keluarga. Perlu diingat di sini bahwa dalam memberikan pendidikan seksual, memang kita tidak dapat menghindari penggunaan istilah yang untuk sebagian orang dianggap jorok. Tetapi hal itu wajar, seperti yang pernah dikatakan oleh George Bernard Shaw: ”Kita tidak diajari untuk berpikir terhormat tentang seks. Akibatnya, kita tidak mempunyai bahasa untuk seks, kecuali yang tidak terhormat”

PEMBAHASAN

Pendidikan seks adalah upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dengan kata lain, pendidikan seks pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, serta komitmen agama agar tidak terjadi “penyalahgunaan” organ reproduksi tersebut. Dengan demikian, pendidikan seks ini bisa disebut juga pendidikan kehidupan berkeluarga.

Tujuan pendidikan seksual

  1. Keterangan yang disampaikan adalah untuk menerangi bukan untuk merangsang

  2. Memberi pengertian tentang konsekuensi dari setiap prilaku seksual

  3. Membantu pengambilan keputusan yang matang dalam masalah seksual yang muncul.

Dari tujuan pendidikan seks di atas, dapatlah disusun beberapa topik yang perlu diberikan kepada remaja, yaitu:

  1. Mengenal beda dan fungsi organ seksual pria maupun wanita

  2. Mengenal resiko penyalahgunaan organ seksual tersebut

  3. Memberikan bekal keagamaan sebagai pedoman pergaulan

1. MENGENALKAN FUNGSI DAN BEDA ORGAN SEKS

Dalam memperkenalkan perbedaan dan fungsi organ seksual pria maupun wanita, orangtua pada tahap pertama dapat menggunakan binatang sebagai alat bantu. Ajaklah anak mengamati perbedaan jenis kelamin antara kucing jantan dengan betina, misalnya. Tunjukkanlah perbedaan yang menonjol di antara kedua jenis kelamin. Kemudian, tunjukkan pula kegiatan seksual mereka. Hal ini dapat diperoleh dari gambar, film TV, atau mungkin kita mengajak anak-anak ke kebun binatang.

Apabila anak mulai mengerti perbedaan kelamin yang ada di sekitarnya, mulai kenalkanlah dengan perbedaan yang ada pada manusia. Dalam tahap ini, peranan orangtua sungguh-sungguh amat penting sebab ayah dan ibu sebenarnya mewakili jenis pria dan wanita. Ayah hendaknya mulai menerangkan setahap demi setahap kepada anak lelakinya tentang perkembangan organ seks yang telah dialaminya. Demikian pula hendaknya seorang ibu menerangkan perkembangan dirinya kepada anak wanitanya. Dalam usaha menerangkan ini, orangtua hendaknya mempunyai sedikit bahan bacaan agar keterangan yang diberikan dapat jelas dan terarah. Pembicaraan terbuka dan penuh persahabatan akan sangat membantu membangun suasana positif dalam memberikan pendidikan seks yang masih cukup sensitif dalam masyarakat kita. Jangan timbulkan suasana penuh ketegangan pada anak, santai saja. Ajaklah mereka berdialog. Dengarkanlah juga pengalaman maupun informasi tentang seks yang mereka dapatkan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Apabila informasi yang mereka dengar itu benar, katakanlah benar demikian pula apabila salah, arahkanlah mereka agar tidak tersesat.

2. MENGENALKAN RESIKO PENYALAHGUNAAN ORGAN SEKS

Setelah anak memahami perbedaan fisik antara pria dan wanita, kini orangtua hendaknya secara bijaksana mulai menunjukkan fungsi organ seks tersebut. Organ seks meliputi organ yang ada di luar tubuh, misalnya alat kelamin dan payudara; dan juga yang ada di dalam tubuh, misalnya rahim. Fungsi organ seks sesungguhnya selain digunakan untuk menjalankan berbagai macam aktifitas seksual juga untuk mengandung dan melahirkan. Dalam melaksanakan aktifitas seksual, salah satunya adalah melakukan hubungan seks. Hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh pria dan wanita yang sudah terikat dalam perkawinan. Sebab, sesungguhnya hubungan seks bertujuan untuk:

  1. reproduksi (memiliki keturunan)

