Sunday, November 14, 2010

Hidup Harmonis di Dalam keluarga


Hidup Harmonis di Dalam keluarga
Oleh Biksu Thich Nhat Hanh

Berikut adalah cuplikan ceramah Biksu Thich Nhat Hanh kepada peserta retret anak-anak dan remaja di Plum Village, Perancis. Ia menjelaskan kepada anak-anak pentingnya belajar untuk mendengarkan secara mendalam di dalam keluarga, di antara ibu, ayah, dan anak-anak, agar tercipta suasana yang harmonis.

Ada yang bertanya, “Dapatkah Anda memberitahu saya apakah ayah yang ideal itu?”

Orang yang lain menjawab, “Ayah yang ideal adalah ayah yang tahu bagaimana mencintai Ibu dan bagaimana membuat Ibu bahagia.”

Sepertinya ini adalah jawaban sangat sederhana, namun juga sangat dalam. Apa yang paling dibutuhkan seorang bocah? Apakah dia butuh uang untuk membeli hadiah? Apakah ia butuh uang untuk membeli mainan? Apa yang paling dibutuhkan seorang anak? Yang paling dibutuhkan seorang anak adalah kasih sayang ayahnya.

Ada banyak anak yang punya begitu banyak mainan dan begitu banyak uang saku, akan tetapi mereka tidak bahagia karena ayah mereka selalu membuat ibu menderita. Dan sering kali anak-anak itu begitu sedih. Mereka ingin kabur saja karena atmosfir dalam keluarga terasa begitu berat, seperti keadaan sebelum datangnya badai. Atmosfir itu adalah atmosfir penderitaan, di dalam rumah maupun di dalam keluarga. Ayah menghadirkan atmosfir ini ketika ia membuat ibu menderita. Sehingga si anak ingin melarikan diri, tapi lari kemana?

Dulu kita mungkin mempunyai rumah dan kebun yang indah, dengan sebuah kolam kecil, banyak kamar, dan anak bisa lari keluar ke kebun serta duduk di dekat kolam. Atau lari ke tetangga, menemui seorang bibi atau paman di desa ….

Akan tetapi sekarang, kita mungkin tinggal di apartemen yang tinggi dan anak yang berada di dalam lingkungan ini tidak ada tempat untuk lari – hanya ada satu tempat, yaitu toilet atau kamar mandi, tutup pintu dan melarikan diri ke sana.

Atmosfir yang berat dan menyesakkan ini menghancurkan dan membuat layu si anak, sehingga dia ingin lari, namun tidak tahu mau lari ke mana. Maka larilah ia ke toilet dan menangis di sana. Tapi bahkan di dalam toilet pun dia tidak merasa aman, karena masih dapat mendengar suara tangisan ibunya atau bicara ayahnya.

Anak-anak yang hidup di tengah atmosfir yang demikian tidak bisa tumbuh dalam cara yang segar dan indah. Bagaikan pohon di taman yang tidak mendapatkan sinar matahari ataupun siraman air hujan, atau tukang kebun yang merawat. Ketika pohon itu besar, ia akan berkeluarga: ia akan mempunyai istri, suami, dan anak-anak. Tapi dia tidak tahu bagaimana membuat keluarganya bahagia, karena anak itu belum pernah belajar dari ayah.

Anak itu tidak tahu bagaimana mencintai ibu, bagaimana merawat ibu. Ayah tidak tahu bagaimana merawat ibu dan karena anak belum pernah melihat ayah merawat ibu, maka dia tidak berkesempatan belajar bagaimana mencintai. Ketika anak itu menikah, dia ulang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh ayah ataupun ibunya dan kesalahan-kesalahan ini kembali akan membawa derita kepada orang-orang yang dikasihi. Inilah yang kita sebut samsara, yang artinya lingkaran tunimbah lahir yang tidak pernah berhenti dan derita ini diturunkan terus-menerus dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Ayah tidak tahu bagaimana merawat ibu dan karena anak belum pernah melihat ayah merawat ibu, maka dia tidak berkesempatan belajar bagaimana mencintai. Ketika anak itu menikah, dia ulang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh ayah ataupun ibunya dan kesalahan-kesalahan ini kembali akan membawa derita kepada orang-orang yang dikasihi. Inilah yang kita sebut samsara ....

Hanya ketika dapat bersentuhan dengan ajaran sejati dan belajar cara-cara praktek, kita dapat mematahkan lingkaran derita yang disebuat samsara ini.

Ketika anak-anak datang ke sini, di Plum Village, mereka bisa belajar cara-cara untuk mematahkan lingkaran ini, sehingga mereka dapat membuka area baru di mana ayah akan mempunyai kapasitas, seni membawakan kebahagiaan, kepedulian, dan cinta kasih kepada isterinya. Banyak oarang muda mengatakan bahawa hadiah paling berharga yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah kebahagiaan orang tua itu sendiri.

Anak-anak tidak butuh banyak: yang mereka butuhkan adalah kedua orang tua mereka dapat bahagia bersama dan itu sudah cukup buat anak-anak untuk menjadi bahagia. Jadi jika kita adalah seorang ibu atau ayah, kita harus tahu bahwa hal yang paling dibutuhkan anak kita adalah kebahagiaan kita dan kebahagiaan kita dengan pasangan kita. Itulah hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita.

Dan jika kedua orang tua kita ingin membahagiakan satu sama lainnya, paling tidak mereka perlu tahu bagaimana mempraktekkan Latihan Perhatiah Murni Keempat. Latihan Perhatian Murni Keempat adalah kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam dan berbicara dengan lembut dan penuh cinta kasih. Inilah yang perlu dipelajari semua orang tua dan mereka akan mampu membangun komunikasi, dan tidak membuat satu dan lainnya menderita. Lalu mereka akan dapat memberikan anak-anak mereka banyak kebahagiaan.

Mendengar secara mendalam adalah sesuatu yang harus kita pelajari untuk dapat melakukannya – kita tidak bisa melakukannya begitu saja. Saat orang lain bicara, dia sedang berusaha mengungkapkan kesulitan maupun deritanya, dan membutuhkan kita mendengarkan hal-hal itu. Tapi jika kita tidak mampu mendengarkan, orang yang sedang bicara tidak akan merasa deritanya berkurang sedikitpun dan akhirnya akan berhenti bicara.

Jadi, tatkala kita mencintai seseorang, isteri kita, suami kita, anak-anak kita, ayah kita, kita perlu berlatih untuk mendengarkan orang itu secara mendalam. Mungkin ayah kita tidak tahu bagaimana mendengarkan ibu kita dan ibu tidak tahu bagaimana mendengarkan ayah secara mendalam. Tapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita tahu bagaimana mendengarkan ayah dan ibu secara mendalam? Kadang kita berkata, “Ibu tidak mendengarkan ayah, ayah tidak mendengarkan ibu.”

Namun kita sendiri juga tidak mendengarkan ibu ataupun ayah secara mendalam. Oleh karena itu, ibu, ayah, mapun anak, ketika ke wihara, ketika pergi ke pusat meditasi, mereka harus berlatih mendengarkan secara mendalam, karena mendengarkan secara mendalam adalah praktek Bodhisattwa Awalokiteshwara. Pagi ini para biksu dan biksuni telah melantunkan puji-pujian tentang Bodhisattwa Awalokiteshwara, yang memiliki cara yang sangat terampil dalam mendengarkan secara mendalam. Itulah sebabnya Ia disebut Quan The Am (Kuan Se Im) yang berarti “memperhatikan suara yang datang dari dunia.”

... hal yang paling dibutuhkan anak kita adalah kebahagiaan kita dan kebahagiaan kita dengan pasangan kita. Itulah hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita.

Orang-orang yang menderita, yang mempunyai perasaan yang disembunyikan jauh di dalam lubuk hati mereka, yang belum mampu mereka ungkapkan, mereka butuh kesempatan untuk mengungkapkan derita ini. Jika tidak ada seorang pun yang duduk mendengarkan mereka, bagaiamana mereka bisa memperoleh kesempatan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan derita yang disembunyikan itu? Oleh karena itu kita perlu berupaya memahami mereka secara mendalam dan itulah cara untuk menunjukkkan bahwa kita mengasihi mereka.

Jika kita adalah seorang ayah dan kita ingin mendengarkan anak-anak, kita bisa duduk berdampingan dengan mereka di dalam hening kemudian berkata, “Anakku sayang, tolong beritahu Papa, apakah kamu ada kesulitan? Apakah kamu ada penderitaan? Kasih tahu Papa. Papa ingin dengar sehingga Papa bisa melihat apakah Papa dapat membantu.”

Jadi ayah mengatakan ini dengan setulus hati. Dan jika kita adalah seorang isteri dan kita tahu suami kita ada derita dan kesulitan yang belum sanggup ia utarakan, kita hampiri suami kita, duduk dengan hening, dengan sangat segar, di sisinya, lalu kita katakan, “Suamiku sayang, apakah engkau ada penderitaan apapun? Apakah engkau ada kesulitan yang disembunyikan dalam hatimu? Beritahukanlah aku hal-hal itu.”

Isteri harus mengatakan itu. Jika kita adalah seorang suami atau seorang ayah dan kita punya penderitaan – kita semua punya penderitaan, sebagian dari kita punya banyak, sebagian dari kita punya sedikit – saat orang lain mengatakan itu kepada kita, kita melihat kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin kita ungkapkan. Awalnya sulit bagi kita untuk mengatakannya. Sebelumnya belum pernah ada orang yang berusaha untuk mendengarkan kita dan sekarang, ketika ada orang mengundang kita untuk mengungkapkannya, kita tidak yakin apakah kita benar-benar dapat mempercayainya.

Akan tetapi isteri atau siapa pun yang menanyakan pertanyaan, patut bersabar dan berkata, “Harap beritahukanlah aku. Mungkin ini dikarenakan ketidak-terampilanku, kebodohanku, engkau menderita, aku ingin mendengarnya. Harap beritahu aku jika aku ada melakukan sesuatu yang bodoh atau ceroboh yang telah membuatmu menderita. Aku berjanji akan duduk di sampingmu dengan sangat tenang dan hening dan mendengarkan, karena aku sedang berlatih sebagai murid Bodhisatwa Awalokisteshwara.

“Aku tidak akan menghakimi, aku tidak akan bereaksi, aku tidak akan marah. Guru dan Sangghaku sudah memberitahu aku bagaimana cara berlatih menjadi damai dan tenang, bagaimana makan dengan damai, berjalan dengan damai, bagaimana duduk dengan damai, dan sekarang aku sudah mampu untuk duduk dan mendengarkan. Aku sudah tidak seperti diriku yang dulu.”

Kita bisa berusaha membujuk suami kita seperti itu, sehingga dia dapat mengungkapkan kesulitan-kesulitannya kepada kita untuk didengar.

Jika kita adalah anak-anak, jangan pikir hanya kita saja yang menderita, sebagai anak. Ayah menderita. Ayah punya berbagai kesulitan. Maka dari itu, kita bisa berlatih dan kita bisa mengatakan, “Papa, saya tahu Papa adalah ayah saya, tapi saya tahu Papa ada kesulitan. Kadang Papa marah kepada saya, kadang Papa kecewa kepada saya, kadang saya tidak melakukan apa yang Papa inginkan. Tapi itu terjadi karena saya belum tahu hati Papa, saya belum tahu kesulitan-kesulitan Papa. Dan sekarang saya ingin mendengarkan Papa. Saya ingin mendengar hal-hal yang tidak Papa sukai dari saya, yang menurut Papa bisa saya perbaiki.

“Saya  akan mendengarkan Papa, saya akan mendengarkan dengan hati Bodhisattwa Awalokiteshwara karena saya sudah pergi ke pusat meditasi. Saya sudah bertemu dengan biksu dan biksuni. Saya sudah bertemu dengan Sanggha dan saya sudah belajar bagaimana untuk duduk dan mendengarkan secara mendalam. Jadi tolong Pa, beritahukan kepada saya, dan saya akan menjadi seperti Bodhisattwa Awalokiteshwara. Saya akan duduk dan mendengarkan dengan sangat seksama.

“Saya akan mendengar dengan kedua telinga saya, bukan dengan satu telinga dan saya akan mendengar dengan hati saya, karena Awalokiteshwara adalah orang yang dapat mendengarkan dengan dua telinga dan hati, dan dapat mendengarkan seperti itu selama satu jam.”

Ketika anak mendengarkan ayah seperti itu selama satu jam, ayah akan merasa jauh lebih baik.

Kita semua harus berlatih dalam keluarga: ibu, ayah, dan anak. Tidak bisa kita langsung dapat mendengarkan secara mendalam hanya karena kita ingin melakukannya. Kita harus berlatih terlebih dahulu, karena jika kita berhenti mendengar setengah jalan, orang lain akan merasa, “Buang-buang waktu saja!”

Jika kita mendengarkan dan orang-orang mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak benar – mereka sepenuhnya keliru memahami kita – ketika mereka menjelaskan hal-hal ini, kita rasakan kurangnya loyalitas mereka kepada kita, kita rasakan kesalah-pahaman mereka, kita dengar mereka menyalahkan dan mengritik kita. Sementara mendengarkan mereka, apa yang kita dengar menyirami semua benih derita kita. Kita bisa balik menghardik mereka atau lari keluar. Akan tetapi, jika melakukan salah satunya, kita belum berhasil dalam latihan mendengarkan secara mendalam.

