Showing posts with label Bhikkhu Uttamo. Show all posts
Showing posts with label Bhikkhu Uttamo. Show all posts

Tuesday, January 18, 2011

Apakah Agama Buddha Itu Kuno?

Apakah Agama Buddha Itu Kuno?
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera


Kalau kita melihat agama Buddha 'secara sepintas' maka kita akan dihadapkan pada satu anggapan bahwa agama Buddha adalah agama yang tidak menarik, agama yang kadang-kadang terlihat bersifat mistis dan sudah tidak cocok lagi dengan kehidupan modern seperti sekarang ini. Mengapa demikian? Coba kita perhatikan semua perlengkapan sembahyang yang ada di altar. Ada patung yang maha besar dan kita bernamaskara atau satu persujudan kepada patung tersebut sehingga orang lalu menyatakan bahwa agama Buddha adalah penyembah berhala. Kita juga akan menemukan dupa/hio dan bunga yang mirip seperti untuk sesajen. Kemudian ada lilin yang seolah-olah berkata bahwa agama Buddha belum percaya akan adanya listrik. Belum lagi terlihat gentong yang memberi kesan seolah-olah kita sedang berada disebuah toko barang antik. Kalau kita perhatikan lagi, kita akan menemukan makhluk-makhluk yang lebih antik lagi; yakni bahwa di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini, kita tetap duduk di lantai bila sedang melaksanakan kebaktian. Dari sinilah kritikan-kritikan terhadap agama Buddha dilontarkan! Kita mungkin pernah mendengar orang mengatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang sudah kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini dapat dimengerti karena mereka hanya melihat dari sudut tradisi/luar saja. Padahal ajaran Sang Buddha tidak pernah ketinggalan zaman.

      Lalu apa buktinya bahwa agama Buddha itu mengikuti perkembangan zaman? Setiap kali kita mengikuti kebaktian, kita tentu membaca tuntunan Tisarana dan Pancasila yaitu menghindari pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukkan. Apakah Pancasila ini sudah kuno dan milik umat Buddha saja? Apakah agama lain menghalalkan pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukkan? Tentu kita akan menjawab: "Tidak!" karena semua manusia pasti harus melaksanakan Pancasila baik pada masa yang lampau, sekarang maupun masa yang akan datang. Ini adalah satu bukti bahwa ajaran Sang Buddha selalu mengikuti perkembangan zaman.

      Mungkin hal ini belum dapat memuaskan Saudara karena masih terlalu umum. Untuk itu mari kita lihat intisari/jantung dari seluruh ajaran Sang Buddha. Apakah intisari/jantung ajaran Sang Buddha itu? Intinya adalah "kurangi kejahatan, tambahlah kebaikan, sucikan hati dan pikiran". Apakah hal tersebut hanya berlaku di zaman Sang Buddha dan hanya milik agama Buddha saja? Apakah agama lain menganjurkan: "tambahlah kejahatan, kurangi kebaikan dan kacaukan pikiran?" tentu tidak! Dengan demikian tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa ajaran Sang Buddha sudah kuno dan ketinggalan zaman. Karena sesungguhnya ajaran Sang Buddha selalu mengikuti zaman! Bahkan Albert Einstein yang terkenal sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan pernah menyatakan bahwa "Agama yang bisa menjawab tantangan ilmu pengetahuan adalah agama Buddha".

      Oleh karena itu berbahagialah kita sebagai umat Buddha. Namun hanya berpuas diri sebagai umat Buddha masih belum cukup, karena ada ajaran yang lebih dalam lagi yaitu kita hendaknya bisa melaksanakan ajaran Sang Buddha di dalam kehidupan sehari-hari. Ini penting sekali karena ajaran Sang Buddha itu tidak hanya bersifat teori tetapi perlu dilaksanakan! Hal ini sama halnya dengan contoh orang yang mempunyai hobby berenang. Misalnya Saudara diberitahu bahwa berenang itu menyenangkan dan dengan bisa berenang maka Saudara tidak perlu lagi takut kepada air. Lalu Saudara suka berkhayal tentang berenang. Tetapi kalau Saudara tidak pernah mau mencoba, apakah Saudara akan bisa berenang, walaupun teori-teori berenang sudah dikuasai? Apakah Saudara cuma cukup berbangga: "Ah... saya 'kan bisa teori berenang." Tentu tidak! Demikian pula dengan ajaran Sang Buddha! Ajaran Sang Buddha memang sungguh luar biasa, begitu agung, begitu indah dan tidak pernah ketinggalan zaman. Tetapi kalau Saudara tidak pernah mempraktekkannya, apakah hal tersebut akan bermanfaat? Justru dengan melaksanakan ajaran Sang Buddha, Saudara akan bisa menyelesaikan permasalahan di dalam kehidupan sehari-hari.