  2. Memperkuat hubungan batin pasangan dan meningkatkan intimitas

  3. Memberikan kenikmatan

  4. Meningkatkan harga diri

  5. Mengendorkan ketegangan

Jelaslah di sini bahwa hubungan seks sebagai sarana coba-coba dan hiburan di antara teman, pacar maupun sembarang lawan jenis adalah keliru! Pengertian ini pantas diingat karena dimasa kini, sering dijumpai remaja dalam masa pacaran telah berani melakukan hubungan seks. Akan tetapi, anehnya masyarakat sekitar sering juga dapat menerima hal semacam ini. Padahal, beberapa waktu yang lalu, apabila terdapat orang yang sedang pacaran ketahuan melakukan hubungan seks maka kejadian itu akan menjadi aib yang sangat memalukan bagi si pelaku maupun keluarganya. Inikah yang disebut kemajuan jaman? Apakah hal ini menunjukkan bahwa tata nilai masyarakat tentang seks sudah mulai berubah? Sesungguhnya, konsep masyarakat tentang seks akan selalu berubah karena memang tidak ada dasar pengambilan pandangan yang jelas, tidak ada kaitan baku yang hakiki. Hal yang dahulu dianggap penyimpangan, sekarang menjadi biasa, homoseksual, penggunaan alat kontrasepsi, misalnya.

Selain itu, penyebab kegiatan seksual pra nikah semakin banyak adalah karena:

  1. Makin mundurnya rata-rata usia kawin sehingga desakan seks semakin berlanjut

  2. Peralatan KB yang mudah didapat

  3. Paling penting, pergeseran konsep cinta dari self-sacrifice (pengorbanan diri) menjadi self-service (melayani dan memuaskan diri sendiri).

  4. Masyarakat makin permissive (mengijinkan) terhadap perilaku ini karena mereka pun kebanyakan sudah masuk dalam kelompok self service tersebut.
    Hasil penelitian oleh Liu Dalin dari Pusat Penelitian Sosiologi Seks, Shanghai mengungkapkan bahwa 86 % masyarakat kota dapat menerima seks pra nikah walaupun mayoritas responden masih menganggap keperawanan adalah milik wanita yang paling berharga untuk dibawa ke perkawinan.

  5. Tekanan dari sesama teman atau pasangannya sendiri:
    “Kalau engkau cinta betul padaku, buktikanlah.”
    “Jangan ketinggalan jaman, jadi manusia purba.”

  6. Kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kekaburan remaja akan cinta dan seks.
    “Saya melakukannya sebab ingin ia mencintai saya.”
    “Saya melakukannya sebab saya mencintainya.”

  7. Remaja dewasa ini cenderung memberontak terhadap aturan-aturan orangtua, termasuk seks sebagai buah terlarang

  8. Rasa ingin tahu dan penasaran akibat pemberitaan yang merangsang atau yang dibesar-besarkan di media massa, internet dlsb. Dalam suasana penasaran akan misteri seks, para remaja pun melakukan ‘riset’ nya sendiri-sendiri.

Meskipun dewasa ini kegiatan seksual pranikah hampir menjadi hal yang wajar, bukan berarti perbuatan ini diperbolehkan dan aman dilakukan, apalagi oleh para remaja. Ada beberapa konsekuensi logis yang mungkin diperoleh si pelaku. Konsekuensi pertama yaitu adanya perubahan yang dirasakan si pelaku pada dirinya sendiri. Perubahan ini meliputi perubahan secara fisik maupun mental. Secara fisik, si pelaku mungkin dapat terkena beberapa jenis penyakit yang berhubungan dengan kegiatan seksual. Bahkan ada kemungkinan kejangkitan penyakit AIDS yang hingga saat ini masih belum dapat diketemukan obat penyembuhnya. Atau, untuk remaja putri, resiko kehamilan sering harus ditanggung sendiri karena ditinggal si pacar setelah mengetahui kehamilannya. Sedangkan secara mental, si pelaku akan sering dibayangi dengan rasa bersalah, malu dan juga rendah diri karena merasa dirinya telah ternoda. Perasaan ini akan muncul dalam diri seseorang yang memang memiliki sedikit kemoralan. Bila tidak memiliki kemoralan sama sekali, mungkin mereka malah bangga dengan “prestasi” penyakit kelamin yang dimilikinya ataupun kehamilan semasa usia remaja ini. Sedangkan untuk mereka yang bermoral, jelas perbuatan yang melanggar sila ke tiga dalam Pancasila Buddhis ini tidak akan ada di dalam kamus kehidupannya.

Selain berpengaruh untuk si pelaku, hubungan seksual pra nikah juga dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan tempat si pelaku berada. Lingkungan pertama adalah orangtua dan keluarga. Mereka, paling tidak, akan malu mempunyai anak yang dipandang kurang bermoral tersebut. Lingkungan yang lain adalah para teman yang mungkin akan mencemoohnya dan bahkan, mengucilkannya.