... kita rasakan kesalah-pahaman mereka, kita dengar mereka menyalahkan dan mengritik kita. Sementara mendengarkan mereka, apa yang kita dengar menyirami semua benih derita kita. Kita bisa balik menghardik mereka atau lari keluar. Akan tetapi, jika melakukan salah satunya, kita belum berhasil dalam latihan mendengarkan secara mendalam.

Sudah berhasilkan ayah dan ibu dalam latihan mendengarkan secara mendalam? Jika ibu dan ayah belum berhasil, kita sebagai anak harus membantu mereka. Kita harus mendengarkan ayah dan ibu. Kita harus buktikan bahwa sebagai anak, kita mampu mendengarkan secara mendalam. Kita mampu memahami ayah kita, mampu mendengarkan dan memahami ibu kita.

Kita bisa mendatangi ibu kita sambil berkata, “Ma, Mama tahu saya datangi Papa. Saya dengarkan Papa secara mendalam dan sekarang saya sudah memahami Papa. Saya lihat Papa sudah tidak begitu menderita. Mohon Mama lakukah hal yang sama. Saya akan bantu Mama untuk menjadi mampu duduk dan mendengarkan Papa secara mendalam.”

Jika Anda hanyalah seorang bocah, kendati masih kecil, walaupun belum mempunyai kebijaksanaan besar, namun Anda sudah bersentuhan dengan Buddha, Dharma, dan Sanggha, dengan para biksu dan biksuni. Dan Anda juga bisa membantu ayah Anda. “Papa, Papa sudah latihan mendengarkan Mama belum? Mama ada begitu banyak kesulitan dan kesedihan dalam hatinya, banyak hal yang belum Papa ketahui. Jadi, tolong Pa, dengarkan Mama secara mendalam. Saya sudah berlatih mendengarkan Mama secara mendalam dan saya tahu Papa juga dapat melakukannya. Saya akan dukung Papa. Papa tolong dengarkanlah Mama secara mendalam.

“Tolong lakukan dalam hening dan ketika Mama mengatakan sesuatu yang tidak benar, jangan marah Pa. Bernafaslah dan dengarkanlah secara sepenuh hati sehingga Mama tidak begitu menderita. Jangan dengarkan secara mendalam agar dapat menyalahkan, agar dapat mengritik. Jika Papa belum sanggup melakukannya, silahkan pergi ke pusat meditasi dan belajarlah meditasi jalan, belajarlah meditasi duduk, belajarlah bagaimana berjalan dalam Perhatian Murni dan makan dalam Perhatian Murni. Selang beberapa hari Papa akan mampu berlatih mendengarkan secara mendalam.”

Mendengarkan secara sungguh-sungguh adalah praktek Buddha dan Bodhisattwa Awalokiteshwara yang paling menakjubkan. Saat kita menyebut nama Bodhisattwa Awalokteshwara, itu berarti kita menerima Awalokiteshwara sebagai guru kita. Awalokiteshwara memiliki kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam.

“Mama, Papa, mana hadiah saya? Hadiah saya adalah kebahagiaan Papa dan Mama. Jika Papa dan Mama tidak memberikan saya hadiah itu, saya akan sangat menderita.”

Oleh karena itu, jika kita adalah murid Awalokiteshwara, kita juga harus berlatih mendengarkan secara mendalam. Hari ini, kalian anak-anak yang masih sangat kecil telah mendengar hal ini. Ingatlah kata-kata yang baru saja saya ajarkan. Kita ayah dan ibu tidak bahagia bersama, kalian harus menggabungkan kedua telapak tangan dan berkata kepada mereka, “Mama, Papa, mana hadiah saya? Hadiah saya adalah kebahagiaan Papa dan Mama. Jika Papa dan Mama tidak memberikan saya hadiah itu, saya akan sangat menderita.”

Itulah Lonceng Kesadaran untuk membangunkan ibu dan ayah. Setelah itu ibu dan ayah akan mencoba untuk berlatih.

Hari ini, apa yang telah berusaha saya sampaikan kepada kalian, anak-anak, adalah belajarlah untuk mengatakan kepada orang tua kalian, “Mama dan Papa tercinta, hadiah terbesar yang dapat Mama dan Papa berikan kepada saya adalah kebahagiaan Mama dan Papa sendiri. Mohon berikanlah saya hadiah tersebut.”

            Hari ini juga, kita mulai belajar tentang metode mendengarkan secara mendalam. Seperti yang sudah kita ketahui, kita harus berlatih sebelum dapat mendengarkan secara mendalam. Kadang “mendengar secara mendalam” bisa juga kita terjemahkan sebagai mendengarkan dengan kasih sayang. Kita mendengar dengan hanya satu tujuan: kita mendengar bukan untuk mengritik, menyalahkan, mengoreksi orang yang sedang bicara atau menyalahkan orang tersebut. Kita mendengar hanya dengan satu tujuan, yaitu, mengurangi derita orang yang sedang kita dengarkan.

            Kita harus duduk dengan diam, kita harus duduk dengan kebebasan dari dalam. Tubuh dan batin kita harus hadir seratus persen, mendengarkan sehingga orang lain dapat meringankan deritanya. Jika orang itu mengatakan hal-hal yang tidak benar, yang merupakan persepsi yang keliru, mungkin timbul niat untuk menanggapi, untuk mengatakan, “Itu tidak benar!”

Lalu berdebat dengan mereka. Namun, jangan lakukan itu – kita harus duduk dan mendengarkan. Jika kita dapat duduk selama satu jam, maka satu jam tersebut adalah satu jam yang gemilang. Satu jam tersebut adalah satu jam yang dapat menyembuhkan dan mengubah.

Kita mendengar hanya dengan satu tujuan, yaitu mengurangi derita orang yang sedang kita dengarkan....

Kita bisa melakukan jauh lebih baik daripada para psikoterapis, karena ada psikoterapis yang belum belajar bagaimana mendengarkan secara mendalam, belum belajar mendengarkan dengan kasih sayang. Para psikoterapis punya penderitaan mereka sendiri, mungkin banyak sekali penderitaan, sehingga kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam mereka tidak besar. Kita tidak tahu banyak teori psikoterapis, namun kita sudah berlatih berhenti dan melihat secara mendalam. Kita sudah berlatih mendengarkan secara mendalam. Oleh karena itu, kita bisa lakukan lebih baik daripada para psikoterapis.

            Kita gunakan metode mendengar secara mendalam, pertama kepada orang yang kita cintai dan keluarga kita. Begitu berhasil dengna keluarga, kita bisa membantu teman-teman kita. Kita bisa mendengar dengan sepenuh hati sehingga derita dunia berkurang: itulah praktek kita. Tentu saja, psikoterapis harus belajar bagaimana mendengarkan secara mendalam sesuai latihan ini agar dapat menjadi psikoterapis yang baik.

            Saat sudah dapat mendengarkan secara mendalam, saat sudah tahu bagaimana melakukannya, saat sudah tahu bagaimana bicara dengan penuh kasih sayang, semuanya ini berfungsi menghidupkan kembali komunikasi di antara dua insan. Sebenarnya, saat tahu bagaimana mendengarkan secara mendalam, kita dengan sendirinya sudah bicara dengan kasih sayang. Pada ceramah berikut, kita akan belajar tentang menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih dan itu merupakan bagian dari Latihan Perhatian Murni Keempat. Kita akan belajar lebih banyak mengenai hal-hal ini dalam diskusi Dharma kita.

            Di zaman sekarang, tehnologi komunikasi sudah sedemikian maju. Kita punya segala jenis media komunikasi, seperti email, faksimil, dan telepon. Oleh karenanya, kita dapat berhubungan satu dengan yang lain dengan cepat sekali dan dalam tempo beberapa jam saja, berita bisa datang dari satu ujung dunia ke ujung dunia lainnya. Namun, ada hambatan dalam komunikasi antar insan di dalam keluarga, antara ayah dan anak, antara isteri dan suami. Maka dari itu, sungguh sangat penting bagi kita untuk belajar bagaimana mendengarkan secara sungguh-sungguh.

            Anak-anak telah mengatakan yang sebenarnya: alasan ayah dan ibu saling membuat diri mereka menderita adalah karena mereka tidak saling memahami, mereka tidak tahu bagaimana saling mendengarkan secara betul-betul. Mereka tidak punya kapasitas untuk menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih.

Ayah dan ibu tidak tahu, saat tengah membuat diri masing-masing menderita, mereka juga membuat anak-anak mereka menderita. Dan siapakah anak-anak mereka? Anak-anak mereka adalah kelanjutan mereka sendiri. Dengan kata lain, anak-anak kita adalah diri kita sendiri.

Saat membuat diri kita menderita, saat membuat suami atau isteri kita menderita, kita juga membuat anak-anak kita menderita. Anak-anak kita akan membuat cucu-cucu kita menderita, karena kita belum mempunyai kapasitas untuk menunjukkan seni menciptakan kebahagiaan atau seni membuat pasangan kita bahagia kepada anak-anak kita. Dan bagaimana anak-anak mempelajari hal-hal tersebut jika mereka tidak dapat mempelajarinya dari kita?

Jika mereka tidak belajar hal itu, mereka akan tumbuh besar dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang sudah kita lakukan, dan lingkaran samsara ini akan terus berlanjut dalam diri anak-anak kita. Derita kita akan diturunkan kepada anak-anak kita, lalu derita anak-anak kita akan diturunkan kepada cucu-cucu kita, sehingga lingkaran samsara ini tidak akan pernah berakhir.

Kita harus mengakhiri lingkaran ini dengan metode mendengarkan secara mendalam dan menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih...

Kita harus mengakhiri lingkaran ini dengan metode mendengarkan secara mendalam dan menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih. Menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih dan mendengarkan secara mendalam akan menbangun komunikasi. Ketika ada komunikasi dan pengertian di antara kita, kebahagiaan akan hadir di sana.




Sumber: Biksu Thich Nhat Hanh, “Hidup Bersama Secara Harmonis”, Penerbit Dian Dharma dan Pustaka Dharmajala, Jakarta, 2007

Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk Si Bodoh

 Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk Si Bodoh
Oleh Ajahn Brahm

Saya menceritakan kisah sebelumnya kepada sekelompok besar pendengar, pada suatu Jumat petang di Perth. Pada hari Minggu-nya, seorang ayah datang dengan marah-marah untuk berbicara kepada saya. Dia mengikuti ceramah tesebut dengan anak remajanya. Masalahnya, ketika hari Sabtu siang si anak ingin pergi bersama teman-temanya, si ayah bertanya kepada anaknya, "Kamu sudah bikin PR belum?" Anaknya menjawab,"Seperti yang diajarkan Ajahn Brahm semalam di wihara, Papa,[klik cerita sebelumnya:] Yang Sudah Selesai, Ya Sudah Selesai! Daa...daaaa.....!"

Pada hari minggu berikutnya saya menceritakan kisah yang lain.

Kebanyakan orang di Australia memiliki taman di rumahnya, tetapi hanya segelintir orang yang tahu bagaimana menemukan kedamaian di taman mereka. Bagiorang lainnya, taman hanyalah tempat bekerja yang lain, Jadi saya menganjurkan mereka yang punya taman untuk memelihara keindahan taman dengan berkebun sejenak, dan memelihara hati mereka dengan sejenak duduk dalam damai di tamannya, menikmatai berkah alam.

Orang Bodoh pertama akan berpikir, ini gagasan bagus yang mengasyikkan. Jadi pertama-tama mereka memutuskan untuk membereskan segala pekerjaan remeh-temeh, sesudah itu mereka baru melarutkan diri dalam kedamaian di taman. Jadi hamparan rumput harus dipotong, bunga perlu disirami, dedaunan perlu dipangkas, semak-semak harus dibabat, jalan setapak harus disapu.... Tentu saja itu semua menghabiskan seluruh waktu luang mereka, dan pekerjaan yang beres pun baru sebagian kecil. Pekerjaan mereka jadinya tak pernah selesai, dan mereka tak akan pernah memiliki sejenak waktu untuk diam dalam damai. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam budaya kita, orang-orang yang "istirahat dalam damai" hanya dapat ditemukan di pekuburan?

Orang bodoh kedua berpikir bahwa mereka lebih pintar dari orang bodoh pertama. Mereka menyingkirkan semua garu dan penyiram, lantas duduk di taman sambil membaca majalah, bisa jadi, yang berisi gambar pemandangan alam nan aduhai. Tetapi, itu berarti menikmati majalah, bukannya menemukan kedamaian di taman,

Orang Bodoh ketiga menyingkirakan semua peralatan berkebun, semua majalah, koran dan radio, dan duduk diam dalam damai di tamannya... selama kira-kira 2 detik! Lalu mereka mulai berpikir, "Rumput itu perlu dipotong dan semak-semak disana harus dibabat segera. Jika saya tidak menyiram bunga-bunga itu, mereka akan layu. Dan tanaman kaca-piring yang indah akan tampak bagus di sudut sana. Ya! Dengan sedikit hiasan tempat mandi burung di depan situ. Saya bisa membelinya di tempat pembibitan...." Itu sih namanya menikmati berpikir dan berencana. Tak ada kedamaian pikiran di situ.