      Lalu bagaimanakah cara menyelesaikan permasalahan kehidupan dengan ajaran Sang Buddha? Sebetulnya ajaran Sang Buddha itu sudah terbabar di altar, hanya saja kita jarang memperhatikannya. Perlengkapan sembahyang yang dianggap kuno itu ternyata mampu menjadi salah satu medium yang dapat membabarkan Dhamma karena tersirat makna yang cukup dalam dan bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan:

      1. Patung Sang Buddha
      Patung Sang Buddha ini bentuknya bermacam-macam. Ada yang menggunakan bentuk seperti payung yang ada di Candi Borobudur, ada yang menggunakan gaya India, Thailand, Srilanka, dsb. Kenapa bisa berbeda-beda? Karena sesungguhnya patung Sang Buddha bukan melambangkan/mewujudkan manusia Siddhattha Gotama. Jadi kalau Saudara berada di depan patung Sang Buddha, jangan Saudara membayangkan bahwa Sang Buddha itu seperti patung yang ada di hadapan Saudara atau yang pernah Saudara lihat. Kalau kita mengingat kembali riwayat hidup Sang Buddha, kita akan melihat bahwa ketika Beliau masih menjadi bodhisatva, sesungguhnya Beliau memiliki satu kehidupan yang sangat berlebihan; ada harta, tahta dan wanita. Namun Pangeran Siddhattha adalah manusia yang mempunyai cara berpikir yang berbeda. Ketika Beliau menyadari bahwa hidup ini sesungguhnya tidak kekal dan tidak memuaskan, Beliau pun memutuskan untuk mencari obat yang dapat mengatasi ketuaan, sakit, lahir dan mati; walaupun sangat menderita, Beliau terus berjuang. Bahkan pada suatu hari Beliau bertekad untuk tidak akan berdiri dari tempat duduknya sebelum menemukan obat sakit, tua, lahir dan mati; dan malam itu juga Beliau berhasil menembus hakekat hidup yang tidak kekal yang disebut mencapai Nibbana/padamnya keinginan, yang sekarang diperingati setiap hari Waisak. Inilah sesungguhnya makna yang terkandung dari patung Sang Buddha yaitu lambang semangat yang tidak pernah kenal putus asa. Ketika melihat patung Sang Buddha, hendaknya muncul semangat untuk bekerja, semangat untuk berjuang dalam meraih cita-cita. Kita bersujud di depan patung Sang Buddha adalah untuk menghormati Guru kita yang telah mengajarkan kebenaran, jadi bukan menyembah pada patung. Dengan demikian, kita tidak akan pernah kekurangan/kehilangan semangat dalam perjuangan hidup kita. 

      2. Lilin
      Lilin ini sesungguhnya juga merupakan suatu lambang. Seperti lilin yang rela hancur demi menerangi kegelapan, demikian juga hendaknya seorang umat Buddha mau berkorban untuk kebahagiaan makhluk lain. Pengorbanan besar telah diberikan oleh Guru kita; 6 tahun menderita dan membaktikan diri selama 45 tahun untuk mengajarkan Dhamma setiap hari. Kita pun sebagai murid-muridNya hendaknya bersikap demikian; seperti lilin yang menerangi kegelapan, demikian juga hendaknya kita sebagai umat Buddha bisa menjadi pelita di dalam kehidupan bermasyarakat dengan kebenaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha.

      3. Bunga
      Bunga melambangkan ketidak kekalan; hari ini indah dan wangi tetapi besok akan layu, lusa akan membusuk dan dibuang. Demikian pula dengan diri kita; hari ini kita masih sehat, kuat dan cantik tetapi dengan berlalunya sang waktu; kesehatan, kekuatan dan kecantikan kita pun akan berkurang. Seperti bunga yang sekarang segar, besok akan layu dan dibuang; demikian juga hendaknya kita selalu menyadari bahwa pada suatu ketika kita pun akan dibuang, berpisah dengan yang dicintai dan berkumpul dengan yang dibenci. Oleh karena itu, tidak ada gunanya kita sombong/berbesar kepala karena semua ada batasnya dan tidak kekal. Ini adalah Dhamma yang dipesankan lewat altar. 

      4. Air
      Air ini melambangkan pembersih segala kotoran. Seperti air yang membersihkan semua debu-debu kekotoran; demikian juga ajaran Sang Buddha hendaknya bisa membersihkan segala kekotoran yang melekat di batin dan pikiran kita baik ketamakan, kebencian maupun kebodohan. 