3. MEMBERIKAN BEKAL KEAGAMAAN

Agama, dalam hal ini Agama Buddha mengajarkan Perbuatan Benar sebagai salah satu dari Jalan Mulia Beruas Delapan (Majjhima Nikaya I, 151), jadi pasti ada pedoman agar para generasi muda tidak gampang terjerumus oleh dampak negatif kemajuan jaman. Pedoman ini tampak jelas dalam peraturan pelaksanaan Pancasila Buddhis (Anguttara Nikaya III, 203). Pancasila Buddhis terdiri dari tekad untuk melatih menghindari pembunuhan serta penganiayaan, pencurian, perjinahan (pelanggaran kesusilaan), kebohongan dan mabuk-mabukan.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa perjinahan adalah merupakan penyalahgunaan organ seks. Adapun syarat suatu perbuatan disebut sebagai pelanggaran kesusilaan adalah:

  1. Orang yang tidak pantas dikunjungi / obyek perjinahan

  2. Niat melakukan hubungan seksual dengannya

  3. Usaha melakukan hubungan seks

  4. Terjadi hubungan seks

Berkenaan dengan perjinahan, Sang Buddha menjelaskan bahwa salah satu dari sepuluh cara perbuatan baik (Digha Nikaya II, 322; Digha Nikaya III, 269; Majjhima Nikaya I, 287) adalah: tidak melakukan perjinahan. Sebaliknya salah satu dari sepuluh perbuatan buruk (Digha Nikaya II, 320; Digha Nikaya III, 269; Majjhima Nikaya I, 286) adalah: melakukan perjinahan

Sang Buddha menganjurkan menghindari perjinahan karena perbuatan itu akan menimbulkan akibat yang akan merugikan si pelaku maupun lingkungannya. Salah satu uraian Sang Buddha tentang hal ini terdapat dalam Khuddaka Nikaya, Sutta Nipatta 18, Parabhava Sutta, 18, bahwa:

Barangsiapa tidak puas dengan istrinya sendiri, Terlihat bersama-sama dengan para pelacur dan istri-istri orang lain Inilah sebab musabab dari kemerosotan

Lebih lanjut dalam Anguttara Nikaya IV, 287, Sang Buddha menguraikan bahwa salah satu sebab yang dapat membawa keruntuhan bagi seseorang (Apãyamukha) adalah menggoda wanita.

Bahkan akibat buruk ini tidak hanya dalam kehidupan ini saja, melainkan juga dalam kehidupan yang akan datang, disebutkan bahwa:

Perjinahan, melakukan sendiri, menganjurkan, mengijinkan, ini membawa orang terlahir di alam neraka, di alam binatang, di alam setan; atau sekurang-kurangnya menjadikan orang itu akan dimusuhi oleh lingkungannya.

(Anguttara Nikaya VII, 4:4)

KESIMPULAN

Perkembangan teknologi jelas tidak akan pernah dapat dibendung oleh siapapun juga. Orangtua sebaiknya selain mengawasi perkembangan anak-anaknya, hendaknya juga dapat memberikan pendidikan sebagai pedoman yang jelas agar mereka memiliki kemantapan dalam menapaki kehidupan ini. Pendidikan seks perlu diberikan kepada para remaja sejak usia dini agar mereka dapat mengerti manfaat dan akibat dari penyalahgunaan organ seks mereka. Namun dari semua nasehat, remaja hendaknya diberi bekal moral agar dapat mandiri menghadapi dampak negatif gelombang pergaulan. Hal ini disebabkan kerena orangtua jelas tidak mampu mengawasi anaknya setiap saat. Anak suatu ketika harus dibiarkan mandiri. Bekal moral itu berupa petunjuk Sang Buddha yang terdapat dalam Anguttara Nikaya I, 51:
Hiri : Rasa malu berbuat jahat
Ottappa : Rasa takut akibat perbuatan jahat

Dengan tumbuhnya rasa malu dan takut melakukan perbuatan yang salah, anak akan selalu berusaha menghindari perbuatan keliru di mana pun ia berada. Pancasila Buddhis akan dapat dilaksanakan dengan baik di depan orangtua maupun apabila anak jauh dari orangtua. Sesungguhnya Sang Buddha telah bersabda dalam Khuddaka Nikaya, Jataka, 1048 bahwa tanpa pegetahuan dan tanpa belajar peraturan Vinaya, manusia niscaya akan menempuh kehidupan seperti kerbau buta di tengah rimba.

[ Dikutip dari Buku Dewasa dalam Dhamma, September 1998 ]

Thursday, September 2, 2010

Kiat Menghadapi Kenakalan Remaja


Kiat Menghadapi Kenakalan Remaja
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera


Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri; tak seorang pun yang dapat mensucikan orang lain.

(Dhammapada XII, 9)

PENDAHULUAN

Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi remaja, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak tanduk si remaja.

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.