Pekebun yang bijak akan mempertimbangkan, "Saya telah bekerja cukup lama, sekarang waktunya untuk menikmati buah dari pekerjaan saya untuk mendengarkan kedamaian. Jadi biarpun rumput perlu dipotong dan dedaunan harus dipangkas dan bla, bla, bla! TIDAK SEKARANG." Dengan cara inilah, kita temukan kebijaksanaan untuk menikmati taman, sekalipun tidak sempurna.

Siapa tahu ada seorang biksu tua Jepang (Note: Siapa itu biksu tua Jepang? dapat anda baca di cerita [klik:] Taman Kuil) bersembunyi di balik salah satu semak dan siap untuk melompat keluar dan membeitahu kita betapa sempurnanya taman tua kita yangberantakan. Sungguh, jika kita memusatkan perhatian kepada pekerjaan yang telah kita selesaikan, mungkin kita akan mengerti bahwa yang sudah selesai, ya sudah selesai. Namun jika kita memusatkan perhatian hanya untuk melihat kesalahan pada sesuatu yang harus diperbaiki, seperti dalam kasus [klik:] tembok bata di wihara saya, kita tidak akan pernah tahu apa itu kedamaian.

Pekebun yang bijak akan menikmati lima belas menit kedamaian di tengah kesempurnaan dari tidak sempurnanya alam, tidak berpikir, tidak berencana, dan tidak merasa bersalah. Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan cara mereka sendiri! Lalu setelah memperoleh bagian penting dan vital dari lima belas menit dalam damai, kita bisa meneruskan tugas berkebun kita.

Saat memahami bagaimana menemukan kedamaian di taman, kita akan tahu bagaimana menemukannya kapan saja, di mana saja. Khususnya kita akan tahu bagaimana menemukan kedamaian di dalam taman hati kita, sekalipun pada saat kita berpikir bahwa ada begitu banyak ketidakberesan, begitu banyak yang harus diselesaikan.

Sumber :
Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm

(Buku Wajib Punya, disarankan membeli di toko buku terdekat atau hubungi Penerbit)
Info lebih lanjut silahkan hubungi Ehipassiko Foundation 
http://www.facebook.com/comeandsee
atau
http://www.ehipassiko.net/

Saturday, November 13, 2010

Yang Sudah Selesai, Ya Sudah Selesai

Yang Sudah Selesai, Ya Sudah Selesai
Oleh Ajahn Brahm

Musim hujan di Thailand berlangsung dari bulan Juli – Oktober. Selama periode tersebut, para biksu berhenti bepergian, menghentikan semua pekerjaan proyek, dan mencurahkan diri sepenuhnya untuk belajar dan bermeditasi. Periode tersebut disebut “wassa” atau penyunyian musim hujan”.

Beberapa tahun yang lalu di Thailand selatan, seorang kepala wihara terkenal membangun sebuah aula baru di wihara hutannya. Saat wassa tiba, dia menghetikan seluruh pekerjaan proyek dan memulangkan tukang-tukagnya. Ini adalah saat untuk hening di wiharanya.

Beberapa hari berikutnya seorang pengunjung datang. menyaksikan bangunan setengah jadi, dia bertanya kepada kelapa wihara, kapan aulanya aklan selesai. Tanpa ragu-ragu, sang biksu berkata, “Aulanya sudah jadi.”

“Apa maksud Anda dengan ‘aulanya sudah jadi’?” tanya balik si pengunjung. “itu belum ada atapnya, tak ada pintu atau jendela, banyak potongan kayu dan kantong semen berserakan. Apakah Anda akan membiarkannya begitu saja? Apa yang Anda maksud ‘aulanya sudah jadi’?”

Kepala wihara tersenyum dan menjawab lirih, “yang sudah selesai ya sudah selesai,” dan diapun beranjak pergi untuk bereditasi.

Itulah satu-satunya cara untuk melaksanakan penyunyian atau rehat. Jika tidak demikian, pekerjaan kita tak akan pernah selesai.

Sumber :
Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Hal. 11


(Buku Wajib Punya, disarankan membeli di toko buku terdekat atau hubungi Penerbit)
Info lebih lanjut silahkan hubungi Ehipassiko Foundation 
http://www.facebook.com/comeandsee
atau
http://www.ehipassiko.net/

Friday, November 12, 2010

Taman Kuil

Taman Kuil
Oleh Ajahn Brahm


Kuil-kuil Buddhis di Jepang terkenal akan taman-tamannya.
Beberapa tahun yang lampau, terdapatlah sebuah kuil
yang membanggakan tamannya sebagai taman tercantik, diantara semuanya.
Para pelancong berdatangan dari pelbagai penjuru negeri
hanya untuk mengagumi penataannya yang elok,
yang begitu indah dalam kesederhanaannya.

Suatu ketika, seorang biksu tua datang berkunjung.
Dia tiba pagi-pagi sekali, persis setelah fajar.
Dia ingin menyelidiki mengapa taman itu dianggap sebagai
yang paling mengilhami;
jadi dia menyembunyikan dirinya di balik semak yang besar,
dengan sudut pandang yang bagus ke arah taman.


Dia melihat seorang biksu muda muncul dari kuil dengan
membawa dua keranjang anyaman untuk berkebun.
Selama tiga jam, dia memerhatikan biksu muda itu,
yang dengan hati-hati memungut setiap daun
dan ranting  yang berjatuhan
dan pohon persik yang tersebar di tengah-tengah taman.

Setiap kali memungut daun dan ranting,
si biksu muda menaruhnya di atas tangannya yang lembut,
memeriksanya dan mempertimbangkan,
dan jika dia menyukai daun dan ranting itu,
dia akan meletakkannya ke dalam salah satu keranjang.
Jika dia merasa daun atau ranting itu tidak berguna baginya,
dia akan membuangnya ke dalam keranjang kedua, keranjang sampah.


Setelah mengumpulkan dan mencermati setiap daun dan ranting,
dia mengosongkan keranjang sampah diatas gundukan di belakang kuil,
dia berhenti sejenak untuk minum teh
dan menata pikiran untuk tahap penting berikutnya.

Si biksu muda melewatkan waktu tiga jam lagi,
dengan penuh perhatian, dengan hati-hati, dengan penuh keterampilan,
menaruh setiap daun dan ranting pada tempat yang semestinya di taman itu.

Jika dia merasa tidak puas dengan posisi sebuah ranting,
dia akan menggeser atau memindahkannya sedikit,
dan sembari tersenyum puas,
dia akan berpindah ke daun berikutnya,
memilih bentuk dan warna yang tepat untuk ditaruh di taman.

Perhatiannya terhadap hal-hal rinci sungguh tak tertandingi.
Penguasaannya atas seni menyusun bentuk dan warna sangat luar biasa.
Pemahamannya akan keindahan alaam begitu tinggi.
Saat dia menyelesaikan pekerjaannya, taman itu terlihat apik sekali.

Kemudian sang biksu tua melangkah masuk ke dalam taman.
Dari balik senyum gigi ompongnya, dia memberi ucapan selamat
kepada si biksu muda.

"Pekerjaan bagus! Pekerjaan sangat bagus, Yang Mulia!
Saya telah mengintip Anda sepanjang pagi.
Ketekunan Anda layak dipuji setinggi langit.
Dan taman Anda...Yah!
Taman Anda nyaris sempurna..."

Wajah biksu muda itu berubah pucat.
Tubuhnya jadi kaku serasa disengat kalajengking.
Senyum kepuasannya tergelincir dari wajahnya
dan jatuh terguling ke jurang besar kehampaan.
Di Jepang, Anda tak akan pernah bisa yakin dengan seringai
seorang biksu tua.

"Ma...mak...maksud Anda apa?" dia tergagap ketakutan.
"Ap... apa yang Anda maksud 'nyaris sempurna'?
dan dia menjatuhkan diri di kaki si biksu tua.

"Oh,Tuan! Oh,Guru! Kasihanilah saya.
Anda pasti telah dikirim oleh Buddha
untuk menunjukkan kepada saya bagaimana membuat
taman saya benar-benar sempurna.
Ajarkan saya, oh, Sang Bijak! Tunjukkanlah jalannya!"

"Anda benar-benar ingin saya menunjukkannya?"
tanya sang biksu tua dengan mimik purbanya yang mengerut usil.

"Oh,ya. Mohon. Tolong, Guru!"

Lalu sang biksu tua melangkah ke tengah-tengah taman.
Dia merangkulkan lengan-lengannya yang tua namun masih kuat itu
ke batang pohon persik yang rimbun.

Lantas, diiringi dengan gelak membahana seorang suci,
dia mengguncang-guncangkan pohon yang malang itu!
Dedaunan, ranting dan kulit pohon berserakan dimana-mana,
dan masih saja biksu tua itu mengguncang-guncangkan pohon itu.
Ketika tak ada lagi dedaunan yang jatuh, barulah dia berhenti.

Si biksu muda terperanjat.
Taman menjadi kacau balau. Kerja kerasnya sepagian jadi sia-sia belaka.
Rasanya dia ingin membunuh biksu tua itu,
namun sang biksu tua hanya melihat sekeliling untuk mengagumi hasil karyanya.

Lalu, dengan sebuah senyum yang meluruhkan amarah,
dia berkata lembut kepada si biksu muda,

"Sekarang taman Anda barulah benar-benar sempurna."

Sumber :
Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Hal. 8 - 10

(Buku Wajib Punya, disarankan membeli di toko buku terdekat atau hubungi Penerbit)
Buku ini diterbitkan ulang oleh Ehipassiko Foundation dengan judul 
"Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya",
Info lebih lanjut silahkan hubungi Ehipassiko Foundation 
http://www.facebook.com/comeandsee
atau
http://www.ehipassiko.net/

Wednesday, November 10, 2010

Dua Bata Jelek


DUA BATA JELEK
Oleh Ajahn Brahm

Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang. Tidak ada bangungan diatas tanah itu, pun tidak sebuah gubuk. Pada minggu-minggu pertama kami tidur diatas pintu-pintu tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kami mengganjalkan dengan batu bata pada setiap sudutnya untuk meninggikannya dari tanah (tak ada matras--tentu saja, kami kan bhikkhu hutan).

Bhikkhu kepala mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu datar. Pintu saya bergelombang dengan lubang yang cukup besar ditengahnya, di mana dulunya tempat pegangan pintu. Saya senang karena gagang pintu itu telah dicopot, tetapi lantas jadinya ada lubang persis ditengah-tengah ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan bahwa sekarang saya tidak perlu bangkit dari ranjang jika ingin pergi ke toilet !. Kenyataannya, bagaimanapun juga, angin masuk melalui lubang itu. Saya jadi tak bisa tidur nyenyak selama malam-malam itu.
Kami hanyalah bhikkhu-bhikkhu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang--bahan-bahan bangunannya saja sudah cukup mahal. Jadi saya harus belajar cara bertukang : bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa-pipa--pokoknya semua. Saya adalah seorang fisikawan teoritis dan guru SMU sebelum menjadi Bhikkhu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya sebagai BBC (Buddhist Building Company). Akan Tetapi, pada saat memulainya, hal itu sangatlah sulit.

Kelihatannya gampang membuat tembok dengan batu bata: tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi lainnya jadi naik. Lalu saya ratakan sisi itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat lagi. Coba saja sendiri!

Sebagai seorang Bhikkhu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Saat itulah saya memperhatikannya --- oh, tidak! -- saya telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua bata tersebut tampat miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.


Saat itu, semennya sudah terlanjur terlalu keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya boleh membongkar tembokk itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Saya telah membuat kesalahan dan saya menjadi gundah gulana. Kepala vihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.

Ketika saya membawa para tamu pertama berkunjung keliling vihara setengah jadi kami, saya selalu menghindari membawa mereka melewati tembok bata yang saya buat. Saya tak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

"itu sebuah tembok yang indah", ia berkomentar dengan santainya.

"Pak," saya menjawab dengan terkejut, "apakah kacamata Anda tertinggal di mobil ? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu ? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu ?"

Ucapan dia selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkaitan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, "Ya, Saya dapat melihat dua bata jelek itu, tetapi saya juga dapat melihat 998 batu bata yang bagus."

Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu bata-batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, di bawah, sebelah kiri, dan sebelah kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu bata-batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua batu bata jelek itu. Sebelumnya mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah saya perbuat, saya terbutakan akan hal-hal lainnya. itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga, itulah sebabnya saya ingin menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat batu bata-batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tak terlalu buruk lagi. itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung itu, "Sebuah tembok yang indah." Tembok itu masih tetap berdiri sampai sekarang, setelah dua puluh tahun, tetapi saya sudah lupa persisnya di mana dua bata jelek itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu lagi.

Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah "dua bata jelek"? Berapa banyak diantara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah "dua bata jelek"? Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus--di atas, di bawah, ke kiri, ke kanan dari yang jelek--tetapi pada saat itu kita tak dapat melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira hanya ada kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya, kita benar-benar menghancurkan sebuah "tembok yang indah".

Kita semua memiliku "dua bata jelek", tetapi bata yang baik dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak daripada yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak begitu buruk lagi. Bukan hanya kita dapat berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, tetapi kita juga dapat menikmati hidup bersama rekan kita. Ini kabar buruk bagi pengacara urusan perceraian, tetapi kabar baik bagi Anda.


Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan memberitahukan saya tentang rahasia profesinya.

"Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan," katanya, "tetapi kami bilang ke pelanggan kami bahwa itu adalah "ciri unik" yang tiada duanya di rumah-rumah tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dollar!"

Jadi, "ciri unik" di rumah Anda bisa jadi awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yang sama, Apa yang Anda kira sebagai kesalahan pada diri Anda, Rekan Anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah "ciri unik", yang memperkaya hidup Anda di dunia ini, begitu Anda tidak terfokus padanya.


Sumber : buku Membuka Pintu Hati
by : Ajahn Brahm

(Buku Wajib Punya, disarankan membeli di toko buku terdekat atau hubungi Penerbit)
Buku ini diterbitkan ulang oleh Ehipassiko Foundation dengan judul 
"Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya",
Info lebih lanjut silahkan hubungi Ehipassiko Foundation 
http://www.facebook.com/comeandsee
atau
http://www.ehipassiko.net/

Sunday, November 7, 2010

Pedoman Untuk Praktik Dhamma



Oleh: Yang Mulia Phra Ajahn Yantra Amaro


Cara untuk mencapai kemajuan di dalam praktek Dhamma dan mencapai kondisi normal kita yang harmoni dengan alam dan jalan sang alam adalah dengan menyadari dan melaksanakan tugas kita, serta melaksanakannya dengan sebaik mungkin yang dapat kita lakukan, yakni dengan cinta kasih (metta) dan keseimbangan (upekkha). Seseorang yang memiliki cinta kasih dan keseimbangan adalah orang yang sangat bahagia. Upekkha berarti juga pikiran yang mantap, yakni pikiran yang mencapai pemusatan pada satu titik dan kemudian memiliki kebijaksanaan untuk dapat "membiarkan berlalu/tiada melekat". Salah satu cara untuk melatih "tidak melekat" ini, adalah dengan menentramkan pikiran dan mengontrol pikiran kita untuk mengetahui hanya saat sekarang. Cara lainnya adalah dengan menyelidiki karakteristik/sifat-sifat dari kehidupan atau Tilakkhana, yakni Ketidak-tetapan (aniccata), keadaan duka (dukkhata), dan Ketiada-akuan (anattata). Bila kita menggabungkan kedua cara/metode ini, kita akan mencapai konsentrasi yang sempurna serta kebijaksanaan. Kita dapat meyakinkan pikiran untuk dapat melepas jika kita mengerti dan menerima konsep "Ketanpa-akuan".

Fenomena atau kejadian alam adalah tidak dapat dielakkan, dan kita tak dapat mengubahnya. Kita harus bisa membiarkannya terjadi. Ini adalah disebut "Suddhadhamma pavattanti. "Sabbe dhamma nalam-abhinivesaya", yang artinya "Dhamma tidak seharusnya dilekati" —kita tidak semestinya melekat atau terikat kepada segala sesuatunya, bahkan tidak juga - pada akhirnya - kepada Dhamma. Kita harus menggunakan Dhamma hanya sebagai pedoman kita dalam melaksanakan tugas-tugas, tetapi tidak melekat padanya. Alam adalah aliran yang alamiah/wajar, berkembang dan berubah, dan kita hanya perlu mengetahui, menyadari, serta waspada akan hal ini. Kita harus tetap tenang, tentram/damai, konsentrasi, tetapi jangan menilai. Hanya disadari, disadari, dan disadari. Lihatlah dengan dalam dan dengan sungguh-sungguh ke dalam dirimu sendiri, maka engkau akan semakin sanggup untuk melepas.

Sebagai misal, saya tidak ingin batuk, tetapi tetap saya batuk; anda tidak ingin merasakan sakit, tetapi perasaan sakit tetap anda rasakan. Ini adalah contoh dari berlakunya konsep "tiada-aku" (anatta). Jika batuk dan sakit merupakan kerja dari "sang aku", maka saya semestinya dapat mengontrol mereka, bukankah demikian? Meskipun demikian, kita harus berusaha dan tidak menyerah kepada ketidak-nyamanan seperti itu, tetapi berusaha, dan membiarkan mereka berlangsung; biarkan mereka "dengan urusan mereka sendiri". Kita hanya dapat menyuruh sebagian dari jasmani kita untuk melakukan apa yang kita inginkan, dan lagi hanya dengan cara yang sebagian kecil - tidak komplit. Sehingga dengan demikian, kita harus melatih atau memaksa pikiran kita menuju kepada titik di mana kita dapat - melepas-. Kita dapat memaksa diri kita sendiri untuk mencapai ketentraman jika kita menyadari hal ini.

Bilamana anda pulang ke rumah, cobalah untuk membuat diri anda diam dan tenang barang sejenak. Isilah batinmu dengan cinta kasih dan kasih sayang, dan cobalah untuk menyadari bahwa tiada sesuatu pun yang permanen atau kekal. Setiap makhluk sangat ingin bebas dari penderitaan - semua benda yang hidup berusaha untuk terbebas dari ketidak-nyamanan - dan merindukan kebahagiaan. Oleh karena itu, kita jangan membuat orang lain tidak bahagia, jangan pula melukai satu dengan lainnya; tetapi sebaliknya, bagilah cinta kasih dan kebaikan dengan mereka. Berusahalah untuk selalu berpikir tentang cinta kasih, hingga hal itu menyerap ke dalam perhatianmu dan mengisi batinmu. Berkatalah kepada dirimu sendiri:
"Semoga arus cinta kasih yang dimiliki oleh Sang Buddha terhadap semua makhluk hidup, mengalir ke dalam hatiku. Semoga saya menjadi baik dan mencintai semua makhluk yang sama-sama menderita dalam usia tua/kelapukan, kesakitan, dan kematian. Semoga kesempurnaan kebajikan (parami)dari Sang Buddha, cinta kasih-Nya yang luar biasa, kasih sayang serta kebijaksanaan-Nya mengisi hatiku sebagai suatu berkah mulia. Semoga saya mempunyai kekuatan untuk melatih Dhamma yang baik dengan semakin baik. Tak peduli seberapa banyak kesulitan yang saya hadapi dalam hidup ini, saya akan mengikuti ajaran Dhamma-Mu dan meneladani dengan perbuatan, jasmani, ucapan dan pikiran. Semoga saya tetap teguh dalam sikap laku moral yang baik (sila)dan dalam cinta kasih (metta). Semoga batinku semakin maju, menjadi orang yang bermanfaat, mencapai kebijaksanaan, kemurnian, dan kedamaian. Semoga kekuatan yang agung dari Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha menjadi pelindungku dan sumber kekuatanku".
Pikirlah dengan dalam tentang hal ini hingga anda benar-benar terserap/menyatu di dalamnya. Penuhi dan isilah batin anda dengan kesejukan dan hening kedamaian dari Dhamma.
"Semoga kemarahan, konflik, kekecewaan, dan kebencian yang biasanya saya lakukan, lenyap dari hatiku. Semoga saya dimaafkan dari kekurangan atau kelalaian saya. Semoga saya dimaafkan dari perbuatan salah terhadap orang tua saya, guru-guru saya, famili-famili, dan teman-teman saya, serta yang lainnya, apakah dengan sengaja atau tidak sengaja, yang telah lampau atau sekarang, tak peduli seberapa pun kecilnya".
Berpikirlah dengan rendah hati akan hal berikut:
"Jika orang lain dengan sengaja atau tidak sengaja melukai kita melalui jasmani, pikiran, atau ucapan, dan menimbulkan akibat yang merugikan atau negatif, semoga mereka dapat dimaafkan. Semoga semua dari mereka dan semua dari kita bebas dari penderitaan, mara bahaya dan kesedihan, serta tertuntun ke kedamaian dan kebahagiaan melalui Dhamma yang suci dan murni".
Berusaha dan bercita-citalah untuk melatih Cinta-kasih Dhamma (metta-dhamma) dengan penuh semangat, dan kita akan memiliki cinta kasih. Kemudian buatlah pikiran kita agar memancarkan cinta kasih tersebut ke segala arah/penjuru.

Marilah kita dengan rendah hati menghormati Sang Triratna (Ratanattaya: Sang Buddha - Ia yang telah mencapai Pencerahan Sempurna; Dhamma - Ajaran; dan Sangha - Pasamuan para Ariya Bhikkhu) dan bertekadlah untuk dapat terlahir sebagai manusia, bukan binatang. Karena dengan menjadi manusia berarti kita memiliki perhatian dan kebijaksanaan; memiliki 2 kaki, 2 tangan, 2 lubang hidung, 2 mata, 2 telinga, tetapi hanya satu otak dan satu hati. Perhatikan betapa spesialnya organ yang hanya sebuah itu, tetapi meskipun demikian, otak dapat berpikir dengan sangat cakap. Pikiran tidak timbul dari hati - fisik "hati" dan perasaan "hati" adalah berbeda. Fungsi dari batin adalah untuk mengetahui, menyadari, mengingat, berpikir, dan menunjang batin. Otak dan batin bekerja sama dengan sangat erat satu sama lain. Jika sesuatu terjadi pada otak, kita tidak akan dapat mengikuti Dhamma dan mencapai pencerahan. Dengarkan baik-baik dan ingatlah ini; jika seseorang telah mencapai pencerahan, maka batinnya murni, meskipun jika otaknya menjadi rusak atau tidak normal, ia tetap akan baik. Otak bukanlah batin, dan batin bukanlah otak, tetapi terdapat hubungan yang sangat erat di antara keduanya. Batin dan jasmani juga mempunyai hubungan yang erat; bila jasmani lemah, maka batin juga ikut lemah. Tetapi jika jasmani dari seorang Arahat(seorang yang telah mencapai Nibbana) menjadi lemah, batinnya tidak ikut lemah, tetapi tetap dalam keadaan tenang dan damai.

Saat ini kita harus berusaha untuk menemukan sesuatu yang dapat kita jadikan pegangan, sebuah perlindungan, sehingga meskipun bila kita mati, kita akan tetap tenang. Mereka yang dapat membebaskan batinnya atau menemukan Dhamma akan bebas dari kelahiran, usia tua, kesakitan, dan kematian; termasuk semua problem yang disebabkan oleh kekotoran batin (kilesa). Tak ada suatu apapun yang dapat mengganggu batin dari orang semacam itu, karena batinnya telah bebas. Bila telah tiada keakuan, seseorang tidak akan mengalami usia tua, kesakitan, atau kematian. Dia mencapai hidup abadi (Nirantara) dan bebas dari perbudakan. Ini adalah jalan masuk menuju hidup yang sesungguhnya.

Kehidupan dari orang-orang pada umumnya adalah terbungkus ilusi, kepura-puraan, atau yang dibuat-buat. Mengapa saya katakan demikian? Karena hidup kita ini sesungguhnya adalah tidak pasti dan tidak tetap, sedangkan Nibbana adalah tetap, kosong, dan hampa. Tak ada yang memasukinya (mengisinya), tak ada yang menyentuhnya, ia adalah kosong dan bersih. Ia tidak dapat dibuat ruwet, karena tiada sesuatu yang dibuat ruwet. Dalam kehidupan seseorang, seolah-olah ia memiliki segalanya tetapi sebenarnya tidak memiliki apa-apa.

Salah satu aliran/sekte meyakini bahwa Nibbana/Nirvana adalah suatu tempat yang disebut "Tanah Suci para Buddha" (Buddhaksetra): Sang Buddha ada di sana, juga para Arahat, hidup bersama dalam suatu kelompok untuk selamanya, dengan kekal abadi. Tetapi Pali Canon >(Tipitaka) mengajarkan bahwa Nibbana bukanlah suatu tempat, tetapi suatu kondisi dari lenyapnya kekotoran batin dan penderitaan. Kita dapat memadamkan noda-noda atau kekotoran-kekotoran batin ini sekarang juga jika kita mau mencobanya; dan anda akan merasa seolah-olah hidup/tinggal di sorga, pada dunia/bumi sekarang ini. Kita dapat merasakannya sekarang juga: neraka, sorga, atau Nibbana. Kita tak perlu menunggu untuk waktu yang akan datang. Jika hal itu tidak dapat diperoleh sekarang, ia juga tidak akan dapat diperoleh di waktu yang akan datang. Dengarkan dengan seksama sekali lagi. Jika kita berpikir ada neraka, sorga, atau Nibbana, maka ia akan ada; tetapi jika kita berpikir bahwa tidak ada neraka, sorga, atau Nibbana, maka ia juga tidak ada. Ini adalah yang sebenarnya, tetapi seseorang tidak dapat mencapai kondisi tersebut hanya dengan berpikir. Sebetulnya, kita tidak dapat membayangkan hal tersebut karena hal tersebut tak terbayangkan. Bahkan meskipun jika kita berpikir hingga otak kita miring atau pecah, tidak ada yang akan terjadi. Nibbana bukanlah pikiran, kita tidak dapat hanya memikirkannya, tetapi kita harus merealisasikannya oleh diri kita sendiri. Kita akan tahu bila kita sudah mencapai Nibbana, yang merupakan suatu pengalaman yang tertinggi dan terbaik.

Kemelekatan kepada kepuasan akan harta kekayaan, kekuasaan, penghargaan, nama, kebahagiaan, dan kesenangan, dimulai dari bentuk yang bersifat badaniah atau material (rupa), dan dilanjutkan kepada bentuk yang bersifat non-material (arupa). Sebagian orang tidak menginginkan hal-hal yang bersifat material, tetapi lebih suka yang non-material - ini adalah hal yang amat halus. Jika saya mesti mengajarkan tentang hal-hal yang bersifat non-material ataukeadaan yang tanpa bentuk, itu akan memakan waktu semalam penuh. Hal tersebut dapat diajarkan, tetapi tidak umum/biasa, sehingga kita lewati dulu, dan meneruskan pada praktek yang lebih nyata. Adalah tidak perlu mengetahui banyak tentang "kenon-materialan", kecuali itu adalah keadaan batin yang tidak membutuhkan jasmani atau benda yang nyata. Beberapa orang tidak memerlukan apapun, tak menginginkan apapun, tetapi ia puas dalam ketenaran dan pujian. Kepuasan terhadap kebajikan (punnya) dan menjadi penuh dengan kebajikan adalah juga bagian dari kenon-materialan (immateriality) ini. Tetapi kebajikan/jasa adalah juga tidak pasti.

Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa membangun tempat ibadah yang besar akan menuntun kepada kesempurnaan (parami)dan memperoleh jasa yang amat besar. Beliau mengatakan bahwa untuk memperoleh kesempurnaan adalah tergantung dari praktek terhadap Dhamma. Yang paling baik adalah membangun "keadaan batin di dalam Dhamma" (vihara-dhamma). Keadaan batin tertinggi dalam Dhamma adalah pembebasan dalam Dhamma vimutti-dhamma - yakni "tiada melekat". Tujuan tertinggi adalah bebas dari penderitaan. Membangun rumah atau tempat ibadah bisa jadi merupakan suatu bentuk dari penderitaan jika kita melekat kepadanya. Contohnya, Luang Pu Waen, salah seorang bhikkhu yang terkenal di Thailand, membangun vihara yang besar, tetapi ia tinggal di kuti yang kecil.

Jasmani kita ini dapat diibaratkan seperti sebuah rumah, dan pada akhirnya - sebagai penyewa di dalam rumah - kita harus meninggalkannya. Rumah jasmani kita mempunyai 9 saluran pembuangan, tidak menyenangkan tetapi perlu. Mari kita periksa diri kita sendiri, rambut di atas kepala kita, bulu badan, kuku, gigi, dan kulit - ini semua adalah obyek-obyek yang dapat dipakai sebagai obyek meditasi. Sebagian orang dapat mencapai pembebasan dalam meditasinya hanya dengan memakai obyek rambut.
"Rambut, rambut, berubah menjadi putih.
Jangan bodohi dirimu bahwa hal itu tidak benar.
Suatu waktu ia begitu hitam, dan sekarang sudah mulai memutih;
Dan sekarang kulit kita melentur dan keriput.
Tak peduli bagaimana tekun kita merawatnya;
Kulit kita tetap akan melentur dan menggantung, pada akhirnya".
Jika anda berhasil mengunakan rambut dan kulit sebagai obyek meditasi (kammatthana), maka anda telah lebih dari setengah jalan menuju sukses dalam kemampuan untuk melepas (tidak melekat) terhadap jasmani. Jika anda dapat melakukan hal tersebut, maka untuk melepaskan benda-benda lainnya tidaklah begitu sulit lagi.

Dan, sekarang saya akan mengakhiri khotbah untuk hari ini.

Dikutip dari Buku Harta Yang Mulia
Sumber: Khotbah yang diberikan di Sunnataram Forest Monastery, Bundanoon, New South Wales, Australia, pada tanggal 11 Agustus 1990. ]

Thursday, November 4, 2010

Nilai Kehidupan



Nilai Kehidupan
Oleh: Yang Mulia Phra Ajahn Yantra Amaro


Yang terkasih para Guru, yang mulia para Bhikkhu, Samanera, sahabat dalam Dhamma, dan Anda sekalian yang tertarik dalam melakukan kebajikan; salam hangat untuk semuanya.

Hari ini adalah kesempatan yang istimewa bagi kita semua untuk datang bersama-sama. Hal-hal baik yang kita lakukan sekarang, seperti mempersembahkan makanan dan persembahan-persembahan lainnya kepada para bhikkhu, memohon tuntunan sila, dan mendengarkan khotbah Dhamma ini, adalah suatu perbuatan baik.

Hari ini adalah tanggal 14 Januari 1990, hari keempat dari bulan yang menciut dari bulan kedua lunar, tahun Buddhis 2533. Tahun baru datang dan pergi dengan amat cepat, dan tahun lalu berlalu dengan cepat pula. Seperti halnya tahun-tahun (yang datang dan pergi), hidup kita pun berjalan dalam suatu siklus yang terus-menerus berubah dari bahagia menjadi derita, dari berhasil menjadi kecewa, dari damai menjadi gelisah, semuanya bercampur aduk bersama-sama.

Hari Tahun Baru telah berlalu. Pernahkah anda memikirkan apakah pada waktu-waktu yang telah lewat anda telah melakukan hal-hal yang berarti, atau hal-hal untuk mengembangkan dirimu sendiri? Apakah anda merasakan bertambah baik, atau apakah anda tetap merasakan hidup ini penuh dengan penderitaan, kesukaran, dan problem-problem; tanpa merasakan adanya kedamaian di dalam maupun di luar dirimu?

Marilah periksa diri kita sendiri. Hari ini saya akan memberikan khotbah Dhamma sesuai dengan tema yang telah saya sebutkan di awal khotbah ini, yaitu: Lokapatthambhika metta —cinta kasih menunjang dunia ini. Cinta kasih (metta) merupakan bagian yang amat penting untuk kita menjalani hidup kita. Sang Buddha sangat penuh dengan cinta-kasih dan kasih sayang (karuna). Beliau begitu sudi mengajarkan kita dan menasehati kita bagaimana meningkatkan kesadaran (sati) dan kebijaksanaan (panna) kita, kesetiaan dan keyakinan (saddha) kita, untuk melakukan hal-hal yang benar sehingga kita dapat memperbaiki tingkah-laku kita.

Dunia ini terdiri atas binatang, tumbuh-tumbuhan, dan banyak benda lainnya, seperti misalnya taman, sungai, udara, dan langit. Kita semua adalah bagian dari dunia yang hidup ini. Kita dilahirkan oleh orang tua kita, orang tua kita lahir dari kakek-nenek kita, dan seterusnya hingga waktu yang amat panjang, sehingga kita semua memiliki nenek-moyang di waktu yang sangat lampau, yang mempengaruhi kita hingga kini. Sebagaimana dunia ini mendukung kita dengan udaranya, tanahnya, airnya, dan sebagainya, demikian pula orang tua kita dengan hati-hati dan lembut menjaga kita setelah kita lahir, menyayangi kita, dan baik kepada kita. Jika kita menyadari jasa kebaikan yang besar dari cinta-kasih mereka, kita akan bersikap lebih baik dan menyayangi mereka pula. Cinta-kasih (metta) membawa kebahagiaan, dan dengan demikian kita harus memberikan cinta-kasih kepada orang tua kita. Hal itu akan memperluas kebajikan cinta-kasih kita kepada makhluk-makhluk lainnya, kepada teman kita dan kepada orang-orang yang kita cintai, kita kenal, dan kita hormati. Hal ini akan memperbesar cinta-kasih kita untuk meliputi setiap orang di dunia ini, sama seperti matahari yang menyinari dunia ini tanpa membeda-bedakan areal atau posisi.

Sinar dari matahari yang bersinar dengan merata kemana-mana dengan tanpa pilih kasih, adalah merupakan hal yang nyata dan alamiah dari Dhamma. Bumi menunjang kehidupan manusia dan semua kehidupan di atasnya serta memungkinkan benda-benda hidup lainnya tumbuh dan berkembang. Segala sesuatu yang kita makan dan pakai, berasal dari Bumi ini; demikian pula dengan air yang kita minum atau pakai mandi atau dipergunakan untuk tujuan-tujuan lainnya. Juga tanah, sungai, langit, udara yang kita hidup, serta energi dari matahari, semuanya berasal dari ALAM. Semua benda ini yang disediakan/diberikan oleh alam, memungkinkan kita untuk tetap hidup dan merasa bahagia dan damai.

Matahari memberi penerangan dan menyebabkan angin bertiup; sungai-sungai membuat kita merasa sejuk dan lembab. Semua benda ini membolehkan manusia dan hewan untuk mandi dan minum, serta memungkinkan tumbuh-tumbuhan dan sayur-sayuran tumbuh. Hujan turun, menyejukkan dan menyirami tumbuh-tumbuhan, lalu ia menguap dan kembali ke langit sebagai awan atau mendung, dan kemudian kembali lagi ke Bumi ketika kondisinya tepat. Siklus perubahan yang kita lihat ini mengungkapkan adanya hubungan antara benda-benda alam, yang sangat perlu untuk kelangsungan keberadaannya; tetapi pada umumnya tersembunyi dalam cinta-kasih Alam. Kita dapat melihat matahari bersinar atau hujan turun ke Bumi dengan tanpa meminta bayaran (tanpa pamrih) kepada kita. Alam hanya memberi dan memberi, sepanjang waktu.

Vihara ini terus-menerus menghasilkan atau menumpuk sampah di atas tanah dimana ia berdiri, tetapi tanah tidak pernah mengeluh. Tetapi sebaliknya ia menerima sampah tersebut dengan cinta-kasih (metta) dan keseimbangan (upekkha). Tanah tidak pernah mengeluh atau protes ketika diinjak, ditumbuk, digali atau dibor, tetapi tetap hanya memberi. Apa yang saya ungkapkan ini adalah bahwa ALAM selalu memberi. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah yang telah kita berikan kepada dunia? Bahkan, apakah yang dapat kita berikan kepada diri kita sendiri, sebelum hidup kita ini berakhir?

Hidup adalah tidak pasti. Dengan demikian kita semua yang ada di dalam ruangan ini serta di dunia ini, harus dapat memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan, yaitu cinta-kasih kepada semuanya. Tak seorang pun ingin menderita atau susah, tapi sebaliknya mereka ingin kebahagiaan dan kesuksesan, dan mereka ingin mencapai cita-cita/tujuan mereka. Jika kita menyadari hal ini, maka marilah kita tidak melukai ataupun menyakiti satu sama lain. Semua makhluk mencintai hidup mereka dan diri mereka, maka janganlah kita menyakiti satu sama lain. Sang Buddha mengajarkan perilaku yang baik dan bermoral (sila) untuk membentuk sikap-laku yang bermoral di dunia ini.

Perhatikan dengan seksama apa yang telah saya katakan, tetapi jangan cepat-cepat mempercayainya sampai anda menyelidikinya dengan seksama berulang-ulang kali. Sekali anda telah dapat mengalaminya sendiri, maka anda dapat mempercayainya. Ajaran Sang Buddha adalah suatu Kebenaran, tetapi anda mesti mengalaminya sendiri untuk membuktikannya. Bila kita telah melakukan hal ini, cinta-kasih akan menciptakan kebaikan (kusala) di dalam diri kita. Maka kemudian kita tak akan melukai atau membunuh makhluk/orang lain, juga tidak mencuri dari mereka, dan bahkan kita tidak akan berpikir untuk melakukan hal tersebut. Bila kita dipenuhi oleh pikiran-pikiran baik dan cinta-kasih, maka kita tak akan pernah berbuat salah, juga tak melakukan perzinahan.

Apabila kita memperhatikan perbuatan melalui ucapan (menghindari kebohongan, kata-kata yang tidak baik dan kasar, serta obrolan kosong), jika kita memiliki kebaikan cinta-kasih (kusala-metta), kita tak akan pernah berkata kasar, sindiran, ataupun ucapan yang menghina, ataupun bergosip. Kita akan menghindari ucapan/kata-kata seperti itu secara total. Bila kita dikaruniai oleh Dhamma, perbuatan jasmani dan ucapan akan dikendalikan oleh kebajikan moral (sila). Kebajikan moral hadir di dalam setiap orang yang duduk dengan tenang di sini. Ketika pikiran anda tenang dan damai, perbuatan jasmani dan ucapan anda akan baik, apakah sebelum atau sesudahnya anda mengucapkan Pancasila (sila-sila) atau tidak. Tetapi saya tidak dapat menjamin kebajikan moral tersebut akan tetap ada bersama anda setelah anda meninggalkan tempat ini.

Ketika kita diam dan tenang, yakni ketika kita mempunyai kebajikan moral, ia secara alamiah akan muncul di dalam diri setiap orang. Pada saat ini, ketika kita normal, tenang, dan damai, itu adalah kebajikan (kusala). Hal itu bukanlah melampaui kemampuan kita untuk mempraktekkannya dalam mencapai kebenaran. Sifat-sifat murni di dalam diri kita masing-masing ini adalah mudah ditembus dan dipahami. Sang Buddha menyebut hal ini sebagai SILAM, kenormalan. Orang yang normal adalah tenang dan damai di dalam perbuatan jasmani, pikiran, dan ucapannya. Orang yang tidak normal adalah gelisah dan tiada kedamaian di dalam jasmani, pikiran, dan ucapannya.

Kegelisahan adalah tidak normal, dan apapun yang menyebabkan batin menderita akan menyebabkan jasmani menderita pula. Anda dapat memperhatikan hal tersebut. Bila seseorang sedang marah atau serakah, mata mereka menjadi makin lebar, dan berubah menjadi hijau atau merah. Bila seseorang sedang terpedaya, mata mereka akan kelihatan aneh, seolah-olah sesuatu sedang menutupinya sehingga mereka tak dapat melihat dengan semestinya; dengan demikian mereka salah mengerti. Apapun yang coba mereka lakukan, cenderung menjadi salah, dan bila mereka berbicara, kata-kata yang tak benar akan keluar tanpa sengaja. Batin mereka dipenuhi oleh kekotoran/noda (kilesa). Maka oleh karena itu, Sang Buddha menyarankan kita untuk selalu menjaga batin/pikiran kita, agar selalu sadar (sati) pada saat sekarang. Dengan kesadaran sedemikian, kita dapat mengontrol diri kita sendiri, perbuatan-perbuatan kita, ucapan-ucapan kita, dan pikiran-pikiran kita, yang harus dengan hati-hati kita awasi. Ingatlah dengan tugas kita, bahwa dengan dilahirkan, kita harus memikirkan orang lainnya dan berusaha untuk mengerti apa yang kita lakukan, dan lakukanlah sebaik-baiknya. Berusahalah untuk melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan.

Siapapun juga mempunyai suatu tugas untuk dilakukan, misalnya berdana atau bermurah-hati, lakukan itu dengan usaha terbaikmu. Itu adalah kewajiban sehari-hari untuk engkau lakukan. Jika anda adalah orang tua, jadilah orang tua yang baik. Anda tentu tahu apa artinya itu, yaitu menjaga dan merawat anak-anak anda, mendukung dan membimbing mereka pada jalan yang benar, jalan yang terang, jelas, dan penuh dengan kebajikan (sila-dhamma). Bimbing mereka kepada terangnya jalan Dhamma. Ajarkanlah Dhamma kepada anak-anakmu.

Sebagai anak, kalian harus menjadi keturunan yang terbaik dari orang tuamu, dengan tidak menyebabkan orang tuamu susah, cemas, atau kecewa terhadap kelakuanmu; dengan tidak malas, tetapi dengan membantu mereka bilamana diperlukan. Para guru, kalian harus melakukan yang terbaik untuk murid-muridmu, dengan mencintai mereka, baik kepada mereka, membimbing mereka dengan memberi petunjuk pada mereka jalan yang benar. Para murid, kalian harus melakukan yang terbaik untuk membuat guru kalian gembira, dengan bersikap-laku yang baik, dengan berlaku sesuai dengan Dhamma yang baik yang diajarkan oleh gurumu. Ini adalah tugas-tugas kalian.

Benda-benda alam juga mempunyai tugas mereka masing-masing. Sesuatu yang lahir tanpa tugas/kewajiban, tidak memiliki Dhamma. Jika orang tua tidak melakukan kewajiban mereka, misalnya jika mereka mengakibatkan anak-anaknya dan membiarkan mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan, orang tua demikian bukanlah manusia yang patut dihormati. Bahkan binatang pun mencintai anak-anak mereka. Beberapa orang tua mengabaikan anak-anaknya dan tidak sepantasnya disebut manusia. Mereka hanya berwujud/tampak sebagai manusia, tetapi di dalamnya kita tidak tahu mereka itu sebagai apa. Mereka mungkin saja hantu, raksasa, atau setan/iblis (mara). Saya belum pernah melihat hantu atau raksasa sungguhan, tetapi saya telah pernah melihat setan/iblis di dalam hati manusia; setan dari keserakahan, setan kekhayalan, kekejaman, dendam, dan kemarahan. Setan jenis ini adalah lebih berbahaya daripada setan sungguhan. Saya belum pernah mendengar setan/hantu yang menakut-nakuti atau memperdaya manusia lainnya.

Hampir setiap hari hal semacam ini terjadi, muncul diberitakan di koran-koran. Kadang-kadang hal itu terjadi langsung kepada dirimu, kamu tak perlu membacanya di koran. Kadang-kadang kakak adik saling memaki atau menyumpah-nyumpah, dan bila setan ini telah merasuk, mereka menjadi sangat marah dan salah mengerti satu dengan lainnya. Saya menyebut setan jenis ini adalah setan dari pikiran, misalnya setan kilesa, setan yang mengerikan, setan kemarahan, atau setan kemalasan, dan saya tak ingin bertemu dengan mereka semua. Saya nasehatkan anda untuk berusaha menghindari mereka pula.

Terdapat cara untuk melindungi dirimu sendiri dari setan-setan ini, yakni: Lakukan Kebajikan, maka setan akan takut. Berucaplah dengan benar, maka setan akan takut. Sebaliknya bila berpikir jahat, maka anda akan dimakan oleh setan. Ini adalah metode yang sederhana. Lakukan seperti apa yang saya katakan, yaitu berpikir atau berkata yang baik dengan penuh cinta-kasih, kebajikan, dan kasih sayang. Maafkan dan lupakan, serta berusahalah untuk menolong orang lain. Jika engkau lakukan itu, setan-setan akan takut kepadamu dan, hati dan pikiranmu akan menjadi benar dan baik. Setan-setan tidak menyukai kebajikan, dengan demikian mereka harus pergi. Jika kebajikan berlalu dari diri kita, setan-setan akan kembali. Jadi kita harus tetap mempunyai kebajikan di dalam hati kita, dan berpikir tentang kebajikan Sang Buddha. Sang Buddha penuh dengan kesabaran, toleransi, kebijaksanaan, dan kebajikan kepada semua makhluk hidup, terutama makhluk manusia; dan dengan tanpa lelah memberikan cinta-kasih-Nya yang murni, Kasih-sayang dan Pengetahuan tertinggi dari Dhamma. Setelah mencapai Pencerahan, Beliau menyalakan lampu/cahaya yang terang untuk membimbing orang-orang di seluruh dunia, dan untuk membangkitkan cahaya di dalam hati manusia. Pada khususnya, mereka yang memiliki debu di matanya, tidak dapat melihat cahaya hidup dengan baik, tetapi jika mereka mengikuti jejak Sang Buddha, mereka akan melihat jalan untuk menjalani hidup mereka, jalan untuk mencapai kesempurnaan, kedamaian, dan kebahagiaan. Itu tergantung dari apakah mereka/kita melaksanakan ajaran-ajaran-Nya atau tidak.

Hidup kita secara berangsur-angsur memburuk sepanjang waktu. Tahun demi tahun berlalu dan tahun yang baru datang dengan cepat, usia kita bertambah tua, dan sisa usia hidup kita tinggal semakin sedikit. Anak-anak tumbuh dan menjadi remaja, dan kemudian menjadi pria atau wanita tua.

Saya pun semakin menua. Tiada seorang pun dari kita yang akan menjadi makin muda. Kita semua menjadi makin tua dan loyo. Suatu saat kita mesti meninggalkan semuanya. Sebagian orang dapat menerima hal itu dan berusaha melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan sebelum hidup berakhir. Seperti kita makin berkurang, tetapi apa yang bisa kita dapatkan/hasilkan dari itu (berkurangnya hidup kita itu)? Hidup yang masih tersisa untuk kita terus berkurang, lebur bersama berlalunya sang waktu dan kejadian-kejadian setiap hari. Apakah kita (telah) menghasilkan hal-hal yang bermanfaat atau berguna? Apakah akan ada suatu kebajikan, kedamaian, atau keteduhan di dunia untuk generasi yang akan datang?

Dhamma yang diyakini dan dianut oleh orang-orang adalah yang paling terpuji dari semua ajaran. Setelah anda membersihkan diri anda dari semua noda dan menemukan pencerahan yang besar, kebajikan, ketenangan, kedamaian, dan mencapai kesejukan, yang memberimu pikiran yang murni dan perasaan yang ringan dan damai.

Ini adalah pencapaian tertinggi dari makhluk manusia. Kita semua seharusnya mewariskan paling sedikit satu hal manis/berarti di dunia ini. Cobalah tanyakan dirimu sendiri, apa yang dapat engkau wariskan? Meskipun kita tidak memiliki sesuatu yang lebih berarti dibandingkan dengan Sang Buddha atau orang-orang suci lainnya, cobalah temukan sesuatu yang berarti atau bermanfaat untuk menghasilkan kebahagiaan bagi dirimu sendiri di dalam hidup ini. Jangan menyiksa diri dengan hidup dalam kegelisahan atau kebingungan di sepanjang hidupmu.

Saya yakin bahwa seseorang tidak berusaha untuk mengerti dan melaksanakan Dhamma, maka meskipun ia memiliki kekayaan, kedudukan, kehormatan, ketenaran, dan sebagainya —singkatnya: kebahagiaan duniawi— ia tetap akan merasa tidak bahagia, susah, dan gelisah di dalam hati.

Tidak ada kebahagiaan yang nyata, kecuali jika kita memiliki Dhamma dan kedamaian di dalam diri; bila tidak, itu adalah kebahagiaan yang palsu/semu. Saya akan menyebutnya sebagai kebahagiaan yang dibungkus penderitaan, atau kebahagiaan bohong-bohongan. Ada kebahagiaan karena makan (kin), melakukan hubungan sex (kam), dan memiliki ketenaran (kiat), karena kesenangan sementara dari suara/bunyi, bebauan, rasa kecapan, rasa sentuhan, dan emosi. Itu adalah kebahagiaan dari kesenangan duniawi, yang disebut ekses/variasi ("suk"), yang berbeda dari kebahagiaan sejati ("sukh"). "Suk" berarti memasak/matang, tetapi "sukh" adalah kebahagiaan yang datang dari Dhamma, kebahagiaan yang datang dari cinta kasih, dari kasih sayang, dari rasa simpati, dan dari keseimbangan. Itu adalah kebahagiaan yang datang dari pandangan terang dan kebijaksanaan kita sendiri.

Saya tidak menyangkal bahwa terdapat kesenangan dalam bekerja untuk mendapatkan uang, memiliki uang, dan membelanjakannya. Itu adalah perbuatan yang benar untuk dilakukan, dan saya tidak anti/menentangnya. Tetapi kekayaan semacam itu adalah tidak kekal. Dhamma mengajarkan bahwa hal-hal duniawi terjadi secara berpasangan: bila sesuatu terlahir, maka ia akan mengalami kematian; apapun yang kita miliki, akan hilang; apapun yang berjumpa akan berpisah. Tak suatu pun yang tetap. Suatu hari kita akan meninggalkan semuanya. Kematian adalah hal yang pasti terjadi. Tapi dalam pada itu, kita tetap membutuhkan benda-benda duniawi, karena kita adalah manusia biasa/awam. Kita tetap harus bekerja untuk mendapatkan uang, untuk meraih kemakmuran, keberuntungan, kekuasaan, dan ketenaran. Tak ada salahnya jika kita bekerja untuk memperoleh hal-hal tersebut, tetapi jangan sampai dikelabui oleh mereka. Cobalah mengertikan ketidak-kekalan mereka, dan kemudian lepaskan (jangan melekat). Ketahuilah bahwa pada akhirnya, suami tercinta kita, istri, anak-anak, dan kekayaan kita akan berubah.

Sang Buddha bersabda "Sabbe sankhara anicca": semua benda yang terbuat dari benda-benda lain yang mendahuluinya, adalah berakhir dengan ketidakkekalan. Beliau bersabda: "Sabbe sankhara dukkha": semua kondisi adalah bentuk dari penderitaan dan ketidakpuasan. Tak ada suatu apapun sebagai kebahagiaan yang abadi, tetapi terdapat penderitaan di dalam hidup ini. Bila kita merasa sakit pada kaki kiri, kita mengubah posisi kita, sehingga kaki kanan yang menggantikannya. Bila kita duduk, mula-mula kita duduk dengan tegak, tetapi tidak berapa lama kita mulai terkulai/melengkung. Ketika kita menyadarinya, kita menegakkan lagi badan kita, tetapi tak lama kemudian kita terkulai lagi. Suatu hari kita akan terkulai/merosot turun dan tak mampu lagi menegakkan diri kita. Kematian pun semakin mendekat. Apakah batin kita sudah siap menerima hal itu? Apakah kita pernah memikirkan bahwa suatu hari kita akan mati? Suatu hari kita harus meninggalkan anak-anak tercinta kita, istri atau suami kita, dan sahabat-sahabat kita. Jika kita memiliki Dhamma sebagai tempat berpegang dan menjadi pelindung kita; yakni perbuatan-perbuatan baik, kedamaian, ketenangan, dan kebebasan dari noda-noda, maka kita tidak akan cemas ketika kita pergi/mati. Kita akan pergi dengan damai dan puas, karena kita selalu melakukan perbuatan baik dengan cinta kasih, dan itu akan memberikan kita kebijaksanaan untuk melewati penderitaan. Kita akan bahagia sewaktu masih hidup, dan akan bahagia serta siap ketika kita akan mati. Jadi, perbuatan-perbuatan baik (kusala-kamma) memberikan kita kebahagiaan yang kekal/abadi.

Kita mesti tak boleh menyerah, tetapi berusahalah untuk berhasil.
Batin yang tajam, mengetahui terdapat sebab dari setiap perbuatan;
Kembangkan kebajikan dan berpikirlah dengan penuh perhatian.
Dan kemudian lepaskan ketika lagi tenang dan sadar.
Kita dapat membebaskan diri kita dari karma buruk kita.
Dan membawa diri kita kepada kebahagiaan dalam Dhamma.
Kita dapat hidup berdampingan dengan penderitaan, tetapi tidak merasa menderita.
Mengalami usia tua, merupakan sahabat kita.
Kesakitan dan kematian tak lagi membuat kita cemas.
Pada akhirnya kita akan hidup menyatu dengan Dhamma.

Dengan mengingat ketidakkekalan dan bagaimana benda-benda selalu berubah; kekayaan/kemakmuran dapat menjadi kemiskinan, ketenaran menjadi tidak dikenal, kekuasaan menjadi ketidakberdayaan. Dhamma mengajarkan kita bahwa perubahan-perubahan ini adalah alamiah/wajar.

Sang Buddha mengajarkan kita untuk selalu sadar dan waspada (sati), dalam memeriksa benda-benda atau hal-hal dengan hati-hati hingga kita dapat melihat mereka sebagaimana mereka adanya, dan tidak terganggu ketika hal-hal yang tidak menguntungkan itu terjadi. Kita dapat melihat di atas kepicikan, mendengar di atas bujukan, dan bila kita dipuji kita tidak terlambung seperti balon yang menggelembung. Balon melambung tinggi hingga suatu saat ia mengempis dan meluncur turun —seperti bila kita disalahkan. Satu waktu kita bangkit, saat lain jatuh; naik-turun; besar-kecil; terang-gelap; merasa enak-tidak enak; manusiawi-tidak manusiawi. Pikiran kita selalu seperti itu.

Sang Buddha berusaha mengajarkan kita untuk menjadi sadar (sati) dan memperlihatkan cinta-kasih (metta). Hari ini saya memberi penekanan pada Metta, karena itu sangat penting. Bila kita mempunyai cinta-kasih di hati, kita merasa tenang dan tentram. Selalulah bersedia untuk mendoakan setiap orang dan setiap makhluk agar hidup tentram, sejahtera, dan bahagia, serta mengembangkan kebajikan anda melalui jasmani dan ucapan. Orang yang baik hati selalu sopan, ramah dan halus budi bahasanya, dan ini membuatnya mudah bagi arus cinta-kasih mengalir keluar dari diri mereka. Cobalah berusaha untuk selalu menjadi seperti itu.

Orang yang baik adalah ramah dan lembut, tidak kasar, kaku, atau keras, dan berusaha menjadi baik serta membantu semua makhluk. Bahkan kepada orang yang tidak menyukai kita dan ingin menyakiti kita, kita juga harus selalu memberikan cinta-kasih. Adalah mudah untuk bersikap baik/manis kepada orang yang baik dan disayang. Bagaimanapun, jika seseorang sedang gelisah atau marah, kita cenderung akan seperti itu pula, dan kemudian kita menderita pula. Berusahalah untuk memaklumi dan melihat benda-benda sealamiah yang dapat engkau lakukan. Suatu cara untuk memelihara dan mempertahankan cinta-kasih di dalam hati adalah dengan selalu sadar (sati) dan mengingat: Tiga Karakteristik (Tilakkhana) atau Tiga tanda dari makhluk, yang juga disebut Karakteristik yang Lazim, yakni: Ketidakkekalan (aniccata); keadaan penderitaan (dukkhata); dan tanpa-aku/diri (anattata). "Sabbe dhamma anatta": Tiada suatu apapun yang tetap permanen atau kokoh. Kita tidak dapat memaksa jasmani kita sendiri untuk melakukan apa yang tak dapat mereka lakukan. Lalu mengapa anda ingin mengendalikan orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan ini atau itu, tidak berucap seperti ini atau itu? Jika kita tak dapat mengendalikan diri kita sendiri, jangan coba-coba untuk menyuruh orang-orang melakukan apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana seharusnya mereka bersikaplaku. Kita seharusnya memperhatikan atau mengurus urusan kita sendiri dan mengembangkan kebajikan kita sendiri. Fenomena/kejadian yang di luar bergantung pada kondisi dan faktor alam, tetapi yang di dalam diri kita, kita dapat mengarahkan pikiran kita untuk menjadi tidak menderita atau cemas. Berusahalah untuk menolong orang lain sebanyak yang mungkin anda lakukan dengan menggunakan cinta-kasihmu. Jika kita benar-benar tenang, orang yang tak menyenangkan mungkin bisa menjadi baik, dan mereka yang sedang dalam kesulitan akan menjadi lebih tenang. Kabanyakan atau sebagian besar dari waktu, kita tidak cukup dapat melepas dan bila orang-orang lain marah kita menjadi ikut marah pula; ketika mereka menyumpah-nyumpah atau memaki-maki, kita ikut menyumpah-nyumpah atau memaki-maki balik, dan menjadi semakin sengit terhadap satu sama lain. Panasnya kemarahan melukai kita pertama sebelum melukai orang lain. Ketika orang lain marah, kita tak seharusnya ikut menjadi marah. Siapa yang paling menderita? Mereka yang marahlah yang paling menderita.

Bila anda memberikan saya makanan dan saya tidak memakannya, ia akan tetap tak tersentuh, dan jika anda tidak "merelakannya", itu akan membebanimu untuk membawanya pulang, bukankah demikian? Demikian juga jika anda memberikan saya sesuatu dan saya tidak menerimanya, jika anda memaki saya saya mengabaikan kata-katamu. Jika kita mengabaikan kata-kata buruk dan orang-orang yang tidak memuaskan, berapa lama mereka dapat bertahan/tetap marah? Jika seseorang terus-menerus memaki kita, rahangnya pada akhirnya akan sakit, dan ia pun akan berhenti.

Jangan meladeni kemarahan. Janganlah memberi perhatian dan engkau tak akan menderita. Berkonsentrasilah pada kebajikan cinta-kasih dan kasih-sayang Sang Buddha terhadap semua makhluk. Jika kita mulai merasa akan marah, cobalah untuk merenungkan kata "Bud-dho", yang berarti "sadar", "mengerti", "seseorang yang tanpa noda (kilesa)", atau "Yang Maha Sempurna" (Sang Buddha). Berusahalah untuk menenangkan pikiranmu, hormatilah Sang Buddha, kemudian duduk dan bermeditasilah. Praktekkan meditasi cinta-kasih setiap hari sebelum anda pergi tidur atau pada saat bangun pagi. Anda akan berangsur-angsur menjadi orang yang baik, dan kemarahan serta keinginan untuk balas dendam yang biasanya mengisi batinmu akan berkurang dan akhirnya lenyap. Maafkan mereka yang biasa anda murkai/marahi, dan berusahalah untuk melihat sisi buruk dari akibat marah.

Sang Buddha berkata, "Ketika seseorang (menjadi) marah, dia telah (menjadi) bodoh, dan jika kita menjadi marah juga, kita adalah menjadi double bodoh". Dengarkan baik-baik. Ketika seseorang menjadi marah, mereka telah menjadi tidak bahagia, dan bila balik marah kepada mereka, hanya menambah banyak ketidakbahagiaan. Setiap saat kita marah, kita membakar diri kita. Kita tidak usah atau tidak perlu marah. Sekali waktu seseorang menyarankan bahwa bila kita marah, kita harus melakukan meditasi cinta-kasih. Tetapi kadang-kadang adalah tidak mungkin melakukan hal ini ketika kita sangat marah. Pikiran-pikiran cinta-kasih menghilang (lenyap) pada saat ini. Jadi apa yang dapat kita lakukan adalah mengumpulkan kesadaran (sati) kita dan mengendalikan tindakan jasmani dan ucapan kita dengan pikiran yang bermoral (sila), sehingga meskipun di dalam kita masih mendidih, minimal kita dapat menyetop keakuan yang di luar.

Jika orang-orang menunjukkan sikap-laku buruk, misalnya, anak-anak anda bandel, atau tidak memuaskan, atau iri-hati, atau menyakitkan hati, atau tidak menghormatimu, itu tidak akan menjadi masalah bagimu jika engkau memiliki kesadaran dan berusaha mengendalikan dirimu, serta mengetahui dengan perhatian-murni (kesadaran) keadaan saat ini. Ini amatlah penting. Kebanyakan dari kesukaran atau masalah kita disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam mengendalikan diri kita. Seluruh dunia mempunyai masalah karena kita tak dapat mengendalikan diri kita sendiri. Bahkan meskipun kita mengaku kita seorang Buddhis dan mencoba mengikuti jejak Sang Buddha dan berusaha untuk tidak marah, kita tetap menjadi marah. Saya menyuruh diri saya sendiri untuk tidak lekas marah dan tidak lekas naik darah, tetapi saya tetap begitu. Jika kita tidak berusaha keras untuk mengendalikan diri kita, kita akhirnya akan menjadi orang yang menimbulkan masalah. Akhirnya itu menjadi suatu kebiasaan, dan kita menimbun semakin banyak kekotoran batin (kilesa).

Sebagian orang menuruti kehendaknya sendiri, misalnya orang tua yang memberikan kebebasan total kepada anak-anaknya bergaul bersama teman-temannya, memberikan anak-anak mereka apa saja yang diinginkan. Mereka tumbuh menjadi anak yang manja, dan bila seseorang mencampuri keinginannya, atau ia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, ia akan merasa kecewa dan menderita. Jadi kita harus mengendalikan, menyelidiki, dan memeriksa diri kita sendiri, dan kemudian berusaha untuk melenyapkan kekotoran batin. Cobalah dan kurangi tidur, cobalah dan kurangi makan (hanya sebanyak yang engkau perlukan untuk hidup), cobalah dan kurangi bicara, serta perbanyak latihan. Berkorban lebih banyak, dan kembangkan lebih banyak cinta kasih dan belas kasihan. Jika ada sesuatu yang dapat kita berikan, berikanlah. Jika ada sesuatu yang dapat kita lepaskan, lepaskanlah ia. Berkorban adalah hal yang mulia untuk dilakukan. Ia membantu meringankan batin kita dan membawa kepada persahabatan yang lebih awet/kekal. Dunia akan selamat jika kita mendukungnya dan bermurah-hati satu sama lain serta menghentikan kebencian dan keakuan/keegoisan.

Dalam pengertian yang sesungguhnya, tidak ada yang disebut orang Indian, Thai, China, Barat, atau Lao, tetapi hanya teman atau sesama yang sama-sama berbagi penderitaan dalam kelahiran, usia tua, kesakitan, dan kematian. Setiap orang ingin sekali bebas dari penderitaan. Orang-orang Barat bertanya kepada saya, "Agamamu apa?" Saya jawab, "Agama saya adalah cinta-kasih, belas-kasihan, dan memahami orang lain". Saya juga berusaha untuk mengerti fenomena alam, karena bila kita benar-benar mengerti dengan jelas kita tidak akan menggenggam kepada segala sesuatu dengan kuat, tetapi hanya membiarkan hal-hal terjadi sesuai dengan keadaan mereka.

Kita harus mengembangkan cinta kasih kita sebelum kita berangkat tidur dan ketika bangun pagi, untuk memberikan kita fondasi yang mantap untuk hidup kita. Cobalah kalian semua, sebelum berangkat tidur dan hal pertama ketika terjaga/bangun pagi, menghormatlah kepada Sang Buddha dan renungkanlah akan kesempurnaan kebajikan Beliau; kepada Ajaran-Nya yang menuntun kita kepada kesucian; kemudian kepada Sangha, para bhikkhu yang meneruskan ajaran Sang Buddha. Kemudian renungkanlah cinta-kasih orang tua kita dan guru-guru kita terhadap kita —cobalah berkonsentrasi dan berpikir dengan dalam di dalam hati. Bercita-citalah untuk menjadi baik dan penuh cinta dan kasihan kepada semua makhluk hidup. Kemudian renungkan "Bud-dho" di dalam hatimu, dengan setiap nafas yang masuk dan keluar. Berusahalah menarik nafas dalam yang panjang dan perlahan, dan menghembuskan nafas yang panjang dan perlahan. Marilah kita mencoba dan melakukannya.

Pada orang-orang yang mempunyai semangat tinggi, batinnya diperkaya dengan kegairahan (piti) dan dengan kesetiaan dan keyakinan (saddha), dengan demikian cinta-kasih meningkatkan kemampuan untuk bekerja lebih baik dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan. Itulah yang Sang Buddha lakukan untuk meneruskan mengajar tanpa lelah hingga Beliau meninggal dalam Parinibbana. Beliau tidak pernah dibayar dari mengajar, Beliau lakukan itu dengan cuma-cuma (gratis). Beliau tidak mengajar untuk mencari kekayaan, kedudukan, kekuasaan, penghargaan, atau nama/ketenaran, karena Beliau tidak memiliki kekotoran batin (kilesa) lagi. Pemberian-Nya adalah pemberian yang murni, seperti aliran sungai yang mengalir terus-menerus dari sumber air, yang lebih kuat daripada arus manapun di dunia ini; seperti lautan yang tak pernah kering, seperti cahaya yang bersinar sepanjang waktu dan lebih kuat dari sinar Sang Fajar. Beberapa aliran sungai mengering pada suatu waktu, tetapi cinta-kasih dan kasih-sayang Sang Buddha tidak pernah kering, meskipun ia menyebar jauh dan luas. Aliran-aliran sungai di dunia hanya dapat mengalir pada tempat-tempat tertentu, tetapi cinta kasih Sang Buddha mengalir di mana-mana. Beliau senantiasa memaafkan mereka yang jahat, dan kepada mereka yang miskin Beliau memberikan cinta kasih yang tak terbatas.

Adalah suatu kisah tentang Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha. Devadatta ingin membunuh Sang Buddha dan mengambil alih tempat-Nya, tetapi tidak berhasil ia lakukan. Biarpun demikian, Sang Buddha memaafkannya dengan cinta kasih-Nya, seolah-olah Devadatta adalah anak-Nya sendiri (Rahula). Berapa banyakkah orang yang dapat melakukan hal tersebut? Adalah suatu hal yang sangat sulit. Adalah mudah memberi kepada orang yang manis yang kita cintai, tetapi sangat sulit untuk memberi kepada orang yang tidak kita senangi —batin dan jiwa/semangat kita tidak cukup besar untuk itu. Sang Buddha selalu penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang serta memaafkan dengan hati-Nya yang penuh cinta yang murni.

Marilah kita memikirkan semua makhluk yang lahir di dunia ini yang sama-sama berbagi dalam kelahiran, usia tua, kesakitan, dan kematian. Jika seseorang telah melakukan suatu kesalahan atau kekeliruan, itu adalah disebabkan karena karma sedang berbuah. Itulah mengapa dia tidak dapat melihat atau bertindak dengan semestinya. Cobalah maafkan dia, dengan mengerti bahwa pada dasarnya setiap orang adalah baik dan berusaha untuk menjadi baik, tetapi kekotoran batinnya (kilesa) mencegahnya untuk menunjukkan sifat baik alamiahnya. Maka, seharusnyalah dia dimaafkan.

Hari ini kalian datang untuk memberikan persembahan (dana). Bila anda pulang ke rumah, cobalah berniat untuk memaafkan setiap orang dan setiap makhluk, serta mengembangkan cinta-kasih dan kasih-sayangmu lebih banyak lagi. Berniatlah untuk memberikan sesuatu yang belum pernah engkau berikan sebelumnya. Coba perhatikan seekor ular —ketika ia berganti kulit dan melepaskan kulitnya, ia tumbuh makin besar. Demikian pula sama dengan kita, jika engkau perhatikan dengan seksama, engkau akan melihat bahwa kita melepaskan lapisan paling luar dari kulit kita setiap pagi. Juga sebuah pohon, setelah ia menggugurkan daun-daunnya, tumbuhlah daun-daun yang baru. Pernahkah engkau melihat tanaman anggur? Apabila petani ingin ia tumbuh dengan baik, petani harus memangkasnya, maka kemudian ia memproduksi tandan-tandan anggur yang baru dengan amat lebat dan cepatnya. Semakin pelit anda, semakin kecil dan pendeklah anda tumbuh; sebaliknya, semakin memenangkan persahabatan dan kebahagiaan. Pernahkah anda merasa lebih bahagia dibandingkan setelah anda memberikan sesuatu?


BUNGA DI DALAM HATI

Apakah tidak benar bahwa bila kita melakukan perbuatan berjasa, kita merasa bersemangat (piti)? Kita merasa sangat bahagia, seperti bila kita memegang sekuntum bunga yang harum semerbak atau bila kita membawa bunga melati dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Jika kita menaruh bunga-bunga ini di dalam kamar, kamar menjadi harum, tetapi hanya saya sendiri yang menikmatinya. Akan tetapi, jika saya menaruhnya di depan altar Sang Buddha, setiap orang dapat mencium bau harumnya dan berbagi rasa di dalam kegembiraan/kebahagiaan, dan jika terdapat cukup bunga untuk ditaruh di sekelilingnya, saya juga akan melakukannya. Tidak menjadi masalah memang, apabila saya menyimpan semua bunga untuk diri saya sendiri, tetapi itu tidak memberikan kegembiraan/kebahagiaan sebanyak apabila ia dibagi-bagikan. Namun jika saya memberikan satu untuk setiap orang dari kalian, maka tiap-tiap bunga akan mekar di dalam hatimu, dan bila saya berjumpa lagi denganmu —setelah bunga yang sesungguhnya telah lama layu— bunga di dalam hatimu akan tetap segar dan harum semerbak. Setiap saat kita bertemu, kita akan ingat bahwa sekali waktu saya pernah memberimu bunga, dan akan mengingat bunga yang harum. Ini bukan berarti bahwa bila anda memberi saya bunga, maka anda akan menerima bunga pula sebagai balasannya. Semua itu berarti bahwa menyimpan sekuntum bunga untuk diri sendiri adalah sangat terbatas dan sempit. Jika kita membagi bunga-bunga tersebut untuk yang lainnya, ini akan memperbesar pahalanya. Bunga yang sesungguhnya tidak dapat bertahan lama dan akan layu hanya dalam beberapa hari, tetapi bunga di dalam hati dan kebajikan yang kita bagi kepada yang lainnya, memiliki arti atau nilai yang lebih dalam dan bertahan lebih lama.

Pada zaman dahulu kala, seorang bijaksana bertanya, "Jika kita hanya memiliki seekor ikan, bagaimanakah cara kita untuk membuatnya bertahan lama?" Seandainya anda pergi ke sebuah pasar desa dan membeli seekor ikan. Desa itu memiliki 7 buah rumah yang berdekatan. Bagaimanakah caranya agar kita semua dapat menikmati ikan tersebut dan juga membuatnya bertahan lama? Beberapa orang menjawab agar diasinkan, ada yang mengatakan agar dikeringkan, ada yang mengatakan diasapi, dan lain-lain. Saya tidak yakin bahwa cara-cara tersebut dapat membuatnya bertahan lama. Kita harus memasaknya dan kemudian membaginya kepada semua tetangga. Apabila kita memiliki lebih daripada yang mereka miliki, kita harus memberikannya kepada mereka. Bahkan jika mereka tidak pernah membalas pemberian kita, kita seharusnya tetap memberi kepada mereka, karena siapakah yang betah/tahan untuk terus-menerus menjadi di penerima saja?

Jika kita memberikan makanan kepada tetangga, belakangan kita mungkin akan menerima balasan berupa makanan yang lebih enak atau yang berbeda dalam rasa, atau variasi yang lebih besar, akibat dari pemberian kita. Sang Buddha berkata, jika engkau memberikan orang lain kebahagiaan, maka kebahagiaan akan berbalik kepada anda. Bila kita mencintai atau baik kepada orang lain, kita akan bahagia nantinya (sebagai balasannya). Pikiran yang selalu berkeinginan untuk memberi adalah lebih bahagia daripada pikiran yang berkeinginan untuk menerima. Kita mendapatkan yang sama bila kita hanya berpikir untuk memberi.

Bila anda memutuskan untuk membuat persembahan atau pemberian pada hari ini, anda memulainya dengan keyakinan (saddha), kemudian merasa senang/gembira (piti) ketika anda melakukannya. Kebajikan (punnya) telah dimulai sebelum anda tiba di sini. Ia dimulai sejak anda menyiapkan nasi dan menaruhnya di dalam nasi, dengan saus, sayur-sayuran, dan lain-lain. Rasa gembira (piti) sudah dimulai ketika anda mulai berpikir untuk mempersembahkan dana, dan berlanjut ketika anda mempersiapkannya, dan makin berkembang setelah anda mempersembahkannya. Kebajikan (kusala) menghidupi/merawat kita sepanjang waktu, khususnya bila kita melakukannya dengan tindakan yang murni, ucapan murni, dan pikiran murni (seperti misalnya tidak mencuri atau membunuh dalam membuat persembahan (dana). Persembahan dana adalah pemberian yang murni. Ia menimbulkan kegairahan (piti) pada diri si pemberi, dan setelah itu diberikan, tidak menimbulkan kecemasan.

Sebagian dari kalian, sesudah memberikan hadiah, terus merasa kuatir, "Saya kuatir apakah ia akan memberiku hadiah sebagai balasannya pula?" Beberapa orang mengharap lebih banyak dapat memperoleh balasan daripada yang telah ia berikan; misalnya memberi persembahan dana kemudian berharap dapat memenangkan lotre/undian jutaan dolar. Mari kita perhatikan hal ini; bila seseorang ingin memperoleh lebih banyak daripada yang ia berikan, itu menunjukkan bahwa di dalam batinnya hanya ada keserakahan. Kita tidak dapat menyetop orang-orang untuk berharap, seseorang dapat berharap apa saja yang diingininya, tetapi hasilnya akan tergantung pada kondisi-kondisi, pada berapa banyak kebajikan (kusala) yang telah ia lakukan, dan pada kesempurnaan Dhamma (parami). Jadi, kebersihan suatu harapan atau keinginan tergantung pada banyak faktor.

Kita dapat berharap, misalnya "semoga saya bahagia, sejahtera, damai, tenang di dalam Dhamma; semoga semua makhluk hidup bahagia dengan perbuatan-perbuatan baik saya, dan semoga kita semua terhindar dari bahaya, dengan kekuatan jasa (punnya) dan kebajikan (kusala)". Adalah cukup pantas untuk meminta Sang Triratna (Ratanattaya: Sang Buddha atau Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna; Doktrin-doktrin Dhamma; dan Sangha atau para bhikkhu) untuk menjadi pelindung kita, dan kemudian kita akan tentram dan bahagia, dan bebas dari kecemasan, tidak seperti orang yang masih kuatir apakah jasa/pahala tersebut akan benar-benar datang.

Kita tidak seharusnya kuatir ketika memberi, tetapi cobalah untuk bermurah hati kepada orang-orang, sahabat-sahabat, dan tetangga-tetangga kita sebanyak mungkin. Jika anda belum pernah memberikan sesuatu atau membagi apapun kepada saudara-saudara anda, maka cobalah usahakan dan lakukan hal itu. Anda akan menemukan bahwa betapa hal itu akan memberikan kebahagiaan, baik kepada mereka maupun kepada anda. Berilah dengan hati yang tulus, dengan tindakan yang baik dan ucapan yang baik, dan hanya mengeluarkan kata-kata yang baik dan menyenangkan sesuai Dhamma. Jika anda ingin memberikan nasehat kepada seseorang, dasarkanlah itu pada Dhamma, pikirkanlah dengan seksama, dan berkatalah dengan penuh cinta-kasih. Cobalah untuk memberi sesering mungkin yang dapat anda lakukan, maka hati yang baik akan semakin berkembang, dan pada saat yang bersamaan akan penuh kesadaran, tenang, dan selalu damai.

Sekarang saya ingin berbicara tentang cinta-kasih (metta). Apabila kita memiliki cinta kasih di dalam hati, dan ia ditunjang oleh kebajikan (kusala), kita dapat memelihara sikap moral (sila) kita dengan baik, khususnya sila ke-4 dan ke-5. Sila ke-4 adalah menghindari diri dari ucapan salah. Kita tidak akan pernah berkata bohong atau menipu orang lain apabila kita memiliki kebajikan di hati; kita bahkan tidak ingin berkata kasar, bergosip, atau berkata kosong/nonsens.

Orang yang penuh cinta-kasih dan baik (metta-dhamma), ia selalu tenang dan penuh kesadaran (sati). Orang yang baik dan bermanfaat (kusala-metta) tidak ingin minum alkohol atau obat bius, dia mengetahui dirinya sendiri dengan batinnya sendiri. Minum alkohol di depan anak-anak adalah sangat buruk. Itu tidak baik, karena itu memberikan contoh yang buruk kepada anak-anak, membuang-buang uang, dan menghancurkan keluarga. Bila suami adalah seorang peminum/pemabuk, apakah anda pikir istrinya akan bahagia? Jika istri adalah seorang peminum alkohol, dapatkah suaminya gembira? Tak seorang pun yang akan bahagia. Tetapi bila kita memiliki kebajikan di hati, kita tak akan menyukai minum alkohol atau obat bius, kita tidak ingin melukai atau menyakiti orang lain. Dunia akan dapat hidup dengan damai dan bahagia dan tanpa peperangan.

Apabila seseorang agresif terhadap kita, kita tidak seharusnya berbuat yang sama. Berusaha dan hindarilah orang semacam itu. Tetapi jika hal itu tidak dapat dilakukan, cobalah untuk diam saja. Jika kita benar-benar tenang dan damai serta penuh cinta-kasih, semangat dan kekuatan kita akhirnya dapat membuat dia tenang pula. Jika tidak, itu adalah urusan dia. Cukuplah membuat diri kita sendiri dingin dan tenang. Bahkan jika agresinya hebat dan mengancam akan melukai kita, kita seharusnya tetap mengembangkan cinta-kasih kita. Tak peduli bagaimana terlukanya kita, kita tidak seharusnya balas melakukan kekerasan terhadapnya, tetapi harus tetap menjaga prilaku moral (sila) yang murni. Jika kita menjadi agresif, kita tidak dapat memancarkan cinta-kasih kita. Kemudian, bila hanya satu orang berkata kasar kepada kita, atau mengolok-olok kita, atau bahkan hanya melihat kepada kita dengan tatapan yang tidak bersahabat, kita sudah merasa tidak enak atau marah. Cinta-kasih kita tidak cukup kuat, dan kita selalu sensitif, egois, dan lemah dalam keseimbangan (upekkha). Diperlukan waktu yang lama untuk dapat memotong akar-akar kejahatan dan melepaskannya seluruhnya, sehingga tiada hal apapun yang dapat mengganggu batin kita. Apabila kita mampu, kita akan tenang dan damai, seperti udara atau kekosongan, seperti seorang Arahat (seseorang yang telah mencapai Nibbana).

Saya akan mengakhiri sampai di sini khotbah pada hari ini. Semoga anda semua maju di dalam Dhamma.

[ Dikutip dari Buku Harta Yang Mulia ]