Sunday, December 26, 2010

Antara Lidah Dan Sendok

 
Antara Lidah Dan Sendok
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera
 

Bagaikan lidah yang dapat merasakan setiap rasa sayur yang melewatinya, demikian pula orang bijaksana dapat mengerti Dhamma walaupun baru sejenak mengenalnya (Dhammapada Bala Vagga 65).

Di dalam Dhammapada dikatakan ada dua jenis perkenalan dengan Dhamma. Yang pertama adalah perkenalan biasa-biasa, selanjutnya tetap biasa-biasa saja. Diibaratkan seperti sendok. Sendok tidak pernah kepedasan. Tidak pernah begitu menyentuh lombok langsung berteriak kepedasan. Kenapa? Karena sendok tidak punya rasa. Menyendok sambal bisa, kuah juga mau. Apa saja boleh diambil dengan sendok. Menyendok yang baik dan menyendok yang jelek bisa pula. Sendok tidak bereaksi, karena dia tidak pernah merasakan rasa apapun yang menempel di tubuhnya.

Begitu juga dengan umat yang termasuk jenis ini. Datang ke vihara, ikut puja-bhakti, baca paritta, dan meditasi. Termasuk ngantuk dan melamunnya... Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, satu bulan, dua bulan, setahun, dua tahun sampai sepuluh tahun mengenal Dhamma tetapi masih tetap biasa-biasa.

Ketika ditanya, setelah mengenal Dhamma selama sepuluh tahun apakah masih emosi? Jawabnya, masih. Apakah setelah mengenal dhamma sudah bisa meditasi? Belum. Beginilah jenis yang pertama, selalu mengantarkan sayur ke dalam mulut, tapi tiada pernah merasakan.

Namun ada jenis perkenalan dengan Dhamma yang mulanya biasa-biasa, selanjutnya makin menggebu-gebu. Ibaratnya lidah. Lidah itu luar biasa. Seandainya satu butir nasi dimasukkan ke dalam hamburger yang kita makan, pasti kita akan dapat merasakan nasi itu. Karena lidah kita sudah terbiasa dengan rasanya, meskipun cuma satu butir. Itulah kehebatan lidah. Luar biasa.

Demikian pula dalam mengenal Dhamma. Menjadi umat Buddha bukan dilihat sudah berapa lama sudah jadi umat Buddha. Itu bukan jaminan. Tetapi, yang penting adalah sudah seberapa jauh kita merasakan nikmatnya Dhamma.

Sabbam rasam dhammaraso jinati. Dari seluruh rasa, rasa Dhammalah yang paling unggul (Dhammapada Tanha Vagga 354)

HANYALAH OBJEK

Sudahkah kita merasakan Dhamma? Sudahkah kita merasakan manfaat Dhamma dalam kehidupan kita sehari-hari?

Perkenalan dengan Dhamma kadang hanya sejenak, perkenalan dengan Dhamma kadang hanya sepintas, kesannya itu. Nah, kita termasuk lidah ataukah sendok?

Kalau salah satu dari kita setelah mengenal Dhamma langsung merasakan manfaatnya, maka berbahagialah dia. Karena dia adalah "lidah" yang bermanfaat. Tetapi kalau sampai sudah duduk capek, namakara sampai dahinya hafal, ketika ditanya mengenai Agama Buddha masih tidak mengerti, kita mesti memperbaikinya karena masih kualitas sendok.

Darimanakah kita bisa mendapatkan Dhamma? Sebetulnya Dhamma ada di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dhamma bukan hanya ada di buku-buku. Dhamma bukan hanya yang dibagikan oleh para bhikkhu. Satu contoh, kalau kita pergi ke vihara lalu melihat Buddharupang, maka itu sebetulnya adalah pelajaran Dhamma. Banyak orang yang sudah bernamakara berkali-kali kepada Sang Buddha tetapi nggak mengerti maksudnya. Kebiasaan? Wah, itu salah total.

Kebiasaan sebetulnya sering menimbulkan penyimpangan. Pernah di sebuah vihara terdapat kebiasaan aneh, setiap puja-bhakti harus ada anjing hitam yang diikat di bawah pohon bodhi di halaman vihara. Padahal, asal mulanya hanya karena bhikkhu kepala vihara senang memelihara anjing hitam dan selalu mengikatnya ketika sang bhikkhu melaksanakan puja-bhakti. Ketika bhikkhu kepala vihara meninggal, kebiasaan itu diteruskan tanpa tahu alasannya.

Itulah kebiasaan yang menyimpang. Kita juga sering begitu. Ketika ditanya, kenapa bernamakara? Biar dapat berkah sang Buddha? Oh....

Tidak ada pelajaran dalam Agama Buddha yang mengatakan bahwa dengan namakara bisa dapat berkahnya Sang Buddha. Tidak ada. Kita bernamakara, Sang Buddha tidak tersenyum. Kita tidak namakara, Sang Buddha tidak apa-apa. Tetapi bernamakara atau tidak, itu berhubungan dengan diri kita sendiri.