PEMBAHASAN

Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal atau juvenile court pada tahun 1899 di Cook County, Illinois, Amerika Serikat. Pada waktu itu, peradilan tersebut berfungsi sebagai pengganti orangtua si anak - in loco parentis - yang memutuskan perkara untuk kepentingan si anak dan masyarakat. Dalam pandangan umum, kenakalan anak dibawah umur 13 tahun masih dianggap wajar, sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan.

Dalam makalah ini hanya akan dibahas kenakalan yang dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 s.d. 18 tahun.

Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah :

    1. PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN

    Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas, misalnya anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dlsb.

    Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Oleh karena itu dalam Manggala Sutta, Sang Buddha bersabda: Tak bergaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah Berkah Utama.
    Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.

    Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain remaja diarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik. Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang:

      1.Memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati
      2.Menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah
      3.Memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya
      4.Tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan
      5.Membantu sanak keluarga kita

    Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi:

    1.Penjudi
    2.Orang yang tidak bermoral
    3.Pemabuk
    4.Penipu
    5.Pelanggar hukum

    2. PENDIDIKAN

    Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.

    Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malahan pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian mereka menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.

    Anak pasti juga mempunyai hobby tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobby si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobbynya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobby adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.

    3. PENGGUNAAN WAKTU LUANG

    Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Sering perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan, misalnya ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dsb.

    Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.

    Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif itu akan merugikan diri sendiri dan juga orangtua maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka akan tetapi jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.

    Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja selain membutuhkan materi, sebenarnya mereka juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di cetiya dalam rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli dlsb. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati, misalnya dengan makan malam bersama, atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu, seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di vihara setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di vihara, kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, di hari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, ke taman ria, mal, dlsb.

    4. UANG SAKU

    Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.

    Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.

    Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah:

    1.Anak menjadi boros
    2.Anak tidak menghargai uang.
    3.Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.

    5. PERILAKU SEKSUAL

    Pada masa ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Oleh karena itu, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Sedangkan, pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.

    Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua dan kemudian mereka pacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.

    Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah fihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya dengan orangtua.

    Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis dimasa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.

KIAT POKOK MENGATASI KENAKALAN REMAJA

Sebagian besar orangtua di jaman sekarang sangat sibuk mencari nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan. Oleh karena itu, orangtua hendaknya dapat memberikan inti pendidikan kepada para remaja. Inti pendidikan adalah sebuah pedoman dasar pergaulan yang singkat, padat dan mudah diingat serta mudah dilaksanakan. Pedoman ini telah diberikan oleh Sang Buddha dalam Kitab Suci Tipitaka, Anguttara Nikaya I, 51.

Dengan memberikan inti pendidikan ini, kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orangtua dan dapat menjaga dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan dapat dipercaya, karena dirinya sendirinyalah yang akan mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan fihak lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendali tidak berada di dekatnya.

Inti pendidikan ini terdiri dari dua hal yaitu :

  • HIRI = MALU BERBUAT JAHAT

    Benteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan Hiri atau rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat.

    Dalam memberikan pendidikan, orangtua hendaknya dengan tegas dapat menunjukkan kepada anak perbedaan dan akibat perbuatan baik dan tidak baik. Perbuatan benar dan tidak benar. Kejelasan orangtua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini. Semakin awal semakin baik.

    Berikanlah pengertian dan teladan tentang latihan kemoralan. Berikanlah kesempatan anak agar dapat meniru prilaku kebajikan orangtuanya. Ajarkan dan didiklah mereka untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. Pergunakanlah acara-acara di televisi sebagai alat pengajaran. Tunjukkan kepada mereka bahwa kejahatan tidak akan pernah menang. Kejahatan akan musnah pada akhirnya. Sebaliknya, walaupun kebaikan kadang menderita di awalnya akhirnya akan memperoleh kebahagiaan juga.

    Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran anak punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan kemoralan baik yang diberikan oleh Sang Buddha maupun oleh masyarakat lingkungan. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat menggunakan cara seperti ketika orangtua mengenalkan pakaian kepada anak-anaknya. Orangtua selalu berusaha memberikan pakaian yang layak untuk anak-anaknya. Namun, apabila suatu saat anak mengenakan pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit, orangtua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan bahwa hal itu memalukan. Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian fisik. Pakaian batin pun juga demikian. Orangtua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian berikanlah saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuatan itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.

  • OTTAPPA = TAKUT AKIBAT PERBUATAN JAHAT

    Apabila anak bertambah besar, orangtua selain menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu tidak pantas, memalukan untuk dilakukan oleh anaknya, maka orangtua dapat meningkatkannya dengan memberikan uraian tentang akibat perbuatan buruk yang dilakukan anaknya. Akibat buruk terutama adalah yang diterima oleh si anak sendiri, kemudian terangkan pula dampak negatif yang akan diterima pula oleh orangtua, keluarganya serta lingkungannya. Orangtua dapat memberikan perumpamaan bahwa bila diri sendiri tidak ingin dicubit, maka janganlah mencubit orang lain. Artinya, apabila kita tidak senang terhadap suatu perbuatan tertentu, sebenarnya hampir semua orang pun bahkan semua mahluk cenderung tidak suka pula dengan hal itu. Rata-rata semua mahluk, dalam hal ini, manusia memiliki perasaan serupa. Penjelasan seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak bahwa perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama bagi orang lain. Dan apalagi bila telah tiba waktunya nanti, kamma buruk berbuah, penderitaan akan mengikuti si pelaku kejahatan.

    Menumbuhkembangkan perasaan malu dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi 'pengawas setia' dalam diri setiap orang, khususnya para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, 'pengawas' ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun anak pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. Ia akan selalu dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri, orangtua dan juga lingkungannya. Orangtua sudah tidak akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang beranjak remaja. Orangtua tidak akan ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orangtua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, pendidikan anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat dinikmati hasilnya di hari tua.

    Sesungguhnya memang diri sendiri itulah pelindung bagi diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami adalah hasil perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri pula kejahatan dapat dihindarkan. Oleh karena itu, dengan memberikan pengertian yang baik tentang inti pendidikan tersebut kepada anak-anak, diharapkan anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya sendiri agar dapat tercapai kebahagiaan. Kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan bagi orangtuanya. Kebahagiaan bagi lingkungannya.


[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana ]

Kiamat : Versi Buddhis


Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur dan tidak ada. Tapi hancur leburnya bumi kita ini atau kiamat bukanlah merupakan akhir dari kehidupan kita. Sebab seperti apa yang telah diuraikan di halaman terdahulu, bahwa di alam semesta ini tetap berlangsung pula evolusi terjadinya bumi. Lagi pula, bumi kehidupan manusia bukan hanya bumi kita ini saja tetapi ada banyak bumi lain yang terdapat dalam tata surya - tata surya yang tersebar di alam semesta ini.

Kiamat atau hancur leburnya bumi kita ini menurut Anguttara Nikaya, Sattakanipata diakibatkan oleh terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya dengan berlangsungnya musim kemarau yang panjang ini muncullah matahari yang kedua, lalu dengan berselangnya suatu masa yang lama matahari ketiga muncul, matahari keempat, matahari kelima, matahari keenam dan akhirnya muncul matahari ketujuh. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi kita terbakar hingga menjadi debu dan lenyap bertebaran di alam semesta.

Pemunculan matahari kedua, ketiga dan lain-lain bukan berarti matahari-matahari itu tiba-tiba terjadi dan muncul di angkasa, tetapi matahari-matahari tersebut telah ada di alam semesta kita ini. Dalam setiap tata surya terdapat matahari pula.

Menurut ilmu pengetahuan bahwa setiap planet, tata surya, dan galaxi beredar menurut garis orbitnya masing-masing. Tetapi kita sadari pula, karena banyaknya tata surya di alam semesta kita ini, maka pada suatu masa garis edar tata surya kita akan bersilangan dengan garis orbit tata surya lain, sehingga setelah masa yang lama ada tata surya yang lain lagi yang bersilangan orbitnya dengan tata surya kita. Akhirnya tata surya ketujuh menyilangi garis orbit tata surya kita, sehingga tujuh buah matahari menyinari bumi kita ini. Baiklah kita ikuti uraian tentang kiamat yang dikhotbahkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu :

Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketiga muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu dan Mahi surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta, dan Mandakini surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut 100 yojana*, lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana dan surut 700 yojana. Air maha samudra tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam, lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudra tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima, empat, tiga, dua dan hanya sedalam tinggi seorang saja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

Para bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak kaki sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa dari maha samudra hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul. Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.

Demikianlah, para bhikkhu, semua bentuk (sangkhara) apa pun adalah tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikkan, bebaskanlah diri kamu dari semua hal.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung terbakar, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.

Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukkan oleh amukan nyala yang berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa. Demikian pula bumi maupun debu tidak tersisa sama sekali.

Catatan
*) Yojana adalah semacam ukuran yang ada di masa Sang Buddha yang jauhnya kira-kira 7 mil.

[ Dikutip dari Website Samaggi-Phala WWW.Samagghi-Phala.or.id ]

Kesurupan


Sepulang dari tamasya, sekujur tubuh si Santi (bukan nama sebenarnya) kejang-kejang dan mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan kata-kata yang maksudnya sulit untuk dimengerti. Kedua orang tua Santi telah berusaha kemana-mana mencari paranormal dan ahli kebathinan (istilah awamnya dikenal dengan sebutan dukun) untuk menyelamatkan nyawa Santi, tetapi semuanya sia-sia saja dan akhirnya Santi diberitakan meninggal dunia dengan kondisi yang menggenaskan. Setelah pemakaman Santi, terdengarlah isu-isu yang menyatakan bahwa semasa hidupnya, Santi sangat doyan berbicara sembarangan (cakap kotor, kasar dan adakalanya melecehkan siapapun juga). Ada lagi yang mengatakan bahwa Santi telah kesurupan "Mbah", karena dia terlalu sombong dan berbicara yang nggak-nggak sewaktu tamasya.

Disisi lain, ada juga yang bangga bisa kesurupan "mbah" ini dan itu. Banyak dijumpai terutama sekali di kalangan umat yang mengaku beragama Buddha tetapi tidak mengenal sama sekali ajaran Sang Buddha (alias Buddha KTP) menjadi korban oknum-oknum yang menyatakan bisa kesurupan "mbah" ini dan itu. Dan yang lebih kocaknya lagi adalah oknum tersebut mengaku bisa kesurupan apapun juga sesuai dengan "order" dari si korban.

Dari kedua jenis kesurupan ini, bisa disimpulkan bahwa kesurupan tipe yang pertama adalah bukan kehendak dari si pemilik tubuh, sedangkan kesurupan tipe kedua adalah keinginan dari si pemilik tubuh (mengundang makhluk alam halus "peta" memasuki/ mendiami tubuhnya untuk sementara waktu). Mengapa semua ini bisa terjadi ? Kalau diterjemahkan, makna "kesurupan" secara sederhana adalah menerima getaran-getaran atau gaya-gaya bathin dari luar dan secara utuh mempengaruhi/ mengalahkan bathin si pemilik tubuh. Untuk tipe kesurupan yang pertama bisa saja terjadi pada setiap makhluk, terutama sekali dikarenakan kekuatan "kusala karma-perbuatan baik" yang melekat di tubuhnya sudah mulai melemah, dalam arti "aura-cahaya tubuh" nya telah mulai redup. Makhluk di alam setan "peta bumi" boleh dikatakan sama usilnya dengan manusia. Manusia pada umumnya berani mengganggu atau menggoda temannya ataupun orang lain karena orang tersebut tidak memberikan perlawanan. Seandainya orang tersebut bertambah takut maka akan semakin menjadi-jadilah dia menggoda dan mengganggu serta jika memungkinkan sekalian menyakiti dan membunuhnya. Demikian pula halnya dengan orang yang dimana simpanan kusala karmanya mulai melemah dan auranya mulai redup dan merupakan sasaran yang empuk bagi makhluk yang berada di alam kegelapan untuk mencoba menyakiti dan menerobos masuk ke dalam tubuh orang tersebut. Bagi yang tidak sanggup mempertahankan "sati-kesadaran" nya akan menderita pada proses kesurupan ini dan adakalanya makhluk alam rendah yang berhasil menembus pertahanan ini akan merasa betah mendiami rumah yang baru ini bagaikan penjajah yang berhasil menjarah negara lain dan enggan melepaskan daerah jajahannya. Orang yang kesurupan yang tidak tertangani dengan baik, akan meninggal dunia lebih awal dari semestinya jika tidak ditolong sedini mungkin.

Untuk menghindari dari kesurupan yang tidak diinginkan maka hanya ada satu cara yang bisa ditempuh yaitu memperbanyak perbuatan baik "kusala kamma" agar aura tetap cemerlang seperti sediakala. Makhluk alam rendah berani menampakkan ataupun memasuki tubuh sesesorang dikarenakan aura mulai memudar. Sejauh yang diketahui, rasanya belum pernah kedengaran seorang Bhikkhu/ni sampai kesurupan "mbah" ini dan itu. Perihal kesurupan yang tidak mempan terhadap anggota Sangha (para Bhikkhu/Bhikkhuni) adalah dikarenakan banyaknya timbunan kusala karma yang melekat ditubuh mereka sehingga aura bercahaya demikian terangnya melindungi dan membentengi si pemilik tubuh.

Aura yang terang benderang akan menyilaukan makhluk alam rendah sehingga takut untuk mendekati apalagi memasuki (menyurupi) tubuh seseorang. Aura bisa diibaratkan bagai cahaya matahari yang menyilaukan dan menyakitkan jika ditatap langsung dengan mata polos.

Demikianlah kesurupan tipe yang pertama dimana tanpa kehendak dari si pemilik tubuh, makhluk dari alam lain masuk seenaknya tanpa izin. Lalu.... bagaimana dengan tipe kesurupan yang kedua ? Kesurupan tipe yang kedua ini adalah mengosongkan pikiran sehingga bathin menjadi pasif dan getaran dari luar dengan mudah menerobos/ memasuki sipemilik tubuh. Kesurupan tipe kedua inilah yang dalam prakteknya banyak dijumpai memperdaya umat Buddha yang hanya sebatas KTP. Dan tidak sedikit korbannya mengalami banyak hal yang fatal sebagai akibat dari ulahnya yang tidak bertanggung jawab. Banyak dijumpai umat Buddha KTP yang menyakini oknum yang mampu kesurupan ini dan itu, terperdaya akan akal bulus si oknum. Misalnya secara "medis" sikorban dinyatakan menderita penyakit "hipertensi-darah tinggi", tapi karena percaya pada si oknum yang mengaku mampu kesurupan "mbah" ini dan itu, enggan memakan obat-obatan yang telah diresepkan, malahan mengikuti nasehat si oknum yang mampu kesurupan ini dan itu. Memakan ramuan jampi-jampi sehingga akhirnya diberitakan si korban terpaksa "check out-pindah" dari alam manusia.... alias meninggal dunia. Didalam agama Buddha, praktek "kesurupan" tidak dibenarkan karena bisa menghambat/ menekan proses kemajuan bathin menuju ke arah kesucian. Agar terlepas dari praktek "kesurupan" baik yang tidak dikehendaki maupun yang diinginkan, marilah kita kembali mengembangkan "kesadaran" melalui praktek "meditasi" yang benar, agar yang namanya "dukkha-derita" jauh keberadaannya dari lingkaran "samsara : kematian dan kelahiran yang tanpa adanya awal dan akhir".

Oleh sang Buddha telah dibabarkan bahwa terdapat 4 dasar kesadaran "cattari Satti-patthana" yang sudah seharusnya dikembangkan agar kita terlepas dari "kesurupan" makhluk ini dan itu. Keempat dasar kesadaran tersebut terdiri dari :

  1. Kayanupassana-perenungan terhadap tubuh jasmani. Kita hendaknya senantiasa melatih diri dalam meditasi dan mewaspadai :

    • Pernafasan. Setiap saat dan setiap detik, kita benar-benar menyadari keluar masuknya udara, dan semua aroma yang tersebar di sekitar kita, baik yang harum, busuk, maupun yang tidak berbau sama sekali. Kesemuanya itu harus diketahui keberadaannya dengan jelas, dengan kata lain kita benar-benar menyadari apapun yang ada di lingkungan kita.

    • Posisi Tubuh. Menyadari dengan baik posisi tubuh yang sedang terjadi, apakah pada waktu tersebut kita sedang duduk, berdiri maupun berbaring. Tidak akan pernah merasakan "Fly-melayang-layang" dikala masih duduk, berdiri maupun berbaring. Penguasaan diri sangat baik dan tidak tergoyahkan adalah hal yang mutlak harus dimiliki/ dikuasai.

    • Waktu Bergerak. Menyadari dengan baik apakah gerak langkahnya maju, mundur atau diam sama sekali. Dengan kata lain bahwa semua gerak-gerik anggota tubuh dikala bangun, mandi, makan, memakai pakaian, bekerja dan lain sebagainya, dikuasai dengan sebaik-baiknya. Semua gerak-gerik badan jasmani terkontrol dan terawasi dengan penuh perhatian disamping "kesadaran" dibina dengan sebaik-baiknya.

  2. Vedananupassana-Perenungan terhadap perasaan Kita hendaknya senantiasa melatih diri dalam "meditasi" dan mewaspadai :

    • Perasaan Senang. Dikala menikmati sesuatu yang menyenangkan atau yang menggembirakan, hendaknya jangan sampai terlena (lupa daratan). Dikala ber "uang", hendaknya disadari bahwa suatu hari kelak mungkin saja mengalami kepailitan. Begitu juga dikala masih sehat "jasmani dan rohani" hendaknya selalu dimanfaatkan untuk penimbunan perbuatan-perbuatan baik. Dan yang terpenting adalah dikala masih bernafas janganlah disia-siakan kehidupan ini dengan perbuatan-perbuatan tercela.

    • Perasaan Sakit. Terlahirkan di alam manusia ini "sehat dan sakit" datangnya silih berganti. Dikala sakit mendera badan jasmani, hendaknya pikiran ini senantiasa terlatih dengan baik untuk tidak mencelakakan orang lain. Orang baru pantas dikatakan baik jika seandainya dia berada dalam kondisi yang menggenaskan dan memiliki kesempatan untuk berbuat "jahat" untuk melepaskan penderitaannya, namun dia tidak melakukannya. Orang beginilah yang pantas dikatakan orang baik !

    • Perasaan Netral. Bathinya benar-benar seimbang dan tidak tergoyahkan bagaikan batu karang yang bediri kokoh yang tidak tergoncangkan oleh gempuran ombak.

  3. Cittanupassana-Perenungan terhadap kondisi bathin. Kita hendaknya senantiasa melatih diri dalam "meditasi" dan mewaspadai :

    • Keserakahan sebagai Keserakahan. Menuntut lebih dari yang dibutuhkan serta tidak dimilikinya sifat puas akan apa yang telah dimiliki adalah merupakan ciri khas orang yang serakah. Cara untuk menekan "keserakahan" ini adalah dengan rutinnya "dana" disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Tanpa pernah memberi dan melepaskan kemelekatan (sesuatu yang telah dimilikinya) maka keserakahan tidak akan pernah berhasil dibasmi habis sampai keakar-akarnya.

    • Kebencian sebagai Kebencian. Merasa diperlakukan dengan tidak sewajarnya ataupun iri atas keberhasilan orang lain adalah merupakan salah satu bibit awal tercetusnya "kebencian" didalam kehidupan ini. Hidup yang diliputi oleh kabut kebencian akan menghambarkan keceriaan hidup. Hanya dengan "Metta-Cinta kasih" yang universallah kebencian bisa diatasi atau dibabat keakarnya yang mendalam.

    • Kebodohan sebagai Kebodohan. Semua orang menyadari bahwa rokok dan minuman alkohol yang berkadar tinggi akan merusak kesehatan, tetapi kenyataannya kedua "racun" ini sangat laris dipasaran. Mengapakah hal ini terjadi ? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena tebalnya kabut kebodohan yang telah menyelimuti mata bathin seseorang. Agar terlepas dari kebodohan, hanya ada satu cara yang harus ditempuh, yaitu dengan mempelajari, menyelami dan mengamalkan "Dharma-kebenaran" di dalam setiap derap langkah yang akan dilalui. Hanya dengan "Dharma-kebenaran" ajaran sang Buddha-lah, kebijaksanaan bisa diraih. Dengan dimilikinya kebijaksanaan maka kebodohan akan terkikis habis setahap demi setahap.

  4. Dhammanupassana-Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran. Kita hendaknya senantiasa melatih diri dalam "meditasi" dan mewaspadai bentuk-bentuk pikiran yang mungkin timbul. Didalam sabda-Nya, Sang Buddha menekankan bahwa pikiran sangat dominan sekali mempengaruhi "Kebahagiaan dan Kesusahan" yang dialami oleh setiap makhluk. Oleh karena itu, Sang Buddha bersabda:

    Orang bijaksana hendaknya menjaga pikiran
    yang sukar diawasi, sangat halus
    dan cenderung mengarah pada objek yang digemari
    Pikiran yang terjaga dengan baik
    akan membawa kebahagiaan

    Selanjutnya Sang Buddha pun menekankan bahwa pikiran yang terarah secara benar akan membuat seseorang menjadi mulia dan memperoleh pahala baik, melebihi apa yang dapat diberikan oleh Ibu, Ayah atau Sanak Keluarga.

    Kesimpulan

    Kesurupan bisa saja dialami oleh setiap manusia. Seseorang bisa mengalami kesurupan adalah dikarenakan lemahnya "sati-kesadaran" bersemayam ditubuhnya. Boleh disimpulkan bahwa kesurupan yang dialami oleh setiap manusia, apakah itu atas kehendak si pemilik tubuh maupun yang bukan adalah suatu hal yang sangat patut untuk dikasihani. Kesurupan bisa diibaratkan bagai tamu yang datang ke rumah kita dan langsung berkuasa, memerintah ini dan itu, bertindak semau gue dan adakalanya merusak apapun yang disekitarnya. Hanya orang-orang yang kurang berbuat kebajikanlah yang menjadi sasaran empuk bagi makhluk dari alam rendah "peta" untuk dikuasai dan dikontrol tubuhnya.

    Agar terlepas dari kesurupan yang bertentangan dengan ajaran Sang Buddha, marilah kita bersama-sama melaksanakan pembinaan kesadaran "Cattari Satti-patthana" dengan melaksanakan
    a. Kayanupassana (Perenungan terhadap tubuh jasmani)
    b. Vedanupassana (Perenungan terhadap perasaan)
    c. Cittanupassana (Perenungan terhadap kesadaran bathin)
    d. Dhammanupassana (Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran)

    Semoga dengan adanya perenungan ini, kita hendaknya memiliki "kesadaran" yang mantap serta bermanfaat bagi semua makhluk pada umumnya dan bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia yang tercinta pada khususnya.