Pada saat kita bernamakara, sebetulnya pikiran, ucapan, dan perbuatan kita diarahkan kepada hal positif. Kita berusaha berkonsentrasi sehingga bernamakara tiga kali. Dengan bernamakara, kita membutuhkan waktu minimal setengah sampai satu menit untuk punya pikiran, ucapan, dan perbuatan benar. Kalau tiap hari melakukan kegiatan namakara, maka dalam satu bulan kita bisa punya tiga puluh menit pikiran, ucapan dan perbuatan benar. Satu tahun tiga ratus enam puluh menit.

Makin banyak kita namaskara, makin banyak kita menanam kamma baik. Patung Sang Buddha hanyalah sebagai obyek, sasaran, atau sarana kita untuk menanam pikiran, ucapan dan perbuatan benar. Begitu pula bernamakara pada seorang bhikkhu. Itu bukan namakara buat bhikkhunya. Bukan namakara sama jubahnya. Tetapi bhikkhunya sebagai obyek untuk menanam kamma baik lewat pikiran, ucapan dan perbuatan.

Ketika kita bernamakara pada Buddharupang, yang posisinya bumisparsa mudra, sebetulnya ini menunjukkan bahwa kita harus bertekad jangan sampai patah semangat sebelum mencapai cita-cita. Apapun yang menghalangi harus kita hadapi untuk mencapai tujuan akhir. Sebelum cita-cita tercapai jangan pantang mundur. Sekolah mau men-DO, tidak bisa. Kita harus berjuang keras sampai tidak ada kesempatan men-DO kita.

Kita harus bertekad, harus teguh, harus kuat. Kenapa? Karena kita melihat contohnya, Sang Buddha guru kita. Kalau guru kita berani bertekad kuat tidak akan beranjak dari meditasinya sebelum mencapai cita-cita (kesucian -red), maka kita pun juga sebagai murid-muridnya harus bisa. Ini adalah salah satu mudra. Ada banyak mudra, tapi yang diterangkan hanya satu mudra. Supaya kita sebagai umat Buddha tidak ada kata patah semangat. Harus selalu bersemangat. Kalau punya cita-cita, tetaplah teguh. Seperti yang dilakukan Sang Buddha.

SEKOLAH KEDUKUNAN

Lalu soal baca paritta. Tidak jarang di antara kita ada yang mau membaca paritta untuk hal yang aneh-aneh.
Bhante, paritta apa supaya tidak digigit anjing? Baca saja "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Kalau supaya nggak dicopet? "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Itulah parittanya.

Kenapa? Kadang-kadang kita suka aneh-aneh. Supaya tidak digigit anjing pakai paritta ini, agar tidak dicopet baca paritta itu. Jadinya kita seperti menghapal "mantra-mantra". Seperti sekolah kedukunan saja. Padahal Agama Buddha bukan begitu.

Sebenarnya membaca paritta juga mengarahkan kita supaya punya pikiran baik, ucapan baik, dan perbuatan baik. Sama seperti namakara tadi. Ini kalau kita tidak mengerti artinya. Tapi kalau mengerti, lain lagi.

Misalnya dalam paritta Abhinhapaccavekkhana disebutkan aku akan mengalami usia tua, aku belum bisa mengatasi usia tua, aku akan mati, dan aku belum bisa mengatasi kematian. Berarti kita bisa tua dan bisa meninggal. Padahal sekarang masih muda, masih belum meninggal. Mumpung masih muda, masih belum meninggal, kita harus mengembangkan kebaikan, belajar banyak paritta, belajar Dhamma, dan melaksanakannya dengan baik. Semangat hidup akan muncul untuk memanfaatkan setiap momen kehidupan dalam mengembangkan diri.

Inilah salah satu manfaat menjadi "lidah-lidah" Dhamma. Sebagai lidah, kita langsung bisa merasakan rasa asin, manis, dan asam. Demikian pula sebagai umat Buddha, walaupun baru sekali kita mengenal Dhamma tetapi kalau kita mengerti intinya bahwa Dhamma adalah pembawa semangat kehidupan, sehingga tidak akan pernah ragu, tidak pernah patah semangat, maka hidup kita akan selalu diisi dengan prestasi, hasil gemilang dari usaha dan perjuangan kita.

Jadilah lidah yang baik. Janganlah menjadi sendok yang tidak pernah mengetahui rasa makanan. Sehingga biar hanya sebentar ngenal Dhamma, bisa memanfaatkannya dengan baik. Semoga kita berbahagia di dalam Dhamma. Semoga semua makhluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak memperoleh kebaikan dan kebahagiaan sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing.